
“gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
Teriakan Shen yang menggema mengalihkan perhatian gue dan Chan.
“hyung! Tangkap! Bunuh!” Kei lagi-lagi berteriak
Kami saling bertatapan “ada apa dengan mereka?” tanya gue
“paling biasa. Kau jalan duluan!” meskipun agak heran dengan permintaan Chan tapi gue turuti aja jalan duluan. Suara benda berjatuhan terdengar keras, bahkan mereka semua berteriak hampir bersamaan.
“hyung lakukan sesuatu. Dimana dimana!!!!!???”
lagi-lagi suara Shen menggema. Benar saja, pas datang ke lantai bawah bantal berserakan di mana-mana. Kei, Shen, Bekkie ada di sofa sedangkan Xi, Chen, Seho berada di dapur mereka seperti ketakutan.
“ada apa ini!? kalian kenapa?” gue lihat Kyung melakukan ancang-ancang dengan gulungan koran sebagai alat pertahanan, gue lihat arah pandangan Kyung ternyata hanya karena seekor kecoa yang ya~ memang cukup besar ada di pojokan.
Dan gue baru ingat, biarpun mereka bertubuh kekar perut kotak-kotak tapi mereka ciut dan gak punya nyali ketika harus berhadapan dengan makhluk berwarna coklat seperti kurma ini. tiba-tiba saja kecoa itu terbang dan nempel di lampu meja membuat Shen-Kei-Bek berteriak histeris membuat mereka kini saling berpelukan dengan tubuh yang gemetaran! Gue pengen banget ketawa boleh gak sih?! Sumpah mereka lucu banget!
hahahahaha
Chan yang ada di belakang gue lari ke lantai atas, “ya ampun! Jangan teriak keras-keras! bagaimana kalau tetanga pada datang. Itu hanya kecoa!” gue pengen tertawa sekeras-kerasnya lihat kehebohan dan ekspresi mereka tapi, gue kasihan dan gak enak juga harus tertawa diatas penderitaan mereka.
“Hyerim! Lakukan sesuatu!” ucap Seho
“ok, ok! Sebentar aku akan cari obat pembasmi serangga. Tunggu!”
“obatnya mendadak hilang!” ucap Chen
“kalau mencarinya dalam keadaan panik ya iya gak bakalan ketemu!” gue bawa pembasmi serangga menuju target sasaran. Dengan tenang gue semprot dan akhirnya makhluk coklat seperti buah kurma itu terjatuh kemudian kejang-kejang dan akhrinya pergi dengan tenang disaksikan para pria tampan dengan ekspresi yang...... bayangin sendiri lah!
“selesai.” Mereka akhirnya bernafas lega, tapi tiba-tiba saja ide jail muncul di pikiran gue. sekali-sekali nakut-nakutin mereka gak apa-apa kan?
“Kei di sofa!”
“gyaaaaaa! Pergi-pergi!”
“eommaaaaaa!” mereka berhamburan dari sofa dan berlari ke lantai atas dengan panik.
“hahahahahahaha!” sekarang suara gue yang paling keras di rumah ini,
“ya ampun, perutku! Hahahaha” gue bahkan terduduk di lantai liat ekspresi panik mereka! Ya ampun saat panik pun mereka tetap saja lucu.
__ADS_1
“Hyerim!! Jail juga ternyata kau ya!” ucap Kei
“Hye-ya!! Kau hampir membuatku punya penyakit jantung!” Bekkie mendekap tubuhnya sendiri yang bergetar.
“maaf, maaf. Aku tidak bisa menahannya. Kalian benar-benar lucu hahahahahaha! Maafkan aku.” Gue usap air mata terharu gue, tapi sulit banget buat berhenti mentertawakan mereka.
**
Delapan bulan beralalu dan hubungan kami masih belum diketahui publik. Setiap kali kami bertemu gue gak bisa gak deg-degan, seperti malam ini jam 23.20 gue nyamperin Chan di mobilnya, entah mau di bawa kemana gue malam ini. jaket hitam, masker bahkan kadang gue bawa topi, perlengkapan yang gak boleh dilewatkan gak boleh lupa di bawa.
“maaf menunggu lama,” dengan cepat gue masuk ke dalam mobil, sambil melepaskan masker. “kita pergi kemana malam ini?”
“kau mau nonton?” rasanya permintaan gue terkabul, karena gue pernah bilang pengen nonton bareng sama dia.
“kau yakin? Tidak akan ada yang tau?” setiap pergi keluar gue selalu cemas, jujur aja.
“satu gedung sudah di booking! Tenang saja.”
Seharusnya gue gak perlu terkejut, dia bisa lakuin apapun. Tapi tetap saja, waw! “yasudah.” Gue tersenyum, seperti inilah kami kencan. selalu saja hampir tengah malam. Awalnya sulit, karena gue jarang tidur terlalu larut. Tapi gue akhirnya bisa menyesuaikan diri.
Gue terlonjak kaget saat dia tiba-tiba menggenggam tangan gue, gue lihat dia tersenyum “wae?” tanya gue lembut
“aku hanya senang bisa mewujudkan keinginanmu.”
Chan melepaskan tautan bibirnya, gue tersenyum sambil menatap kedua manik matanya “gomawo! Aku pikir kau sudah lupa.”
“apa pacarmu yang pintar ini akan dengan mudah melupakan permintaan wanita yang ia cintai begitu?”
“baiklah, terserah tuan percaya diri saja. ayo jalan!”
Rasanya cukup aneh di gedung yang luas dan besar hanya ada staf dan kami berdua saja. kami lebih memilih film komedi romantis, tiba-tiba seorang pegawai mengantarkan pizza
“kau pesan pizza?” Chan mengangguk
“bukankah kau sedang diet?” tanya gue, heran aja setelah puasa pizza sekarang dia malah pesan pizza.
“kali ini saja, ayo makan. Aku ingin makan pizza bersamamu.”
“dalam kasus ini, aku tidak ikut campur untuk menghasutmu. Jadi jangan salahkan aku jika dietmu gagal.” Chan menyuapiku sepotong pizza. Kalo soal beginian hati gue gak bisa kebal, rasanya ada ratusan kembang api meledak-ledak dalam hati gue.
Setelah selesai nonton film, gue pergi sebentar ke toilet. Tapi entah cuma perasaan gue atau gimana, gue ngerasa diikuti sama seseorang. Kalau hantu sih ya gue gak masalah, makhluk astral itu gak bakalan bilang kesiapapun kalau gue lagi kencan sama Chan. Tapi kalau paparazi, atau sasaeng fansnya gimana?
__ADS_1
Gue kembali nyamperin Chan “wajahmu terlihat tegang. Ada apa?” sepertinya ekspresi wajah yang satu itu gak bisa gue sembunyiin.
“aku merasa diikuti seseorang. Kau yakin tidak ada yang tau kau yang memesan gedung ini?”
“aku memesannya atas nama orang lain. Kalaupun mereka tau, harusnya mereka tidak memberitahukannya pada siapapun.”
“kita pergi saja dari sini.”
Sepanjang jalan gue gak bisa tenang, serapat-rapatnya bangkai di tutupi ya bakalan kecium juga mungkin itu peribahasa yang cocok buat hubungan gue. Chan menggenggam tangan gue, dengan senyuman yang dia berikan, gue bisa menyimpulkan kalau dia bilang semua akan baik-baik saja. gue harap sih gitu, tapi gue gak yakin.
Chan membawa gue ketempat pertama kali kita bicara berdua setelah gue balik dari Indonesia, melihat lampu-lampu yang menyala buat gue ngerasa sedikit tenang. Chan duduk di sebuah bangku dan menepuk-nepuk bagian kosong disebelahnya.
Begitu duduk gue peluk tangan dia, gue peluk seerat mungkin.
“sepertinya kau terserang penyakit manja.”
“apa tidak boleh? Apa tangan ini hanya untuk Bekkie saja? dasar pilih kasih.”
“bukan begitu, hanya... ya aneh saja. biasanya kau tidak seperti ini. dan lagi kau dan Bekkie kan berbeda.”
“apanya yang beda?” sebenarnya gue tau maksud perkatannya, tapi gue pura-pura polos saja.
“kau itu perempuan dan Bekkie laki-laki. Aku tidak harus menyebutkan secara rinci kan apa yang membuatku bicara seperti itu?”
“dasar pria! Aku percaya padamu, jadi jangan kecewakan aku, hm?”
“tentu saja, aku tidak akan menghancurkan kepercayaanmu itu. meskipun aku harus menahannya. Fuuuh!” gue terkekeh geli, kalau kucing yang baik pasti bakalan tahan walaupun ikan ada di depannya.
“apa kau sering seperti ini dengan mantan pacarmu?”
“sering! Saat sedang manja aku sering seperti ini padanya.”
“ternyata! Lalu apa kau sekarang tiba-tiba ingat padanya?”
“kalau iya bagaimana?”
“kalau begitu lepas!”
Chan berusaha melepaskan pelukan gue dari tangannya, “bercanda! Aku sudah tidak mengingatnya.”
“apa dia ada di Korea?”
__ADS_1
“dia di Indonesia. Tenang saja. dia jauh.” Tangan Chan mengusap tangan gue, sesekali dia usap kepala gue juga. perlahan gue pejamkan mata, menikmati belaiannya dan aroma tubuhnya yang buat gue nyaman. Gue berharap semua akan baik-baik saja, setidaknya untuk saat ini saja.