
2 Tahun Kemudian – Tokyo, Jepang
Musim dingin kali ini lagi gue habiskan di negara orang dan gue kini menetap di Jepang, tepatnya di ibu kotanya, Tokyo. “di sini benar-benar dingin bu. Entah berapa lapis baju yang harus aku pakai.” Aku berjalan di trotoar sambil bicara dengan ibuku di telepon
“apa perlu ibu kirimkan jaket dari sini?”
“mmmmm, aku ingin syal saja. jaketku sudah banyak di sini.”
“baiklah, ibu akan merajutnya khusus untukmu. Sudah dulu ya, ibu ada pelanggan. Jaga diri baik-baik.”
“ibu juga!”
Setelah sambungan telepon berakhir, gue kembali memutar lagu kesukaan gue yaitu lagu yang dinyanyiin AXE, gue minum kopi panas yang baru saja gue beli, rasanya benar-benar nikmat di tengah cuaca dingin seperti ini. setiap kali gue dengar lagu ini gue selalu saja ingin menangis apalagi ketika dia memaikan bagiannya, dan itu membuat gue semakin merindukannya.
Beberapa hari setelah pertengkaran gue dengan Chan yang berujung putus, gue pindah dari rumah persembunyian dan dapat email tawaran bekerja di Jepang. Tanpa pikir panjang gue setuju meskipun ayah dan ibu melarangnya, ayah lebih ingin gue kerja di Indonesia beliau bilang seenggaknya gue ada keluarga yang bisa jaga dan perhatiin semua kebutuhan gue, dan ibu setuju dengan usulan ayah karena mereka sepemikiran. Tapi gue lebih milih pergi ke Jepang dan gue pergi bareng lagi sama Luna dan kita satu rumah lagi tapi beda tempat kerja, ya gue mungkin emang udah jodoh kali ya sama anak satu itu, dan gue cuma bertahan beberapa bulan kerja di perusahaan itu dan nyari peruntungan lain.
Sejak di Jepang gue berusaha buat lupain perasaan gue buat dia, tapi nyatanya sia-sia. Gak masalah sebenarnya kalau gue harus mencintainya sendirian, karena dari awal gue memang mencintainya sendirian sebagai seorang fans. Tapi setidaknya gue gak bisa bertemu dengannya secara langsung di sini dan gue udah gak tau apapun lagi tentang mereka, hanya sesekali Luna sering bilang tentang aktivitas mereka ke gue. aneh sih menurut gue, harusnya gue juga jangan dengerin lagu mereka tapi gue gak bisa. Mereka udah seperti obat buat gue, meskipun kadang bikin gue nangis sendirian.
“yuki...” gue mengadahkan tangan dan melihat salju yang turun mulai semakin banyak
tetesan dinginnya salju yang turun di telapak tangan membuat gue teringat orang yang buat gue susah move on, “aku merindukanmu, Chan.”
semakin lama gue berdiri di tengah salju yang turun, semakin gue ingat kejadian malam itu. gue lebih milih buat bergegas pergi ke tempat kerja daripada larut dalam kenangan masa lalu.
Hari ini gue selesai melakukan pekerjaan menjadi pengisi suara untuk sebuah film animasi dari salah satu studio ternama di Jepang,
“terima kasih, kalian sudah bekerja keras.”
Sebenarnya ini bukan kali pertama, semenjak keluar dari tempat kerja sebelumnya gue udah beberapa kali ngisi suara buat karakter anime. Tapi untuk yang 21+ gue tolak meskipun bayarannya lebih gede!
Geli-geli gimana gitu, dan gue juga gak bakalan bisa fokus pastinya.
Drrrt, drrrt
“lo di mana? Gue udah di depan gedung nih!”
__ADS_1
“iya gue datang! Ini baru selesai!”
ucap gue sambil berjalan ke pintu utama gedung ini. Rencananya kami bakal pergi makan bareng di restoran tempat biasa.
“waw! Hot pot!” Wajah Luna berbinar malihat sayuran dan daging yang ada di dalam panci meletup-letup dengan aroma yang membuat air liur mendadak bertambah banyak.
“itadakimasu!”
Gue biarkan Luna mengambil bagiannya lebih dulu, pandangan gue lebih tertarik pada salju yang turun di luar sana.
“salju di hari pertama.” Tiba-tiba gue ingat malam itu, malam yang bisa buat gue bahagia dan jadi cewek yang paling beruntung. Dimana malam itu dia menyatakan perasaan yang sejujurnya sama gue, dimana gue ngerasa senang karena gue gak hanya sendirian punya perasaan itu.
“Hye ayo makan! Nanti malah gue habisin semuanya!”
“heuh! Dasar rakus! Sisain dong!”
Selesai menghabiskan semua makanan, kami berdua sama-sama menyandarkan punggung di kursih, “ah, perutku benar-benar kenyang!” Luna menepuk-nepuk perutnya.
“kau makan paling banyak!” Luna berdecak kesal, gue tersenyum mengejek.
“tanggal 27 tinggal tiga hari lagi!”
Gue pun menatap Luna, ini anak emang sengaja ngingetin gue apa bagaimana. Merasa diperhatikan Luna akhirnya balik natap gue.
“maksudnya tanggal 27 itu libur hari minggu, tinggal tiga hari lagi!”
Mata gue menyipit, melihat padangan gue Luna akhirnya menghela nafas pasrah
“iya, gue ngingetin lo! Gue tau lo gak bakalan lupa, karena tiap tahun lo selalu nandain tanggal 27 November di kalender ponsel bahkan yang di rumah meskipun titiknya kecil dan di taruh di pojokan.”
teliti yang kebangetan sampai titik kecil itu terlihat olehnya.
“kanapa juga lo milih putus dulu, akhirnya lo tersiksa juga kan?”
“gue gak punya pilihan lain. Gue gak mau dia terlibat dalam masalah gue dan terluka lagi. setelah kejadian itu gue gak tau tindakan fans nya bakalan segila apa kalau gue ngelanjutin hubungan itu. Lagi pula dari awalnya gue emang menyukainya sendirian.”
“hmmm... terserah lo aja, tapi gue gak mau lihat lo nangis lagi tengah malam. Cheers!” kami meneguk bir sampai habis, rasanya benar-benar nikmat sebagai salah satu minuman yang cocok dalam suasana galau.
__ADS_1
“katanya AXE bakalan jadi bintang tamu di salah satu stasiun radio di sini lho!”
Hampir aja gue kesedak, “tapi gue gak tau itu radio tempat lo kerja atau bukan!” ucap Luna
“semoga aja bukan di tempat gue kerja! Kalau iya gue gak bakalan masuk! Mending gue pura-pura sakit.”
**
“haaattchiim!”
“tuh kan! akhirnya lo sakit beneran! Lo sih pake niat bohong segala.” Luna ngasih obat flu dan segelas air.
“kalau emang di radio tempat gue kerja, gue harap mereka datang sekarang.”
Gleek! “ah, pahit!”
“mereka katanya sampai hari ini, tapi gue gak tau kapan mereka siarannya.”
“ya udah lo istirahat di kamar, gue buatin teh madu dulu!”
“jam 7 pagi.” Gue tarik lagi selimut sampai menutupi kepala gue, ini hari terakhir gue istirahat di rumah dan besok gue harus kerja lagi meskipun suara gue masih serak karena flu yang masih belum sembuh.
“Hye gue berangkat dulu ya! Sarapan udah gue siapin di meja!”
“hati-hati di jalan!”
Gue lihat tanggal di ponsel, “hari ini tanggal 27. Selamat ulang tahun Chan!”
Drrrt drrrttt drrrt
“moshi-moshi Asuna-chan!”
“Hyerim-chan! Sebelumnya aku ingin minta maaf, tapi bisakah kau datang ke kantor jam 4 nanti. Aku mohon! Yuna-chan tidak bisa masuk, jadi bisakah kau menggantikannya? Itupun kalau kau sudah sembuh. Acara ini sangat penting.”
Padahal gue masih ingin malas-malasan di kasur. “baiklah, akan aku usahakan.”
“arigato Hyerim-san! Mata ne!”
__ADS_1
Sambungan terputus, “ah, gue lupa nanyin acara apa sampai kata pentingnya penuh dengan penekanan!”