
Gue bersikeras pulang ke rumah, tapi manajer-nim melarang gue dan Luna untuk kembali karena situasinya masih belum tenang. Dan dia malah membawa gue dan Luna ke sebuah rumah yang jauh dari pusat kota.
Tempatnya memang menenangkan dan dikelilingi oleh tingginya pepohonan, gue rasa memang tidak akan ada yang tau kalau gue bersembuyi di tempat ini, kecuali pas keluar dari rumah sakit ada yang mengikuti gue.
“banyak sekali fans Chan di rumahmu, bahkan keadaan rumahmu sudah kacau balau. Mereka tidak akan berhenti sampai kau kembali, jika kau pergi ke Busan pun mereka tidak akan tinggal diam. Jadi untuk sekarang sampai keadaan membaik kau tinggal di sini saja. setidaknya tempat ini aman untuk kalian.”
kami menangguk mengerti, gue pikir tidak akan ada yang perduli lagi sama gue setelah membuat Chan terluka. Tapi diluar prediksi, dan gue bersyukur untuk itu.
“dan lagi, jangan baca komentar di sosial media manapun. Kau mengerti?”
gue mengangguk mengerti, gue memang gak mau baca komentar-komentar itu semua.
Dua minggu berlalu dan gue sama sekali gak menemui Chan, bahkan ponsel pun gue matiin. Apalagi setelah gue lihat komentar netizen yang terus nyalahin gue dan mereka pun sudah tau tempat persembunyian gue. Pesan terus berdatangan yang berisikan sumpah serapah mereka buat gue, gue lihat juga satpam sering membawa beberapa kardus kemudian di bakarnya di tempat pembakaran, tanpa melihat pun gue udah tau isinya apa. Lelah? Ya gue lelah, belum lagi rasa bersalah gue karena kecelakaan yang menimpa Chan itu semua salah gue, gue udah bilang gue rela terluka asal jangan dia tapi buktinya? gue gak bisa jaga orang yang gue sayang. Dia malah yang terluka karena berusaha buat ngelindungin gue, gimana gue gak ngerasa bersalah? Ucapan gue benar-benar sebuah kebohongan besar.
Manager bilang Chan sudah kembali dari rumah sakit dan dalam proses penyembuhan, hal itu sudah cukup buat gue tenang dan bahagia. Meskipun gue gak bisa jenguk dia gue bersyukur dia bisa pulih secepat itu, gue benar-benar takut dia bakal koma atau bahkan... bahkan...
“kau benar-benar tega!”
Suara itu membuat detak jantung gue berdegup kencang dan membuat badan gue gemetar. Air mata mulai menggenang dipelupuk mata gue.
Mata gue mulai panas.
“kau sama sekali tidak menjengukku, kau bahkan mematikan ponselmu. Kau tau aku sangat khawatir.”
Tiba-tiba dia meluk gue dari belakang. Pelukan hangat ini sungguh membuat gue nyaman. Ingin rasanya selamanya gue ada dalam pelukan ini.
Selamanya berada dalam dekapannya.
“uljima!” Chan mengangkat wajah gue agar bisa berhadapan dengannya, dengan lembut dia menghapus air mata gue.
“bagaimana mungkin aku tidak menangis, kau ada di hadapanku dan kau sudah sembuh aku sangat bersyukur untuk itu, aku pikir kau tidak akan bisa bangun lagi, aku pikir..."
__ADS_1
"ssttt." Chan menyimpan telunjuknya di bibir gue agar gue diam. "aku berusaha sembuh untuk kamu. Kamu yang membuatku berusaha untuk sembuh."
Ya Tuhan... gue gak bisa buat gak nangis. Gue dekap erat tubuhnya, menangis sepuasnya mencurahkan semua rasa syukur karena dia sudah pulih. "dan lagi maafkan aku untuk semuanya!”
‘aku ingin memelukmu lebih lama Chan, aku tak ingin melepaskannya.’
“ini bukan salahmu! Aku dengar dari Seho hyung kau terus menyalahkan dirimu sendiri, kutegaskan sekali lagi, semua yang terjadi bukan salahmu! bukan salahmu kalau aku terluka. Aku tidak akan pernah menyalahkanmj intuk ini. Begitu pun keluargaku dan teman-temanku. Justru aku bertahan itu karena kamu. Karena kamu segalanya untukku.”
air mata gue menetes lagi, tapi jika gue terus bersama dengannya dia akan ikut tersiksa. karirnya, kehidupannya, meskipun dia sudah terbiasa dengan hinaan, cacian dan rasa kebencian dari para hatersnya, tapi Chan tetaplah manusia biasa. Jika gue menjauh, jika hubungan ini berakhir, semuanya akan kembali seperti semula. Tidak akan ada yang terluka. Termasuk kamu.
“Chan!”
"hm?"
“aku ingin mengakhiri hubungan ini. kita putus!” dengan suara gemetar gue berusaha buat ngucapin kata itu.
Chan diam, seolah ia sedang mencerna kalimat yang gue ucapkan barusan, gue tau dia pasti sulit menerimanya atau bahkan dia pasti mikir gue lagi bikin lelucon.
“aku serius Chan. Kita akhiri hubungan ini sekarang!”
Chan mencengkram kedua pundak gue “kenapa kau seperti ini? kenapa tiba-tiba-- ini bukan April Mop, aku mohon jangan bercanda!”
“aku tidak bercanda! Aku lelah dengan semua ini. melihat fansmu terus menyerangku, membuatku muak! Aku tidak tahan dengan semuanya, kehidupanku yang bebas harus tertutup dan terkekang, semua orang memandangku iri dan kesal karena keberuntunganku. Dan bahkan aku harus masuk rumah sakit karena keracunan, semuanya aku muak dengan semuanya. Seharusnya aku memang mengakhirinya saat kau bilang aku harus pergi jauh darimu saat aku tidak bisa menanggungnya lagi!”
“lalu kenapa kau tidak pergi? Kenapa kau memilih bertahan bersamaku melewati semuanya, kenapa?!”
kalimat itu tepat menyerang hati gue, tapi gue gak bisa terus bersamanya, “iya aku yang salah! aku pikir fansmu tidak akan sekejam ini, tapi ternyata mereka sangat keterlaluan dan aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku pikir semuanya akan berhenti, teror dan segala hal yang lainnya tapi ternyata tidak, yang jelas aku sudah tidak mencintaimu lagi. Jadi lebih baik kau pergi, lagi pula aku juga tidak akan tinggal di sini lagi!”
Chan menghalangi jalan gue, “tatap aku, kalau kau memang tidak mencintaiku lagi tatap aku!”
‘mana mungkin aku bisa menatapmu! aku tidak bisa menatapmu karena aku berbohong!’
__ADS_1
“tatap aku! kenapa kau tidak mau menatapku?”
“pergilah! Aku lelah! Kau juga harus istirahat.”
Gue berjalan cepat ke arah kamar dan segera mengunci pintunya.
Chan mengedor-gedor pintu kamar gue, “Hyerim buka pintunya! Aku tau kau bohong! buka pintunya! kalau kau sudah tak mencintaiku kenapa kau peduli padaku?! Apa karena kecelakaan ini? itu bukan masalah untukku.”
Gue berusaha menahan tangis agar Chan tidak mendengarnya, tubuh gue merosot ke lantai.
‘maafkan aku Chan, maafkan aku!’ rasanya benar-benar sesak, rasanya sangat sakit!
“aku mohon! Jika kau melakukan ini karena rasa bersalahmu, aku tidak pernah menyalahkanmu! Aku melakukannya karena aku mencintaimu aku tidak mau kau terluka!”
‘tapi kau terluka karena aku! Kau terluka karena melindungiku terlibat dengan urusanku dan aku tidak akan pernah bisa melupakan itu! aku tidak mau kau terluka lagi karena terus melindungiku.’
Chan akhirnya berhenti menggedor-gedor pintu, “baiklah kalau itu keputsanmu. Tapi aku tetap tidak akan pernah menerimanya! Karena kau sama berharganya seperti keluargaku, kau adalah orang ke tiga yang paling kucintai setelah orang tua dan kakakku! Jika kau memang ingin pergi maka pergilah! Tapi kau harus ingat bahwa aku akan terus menunggumu. Dan aku akan menemukanmu di manapun kau berada. Aku mencintaimu Hye-ya. Aku pergi.”
Kata terakhir yang diucapkan Chan membuat semua kenangan-kenangan itu terlintas di pikiran gue, awal pertemuan yang gak di sengaja, kebersamaan bersama member AXE sampai perlakuannya yang buat gue kesal, semua memori itu berputar di kepala gue, tangis yang gue tahan akhirnya tak terbendung lagi.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!” Tangan gue bergerak memukul dada berharap kesesakan ini segera pergi, gue gak kuat! Gue benar-benar gak kuat, rasanya gue mau mati, tolong gue!
Kali ini Luna yang menggedor-gedor pintu kamar gue, “Hye buka pintunya! Hyerim!”
Tangisan gue semakin menjadi air mata gue terus keluar tanpa henti. Rasanya benar-benar sakit, lebih sakit dari pada sebelumnya.
“Hye gue mohon buka pintunya, biarin gue masuk.”
‘maafkan aku! maafkan aku Chan!'
__ADS_1