
Prof. Min memuji gue karena menyelesaikan tugas dengan baik, dan itu jelas nilai tambah buat gue. “kau boleh duduk.” Gue kembali duduk ke tempat semula.
“sekarang kumpulkan tugas kalian di meja yang minggu kemarin. Setelah semua terkumpul perwakilan kelas antarkan ke mejaku di ruangan. Pelajaran hari ini sudah cukup.”
Setelah selesai mengumpulkan tugas, Luna ngajak gue ke kantin buat makan siang. “kita makan apa?” tanya Luna
“nasi lah. Apa lagi?!”
“lo tuh ya!” Luna nyubit pinggang gue, “kayanya lo gendutan deh. Senang banget ya lo hmmm!” Luna terus ngegoda gue, sambil mencolek pinggang gue.
“eh, apaan sih. Geli tau!”
Bugh!
Tanpa sengaja gue nyenggol seseorang sehingga buku yang dibawanya berserakan “maaf, aku tidak sengaja. Hyerin?” gadis berkaca mata itu selalu terlihat gugup ketika bertemu seseorang.
“ti-tidak apa-apa Hyerim.” Gue bantu beresin buku yang dia bawa
“sekali maafkan aku ya, aku akan membantumu!”
“ti-tidak usah. Ak-aku akan melakukannya sendiri.” Hyerin menjauh pergi.
“dia kenapa sih? Minder atau bagaimana?” gue terus lihatin punggung Hyerin yang mulai menjauh, sepertinya iya dia minder dia bakhan tidak mau melihat orang di sekitarnya.
Ryu dan Dae wong nyamperin gue dan Luna
“mana Sang Chul sama Kang Min?” tanya gue,
“mereka belum selesai ngerjain tugas dan sekarang terdampar di perpustakaan.”
Gue lihat Hyerin nyamperin meja gue, dan seperti biasa dia selalu terlihat gugup. Dia nyerahin minuman ke gue.
“i-ini untukmu.” Gue nunjuk diri gue sendiri
Hyerin mengangguk “terima kasih untuk yang tadi.”
dengan malu-malu dia nyerahin minuman itu ke gue.
Hyerin berlalu dari hadapan kami, padahal dia tidak perlu beliin gue minuman karena gue udah ikhlas bantuin dia.
“lo kan kurang suka sama cola,” ucap Ryu
“kalau gak di minum berarti gue gak menghargai dia.”
Belum juga gue sedot, Hyerin datang lagi dan ngerebut minuman itu dari gue “i-i-ini sepertinya te-tertukar!” Hyerin langsung pergi menjauh,
__ADS_1
“ada yang gak beres!” ucap Luna
“hey, gak usah berpikiran buruk. Siapa tau dia dengar obrolan kita tadi jadi dia mau ganti minumannya.” Walaupun sebenarnya gue juga ngerasa ada yang aneh tapi gue berusaha buat gak berpikiram negatif.
Tepat setelah pelajaran selesai Chan nelpon gue, setela kejadian waktu itu dia sering banget nanyain kabar gue pokoknya cerewet minta ampun.
Apalagi kalau gue gak ngangkat panggilan darinya, haduh gue bahagia dia perhatian tapi aneh juga karena biasanya gak seperti ini.
“iya aku bakalan langsung pulang.”
“benar kau tidak akan pergi kemana-mana lagi?”
dia juga jadi curigaan, bukan curiga sih mungkin tapi kekhawatiran yang berelebihan.
“iya Chan! Kau bilang sedang pemotretan lalu kenapa kau malah menghubungiku?”
“karena aku menghawatirkanmu.! Apa aku tidak boleh menghubungimu?”
“ya ampun Chan bukan begitu. Aku pikir kau hanya terlalu khawatir padaku. Dan lagi kenapa kau sensitif sekali? Aku yang sedang kedatangan tamu bulanan tapi malah kau yang terus emosi.”
“itulah yang namanya ikatan batin.”
Luna bahkan geleng-geleng kepala mendengar percakapan kami.
“apa kau yang bernama Kim Hyerim?” merasa terpanggil, gue mengangguk dan nyamperin pak penjaga
‘untuk Kim Hyerim. Selamat!’
begitulah kira-kira kata-kata ucapannya, perasaan gue gak enak lagi.
Sekarang kalo gue dapat paket gak jelas gini gue suka was-was, apalagi sekarang malah di kampus.
“gadis berkaca mata jangan-jangan...?” Luna nyuruh gue buat buka di rumah, tapi gue penasaran.
Gue buka perlahan-lahan dan “kyaaaaaaaaaaaa!” gue lempar jauh-jauh kotak itu, sebuah boneka laba-laba besar berwarna hitam tergeletak di dekat kotak!
“Hye lo kenapa?” Ryu datang dan langsung megang badan gue yang gemetar
“itu cuma mainan!”
“mau mainan mau asli, lo tau gue takut sama laba-laba! Lo tau gue phobia sama laba-laba!”
Luna ngambil ponsel gue yang terjatuh!
“Ada yang mengirim mainan laba-laba pada Hyerim!”
__ADS_1
“Hyerim phobia laba-laba.”
“baiklah.”
“ya ampun badan lo! kita pulang!, Ryu lo bisa anterin kan?” tanya Luna
“kalian tunggu di sini gue mau ambil mobil gue dulu.”
Badan gue gak bisa berhenti gemetar. Gue nyerah sama yang namanya laba-laba, gue angkat tangan! Mau itu mainan apalagi asli, besar atau kecil sekalipun gue gak bakalan berani pegang! Gue juga gak tau gimana asal muasalnya gue bisa pobia laba-laba. yang jelas, laba-laba salah satu kelemahan gue.
“ini minum dulu.” Satu gelas gue teguk habis
“sini gue peluk!”
Gue pukul lengan Ryu “nyari kesempatan dalam kesempitan lo ya!”
“habisnya lo gak berhenti gemeteran. Dan lagi gue cuma mau mencairkan suasana, pikiran lo negatif semua sih.”
“otak lo emang kebanyakan asupan negatif. Buktinya lo bilang mau hapus film yadong di laptop lo, tapi buktinya masih ada!”
“uuuu~ perhatian banget sih lo. Tapi, siapa yang nakut-nakutin lo?” tanya Ryu
“pak penjaga bilang cewek pake kaca mata.” jawab Luna
“cewek pake kaca mata yang bisa dibilang kenal sama lo cuma Hyerin kan?”
“nah itu dia! setelah kejadian tadi di kantin dan kejadian barusan. Gue berpikir Hyerin mau nyelakain lo.”
“pikiran kalian berlebihan banget tau gak! Gak mungkin lah Hyerin lakuin itu, dari wajahnya aja gue bisa lihat Hyerin gak bakalan berani lakuin itu! Gue yakin dia gadis yang baik. Gak baik tau berprasangka buruk sama orang lain apalagi gak ada buktinya sama sekali.”
“Hye, wajah lugu itu bisa aja di jadiin topeng. Bisa aja kan dia salah satu fans Chan dan dia gak terima Chan milih lo buat jadi pacarnya?” Ryu ikutan ngangguk mendengar perkataan Luna.
“yang jelas gue gak percaya kalau Hyerin mau nyelakain gue!”
“jangan-jangan di minuman tadi juga ada racunnya lagi!” Luna menutup mulut dengan kedua tangannya.
“apa gak bisa kita lapor polisi? Sekalian laporin orang-orang yang ngirim lo paket-paket itu.”
“ini bukan masalah serius, toh gue masih dalam keadaan baik dan gue gak bakalan percaya gitu aja kalau Hyerin pelakunya. Cewek yang pakai kaca mata itu bukan Hyerin doang tapi banyak! Kalian berdua pergi berenang aja gih biar otak kalian bersih, biar segar gak berpikiran negatif terus!”
“gue mau aja asal Luna pake bikini yang--- AWWW!!” Ryu mengusap-ngusap bagian pinggangnya yang di cubit Luna! Setidaknya mereka berdua bisa bikin gue gak merasa takut lagi.
“oh iya, tadi Chan bilang apa?” Tanya gue ke Luna,
“dia bialang akan datang kalau pekerjaannya sudah selesai.”
__ADS_1
Dan gue bikin dia khawatir lagi, kenapa sih harus pas dia lagi nelpon gue?