Falling For You

Falling For You
Ep 14. Kekhawatiran


__ADS_3

Sinar matahari di pagi yang dingin buat gue perlahan membuka mata, tiba-tiba saja kejadian semalam melintas di pengelihatan gue dan itu buat gue nendang-nendang selimut. Bahkan gue gak bermimpi apapun semalam, tidur gue benar-benar nyenyak.


Ponsel gue berdering, melihat nama yang muncul membuat gue senyam senyum sendiri.


“hallo, kau sudah bangun?” pagi-pagi dengerin suara indah bengini, asupan nutrisi banget!


“ya, aku sudah bangun.”


“baru bangun lebih tepatnya, iya kan? terdengar jelas dari suaramu yang masih serak.” Gue berharap dia gak nyangka gue cewek pemalas karena ini sudah jam 8 pagi.


“lagian kamu juga yang buat aku bangun siang.” Ucap gue pelan


“karena aku?”


“ah tidak-tidak! Tapi ada apa menghubungi pagi-pagi?”


“aku akan pergi ke Jeju untuk syuting variety show. Jadi mungkin hari ini aku tidak akan bisa menghubungimu.”


“mmmh, ya sudah tidak apa-apa. aku juga ngerti ko.”


“tadinya aku ingin menjemputmu dan---“


“hajima!” semoga telinganya gak berdengung karena teriakan gue


“wae?”


“orang-orang di kampus bisa curiga, dan lagi mereka sudah tau mobilmu. Untung saja tidak ada berita apapun karena kau sering terlihat di dekat kampus.”


“kalau begitu aku harus membeli mobil baru lagi.” Gue mendesah pelan, holkay mah bebas!


“tidak boleh! Aku tidak suka kau terlalu menghamburkan uang! Lebih baik sumbangkan agar lebih bermanfaat.”


“kalau seperti ini sepertinya aku tidak salah sudah mencintaimu.” Gue tersenyum malu “ah, semalam kan belum di sahkan. Jadi hari ini, detik ini, menit ini, jam ini kau adalah milikku. Kekasihku.” Pagi-pagi gini gue udah ngefly! Siapapun tolong tarik lagi gue ke bumi!


Gue terkekeh geli “kenapa kau tertawa? Aku sedang tidak membuat lelucon.”


“maaf. Aku hanya merasa senang. Saaaaaangat senang! Aku benar-benar bahagia. Aku mencintaimu Chan.” sekarang giliran dia yang tertawa


“barusan kau memanggilku Chan? Kau tidak mau memanggilku oppa?”


“aku tidak mau. Rasanya aneh memanggilmu oppa. Apa aku tidak boleh memanggilmu Chan? Kau tidak menyukainya?”


“baiklah, asal kau senang bukan masalah. Ya sudah, aku harus pergi ke bandara.”


“baiklah, hati-hati. Semoga selamat sampai tujuan.”


“dan satu hal lagi, jangan dekat-dekat dengan Ryu. Aku tidak suka.”


“jadi kalau aku dekat denga pria lain tidak masalah begitu?”


“Hye~”


“baiklah. Tapi dia sahabatku Chan dia sahabat baikku. Tapi tenang saja jika dia melakukan hal yang tidak-tidak aku akan memukulnya.”


“ya sudah, aku berangkat dulu. Bye!”


“bye! Hati-hati.”


“kyaaaaaaaaa!!!!!” teriakan bahagia gue membuat Luna masuk sambil membawa spatula


“ada apa!!!? ada apa!!?” kepanikannya berubah ketika dia melihat gue bergulung-gulung dalam selimut dan mendendangnya beberapa detik kemudian.


“bisa gak sih kalau teriak biasa aja. Gue pikir ada apaan. Heuh! Mau gue getok pake spatula nih?”


“gue udah melesat ke luar angkasa,”


“lo masih di bumi, lo masih di kamar lo! Sekarang lebih baik lo sadar dan kita sarapan!”

__ADS_1


“bau gosong!” ucap gue tiba-tiba


“tuh kan gara-gara lo! Telur gue!”


**


“spertinya teman kita yang satu ini lagi bahagia banget.” Ucap Ryu tiba-tiba, gue sadar dan bisa lihat mereka lagi natap gue, dan dengan wajah polos gue nunjuk diri gue sendiri.


“sepertinya dia sudah gak waras. Dari sejak masuk sampai sekarang dia senyam senyum gak jelas.” Ucap Kang Min, gue mengerucutkan bibir


“dan anehnya lagi, tumben-tumbenan lo mau jawab pertanyaan yang diajukan dosen tadi. Biasanya juga lo males.” Ucpa Kang Chul


“dia lagi bahagia tingkat luar angkasa kawan.” Luna memperjelas kenapa gue senyam-senyum sejak tadi “dia bahkan teriak pas bangun tidur, gue beneran takut tetangga pada datang.”


“emang kenapa? Dia udah dicium Chan gitu?” ucapan Ryu yang tiba-tiba malah bikin pipi gue panas


“oho! Pipi lo merah!” Dae Wong nunjuk pipi gue, otomatis gue langsung nangkup kedua pipi gue


“jinjja?” Ryu kelihatan syok


“gue saksi matanya, mata suci gue udah ternodai.” Ucap Luna, sambil menutup kedua matanya.


“lo?” ucap Kang Min dan Sang Chul barengan


“jangan keras-keras. kalian mau gue dikejar-kejar fans Chan apa? tega banget.”


“kita bakal tutup mulut asal--- ya lo tau lah.” Ucap Ryu, dibarengi cengiran yang lain


“ini namanya pemerasan. Kalian punya pacar aja gue gak pernah nagih pajak jadian.”


“ini kan beda lagi urusannya, ada keajaiban yang terjadi di salah satu teman kita. Sekalian uang tutup mulut.!”


Sebenarnya mereka gak bakalan tega buat nyebarin, tapi ya gue tau diri juga lah apalagi Ryu bantuin gue, dan mereka juga banyak ngehibur gue pas gue lagi dalam masa suram. “pulang ngampus jangan langsung pulang.”


“siap bos!”


Soal makanan aja mereka gerak cepat. giliran diajak ngerjain tugas bareng lemotnya minta ampun.


“paman, seperti biasa ya.”


Paman Bong memberikan tanda ‘ok’ “aku akan memberikan diskon dan bonus untuk kalian.” Gue senyum dan ngucapin terima kasih.


Dentingan kaleng minuman dan suara sumpit yang beradu memenuhi ruangan khusus tempat kami makan.


“gue doakan semoga hubungan lo langgeng. Semoga kalian bahagia.” Ucap Sang Chul, dibarengi anggukkan yang lain


“tapi Hye, lo udah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi saat identitas lo terungkap nanti. Kalian gak bakalan terus-terusan nutupin hubungan kalian kan?” tanya Ryu “dan lagi, cepat atau lambat, fansnya bakal tau kalau idolnya sedang menjalin hubungan dengan seseorang.”


Dan gue baru menyadari itu, saking terlalu bahagianya dan mentingin perasaan sendiri gue sampai lupa dengan kemungkinan yang akan terjadi saat mereka tau Chan punya hubungan asmara sama gue.


“gue gak tau, tapi untuk sekarang gue belum siap. Sebisa mungkin gue bakal berusaha buat nutupin hubungan ini.”


“jujur aja, gue udah takut waktu mobil Chan sering terlihat dekat kampus dan lo kerja jadi pembantu mereka.” Ya ampun gue udah bikin mereka khawatir, tapi gue gak punya pilihan lain, dan gue gak bisa berfikir jernih buat cari cara lain waktu itu. selain mengiyakan gue gak punya pilihan lain daripada gue harus masuk penjara atau bayar biaya perawatannyakan?


“Hye, ponsel lo.” Luna nyadarin gue, nama Chan tertera di layar ponsel, gue geser bulatan hijau di layar


“kau di mana? Ramai sekali.”


“aku sedang makan-makan di restoran langganan dekat kampus.”


“berarti Ryu ada di sana?”


Gue pengen banget nyingkirin perasaan cemburu dia dari Ryu, dan ngilangin pikiran negatif dari pikiran dia.


“ya, dia juga ikut. Diakan temanku. Apa kau sedang istirahat?”


“ada waktu sedikit jadi aku menghubungimu saja. aku ingin cepat pulang besok dan bertemu denganmu.”

__ADS_1


“apa tidak masalah jika kita sering bertemu?”


“kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? kau tidak mau bertemu denganku?”


“bukan begitu Chan! Ah sudah lupakan perkataanku barusan. Kau sudah makan?”


“sudah tadi, ya sudah lanjutkan makanmu. Aku harus syuting lagi. Aku mencintaimu, bye.”


“aku juga. Bye”


Perkataan Ryu mengalihkan rasa bahagiaku, kenapa gue tidak memikirkannya sejak dulu. Jika publik tau bagaimana karir Chan nanti? dan aku? Apa aku bisa selamat? Apa aku bisa tahan dengan segala hujatan dan tekanan? Perasaan khawatir yang datang tiba-tiba ini membuat gue seketika menciut.


Sejak mendengar perkataan Ryu, gue jadi was-was saat ketemu Chan apalagi kalau dia ngjak jalan keluar dan ke asrama. sasaeng fans mereka pasti gak sedikit, apalagi mereka bisa dapat nomor telpon member mereka pasti sangat cerdas dan juga sangat jeli, ataukah mereka udah tau tapi belum mau memberitahu publik?


“Hye kau tidak nafsu makan?” pertanyaan Xi membuyarkan lamunan gue


Chan natap gue dengan tatapan cemas “apa ada sesuatu yang mengganggumu?”


“hanya... hanya tugas kampus. Sebentar lagi tingkat akhir dan ya~ kalian tau lah dosen selalu saja bilang tugas akhir-tugas akhir, dan itu membuatku pusing.” Gue senyum mencoba meyakinkan mereka.


“benar tugas akhir. Kau harus siapkan mental dan kesabaran.” Ucap Seho


Gue tersenyum, Chan masih natap gue. mungkin bagi dia jawaban gue gak meyakinkan, tapi gue berusaha buat senormal mungkin supaya dia gak khawatir.


Dari dekat jendela lantai atas, gue bisa melihat salju yang turun dengan lebat. “ini!” Chan datang dan menyerahkan secangkir coklat panas. Gue minum dengan pelan dan rasa hangat dan manis menjalar ke seluruh tubuh.


“aku tau kau berkata bohong. Bukan karena tugas kampus kan?” gue terdiam, memang sih sejak jadian dia jadi lebih peka sama gue, perubahan sekecil apapun dia tau.


“aku sudah merasakannya, kau sedikit berubah. Apalagi saat aku ingin bertemu denganmu. Apa kau punya pria lain?”


“tidak!” secara tegas gue langsung jawab. Mana ada yang mau selingkuh dari pria tampan macam begini. Keberuntungan yang gak bakalan gue buang dan sia-siain.


Ia terkekeh melihat jawaban spontan dari gue. “aku tau kau tidak akan selingkuh.” Gue minum lagi coklat hangat buat nenangin pikiran “lalu kenapa? kau membuatku khawatir.”


Sepertinya gue harus jujur daripada buat dia khawatir “Chan!”


“hmm?”


“bagaimana kalau publik tiba-tiba tau kalau kita pacaran? Apa yang akan kau lakukan?”


Chan tidak langsung menjawabnya, ia terlihat berpikir. Gue tau pertanyaan yang gue ajukan memang berat buat dia jawab. Tapi makin di pendam gue makin gak tenang.


“sebenarnya aku tidak mau hubungan kita tersebar untuk saat ini. aku ingin menikmati waktu denganmu dengan tenang.”


Gue melirik dia “tapi kalau tiba-tiba tersebar, apa kau sudah siap?” Chan balik natap gue, apa dia juga memikirkan hal yang sama hanya saja dia tidak memperlihatkan kekhawatirannya? Gak seperti gue yang malah memperlihatkannya dengan jelas dan membuatnya khawatir.


“aku mengkhawatirkan reputasimu--”


“tapi aku lebih mengkhawatirkanmu.” Tangkas Chan cepat, gue bisa lihat kekhawatiran yang besar lewat sorot matanya, tangannya memegang pipi gue dan rasanya hangat, sangat nyaman.


“aku sudah terbiasa dengan caci maki publik, tapi kau?”


Air mata gue menetes, mereka gak bisa gue tahan. Chan mengusap air mata gue dan menarik gue kedalam pelukannya. “kau bisa pikirkan lagi. Jika kau tidak akan kuat bersamaku kau bisa pergi dariku.”


Gue gelengkan kepala, enggak! Gue gak bisa jauh dari dia! gue gak mau kehilangan dia!


“aku harap kau bisa bertahan bersamaku. aku akan menjagamu aku janji!” pelukannya semakin erat. begitu juga gue, aroma yang selalu gue rindukan, kehangatan pelukannya yang selalu bisa bikin gue tenang dan nyaman.


“Hye aku tidak bisa menahannya.” Mata gue langsung terbuka mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.


“a-apa yang gak bisa di tahan?” tanya gue gugup


“panas!”


"pap-panas?" apa pelukan gue erat banget sampai dia--? Mana mungkin efek pelukan bisa sedrastis ini?


“gelasmu. Punggung!”

__ADS_1


Otak gue mencerna perkataanya barusan, begitu sadar gue langsung melepas pelukan gue, ia meringis


“panas..” Gelas panas penghancur suasana atau penyelemat suasana gue gak tau. Gue tersenyum kikuk, otak gue kenapa jadi yadong begini?! Apa iya gue mendadak ketularan Ryu ya?


__ADS_2