
"Aku akan ikut liburan musim panas bersama Maverick dan teman-temannya."
Lucia mengerutkan keningnya. Memikirkan apa yang sedang direncanakan oleh pria didepannya.
"Aku tidak peduli. Mau kau liburan dimanapun, dengan siapapun, aku tidak peduli," kata Lucia kasar. Ia segera mengambil tasnya dan meninggalkan pria itu sendirian.
"Marc Marquez ikut dalam liburan kami."
Seruan dari pria itu menghentikan langkah Lucia. Gadis itu berbalik dan menatapnya tajam.
"Kemana kalian pergi?"
Pria itu menunjukkan senyum sinisnya. "Siapa tadi yang bilang tak peduli?" sindirnya.
"Aku tanya, kemana kalian pergi?" teriaknya keras dan kasar.
Pria itu semakin mengembangkan senyumnya. "Pantas saja jika Marc menyukai Elsa, dia gadis yang cantik dan begitu lembut. Tidak seperti...."
Bugh!!
Hidung pria itu memerah dan mengeluarkan darah karena pukulan dari Lucia. Ia meringis dan menatap Lucia dengan pandangan remeh. Kemudian ia tersenyum sinis.
~~
Elsa menuruni tangga dengan dibantu Maverick membawakan kopernya. Kemarin malam, Marc datang kerumah Elsa dan meminta ijin kepada Angel dan Maverick untuk mengajak Elsa berlibur sebelum pergi lagi ke Jerman.
"Kabari aku setelah sampai disana," kata Maverick. "Katakan padaku juga, jika Marc macam-macam denganmu."
Elsa tertawa mendengar ucapan Maverick. Ia tahu sebenarnya Maverick hanya tidak rela jika harus jauh darinya. "Iya Mack, kau tenang saja. Jika dia macam-macam, aku akan menghubungimu," kata Elsa untuk menenangkan kakaknya ini.
Elsa keluar rumah dan melihat langit yang masih gelap, matahari pun belum menampakkan sinarnya. Ia juga bingung kenapa Marc harus mengajaknya berangkat sepagi ini.
Elsa berjalan kearah mobil Marc yang sudah terparkir didepan rumahnya. Ia melihat Marc sedang menata barang-barangnya di bagian belakang mobil. Ia mengerutkan keningnya saat melihat ada banyak makanan dan buah-buahan didalam mobil.
"Marc." Elsa menghampiri Marc dan bertanya, "kenapa ada banyak sekali makanan dan buah-buahan? Memangnya kita mau kemana?"
Marc tersenyum. "Aku akan mengajakmu ke tempat paling berharga untukku. Aku akan mengenalkan tempat itu padamu," jawabnya yang semakin membuat Elsa penasaran. "Kau akan segera tau," katanya sambil memasukkan barang-barang Elsa yang dibawakan Maverick.
"Hei Marc, jaga adikku dengan baik. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau membuatnya menangis," seru Maverick sambil merangkul Marc.
Elsa menggelengkan kepalanya.
"Kau tenang saja, Mack. Elsa akan baik-baik saja," kata Marc menenangkan Maverick.
Maverick mengangguk dan menatap Elsa. "Jika sudah sampai, tolong kabari aku."
Elsa tersenyum dan memeluk Maverick. "Aku pasti mengabarimu, Mack. Aku tidak akan lupa."
Setelah melepaskan pelukannya pada Maverick, Elsa berjalan kearah ayahnya dan memeluknya. "Ayah, aku pergi dulu," katanya.
"Kabari jika sudah sampai, sayang," kata Angel.
"Iya ayah."
Elsa melambai pada ayah dan ibu Marc, disana juga ada Alex. Alex balas melambaikan tangan dan tersenyum.
"Hati-hati Marc, pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru." Angel memperingatkan Marc.
Marc tersenyum dan mengangguk.
Elsa masuk ke mobil Marc dan diikuti si pemilik mobil. Gadis itu kembali melambaikan tangannya saat Marc melajukan mobilnya untuk membelah jalanan.
"Apa kita akan melakukan perjalanan jauh?" tanya Elsa sambil menoleh kearah Marc.
Marc melirik Elsa sebentar. "Tidak. Hanya butuh sekitar satu jam setengah," jawabnya.
__ADS_1
Elsa menoleh ke belakang. Ada banyak makanan disana, buah-buahan, dan beberapa minuman. Sebenarnya Marc ingin mengajaknya kemana?
"Jika kau masih mengantuk, kau bisa tidur dulu. Kupikir, kita berangkat terlalu pagi." Marc mengusap rambut Elsa sebentar.
Elsa tersenyum. "Tidak, Marc. Aku ingin tau kau akan mengajakku kemana. Aku sangat penasaran, jadi aku akan memperhatikan jalan."
Marc terkekeh. "Mau tidur atau tidak, kau akan tetap tau kita akan kemana," katanya.
"Tidak mau," kata Elsa merengek. "Aku ingin menebak sendiri."
Marc kembali tersenyum dan mengelus rambut panjang Elsa. "Baiklah. Tetapi jangan dipaksakan jika kau lelah dan mengantuk."
Elsa mengangguk mendengar ucapan Marc. Kemudian ia membuka kaca jendela mobil Marc. Angin sejuk pagi menerpa wajah cantiknya. Ia tersenyum merasakan dinginnya.
Perlahan, matahari pun mulai melakukan tugasnya, menyinari bumi. Sayangnya, ia tidak bisa melihat matahari terbit karena mobil mereka masih melewati padatnya rumah dan gedung-gedung tinggi perkotaan.
"Dulu, Maverick sering mengajakku pergi pagi-pagi seperti ini. Menaiki motornya," kata Elsa yang membuat Marc menoleh padanya sebentar.
"Dulu? Memangnya sekarang tidak lagi?" tanya Marc.
Elsa menggeleng. "Kami pernah mengalami kecelakaan saat menaiki motor berdua."
Marc menoleh terkejut. "Kecelakaan?"
Elsa mengangguk. "Sebuah mobil menabrak motor Maverick. Saat itu, Maverick baik-baik saja, tetapi aku sampai tidak sadarkan diri karena kepalaku terbentur aspal jalanan."
Marc mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu jika dulu Elsa pernah mengalami kecelakaan bersama Maverick.
"Ayah sangat marah. Bahkan Maverick bilang, ayah sempat memukulnya karena membuatku celaka. Sejak kecelakaan itu, ayah tidak pernah mengijinkanku naik motor. Dengan siapapun itu termasuk dengan Maverick.
Itu kenapa saat di Italy, Maverick tidak mengijinkanku menaiki motor bersamamu. Ia takut, sangat takut. Tetapi pada akhirnya, ia menyerah dan mengijinkanku naik motor bersamamu. Kau tau kenapa, Marc?"
Marc menoleh lagi sekilas. "Kenapa?"
Marc tersenyum, tangan kanannya melepaskan kemudi dan memegang tangan kiri Elsa. "Aku berjanji akan menjagamu. Sampai kapan pun." katanya.
"Terima kasih, Marc. Aku mencintaimu." kata Elsa mengungkapkan isi hatinya.
Marc tersenyum lebar. "Aku juga mencintaimu, Els. Sangat sangat mencintaimu."
Elsa membalas senyuman Marc dan kembali menatap keluar jendela. "Aku sangat menyukai udara dipagi hari. Sejuk, dingin dan aromanya masih belum tersentuh oleh polusi udara," kata Elsa sambil menutup matanya merasakan angin yang terus menerpa wajahnya.
Marc tersenyum dan menggeleng melihat kelakuan Elsa yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
~~
Maverick duduk diatas kasurnya sambil memegang ponsel ditangan kirinya dan menatap layar sebuah laptop. Alex Marquez berdiri disampingnya dengan tangan bersedekap dan mata yang juga tertuju pada laptop Maverick.
"Alex, ternyata sudah ada yang memesan Villa Montecristo?" tanya Maverick.
Alex mengerutkan keningnya dan menelisik untuk melihat sebuah villa yang sudah tertera tulisan sold out dilaptop Maverick. "Selain villa ini, apa ada yang lain?" tanya Alex.
"Ada. Yang masih kosong juga banyak. Hanya saja, Jack ingin di villa ini," jawab Maverick.
Alex nampak berpikir. "Coba kau hubungi Jack," saran Alex.
Maverick mengotak-atik ponselnya dan kemudian menempelkan ponsel itu ditelinganya.
"Hallo. Mack?" Seseorang menjawab telepon dari Maverick.
"Hai Jack, kau tidak sibuk kan?"
"Oo tidak tidak. Ada apa, Mack?"
"Aku sedang mencari villa yang akan kita tempati di Ibiza, tetapi villa yang kau inginkan, sudah disewa."
__ADS_1
"Eum begitu ya." Beberapa detik tidak terdengar suara dari Jack. "Siapa saja yang akan pergi, Mack?" tanyanya.
"Hmm, Marc dan Alex. Lalu, Jonas dan Christie juga. Satu lagi, Danny Kent. Dia ingin pergi liburan dengan kita," jawab Maverick.
"Baiklah, untuk villa, aku serahkan padamu. Kemarin aku ingin Villa Montecristo karena ada banyak kamar disana. Kau bisa mencari yang banyak kamar juga, tetapi jika memang tidak ada, kau bisa pesan dua villa."
Maverick mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Jack. "Baiklah, Jack."
"Untuk urusan tempat wisata, pantai atau liburan lainnya, kau serahkan saja padaku dan Fabio. Kami akan mengurusnya."
"Terima kasih, Jack. Aku akan menutup teleponnya."
"O ya, jika ada yg ingin kau tanyakan lagi, kau bisa menghubungiku, Mack."
"Okay. Bye."
Maverick menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mengakhiri teleponnya dengan Jack. Kemudian ia kembali menatap layar laptopnya dan mulai mencari villa yang akan mereka sewa.
"Kita harus mencari villa yang ada banyak kamar, Alex," kata Maverick.
"Coba Mack, cari villa Casa Lui," perintah Alex.
Maverick menuruti perintah Alex dan mengetikkan nama villa yang tadi Alex sebutkan. "Bingo!! Ini dia, Alex. Ada delapan kamar dan belum disewa," seru Maverick girang.
Alex menghela nafas lega. "Nah betul kan. Sewa sekarang juga."
"Akhirnya," ucap Maverick sambil tangannya sibuk mengotak-atik laptopnya. "Thanks Alex, kau sangat membantu hari ini."
Alex menatapnya sengit. "Kau harus membayarku mahal, bukan hanya ucapan terima kasih saja. Aku relakan waktu ku, pagi-pagi datang kerumahmu, bahkan matahari saja belum menyinari bumi dan aku sudah dirumahmu. Membantumu mencari tempat tinggal untuk liburanmu. Bayar aku dua kali lipat dari gajiku di MotoGP," ucap Alex panjang-lebar.
Semua itu terdengar aneh untuk Maverick. Pria itu segera membuka pintu kamarnya dan, "silakan keluar dari kamarku bocah tengil. Terima kasih kau sangat membantu."
"Hei sialan. Kau ini tidak...."
"Nanti siang akan ku traktir pizza. Sekarang pulanglah karena aku ingin melanjutkan tidurku."
Mata Alex tampak berbinar. Raut kesalnya menghilang mendengar ucapan Maverick.
"Nah begitu dong. Aku pulang dulu."
Maverick menggeleng melihat tingkah adik Marc ini. Benar-benar berbeda dengan Marc. Ia pun masuk kekamarnya dan menutup pintu kamar itu.
~~
"Marc, bukankah ini...." Elsa menatap sebuah bangunan yang dilewati mobil Marc. "Sirkuit Sant Antoli?"
Marc tersenyum. "Benar. Sirkuit Moto Cross," jawabnya. "Kau tau sirkuit ini?" Ia balik bertanya.
"Tentu saja. Maverick pernah meminta ijin padaku saat ingin pergi dengan teman-temannya. Lalu ia bilang akan pergi ke Cervera untuk bermain Moto Cross di sirkuit Sant Antoli," jawab Elsa. Ia terdiam sebentar sambil berpikir. "Tu-tunggu. Sirkuit Sant Antoli di Cervera, berarti kita berada di Cervera?" Elsa nampak bingung, tetapi pada akhirnya ia tersenyum bahagia. "Marc, kau mengajakku ke Cervera?" tanyanya yang terlihat sangat bahagia.
Marc tersenyum dan menoleh ke Elsa. "Ya, harusnya ini kejutan tetapi kau tau lebih awal."
Elsa tertawa. "Kau harus mengajakku ke tempat dimana kau sering bermain di waktu kecil."
"Aku akan mengajakmu kemana pun kau mau."
Elsa tersenyum mendengar ucapan Marc.
"Kita mampir ke Restaurant Els Comdals dulu ya. Aku ingin membelikan kakek dan nenekku makanan. Aku yakin mereka belum sarapan."
Elsa mengangguk antusias. "Siap Marc," serunya.
Marc menggeleng melihat antusias kekasihnya ini. Ia tidak tahu jika Elsa akan sebahagia itu.
"Terima kasih, Els. Sesederhana apapun yang aku lakukan, selalu terlihat istimewa dimatamu. Terima kasih banyak," batin Marc.
__ADS_1