
Elsa memasuki kamar yang sudah disiapkan untuknya tidur ketika berada dirumah nenek Marc. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas untuk memberi kabar pada Maverick dan melihat beberapa pesan yang belum sempat ia baca. Bibirnya tertarik keatas dengan sempurna saat membaca pesan dari sahabatnya, Christie.
Setelah memberi kabar pada Maverick, Elsa kembali membuka pesan dari Christie dan menekan menu panggilan suara. Ia terlihat sangat senang dan tidak sabar saat menunggu Christie menerima panggilan telepon darinya.
"Hallo," sapa seorang gadis dari seberang telepon.
"Kau tidak bohong padaku kan? Kau akan ikut ke Ibiza kan? Jonas benar-benar memberi ijin padamu? Jonas tidak keberatan? Ahh aku senang sekali rasanya membaca pesanmu." Elsa langsung menodong temannya itu dengan berbagai pertanyaan.
Terdengar suara tawa dari telepon genggam yang Elsa tempelkan ditelinganya. "Aku harus menjawab pertanyaanmu yang mana dulu? Pertanyaanmu terlalu banyak, aku sampai bingung," canda Christie.
Elsa ikut tertawa mendengar ucapan Christie. "Aku terlalu bahagia membaca pesanmu. Akhirnya kita bisa liburan bersama."
"Hahaha, sepertinya kita harus berterima kasih pada Marcel dan juga saudara kembarmu. Kalau mereka tidak membujuk Jonas, aku tidak akan ikut serta diliburan musim panas kalian."
Elsa membelalakkan matanya tak percaya. "Marcel dan Maverick yang membujuk Jonas?"
"Hmm." Christie hanya bergumam saat menjawab pertanyaan Elsa.
"Oh great..!! Dua orang yang benar-benar bisa diandalkan," seru gadis berdarah Spanyol itu.
Christie tertawa mendengar seruan Elsa. "Daaann...,, mereka juga adalah dua orang yang bisa aku andalkan untuk mengorek informasi tentang Fabio."
Sekarang giliran Elsa yang tertawa mendengar celotehan temannya itu. "Kerjasama yang hebat bukan?"
"Sangat hebat, Els."
Keduanya pun tertawa bersama.
"Oo ya Els, kata Maverick kau pergi ke Cervera?" tanya Christie yang lebih dulu menghentikan tawanya.
Elsa mengangguk antusias meskipun ia tahu, Christie tidak bisa melihatnya. "Ya."
"Bagaimana Cervera? Apa itu indah?"
Elsa tersenyum sebelum menjawab, "jika kau disini, aku yakin kau akan menyukainya. Disini bahkan tidak kalah menarik dibanding Ibiza."
"Benarkah?" tanya Christie yang mendadak penasaran.
Lagi-lagi, tanpa sadar Elsa mengangguk. "Ketika kau keluar dari rumah nenek Marc, kau akan langsung melihat pantai. Pantai yang luas dan indah," katanya berlebihan.
"Aaaaaaa..., kau benar-benar membuatku iri. Aku juga ingin kesana," kata Christie.
"Hahaha, lain kali aku akan mengajakmu kesini."
"Janji ya?"
"Iya janji, asalkan kau segera berpacaran dengan Fabio." Elsa tertawa setelah mengatakan itu.
"Ahh sial," umpat Christie terdengar kesal tetapi masih dengan sedikit tawa. "Mungkin akan sedikit sulit, Els. Aku dan Fabio," katanya yang langsung menghentikan tawa Elsa.
Elsa mengerutkan keningnya. "Why? Kenapa sulit?" tanyanya heran. "Kau bilang kan kemarin, Marcel mengatakan bahwa Fabio adalah pria yang baik. Kau tidak yakin jika Fabio menyukaimu juga? Apa karena itu?"
"Jonas. Sepertinya dia tidak suka jika aku menyukai Fabio. Itu yang disampaikan Marcel ketika kemarin mereka berbicara berdua."
Elsa nampak berpikir sebentar. "Ahh kufikir kenapa. Kau ingatkan aku pernah bercerita tentang Maverick dan Marc." Ia mengambil nafas sebelum melanjutkan, "dulu Maverick sangat tidak suka dengan Marc. Bahkan dia tidak sedikitpun memberi celah kepada Marc untuk berbicara denganmu. Tetapi Marc bisa menunjukkan pada Maverick kalau dia bisa membuat aku tersenyum dan bisa menjagaku juga seperti Maverick. Dan lihat sekarang kan, bahkan Maverick membiarkan aku berlibur bersama Marc tanpa dirinya."
"Ya, tapi tetap saja beda. Marc yang menyukaimu dulu. Sedangkan aku, bahkan Fabio tidak tau jika aku menyukainya."
Elsa terkekeh. "Kisah cinta itu ceritanya beda-beda, Christie. Jika ceritamu sama denganku, dunia tidak akan berwarna. Tidak akan ada cerita dari Christie yang berusaha mencari informasi tentang pujaan hatinya."
"Aish sial, kau membuatku malu."
Elsa tertawa. Ia jelas tahu bahwa Christie bukan gadis pendiam sepertinya. Christie adalah gadis periang dan sedikit tomboy, hanya saja dia masih memiliki rasa malu jika bertemu dengan orang yang dia sukai.
Tidak sulit membuat gadis itu tersipu malu. Cukup membicarakan tentang orang yang Christie sukai, maka pipinya yang sedikit chubby itu akan memerah seperti tomat.
"Els," panggil Christie.
"Yaa??"
Diam. Hanya terdengar helaan nafas berkali-kali dari seberang telepon.
__ADS_1
"Ada apa, Chris?"
"Hmm," gadis itu menimang-nimang. "Maaf jika aku mengatakan ini. Tetapi aku sangat iri padamu. Kau begitu beruntung. Maverick dan Marc pasti sangat membuatmu bahagia. Andai saja aku bisa menaklukkan hati Fabio dan andai Jonas tidak mengekangku, aku pasti sama bahagianya denganmu."
Raut wajah Elsa seketika berubah sedih.
Tidak ada sahutan dari Elsa, Christie buru-buru kembali mengucap maaf. "Els, aku minta maaf jika menyinggungmu."
Elsa berusaha tersenyum. "Tidak. Tidak apa-apa. Tapi kau perlu tau, Chris. Hidup bahagia bukan hanya sebatas kau memiliki kakak yang pengertian dan pacar yang sempurna. Keluarga yang utuh pun adalah sebuah kebahagiaan.
Meskipun jika kau ditakdirkan menjadi anak tunggal, tetapi ayah dan ibumu masih bersama, itu juga suatu kebahagiaan. Kadang kau merasa jika hidupmu tak sebahagia orang-orang, tetapi siapa yang tau, mungkin saja ada orang yang menginginkan kehidupanmu menjadi miliknya."
"Els."
Elsa mengusap airmatanya yang tiba-tiba menetes. "Chris, aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin kau kehilangan kebahagiaan yang saat ini sedang kau miliki hanya karena kau iri padaku. Jadi, bersyukurlah jika kau masih memiliki ayah, ibu dan kakak seperti Jonas. Mereka sangat menyayangimu.
Jonas pasti punya alasan kenapa dia begitu mengekangmu. Tapi kau bisa membicarakan ini dengannya. Aku tahu, jika kau jujur padanya, Jonas akan mengerti."
Elsa menarik nafas. Ia berpikir jika Christie hanya kurang bersyukur. Gadis itu memiliki kehidupan yang sempurna dengan memiliki ayah, ibu dan kakak yang sangat menyayanginya. Sedangkan Elsa? Ia bahkan tidak memiliki ibu disisinya untuk tempatnya bercerita tentang hari-harinya.
Seharusnya, ia yang iri pada Christie. Mempunyai keluarga lengkap adalah impian semua anak di dunia. Tetapi ia tidak akan pernah melakukannya karena itu sama saja dengan tidak bersyukur atas apa yang ia miliki sekarang.
"Atau kau bisa cerita pada ibumu. Aku yakin, ibumu akan jauh lebih bisa mengertimu, Chris. Beliau juga seorang wanita dan pernah muda. Akan jauh lebih nyaman jika kau bisa berbicara berdua dengan seorang ibu. Mungkin ia bisa memberi pengertian pada Jonas juga." Suara Elsa terdengar bergetar saat mengatakan itu.
Christie merasa tak enak hati ketika mendengar suara dan ucapan Elsa barusan. Ia yakin, gadis itu pasti sedang menahan tangisnya. Elsa pasti menjadi semakin rindu pada ibunya yang sudah lama tidak ia temui.
Christie pun menjadi penasaran kenapa ibu Elsa bisa meninggalkan anak sebaik Elsa dan Maverick? Ia hendak mengalihkan pembicaraan dan bertanya mengenai wanita itu, tetapi ia urungkan karena takut jika Elsa semakin menangis jika mengingat ibunya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kau akan semakin sedih nanti," kata Elsa mengakhiri hening diantara mereka.
Christie semakin tidak enak hati karena Elsa masih memikirkan perasaannya. Padahal, mungkin saja perasaan gadis itu menjadi kacau karena ucapannya tadi.
~~
Christie meletakkan ponselnya diatas tempat tidur setelah sambungan telepon dengan Elsa terputus. Ia mendudukkan dirinya ditepi ranjang dan berpikir sejenak tentang apa yang Elsa katakan tadi.
"Aku sudah menyinggung Elsa dengan ucapanku. Dia sampai mengingat lagi tentang ibunya," gumamnya. "Tetapi kenapa ibunya begitu jahat? Kenapa ibunya meninggalkan Elsa dan Maverick bersama ayahnya?" tanyanya yang membutuhkan jawaban, hanya saja tidak akan ada yang menjawabnya.
Christie mengangkat pantatnya untuk menjauhi tempat tidur dan menuju pintu. Ia berpikir sejenak sebelum keluar kamar, "apa aku harus bertanya pada Jonas? Jonas mungkin pernah mendengar cerita tentang keluarga Elsa dan Maverick." Setelah memantapkan diri, ia membuka pintu dan keluar kamarnya menuju kamar Jonas.
Ia pun mengabaikan itu dan berjalan menuju kamar Jonas. Didepan kamar Jonas, ia kembali menimang-nimang, apakah ia tanyakan saja pada Jonas mengenai ibu Elsa yang tidak pernah terlihat itu.
Akhirnya ia pun mengetuk pintu dan terdengar suara Jonas dari dalam kamar untuk menyuruhnya masuk saja. Gadis itu menampakkan kepalanya, lalu tersenyum samar pada Jonas.
Yang punya kamar pun segera bangkit dari tidurnya dan meletakkan ponselnya begitu saja diatas kasur saat melihat adik kesayangannya yang bertamu kekamarnya. "Hai," sapanya. "Kemarilah." Jonas menepuk tempat tidur disebelahnya untuk mempersilakan adiknya itu duduk.
Christie dengan sedikit keraguan dihatinya masuk kekamar kakak kembarnya. Ia menutup pintu itu kembali dan duduk disebelah Jonas.
"Ada apa?" tanyanya lembut.
Christie mengerucutkan bibirnya. "Jonas, boleh aku bertanya sesuatu?"
Jonas memicingkan matanya. "Tentang apa?" tanyanya lagi dengan sabar meskipun ia sangat penasaran.
"Ini tentang Elsa dan Maverick," jawabnya.
Dahi Jonas berkerut dengan mata yang terus menatap Christie penasaran. "Ya. Ada apa dengan mereka?"
Christie menghela nafas sebentar sebelum kembali bersuara. "Kenapa aku tidak pernah melihat ibu mereka, Elsa dan Maverick?"
Pertanyaaan Christie sontak membuat Jonas melebarkan matanya. Ia tidak menyangka jika Christie akan bertanya tentang itu.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
Christie menggeleng. "Aku hanya aneh saja. Ibu mereka tidak pernah kelihatan dimana pun."
Jonas tersenyum. "Jika aku memberitahumu, kau harus janji untuk tidak membahas tentang ibu mereka didepan Elsa," kata Jonas yang kini membuat Christie berbalik penasaran.
Christie mengangguk.
"Ibu Elsa dan Maverick, dia meninggalkan Elsa dan Mack ketika mereka berusia 4 tahun. Ibu mereka berselingkuh dengan pria lain dan pada akhirnya dia memilih laki-laki selingkuhannya daripada bersama suami dan anak-anaknya. Ya, bisa dikatakan pada saat itu ayah mereka bukan seorang yang kaya. Mungkin itu alasan ibunya tak ingin bertahan dengan kehidupan mereka saat itu," jelas Jonas yang membuat Christie menatapnya tak percaya. "Itu yang membuat Elsa selalu murung, menutup diri dari dunia luar, tidak mau berteman dengan siapapun dan menjadi gadis yang sangat pendiam."
__ADS_1
'Ternyata itu alasanmu kenapa aku tidak boleh iri padamu, Els? Karena keluargamu tak lengkap seperti keluargaku. Maafkan aku, Els.' batin Christie merasa bersalah.
"Maverick sangat menyayangi Elsa, kemanapun ia pergi, ia akan membawa turut serta Elsa disampingnya. Dulu Elsa tidak pernah keluar dari paddock Maverick, dia selalu berada didalam dan akan keluar jika bersama Maverick.
Hanya saja, aku tidak tau bagaimana Elsa bisa mengenal Marc. Tetapi yang aku tau, ketika Elsa mengenal Marc, Elsa mulai mengenal dunia luar tanpa Maverick disisinya. Ia menjadi gadis yang ceria lagi, ramah dan selalu tersenyum. Sepertimu."
Jonas membelai rambut Christie lembut. "Kau harus lebih-lebih banyak bersyukur karena ayah dan ibu masih bersama kita sekarang. Menyayangi dan menghormati mereka adalah tugas kita sebagai anak. Bagaimana jika salah satu dari mereka meninggalkan kita? Atau bahkan keduanya meninggalkan kita?"
"Jonaaaasss."
Kata-kata Jonas dan pertanyaannya justru membuat Christie menangis. Ia ingat saat tadi ia melihat kedua orang tuanya sedang duduk berdua diruang televisi sambil tertawa. Perasaan hangat tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Jonas tersenyum dan mengusap airmata adiknya. "Jadi jangan sekalipun menyakiti hati mereka. Kau harus selalu ingat kata-kataku ya."
Christie mengangguk menurut dan membuat Jonas gemas pada adik kembarnya itu.
~~
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Elsa duduk diteras rumah nenek Marc. Ia memandang hamparan pantai yang tampak gelap tanpa penerangan. Hanya cahaya bulan yang memantul dari air pantai yang tak hentinya berombak.
Obrolannya dengan Christie malam ini sangat mengganggu pikirannya. Ia tahu, mungkin Christie tidak mengetahui kehidupannya saat kecil. Ditinggalkan seorang ibu disaat ia masih sangat membutuhkannya bukan hal yang mudah yang bisa ia lewati hingga ia tumbuh besar seperti sekarang.
Seorang Marc Marquez datang dihidupnya, membuat hari-harinya yang dulu gelap menjadi sangat terang sekarang. Tetapi itu tidak bisa menggantikan hidupnya yang tumbuh tanpa sosok seorang ibu. Ia tetap membutuhkan sosok itu, meskipun ibunya telah meninggalkannya demi bersama pria lain.
Sejak bertemu Marc, Elsa tidak pernah membahas masalah ini dengan ayahnya ataupun dengan Maverick. Itu hanya akan menyakiti keduanya. Elsa paham itu. Harapannya saat ini, ia sangat ingin bertemu dengan ibunya, tetapi mengutarakan keinginannya sama saja menyakiti dua orang yang sudah berjuang membuatnya tersenyum setelah ibunya pergi.
Elsa menghela nafasnya kasar. Ia menyandarkan tubuhnya dikursi yang memang sengaja disediakan diteras rumah itu.
"Kau sedang ada masalah?"
Suara Marc membuat Elsa menoleh dan memaksakan senyumannya.
"Sudah selesai mengobrol dengan grandpa?" tanya Elsa mencoba mengalihkan Marc dari pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Elsa jawab.
Marc mengangguk. "Sudah," jawabnya sambil berjalan menuju kursi disisi lain dari meja yang menjadi penengah dua kursi diteras itu. "Aku melihatmu berbeda saat makan malam tadi. Ada yang sedang kau pikirkan?"
Elsa menghela nafasnya. Ia sudah mencoba memasang wajah biasa, tetapi ternyata Marc masih bisa membaca kegelisahannya.
Elsa memandang Marc sejenak, kemudian kembali menatap pantai yang terus berombak. "Ucapan Christie sedikit mengangguku tadi," katanya.
Marc mengerutkan keningnya. "Kenapa? Christie bilang apa?"
"Hanya karena Jonas terlalu mengekangnya, Christie mengatakan iri padaku. Ia berpikir, aku memiliki kehidupan yang sempurna yang ia inginkan."
Marc semakin penasaran. "Maksudnya kehidupan yang seperti apa?" tanya Marc lagi.
"Mempunyai kakak seperti Maverick dan mempungai kekasih sepertimu. Dia juga ingin Jonas mengijinkannya menjalin hubungan dengan seorang pria," jawab Elsa. "Padahal kehidupan Christie sudah teramat sempurna karena memiliki orang tua yang lengkap dan kakak yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku, aku sangat ingin melihat ibuku tetapi aku tidak berani menyakiti ayah dan juga Mack jika saja aku mengatakan ingin bertemu dengan ibu."
Marc berusaha untuk tetap tersenyum saat melihat airmata Elsa menetes. Ia ingat betul Maverick pernah bercerita tentang ibu mereka yang meninggalkan suami dan kedua anaknya yang pada usianya masih sangat membutuhkan sosok itu.
"Christie hanya tidak tau cerita tentang ibumu, Els. Jangan terlalu dipikirkan. Sebentar lagi, ia pasti akan menghubungimu dan meminta maaf karena sudah membuatmu sedih."
Ucapan Marc membuat Elsa tersenyum dan sedikit membuat perasaannya lega.
"Kau percaya padaku kan? Christie dan kau itu seperti ponsel dan chargernya, kalian saling membutuhkan."
Elsa tertawa mendengar kata-kata Marc. "Kenapa harus ponsel dan charger sih?"
Marc ikut tertawa. "Tertawa begini kan jauh lebih cantik. Jangan sedih lagi ya," ucapnya yang membuat Elsa tersipu. "Oo ya, di Jerman besok, kau akan menginap dirumah Christie?"
Elsa menoleh dan menggeleng. "Aku hanya akan mampir kesana tapi tidak menginap."
Marc mengangguk-anggukan kepalanya. "Ayo tidur, hari kita masih panjang besok. Kita harus bangun pagi dan berkeliling Cervera," kata Marc yang kembali sukses membuat kekasihnya tersenyum.
"Aku sudah tidak sabar. Pasti aku tidak akan bisa tidur malam ini."
Marc mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Karena memikirkan jalan-jalan besok."
Marc memberikan senyum nakalnya. "Kalau begitu tidurlah bersamaku. Aku yakin, pelukanku akan membuat tidur menjadi nyenyak."
__ADS_1
Elsa menatap Marc takut. "Tidak mau," ucapnya sambil beranjak dari kursi dan tergesa-gesa masuk kekamar.
"Ayolah sayang, jangan malu-malu." Marc terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu.