Falling For You

Falling For You
Ep 20. Siapa?


__ADS_3

“heran gue sama Pak Min Woo.” Gue natap Luna mendengar perkataannya


“pasti gara-gara tugas. Ya kan?” tanya Dae Wong


“itu dia! kenapa gak di suruh print aja gitu biar gampang! Ini harus nulis banyak pula. Materinya tuh gak sedikit!” Luna mengunyah sandwichnya dengan penuh emosi!


“biar bolpen di negara kita laku!” celetuk Ryu


“benar, gue harus beli bolpen satu pak buat jaga-jaga! Ah gue males matkul terakhir! Mana jam 3 satu jam lagi!” Luna menidurkan kepalanya diatas meja.


Hari ini kami makan siang di taman belakang kampus, rasanya nyaman makan di alam terbuka, dan gak begitu ramai juga!


“bukannya itu Min Hwa?” badan gue berbalik, Min Hwa dan Eum Ji berjalan ke arah gue.


“ngapain dia nyamperin kita?” tanya Luna.


Begitu Min Hwa sampai, ia menyerahkan minuman sama gue “ini untukmu!” gue memandangnya dengan tatapan bingung. Ada angin apaan? Semenjak dia tau gue jadian sama Chan dia kelihatan banget gak suka sama gue


“kemarin aku melihatmu membantu nenekku.”


Ah iya gue inget, kemarin sepulang ngerjain tugas kelompok di rumah Mi Ran gue bantuin seorang nenek yang kesusahan bawa barang belanjaannya apalagi jalannya menanjak gitu dan akhirnya gue bantuin sampai ke rumahnya.


‘jadi itu neneknya Min Hwa, gue baru tau.’


“karena nenek gak bisa ngasih apa-apa karena kamu langsung pergi. Jadinya nenek menyuruhku membelikanmu sesuatu.”


“tapi--“


“gak usah protes! Itu emang kebiasaan nenek!” ucapannya masih aja ketus, ikhlas gak sih? gue takut malah sakit perut nantinya.


“gomawo!”


Tanpa bicara lagi Min Hwa pergi, “sepertinya dia nyesel juga.”


“nyesel gimana?” tanya gue ke Luna


“ya karena udah gak suka sama lo, padahal lo udah bantuin neneknya. gak nyangka gue, dia bisa luluh juga.” Gue tersenyum menanggapi perkataan Luna, seenggaknya bisa ngurangin haters


kan?


Semenjak mata kuliah terakhir dimulai, kepala gue mendadak pusing, perut gue rasanya mual berasa diaduk-aduk dan pandangan gue kabur, keringat gue seperti orang yang habis lari maraton. Gue kenapa tiba-tiba begini?


“Hyerim! Kau baik-baik saja?” bahkan gue gak sadar Bu Ji Hyun udah ada di depan gue,


gue beneran gak bisa fokus, yang gue rasain cuma rasa sakit.


“wajahmu pucat. Apa kau sakit?” gue gak bisa jawab pertanyaan itu, rasanya berat banget buat ngomong, perlahan pandangan gue mulai menggelap, suara mereka mulai gak bisa gue dengar dengan jelas dan gue gak ingat apapun.


**


“lo udah sadar?” suara pertama yang gue dengar dan itu bikin gue bingung, begitu mata gue terbuka langit-langit berwarna putih dan ada tirai putih yang mengelilingi gue. gue bisa lihat Luna dan Ryu dengan wajah khawatir mereka.


“gue kenapa? dan... ini di mana?” badan gue rasanya lemas semua.


“lo di Rumah sakit sekarang. lo keracunan.”


“mwo? Keracunan?” Luna mengangguk, tapi kenapa bisa gue keracunan? Siapa yang racunin gue?


“lo keracunan setelah minum minuman dari Min Hwa. Gue yakin dia pelakunya.” Ucap Luna dengan wajah penuh emosinya


“lo gak bisa ngasih kesimpulan begitu aja.”


“pokoknya gue bakal introgasi Min Hwa, kalau dia gak mau ngaku terpaksa kita laporin polisi.”


“Luna gue tau lo khawatir sama gue, gue tau lo cemas. Tapi tolong jangan laporin ini dulu ke polisi. Dan jangan sampai Chan tau kalau gue di rumah sakit.”

__ADS_1


“tapi berita lo diracuni udah menyebar di kampus, dan pastinya udah nyebar ke luar. Di sosial media gue aja udah penuh sama berita lo yang pingsan di kelas karena keracunan, dan member AXE gak mungkin kalau mereka gak tau tentang hal ini.” Ryu memperlihatkan ponselnya,


‘kenapa beritanya nyebar cepat banget!’


Chan datang ke rumah sakit dan saat itu juga gue langsung dipindahkan ke ruang VVIP , Chan bilang dia mau agar gue bisa lebih tenang dan dapat perawatan yang lebih baik.


“Chan aku baik-baik saja, kenapa kau--“


“jangan protes!” wajahnya terlihat khawatir dan juga ada rasa bersalah? please gue gak mau dia berpikir gue keracunan gara-gara dia...


Oke lah gue nurut, gue gak bakalan bicara lagi. Kalau dia udah keukeuh, gue gak bisa ngebujuk dia.


Dia melakukan ini demi kebaikan gue juga kan?


Sampai di ruangan, Luna menceritakan semuanya pada Chan. Padahal gue udah bilang gara-gara makanan basi tapi Luna gak mau nurut sama gue.


Ryu datang bersama Sang Chul, “Hye gue habis ketemu sama Min Hwa.”


“lo ko gak ngajakin gue sih!” pasti mulutnya udah gatal pengen marah-marahin Min Hwa, gue tau betul sifatnya Luna.


“lo kan harus jagain Hyerim.”


“ah... iya. terus gimana?” Ryu mengambil ponselnya kemudian memutar rekaman percakapannya dengan Min Hwa


“... aku memang pernah mengirimkan tikus mati dan surat agar Hyerim putus dari Chan oppa. Aku mengakui itu. tapi aku gak pernah punya niatan sama sekali untuk meracuni Hyerim! Setelah melihat dia membantu nenekku, aku sadar gak seharusnya aku membencinya! Tolong percaya padaku, aku sama sekali tidak memasukkan apapun kedalam minuman itu!”


“gue juga nanya sama sama Eum Ji, dan dia bilang Min Hwa memang tidak memasukkan apapun pada minuman itu, selain mereka juga ada bibi di kantin yang memperhatikan mereka. Minumannya pun emang gak basi, kalau emang minuman itu dari sananya udah gak bener, yang keracunan bukan lo aja.” tambah Ryu


“kalau bukan Min Hwa lalu siapa?” tanya Chan


“bisa saja kan dia menggunakan Hyerin, bukannya Min Hwa selalu saja menyuruh-nyuruh Hyerin, dan katanya ibunya Hyerin bekerja di rumah Min Hwa.” Luna menambahkan pendapatnya.


“tapi masalahnya, Min Hwa secara langsung memberikan minuman itu. kalau Hyerin yang memberikannya oke kita bisa curiga.” Ucap Ryu


“untuk sekarang aku tidak mau melaporkannya ke polisi. maaf karena aku membuatmu khawatir, lain kali aku akan lebih berhati-hati.”


Sore harinya ibu datang ke rumah sakit bersama seorang pria yang kira-kira seumuran sama ayah gue, di dalam pikiran gue udah nyangka kalau dia calon ayah tiri gue.


Ibu langsung meluk gue dengan erat, gue pasti udah bikin beliau khawatir banget. Niatnya gue mau rahasiain ini tapi sayangnya pas gue lagi tidur bentar beliau nelpon dan Luna yang yang ngangkat pas banget juga ada suster yang mau meriksa kondisi gue, jadinya kebongkar kalau gue lagi di rawat di rumah sakit.


“bagiamana kondisimu sekarang? masih pusing? Mual?”


“masih sedikit pusing, tapi ini sudah lebih baik. maaf aku sudah membuat ibu khawatir.”


Ibu menggeleng, “entah ini kecelaan atau memang di sengaja, yang penting kamu selamat dan sekarang baik-baik saja.” ibu mencium kening gue


Gue memberikan isyarat mata agar ibu menjelaskan siapa pria yang menemaninya, “ah, namanya Choi Tae Lim, mungkin kau sering melihatnya di restoran kalau kau pulang ke Busan.”


“Hyerim-ah, kau bisa memanggilku paman Lim. Aku bersyukur kalau kau baik-baik saja.”


“terima kasih paman sudah mau menemani ibuku, terima kasih juga sudah mengkhawatirkanku.”


“sayang, ibu pernah bertanya padamu kan bagaimana jika ibu menikah lagi?”


gue terdiam sesaat, “lalu apakah paman ini yang ibu cintai?”


Mereka saling menatap dan sama-sama tersenyum mengisyaratkan kalau mereka memang saling mencintai, berat? Iya. Tapi ibu tidak akan mau kembali pada ayah walaupun gue memaksa. Meskipun mereka terlihat biasa saja saling rukun walaupun sudah tak terikat dalam status pernikahan, tapi sepertinya memang sulit untuk kembali walaupun itu demi gue, putri mereka satu-satunya.


“paman, apa paman benar-benar serius?”


“tentu, paman sangat mencintai ibumu. Dia seorang perempuan yang baik, dewasa, pengertian, dan tentunya dia sangat spesial untukku tapi itu juga jika kau memberikan restumu.”


Gue bisa liat ibu benar-benar berharap gue bakalan ngasih restu buat mereka, Ya Tuhan... gue gak tega sama ibu kalo gak ngerestuin mereka, gue gak punya pilihan lain selain merestui mereka kan? keliahatannya paman Lim juga orang yang baik dan serius mencintai ibu.


“baiklah, aku juga tidak mau jadi anak yang merusak kebahagiaan orang tuanya. Tapi kalau aku melihat ibu menangis karena paman melukai perasaan ibu, jangan harap aku akan merestui kalian lagi.”

__ADS_1


Ibu langsung meluk gue dengan erat paman Lim juga menghampiri ibu dan memegang pundaknya dengan senyum bahagianya, ada rasa gak ikhlas sih... tapi gue bisa apa? ibu juga masih butuh seorang pendamping untuk menjaganya.


**


Setelah keluar dari rumah sakit dan istirahat selama beberapa hari di rumah, gue kembali menjalankan aktivitas biasa gue sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kejadian keracunan itu gue biarin aja meskipun banyak orang yang nyuruh gue buat diselidiki sama polisi, tapi gue gak mau dengan alasan sederhana, ribet.


Gue jadiin sebagai pelajaran aja untuk lebih berhati-hati sama apa yang orang kasih ke gue, untungnya juga fans Chan udah agak tenang soal masalah hubungan gue meskipun masih ada sebagian yang sering ngirim sms ancaman ke gue dan sebagian berakhir di polisi karena ponsel gue sekarang disadap sama Chan jadi dia tau semuanya.


bahkan Ryu sering protes ke gue karena dia gak bisa ngegoda gue lagi, katanya gak rame sejak ponsel gue di sadap sama Chan, dia gak bisa godain gue tentang hal-hal berbau 18+. dasar otak yadong!


“haduh gue males banget mata kuliah terakhir, mana sore banget lagi!” Luna berjalan membungkuk


“heh, lo udah kaya nenek-nenek tau, bungkuk beneran baru tau rasa lo!”


Plak! “aww!! Ish gue bercanda juga!” gue ngusap bagian lengan atas gue yang di pukul Luna


“cewek bertangan ringan lo tuh ya!”


“bercanda? Lo kaya doain gue tau gak?!”


“udah udah nenek Luna, tadi kan gue udah nraktir budaejige semangat dong!”


“ya ya ya.. nyonya Chan~ kamsahabnida” Luna membungkuk 90 derajat ke gue,


“lain kali traktir gue lagi ya,” kemudian berbisik di telinga gue “yang lebih mewah tapi!”


“lo kira gue mau?!” Luna memasang wajah konyolnya


“eh Hye, siapa tuh? Dia senyum ke arah kita.”


“oh, dia paman Lim. Calon ayah tiri gue.”


Gue dan Luna nyamperin Paman Lim yang udah nungguin deket gerbang, “paman sedang apa di sini?”


“kebetulan paman tadi melihatmu, dan ini...” paman Lim menyerahkan kantong kresek berisikan minuman ke gue “kau bisa memberikannya pada teman-temanmu juga.”


“paman kenapa repot-repot segala?!”


“tak apa! kau kan akan segera jadi putriku jadi kau harus terbiasa. Aku ingin jadi ayah yang baik untukmu.”


“terima kasih paman.”


“kau masih memanggilku paman?”


Ah gue gak bisa secepat itu memanggilmu ayah paman, “a... beo... ji.” Gue nyengir kepaksa


“sudahlah, kau pasti masih berat memanggilku ayah. Yang semangat belajarnya ya.”


gue tersenyum


“Hyerin!” gue lihat Hyerin lagi berjalan masuk kampus dan gue refleks manggil namanya, ia tersenyum kecil tapi kemudian berjalan cepat masuk ke dalam kampus. Luna kadang gak suka kalau gue nyapa Hyerin, dia masih curiga sama anak itu tapi gue sih udah biasa aja.


“oh ya paman, apa paman punya anak dari pernikahan sebelumnya?”


“eum, ya punya. Kenapa?”


“karena kita akan jadi keluarga, aku ingin tau soal anak paman... bukankah kami harus akrab dan mengenal satu sama lain?”


Paman Lim terdiam, “ah ya tentu, kapan-kapan paman akan mempertemukan kalian.”


“sekali lagi terima kasih untuk minumannya, hati-hati di jalan paman!” gue pamit pergi buat masuk kelas karena sudah hampir telat.


“kelihatannya dia orang yang baik.” ucap Luna setelah berjalan cukup jauh dari gerbang


“kelihatannya begitu, semoga saja.”

__ADS_1


__ADS_2