
Hujan tak hentinya mengguyur Tokyo, hanya beberapa jam saja matahari dapat mengeluarkan sinarnya dari belenggu awan hitam yang menyelimutinya. Dan hari ini gue harap cuacana bisa cerah lebih lama.
Tring!
Gue baca pesan yang masuk, begitu selesai membacanya gue langsung pergi mencari baju ganti “mmmm, apa gue coba pakai dress ya?”
Gue milih dress warna peach dengan hiasan polkadot warna senada di bagian tangan. Gue masih ingat kata ibu, berdandanlah yang cantik jika kau akan bertemu dengan orang yang kau cintai dalam cuaca apapun. Gue tersenyum sendiri melihat pantulan diri gue di kaca,
“tidak buruk.” Seperti biasa gue lebih memilih make up yang natural, kadang Luna sering bilang gue seperti gak pakai make up saking gak kelihatannya. Tapi gue lebih memilih begini, rasanya lebih ringan di wajah dan gue merasa jadi diri sendiri. Karena cantik itu gak harus selalu dari kecantikan visual, tapi dari hati juga. Percuma kan sudah cantik tapi hatinya jelek? Ngomong apa sih nih gue? Abaikan!
Gue nunggu dia di tempat janjian, meskipun cuaca mendung tetap saja banyak orang berlalu lalang hanya untuk sekedar beristirahat atau melepas penat di tempat ini, ini masih jam 1 siang tapi serasa jam 4 sore karena saking mendungnya, aku rasa ini jauh dari ekspektasi yang kubayangkan di hari kemarin. “ ayolah~ jangan dulu hujan!”
“benar! Jangan dulu hujan!”
gue refleks menatap pria yang kini sudah berdiri di samping gue, dan gue gak bisa menyembunyikan senyum terbaik gue hari ini “kau sudah datang?”
“aku tak pernah lupa janjiku.”
“uuu~~”
Chan menggenggam tangan gue, “ayo!”
Kami pergi ke tempat yang sudah di rencanakan, setiap Chan datang ke Tokyo pasti foto kami sedang kencan langsung tersebar detik itu juga. Hal yang benar-benar berbeda dari hubungan kami yang sebelumnya. Saat pertama kami mulai berpacaran, berkencan tengah malam, sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan oleh fansnya. Tapi sekarang, kami benar-benar terbuka.
Dan saat ini pun banyak sekali pasang mata yang memperhatikan kami. Gue memang masih sedikit takut, tapi gue mencoba berani seperti lelakiku ini yang berani menunjukkanku pada dunia. Chan sering datang ke Jepang saat schedulenya kosong hanya untuk menghabiskan waktunya sama gue. Bahkan sekarang beberapa orang memotret kami dari jarak dekat tapi mereka tetap sopan dan menyapa kami, meskipun tidak semuanya begitu, tapi gue benar-benar berharap fansnya bisa menerima gue dengan lapang dada.
__ADS_1
“kau membawa payung?” tanya Chan
“ini adalah hal yang wajib dibawa saat musim hujan. Ingat pepatah 'sedia payung sebelum hujan'”
“kalau begitu nantinya tidak akan romantis.”
Gue gak ngerti maksudnya apa? bukannya sepayung berdua itu lebih romantis? Bisa lebih dekat gimana gitu.
“kau ingat drama Kei? Dia menggunakan jaketnya menerobos hujan bersama wanitanya. apa kau tidak ingin seperti itu? Aku pikir semua wanita ingin seperti itu. Mereka bilang itu adalah hal yang romantis.”
“itu hujan di drama. Bagaimana jika hujannya lebat? Yang jelas bukannya romantis tapi malah basah kuyup!”
Tetesan air hujan mulai turun, “tuh kan!” gue langsung buka payung yang sedari tadi gue bawa karena serangan air hujan dari langit mulai berdatangan lebih banyak.
Chan mendesah pelan, “tapi aku rasa memang lebih romantis seperti ini.”
Gue gak memperdulikan perkataannya, udah dibilangin dari tadi masih aja ngeyel. mending gue fokus lihat jalan dari pada gue jatuh gara-gara jalanan yang licin dan itu bisa membuat Chan malu.
“kau tau, lagu Yiruma yang Kiss In The Rain?” tanya Chan tiba-tiba
“tentu, mendengar lagu itu selalu membuatku sedih. Aku selalu berpikir kalau lagu itu mengisahkan ciuman perpisahan di tengah hujan. Apa menurutmu juga begitu?”
“mungkin iya. Aku jadi ingin melakukannya.”
“melakukan apa?” tanya gue dengan polosnya, langkah kaki kami terhenti.
__ADS_1
“ini!” Chan menarik pinggang gue agar lebih mendekat, Chan mencium bibir gue. Dan ini di tempat umum! gue emang bilang kami udah berani terbuka soal hubungan kami di depan publik, tapi ini juga gak harus di umbar dong?! Tapi... ah~ aku tak bisa lepas darinya.
Saat bibir kami bertautan gue bisa merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuh, perlahan tangan gue memeluk pinggangnya, gue gak peduli dengan tanggapan orang-orang, yang jelas sebentar lagi agensi Chan akan sangat disibukkan dengan berita tentang kami, begitu juga gue, gue harus menghadapi hujatan bahkan dukungan dari banyak orang. Gue hanya berharap bisa melewati semuanya dengan sabar.
Tapi siapa yang bisa melawan cinta? Meskipun awalnya gue mencintai dia sebagai fans karena dia adalah Chan AXE, tapi sekarang bukan itu lagi alasannya, gue hanya mencintai Chan yang gue kenal.
Tidak masalah jika dia bukan anggota boyband terkenal, tidak masalah jika dia bukan seorang public figure, karena aku mencintainya bukan karena kepopulerannya, bukan karena hartanya, tapi gue mencintainya karena dia hanyalah Chan kekasihku. Seandainya takdir mempertemukan gue dengannya lagi dalam keadaan yang berbeda, gue akan tetap mencintainya seperti sekarang. Aku akan meminta agar kami dipertemukan kembali dan menjadi pasangan kembali.
Ini bukanlah ciuman perpisahan, tapi ini adalah ciuman awal mula perjalanan hidup kami, semuanya kembali di mulai dan akan jauh lebih baik, aku yakin itu. Chan melepaskan tautan bibirnya, tangannya merogoh saku jaket mengeluarkan sebuah kotak. Gue gak bisa berkata apa-apa lagi, rasanya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup gue.
“aku ingin kau terus menemaniku, bersamaku, dan aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku selamanya. Apa kau mau menikah denganku?”
Air mata gue gak bisa gue tahan, gue ngangguk, “yes!” kami berdua sama-sama tersenyum bahagia.
Chan memasangkan cincin di jari manis gue, sederhana tapi tetap cantik, “sekarang kau milikku,” ia tersenyum "maaf juga aku tidak bisa melamarmu dengan kata-kata romantis bahkan yang puitis. aku memang sering membuat lagu tapi entah kenapa aku jadi gugup."
Gue tersenyum geli mendengar penjelasannya, “lagi pula aku tidak membutuhkan kata-kata manis itu, yang penting niat keseriusanmu untuk bersamakulah yang lebih penting dari apapun itu dan juga dari dulu aku ini milikmu, aku tidak pernah berpindah dari hatimu.” gue kecup bibirnya, jelas Chan kaget dengan serang tiba-tiba ini.
“uuu~~ kau mulai berani ya?!” aku tak bisa mengehentikan senyum bahagiaku, begitu juga Chan.
Saat kejadian itu gue menyalahkan takdir, tapi kali ini tidak. Gue sangat berterima kasih karena Tuhan menuliskan takdir dengan akhir yang bahagia, meskipun awalnya penuh dengan rintangan dan air mata, tapi percayalah akhirnya akan selalu bahagia.
Jika kalian sudah ditakdirkan untuk bersama, sejauh apapun kalian pergi kalian akan tetap kembali padanya, padanya yang pantas untukmu.
__ADS_1