
tak terasa akhirnya gue udah menyelesaikan tugas gue sebagai seorang mahasiswa selama 4 tahun lamanya.
“akhrinya! Tugas akhir kita selesai!” Luna meregangkan tubunya.
Benar, setelah tugas akhir selesai rasanya beban yang di tanggung selama 4 tahun kuliah telah hilang, gue sendiri gak nyangka bisa sampai ke tahap akhir ini setelah semua yang gue lalui. Bahkan gue sampai kesulitan tidur dan harus ke dokter. Padahal ini sudah berlalu cukup lama tapi mereka masih tetap saja tidak terima.
“keluarga lo bakalan datang kan dari Indonesia pas kelulusan nanti?” tanya Luna
“mereka harus datang, terutama ayah.”
“lo udah ada rencana buat ngelamar kerja?”
“ada sih, gue pengen nyoba kerja di bank. Oh iya, gue mau ke perpustakaan sebentar gue mau nyari buku referensi masalah perbankan.”
Gue pilih-pilih lagi buku yang gue temuin di meja, seseorang duduk di samping gue, saat gue melirik orang itu, “Hyerin?”
“oh, Hyerim! Kau sedang mencari buku apa?”
“eum, buku tentang perbankan. Selamat ya!”
“selamat juga untuk kelulusanmu.”
Melihat Hyerin tidak gugup seperti biasanya, sebenarnya membuat gue heran tapi bersyukur juga. Mungkin dia mulai bisa berani dengan dunia luar.
kami melanjutkan ngobrol dengan suara yang pelan karena ini di perpustakaan, rasanya jadi nyaman juga bicara dengannya, benar-benar berbeda dari Hyerin yang sebelumnya.
"aku rasa kau berubah banyak."
"aku? aku berubah apanya?" tanya Hyerin bingung
"biasanya kau selalu gugup ketika aku mengajakmu bicara, kau bahkan tak mau menatapku. tapi kali ini kau berbeda."
"aku merasa lebih lega saja, ini terakhir kalinya bertemu kalian di kampus mungkin aku akan bertemu kalian lagi di acara wisuda nanti. jadi aku harus lebih baik kan?"
"ah ya.. benar.. apalagi kita kan akan memasuki dunia kerja.. semangat untukmu!"
"semangat!" kami pun kembali fokus pada buku masing-masing.
Gue berjalan cepat keluar dari perpustakaan “ya! Lo mau ninggalin gue?!” badan gue berbalik melihat Luna yang setengah berlari nyamperin gue.
“lo belum pulang? Setia banget nungguin gue.”
“iya, gue setia! Tapi lo malah mau ninggalin gue. buru-buru amat!”
“sorry, gue gak tau lo nungguin gue. kirain udah pulang duluan. Gue mau nganterin ini. duh dia udah gak ada ya?”
__ADS_1
Luna mengambil dompet dari tangan gue dan melihat isinya “ini dompet Hyerin kenapa bisa ada sama lo?”
“tadi di perpustakaan gue ketemu dia. kayanya dia gak sadar dompetnya jatuh dan gue mau balikkin sekarang.”
“gue ikut! Gue takut lo kenapa-napa!” Luna merangkul lengan gue
“gak bakalan terjadi apa-apa! lo mending pulang duluan, soalnya bakalan ada paket dari ibu.”
“tapi perasaan gue gak enak Hye! Gue ikut lo aja ya!?” dengan wajah memelas Luna mohon-mohon sama gue.
“enggak! Gue janji gue gak bakalan kenapa-napa. Jadi sekarang lo pulang duluan, gue bakalan beli cemilan dan beer buat kita pesta kecil-kecilan di rumah. Ok?! Bye!”
“ani-- ya! anak itu! duh perasaan gue kok gak enak gini sih?”
Akhirnya gue sampai di rumah Hyerin, tanpa nunggu lama gue pencet bel dan Hyerin keluar dari balik pintu. “Hyerim? ada apa?”
“ini dompetmu kan?” Hyerin mengambilnya dari tangan gue “tadi aku menemukannya di dekat perpustakaan. Pasti kau tidak sadar saat dompetmu terjatuh.”
“ah iya, aku mencarinya kemana-mana. Terima kasih. Ayo masuk dulu.”
“tidak usah, ini sudah sore lebih baik aku langsung pulang saja.”
“masuk saja dulu. Kau pasti lelah. Setidaknya minum teh dulu, sebagai tanda terima kasihku.”
Hyerin mengajakku masuk ke dalam, suasananya benar-benar sepi. “aku harap kau menyukai tehnya, karena sebenarnya aku tidak begitu mahir membuatnya.”
“tentu. terima kasih"
pandangan gue terhenti pada sebuah pigura di meja, gue berdiri dan berjalan mendekati meja untuk melihat lebih jelas pria yang ada di foto tersebut, ‘Choi Tae Lim ahjussi?’
“apa yang sedang kau lihat?”
“ah kau mengagetkanku! apa dia ayahmu?”
Hyerin melirik ke arah foto “ya, dia ayahku. Tapi kedua orang tuaku sudah bercerai.”
“benarkah?” apa Hyerin tau kalau ayahnya dan ibuku akan menikah? Haruskah aku yang bertanya lebih dulu? Rasanya benar-benar canggung.
“aku juga dengar ayah akan menikah lagi, dengan wanita yang sudah sejak lama ia cintai. cinta pertamanya.”
Gue bisa lihat perubahan ekspresi Hyerin, entah kenapa tubuh gue mendadak terserang hawa dingin dan gue sedikit takut melihat ekspresinya yang sekarang. “dan dia adalah ibumu. Benarkan?”
“kau sudah tau? Aku sampai bingung harus bilang apa, tapi kita akan jadi saudara dan---“
“saudara katamu?”
__ADS_1
Tatapan Hyerin berbeda dari yang tadi, tatapannya seperti penuh dengan kebencian dan......
“kau tau...” Hyerin berjalan perlahan mendekat, dan gue otomatis perlahan berjalan mundur
“gara-gara ibumu ayahku menceraikan ibuku. Dia bahkan sudah tidak peduli padaku dan Hyerin!”
‘apa katanya? Hye-Hyerin? lalu sekarang yang berdiri di hadapanku siapa?’
“ibu selalu menangis setiap malam dan itu membuatku jengkel!” nada bicaranya mulai meninggi, sorot matanya benar-benar berbeda benar-benar menakutkan.
“ibuku bahkan tidak mendengarkanku agar melupakan pria bengsek itu, tapi dia masih tetap mencintainya. Dan kau tau apa yang paling membuatku kesal, ibuku bahkan hampir mati karena bunuh diri dan itu semua karena ibumu merebut ayahku!”
Seseorang tolong gue! tubuh gue rasanya kaku, tubuh gue bergetar hebat, “di-dimana Hyerin? dan siapa kau?!”
“adikku sedang tertidur di gudang. Dia selalu melarangku untuk melakukannya jadi dia kubiarkan tidur di gudang agar dia tidak mengganggu rencanaku. Tapi usahaku berhasil waktu itu, kau keracunan dan masuk rumah sakit tapi sayangnya... kau malah sembuh dan kembali seperti biasa, tapi tak apa, itu baru permulaan, hidangan pembuka." senyumnya begitu menakutkan, "ah~ tadi kau bertanya aku siapa? Aku adalah Choi Hyerim kakak Choi Hyerin.”
'jadi mereka kembar? aku sudah tertipu? pantas saja Hyerin yang aku temui tadi benar-benar berbeda. Ya Tuhan... apa yang akan terjadi padaku?'
“a-ap-apa yang akan kau lakukan padaku? Biarkan aku keluar dari sini Hyerim-ssi.”
Ia mengeluarkan pisau dari balik tubuhnya, itu membuatku tambah syok, “keluar? Jangan harap kau akan segera keluar dari sini dengan selamat!” saat pisau itu terangkat dan terarah pada gue detik itu juga gue menghindar berlari ke pintu belakang.
“pintunya terkunci! Apa ada orang di luar? Tolong aku!! aaaaaaaaahhh!”
Pisau itu mengenai tembok! Secepatnya gue lari naik ke lantai atas untuk menghindar, gue pun membuka jendela sebagai jalan pintas untuk kabur dari rumah ini, mau gak mau gue harus loncat dari pada gue mati di sini!
Bugh! Praaaaaang! “aaaaaaaaaaaaaahhh!” Hyerim melemparkan vas bunga tepat ke samping gue.
“kau tidak akan bisa lari! Sebelum kau mati kau tidak akan bisa lari dari rumah ini!” gue berusaha menghidar tapi tangan Hyerim menarik rambut gue.
“kenapa ibumu harus kembali, KENAPA?!!!”
“kenapa ibumu harus bercerai dengan ayahmu KENAPA?!!!” gue berusaha melepaskan tangannya dari rambut gue, sakit banget.
“dia harus mendapatkan balasannya karena merebut ayah dan membuat ibuku hampir kehilangan nyawanya!” pisau itu mulai mendekati leher gue, “yaitu dengan nyawamu.”
Senyum itu benar-benar buat gue takut kaki gue bahkan udah lemas, tapi gue gak bisa mati di sini! gue gak mau hidup gue berakhir tragis di sini gue belum melakukan hal yang harus gue lakuin! sebelum pisau itu nyampe ke leher gue menggigit tangannya dengan keras lalu kabur.
“aaaaaarrrrgghh! KAU!!!”
gue mendengar gedoran dari pintu depan, “Hyerim!! Lo di dalam kan? Hyerim jawab!”
“Hyerim! Buka pintunya!”
‘Chan, Luna!’
__ADS_1