FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
Part 1


__ADS_3

Malam itu, pintu rumah keluarga Marquez diketuk seorang laki-laki muda dengan paras tampan. Laki-laki itu berdiri gelisah menunggu penghuni rumah membukakan pintu untuknya. Sekali lagi, laki-laki berusia 20 tahun itu mengetuk pintu rumah mewah itu. Kaki sebelah kanannya mengetuk-ngetuk lantai, tanda tidak sabarnya ia untuk segera menemui seseorang. Ingin sekali ia menerobos masuk kedalam rumah itu, tetapi ia masih sadar akan sopan santun.


Akhirnya, pintu lebar berwarna coklat itu terbuka dan menampakkan wajah polos laki-laki yang usianya lebih muda darinya.


“Maverick? Kukira siapa. Bisakah kau tidak mengetuk pintu? Kau tidak lihat ada bel disana?” ketus Alex pada Maverick sambil menunjuk bel pintu yang memang disediakan sang pemilik rumah.


“Ahh Alex, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku ada perlu dengan Marc," serobot Maverick dan menerobos masuk kedalam rumah mewah itu.


“Hei… kau tidak sopan, Mack." teriak Alex kesal.


Tidak memedulikan teriakan Alex, Maverick berjalan menuju kamar orang yang ingin ditemuinya.


“Astaga! Kau benar-benar tidak sopan, Mack." Alex mulai berteriak lagi saat melihat Maverick menaiki tangga.


“Ada apa ini? Alex, kenapa kau berteriak didalam rumah?” Seorang laki-laki paruh baya, ayah Alex, datang saat mendengar anak bungsunya itu berteriak-teriak didalam rumah mewahnya ini.


“Dia…,”


“Paman…,” Alex mengumpat kesal saat Maverick menyela ucapannya yang ingin mengadu kepada ayahnya ini. "Aku minta maaf, tetapi aku harus segera bertemu dengan Marc. Ada sesuatu yang terjadi.”


“Sesuatu apa?” kali ini suara Alex yang menyela. “Apa kerajaan api sudah mulai menyerang dan Avatar menghilang, begitu? Lalu kenapa kau mencari Marc? Seharusnya kau meminta bantuan 12 manusia serigala yang berasal dari Korea yang disukai oleh adikmu itu."


Astaga Alex, mulutmu itu… Bagaimana mungkin ada laki-laki dengan mulut tak terkendali sepertimu?


“Alex!!!” suara berat ayahnya membuat Alex memberenggut kesal. Rasakan! Sekali-sekali mulutmu itu perlu disekolahkan, Alex.


Ayah Alex kembali menatap Maverick. “Memangnya apa yang terjadi, Mack?”


~~


“Marc," panggil Maverick setelah sampai didepan kamar Marc yang tidak ditutup. Tampak Marc sedang duduk didepan meja belajarnya sambil memandang serius pada layar laptopnya.


“Mack? Ada apa?” tanya Marc setelah mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


“Adikku….”


“Ada apa dengannya?” tanya Marc yang lebih pada berteriak khawatir.


~~


Marc membuka pintu kamar seorang gadis dengan raut muka memerah, menahan emosi. Setelah apa yang dikatakan Maverick tadi, Marc langsung bergegas menemui adik kembar Maverick, Elsa Vinales, gadis yang ada dihadapan Marc sekarang.


“Marc?” Elsa terkejut mendapati Marc memasuki kamarnya tiba-tiba.


“Ada apa?” tanya Elsa sedikit takut karena melihat wajah Marc yang seperti sedang menahan emosi.


“Ayo makan!!” kata Marc sambil menarik paksa tangan gadis manis itu.


“Hei Marc! Aku harus mengerjakan tugas kuliahku," sergah Elsa sambil menahan Marc.


“Persetan dengan tugas kuliahmu. Aku ingin kau makan. SEKARANG ELSA!!” sentak Marc.


“Iya. Setelah tugasku selesai."


“Tugas…tugas…tugas. Kalau kau tidak makan, akan kubakar kampusmu jika memang karena tugas-tugas sialan itu maag mu kambuh. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu."


“Astaga Marc, kau sungguh berlebihan! Aku akan makan nanti, oke?”


“Tidak ada nanti. Sekarang!!” Marc menekankan kata ‘sekarang’ yang berarti sudah tidak bisa dibantah lagi.


“Marc Marquez!!! Aku harus mengerjakan tugas dan wajib selesai malam ini karena besok pagi aku akan ikut Maverick ke Italy. Kau mengerti tidak?" Elsa menatap Marc kesal. "Dan kau, jangan menggangguku!!!" Setelah mengucapkan itu, Elsa kembali berkutat pada laptopnya. “Kenapa semua orang berlebihan? Ayah, ibu, Mack dan juga kau," gumam Elsa pelan.


"Tapi kau belum makan dari pagi, Els." kata Marc melembut. "Dan ini sudah jam 8 malam." lanjutnya.


Elsa menggeram. "Aku pasti akan makan, Marc. Aku hanya ingin tugas kuliahku cepat selesai dan besok aku akan tenang ikut Maverick ke Italy tanpa memikirkan semua ini."


Marc menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju pintu kamar Elsa. Laki-laki itu keluar. Elsa menatap kearah pintu kamarnya yang masih terbuka. Tiba-tiba ia diliputi perasaan bersalah terhadap Marc. Lagi-lagi, ia membantah perintah laki-laki itu. Padahal Marc selalu menuruti semua keinginannya, keinginan apapun itu, sesulit apapun keinginan itu, Marc selalu berusaha menurutinya. Tetapi sekarang, Marc hanya memintanya untuk makan dan ia menolaknya.

__ADS_1


Elsa kembali berkutat dengan tugas-tugasnya, tetapi kali ini ia gagal berkonsentrasi. Pikirannya dipenuhi oleh laki-laki bernama Marc Marquez itu.


'Apa Marc marah?' pikirnya.


Gadis itu pun hanya menghadap kearah laptopnya dan melamun. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja belajarnya.


"Kau bilang kau ingin segera menyelesaikan tugas kuliahmu. Lalu kenapa yang kulihat sekarang malah kau sedang melamun?" tanya Marc yang berdiri didepan pintu kamar Elsa dengan membawa nampan makanan.


"Marc?" Elsa terkejut melihat Marc membawa nampan dan menuju kearahnya.


Marc meletakkan makanan diatas meja belajar Elsa dan menarik kursi disamping meja untuk ia duduk. "Sekarang, kau bisa menyelesaikan tugasmu sambil makan." kata Marc sambil mengangkat sendok dengan sedikit nasi dan lauk diatasnya. "Makanlah. Aku akan menyuapimu."


Elsa mengedip-ngedipkan matanya tak percaya. Ia mencoba mengambil alih piring yang dipegang Marc. "A...aku bisa makan sendiri." ucapnya malu.


Marc mendelikkan matanya. "Kau tinggal makan dan kerjakan tugasmu," perintah Marc.


Elsa menghela nafas dan membuka mulutnya, "Aaaaaaa...."


Marc menyuapkan satu suapan ke mulut Elsa dan tersenyum. "Jika kau tidak bisa mendatangi makananmu, maka makananmu yang akan mendatangimu."


Elsa memukul lengan Marc pelan dan kembali fokus dengan tugas-tugasnya. Ia merasa beruntung mempunyai tetangga sebaik Marc, pria itu perhatian sekali padanya. Ia tersenyum mengingat pertama kali Marc dan keluarganya pindah rumah didepan rumahnya.


"Kau mengerjakan tugas apa sampai tersenyum malu begitu?" tanya Marc.


Elsa menoleh dengan bibir manyunnya. Ia malu karena ketahuan senyum-senyum sendiri. "Tidak. Aku tidak tersenyum," sanggahnya.


"Iya kau tersenyum. Aku melihatnya."


"Tidak, Marc."


"Iya, Els."


"Tidak. Apa sih?" Elsa menutup mukanya dengan buku yang ia pegang.


Marc tertawa melihat tingkah gadis didepannya.


♡♡⁹³♡♡


“Sudah selesai berkemasnya?” tanya Maverick yang membuat Elsa sedikit terkejut.


“Kau membuatku terkejut, Mack." kata Elsa sedikit kesal.


“Hehe maaf," cengiran tampan khas Maverick Vinales pun keluar.


“Sudah. Ada apa? Tumben sekali kau kesini, biasanya kau lebih hobby menungguku dibawah.”


Maverick tersenyum polos. “Eum... sekarang sudah ada yang menggantikanku.”


Elsa mengerutkan keningnya dan memanyunkan bibirnya, tidak mengerti dengan maksud saudara kembarnya ini. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung.


Maverick tersenyum, senang melihat respon bingung dari adiknya yang menurutnya sangat lucu itu. “Hmm," gumamnya sambil menunjuk pintu kamar Elsa menggunakan dagunya.


Elsa masih tidak mengerti dengan maksud Maverick. Ia pun berjalan keluar kamarnya. Didepan kamarnya, ia langsung bisa melihat ruang tamu yang berada dilantai bawah. Elsa mendekat ke pagar pembatas dan melongokkan kepalanya kebawah.


Dari sini ia bisa melihat laki-laki tampan bahkan lebih tampan dari saudara kembarnya. Dengan kaos hitam lengan panjang, celana hitam yang sangat pas dengan postur kakinya ditambah rambut hitamnya yang ditarik keatas semakin menambah kesan cool untuk menggambarkan sosok sempurna yang sedang ia pandang dari lantai atas rumahnya itu.


“Marc?” panggil Elsa yang membuat sang pemilik nama mendongakkan kepalanya atas.


“Hallo sayang,” sapa Marc dengan gaya sok kerennya. Ahh tidak, dia kan memang keren.


“Cih!” cibir Elsa. “Kenapa kau kesini? Tidak langsung ke bandara?” tanya Elsa kesal yang bertolak belakang dengan hatinya yang bersorak melihat Marc berada dirumahnya.


“Tentu saja menjemputmu," jawab Marc enteng.


“U-untuk apa? Aku bisa berangkat bersama Maverick."


Marc berdiri dari kursi merah yang awalnya ia duduki. “Kau sudah siap belum? Kita berangkat bersama-sama."

__ADS_1


Elsa mengerutkan keningnya. "Tumben sekali," gumamnya.


"Memangnya ada acara apa?"


“Turunlah," perintah Marc.


“Ya, tunggu sebentar. Aku ambil koperku dulu." kata Elsa.


Maverick keluar dari kamar Elsa dan langsung menutup pintu kamar itu. "Tidak usah. Biar aku yang bawakan kopermu." kata Maverick. "Tidak ada lagi yang tertinggal dikamarmu kan?" tanya laki-laki yang wajahnya mirip dengan Elsa itu.


Elsa tersenyum dan menggeleng. "Terima kasih, kakak kembarku." ucapnya dan langsung berjalan menuruni tangga.


"Kita berempat akan berangkat bersama-sama ke Italy. Sesekali sebagai tetangga, kita berangkat ke sirkuit bersama."


Ucapan Marc membuat Maverick tersenyum geli. 'Bilang saja kau ingin pergi bersama adikku.' batin Maverick.


♡♡⁹³♡♡


@Aeroport de Barcelona - El Prat


"Aku tidak mau." Alex berteriak kepada Marc.


"Kau bisa diam tidak? Jangan berteriak disini." ucap Marc kesal.


"Tidak!" Alex kembali berteriak. "Pokoknya, aku tidak mau duduk dengan dia." kata Alex sambil menunjuk Maverick.


Maverick melotot pada Alex. "Memangnya aku mau duduk denganmu? Aku diam karena aku tidak bar-bar sepertimu," sungutnya.


Alex terus menggerutu. Ia kesal harus duduk bersebelahan dengan Maverick di pesawat. Ini semua karena Marc ingin duduk dengan Elsa.


Elsa menatap Marc yang tersenyum kearahnya. "Apa tidak apa jika Alex dengan Maverick? Aku jadi tidak enak dengan Alex, Marc." Elsa menatap Alex yang tidak berhenti menggerutu.


"Dia memang seperti itu. Semoga saja, itu bisa membuat Alex dan Maverick sedikit lebih akrab."


Elsa tersenyum dan mengangguk.


~~


“Gara-gara Marc ingin dekat dengan adikmu, aku yang menjadi korban. Aku harus duduk bersebelahan denganmu." Alex tidak berhenti mengomel. Bahkan setelah duduk dipesawat pun, mulutnya tetap bekerja untuk menggerutu. Dan tidak tahu kenapa ia selalu merasa ingin marah-marah ketika berdekatan dengan Maverick.


Maverick memutar bola matanya malas. Sebenarnya ia tak masalah harus duduk dengan Alex, hanya saja ia tidak sanggup jika terus menerus mendengar Alex menggerutu tidak jelas. Mulutnya itu bergerak terus menerus seolah tidak pernah lelah.


"Rasanya ingin cepat-cepat sampai di Italy. Aku benar-benar tidak suka duduk denganmu."


Maverick menggeleng mendengar ucapan Alex yang terus mengeluh karena tempat duduk ini. "Kau bisa diam, tidak?" Ia melirik tajam kearah Alex dan berkata, "kalau kau tidak bisa diam, akan kulempar kau keluar pesawat."


Alex memanyunkan bibirnya kesal sambil tangannya bersedekap. "Awas kau, Marc."


Sedangkan dikursi Elsa dan Marc, kedua orang itu justru sedang bercerita sambil tertawa bahagia. Bahkan senyum gadis manis itu tidak pernah hilang dari wajahnya saat berada didekat Marc.


"Sebenarnya aku sangat ingin menaiki motor MotoGP, Marc. Maksudku, aku membonceng Maverick. Lalu mengitari sirkuit." Elsa menyerukan keinginannya. "Pasti akan sangat menyenangkan." Ia tampak gembira dengan angan-angannya sendiri.


"Lalu kenapa kau tidak melakukannya?" tanya Marc. "Jika hanya mengitari sirkuit dengan kecepatan sedang, tidak akan berbahaya untukmu."


Elsa menggeleng. "Maverick tidak mengijinkannya." kata Elsa cemberut. "Dia bilang itu sangat beresiko untukku." lanjutnya.


"Aku bisa mewujudkannya. Kau bisa berkeliling di sirkuit Mugello dengan kecepatan tidak lebih dari 100 km/jam." kata Marc bersemangat. "Jika kau mau, timku akan menyiapkan warepack untukmu dan juga helm yang sama denganku. Bagaimana?"


Elsa menatap Marc tidak percaya. "Bolehkah, Marc?"


Marc mengangguk dan tersenyum. "Ya. Aku janji akan membawamu keliling sirkuit Mugello nanti dengan menggunakan motorku."


"Asyiiiikkkk." serunya tertahan. Ia masih bisa sadar bahwa ia didalam pesawat, jadi tidak mungkin jika ia berteriak disini.


Marc tersenyum senang melihat Elsa yang begitu gembira saat ia berjanji akan membawanya menaiki motor yang selama ini mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Ya, Marc Marquez adalah seorang pebalap MotoGP. Marc juara dunia di tahun 2013, 2014, 2016, 2017, 2018 dan 2019. Prestasinya sungguh luar biasa diusianya yang masih sangat muda. Alex dan Maverick juga seorang pebalap, Maverick naik kelas MotoGP pada tahun 2015 dan Alex pada tahun 2020. Mereka bertiga berada di tim yang berbeda-beda.


Sedangkan Elsa, ia adalah saudara kembar Maverick Vinales. Gadis itu selalu ikut kemanapun Maverick melakukan balapan. Bahkan di semua race dari tahun ke tahun, dari Maverick berada dikelas 125cc hingga sekarang di MotoGP, Elsa selalu ada dan selalu ikut Maverick.

__ADS_1


Minggu ini mereka akan melakukan race di Mugelo, Italia. Otomatis, mereka harus segera sampai di Italia untuk melakukan latihan bebas, kualifikasi dan tentunya balapan yang sesungguhnya.


__ADS_2