
"Kau hidup dengan baik bukan, selama ini? Lanjutkan hidupmu dengan pria yang membuatmu meninggalkan kami dan jangan mengganggu kami karena kami bisa hidup tanpamu."
Maverick menggeser kursinya dengan kasar. Ia langsung meninggalkan restoran tanpa mendengarkan panggilan Angel.
"Maafkan Maverick. Aku akan berbicara padanya," ucap Angel yang merasa kasihan melihat mantan istrinya harus menangis sehisteris itu.
"Aku menyakitinya dan Elsa, dia pantas bersikap begitu padaku, Angel." Ucapan terbata-bata Maria membuat Angel semakin merasa iba.
"Elsa pasti mau menemuimu. Aku akan mencoba berbicara dengannya."
Maria mendongak. Riasan wajahnya sudah luntur karena airmata.
"Elsa..." ucapnya kembali menangis. "Aku sangat rindu anak itu."
Angel menatap mantan istrinya itu dengan tatapan iba. Ia kasihan pada Maria, tetapi semua ini juga kesalahan Maria.
"Apa Elsa tumbuh dengan baik?" tanya Maria yang masih sesenggukan.
Angel tersenyum. "Aku membesarkan anak-anakku dengan sangat baik. Apalagi Elsa. Banyak yang menyayanginya."
Maria berusaha untuk tersenyum mendengar jawaban Angel. "Tadi kau bilang Elsa berlibur dengan kekasihnya. Apa kekasihnya sangat mencintainya?"
Lagi-lagi Angel tersenyum. "Ya, tentu saja. Dia yang membuat Elsa kembali tersenyum setelah sekian lama kau tinggalkan." Angel menyeruput kopi hitam yang ada didepannya. "Marc Marquez adalah kekasih anak perempuanmu," ucap Angel selanjutnya.
Maria mendongak dan menatap Angel tak percaya. "Marc Marquez?"
Angel mengangguk. "Iya. Elsa adalah kekasih Marc Marquez."
Maria menutup mulutnya. "Ya Tuhan, bagaimana mungkin kau menyetujui hubungan mereka? Marc Marquez adalah pembalap besar. Lihatlah para wanita mendambanya. Bagaimana mungkin kau melepaskan anak perempuanmu pada laki-laki terkenal seperti itu? Bisa saja Marc menyakiti Elsa." Rentetan tuduhan Maria membuat Angel mengerutkan keningnya.
"Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu sedangkan kau tidak tau bagaimana kepribadian Marc?"
"Angel, semua pembalap itu suka bermain wanita. Apalagi pembalap sekelas Marc Marquez."
"Anak laki-lakimu juga seorang pembalap dan dia tidak seperti apa yang kau bicarakan." Angel mulai geram.
"Ya, tapi..."
"Cukup, Maria," sentak Angel membuat wanita didepannya terdiam. "Tadinya aku merasa kasihan padamu, tetapi aku sangat tidak menyukai kata-katamu mengenai Marc dan kepribadian para pembalap. Jadi keputusan Maverick untuk tidak membiarkanmu menemui Elsa adalah keputusan yang benar."
"Angel, aku hanya...."
"Marc Marquez adalah obat bagi luka masa lalu Elsa yang kau sebabkan. Jadi kau sangat tidak pantas berkata buruk tentang Marc seperti tadi," kata Angel memotong ucapan Maria. "Aku permisi."
"Angel."
Angel tidak menggubris ucapan wanita itu.
"Angel, tunggu."
Angel keluar dari ruangan VIP restoran itu meninggalkan Maria yang masih termenung menatapnya.
♡♡⁹³♡♡
"Mack."
Maverick yang tadinya fokus bermain ponsel, langsung memusatkan pandangannya pada seseorang yang baru saja memanggilnya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan melihat adiknya yang katanya pulang besok siang, tetapi malam ini sudah berdiri didepannya.
"Els? Kau bilang kau pulang siang besok, kenapa kau sudah disini?" tanyanya.
Elsa berjalan menuju Maverick dan memeluk kakak kembarnya itu. "Aku mengkhawatirkanmu," katanya.
Maverick mengerutkan keningnya. "Memangnya aku kenapa?"
__ADS_1
"Kau tidak seperti biasanya. Kau sedang ada masalah ya? Atau kau sedang bersedih? Kenapa? Aku tidak bisa tenang disana. Aku terus memikirkanmu." Elsa melepaskan pelukannya. "Tadinya aku tidak mau pulang, tetapi Marc tau keresahanku. Jika aku tidak bertemu denganmu sekarang, pasti aku tidak akan bisa tidur malam ini. Itu kenapa Marc mengajakku pulang."
Maverick tersenyum dan mengelus rambut adiknya. Rasanya ia ingin menangis jika mengingat pertemuannya dengan sang ibu siang tadi. Ia tidak ingin bercerita dengan Elsa, bukan karena ia tidak ingin Elsa tahu bahwa ibunya sudah kembali. Hanya saja, ia takut jika sang ibu yang tidak tahu apa-apa mengenai hidup mereka selama ini akan menghancurkan kebahagiaan Elsa.
Ia tahu sifat ibunya yang suka sekali melarang apapun yang tidak disukainya. Ia juga tahu, ibunya dulu sering kali menolak apa yang diinginkan Maverick dan Elsa. Bahkan tadi saat ayah mereka mengatakan bahwa Elsa berlibur bersama kekasihnya, ibunya bersikap seolah-olah tahu siapa kekasih Elsa.
Maverick juga tidak semudah itu mempercayakan Elsa kepada orang lain dan apalagi itu adalah laki-laki. Awal Marc mendekati Elsa, Maverick juga sangat posesif dan selalu melarang Marc yang mencoba untuk berbicara pada adiknya. Tetapi siapa yang tidak terenyuh saat melihat adik yang sangat ia sayangi, adik yang setelah ditinggal ibunya tidak mau tersenyum, tidak mau dekat dengan orang selain ayah dan kakaknya, adik yang menutup diri dari dunia luar, tiba-tiba bisa tersenyum, dekat dengan orang lain dan bahkan mau membuka diri untuk mengenal dunia luar hanya karena seorang Marc Marquez.
Maverick tidak menyangka jika Marc mampu membuat Elsa mau berbicara dan tersenyum dengan orang lain. Gadis itu bahkan tertawa hanya dengan lelucon garing yang selalu Marc buat.
"Mack?"
Panggilan Elsa membuat Maverick tersadar akan lamunannya.
"Ya?"
"Kau melamun."
Maverick tersenyum. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Elsa memanyunkan bibirnya. "Kau tidak baik-baik saja, Mack. Ada yang sedang kau pikirkan."
Maverick menggeleng. "Duduklah. Kau pasti lelah," kata Maverick dan mendorong pelan tubuh Elsa untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Kau tidak mau cerita denganku?" tanya Elsa memasang wajah sedihnya.
Maverick menghela nafasnya kasar. "Sebenarnya aku tidak mau cerita soal ini, tetapi sepertinya kekhawatiranku sangat jelas dan bisa terbaca olehmu."
Elsa semakin penasaran dan menatap khawatir pada Maverick. "Ada apa?" tanyanya.
"Ibu..."
Elsa mengerutkan keningnya.
Elsa menutup mulutnya tak percaya. Airmata mulai berkumpul dipelupuk matanya.
"Tadi pagi, ada paket untuk kita. Boneka beruang yang ukurannya cukup besar dan manekin diriku. Tidak ada nama pengirimnya, hanya sebuah inisial 'R'. Awalnya aku tidak tau siapa tetapi saat melihat isinya adalah manekin diriku, aku tau jika mungkin saja ibu yang mengirimnya."
Maverick menarik nafas dalam untuk menormalkan suaranya yang mulai serak.
"Siang hari saat kau menghubungiku, aku sedang bersiap-siap ke kantor ayah untuk makan siang dan aku juga meminta ayah untuk mempertemukanku dengan ibu."
Airmata Elsa sudah menetes. Gadis itu menangis dalam diam dan terus setia mendengarkan cerita Maverick.
"Dan aku benar-benar bertemu dengannya."
Elsa tidak bisa menahan tangisannya. Ini belum satu hari setelah tadi pagi Marc meyakini ucapannya bahwa ibunya pasti akan mencarinya dan Maverick. Ucapan Marc benar. Ia kini menangis dengan suara yang terdengar pilu, membuat Maverick harus memeluknya.
"Aku tidak ingin kau bertemu dengannya," kata Maverick. "Tetapi aku tidak bisa melarangmu. Jika kau ingin bertemu dengannya, ayah akan mengatur pertemuan kalian," ucap Maverick sedih.
Maverick melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Elsa.
"Tetapi saat kau bertemu dengannya, berjanjilah padaku untuk tidak bertanya padanya alasan ia pergi meninggalkan kita."
Elsa mengerutkan keningnya. "Kenapa, Mack?"
Maverick tersenyum. "Berjanjilah padaku," katanya. "Agar kau tak membenci ibu seperti aku."
Elsa menatap mata Maverick. Mata itu menampakkan jelas luka yang selama ini dipendamnya. Luka yang tidak pernah Maverick tunjukkan didepan Elsa.
"Kau tidak ingin menemaniku bertemu ibu?" tanya Elsa.
Maverick kembali tersenyum. "Aku akan terluka jika terus melihat wajah ibu. Luka yang ibu tinggalkan selama bertahun-tahun, membuatmu menangis setiap hari dan membuat ayah harus mengurus kita sendirian, tidak akan pernah bisa aku lupakan. Jika terus melihat wajah ibu, aku akan semakin terluka dan membuat aku semakin membenci ibu."
__ADS_1
Elsa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Apa jika aku bertemu dengan ibu, aku akan melukaimu juga?" tanya Elsa hati-hati.
"Ya, karena aku tidak mau kau menangis lagi karena ibu. Aku tidak ingin kau tau kenapa ibu meninggalkan kita. Aku juga tidak ingin ibu melarangmu melakukan hal yang kau suka, hanya karena ibu tidak suka. Aku tidak ingin ibu seenaknya mengaturmu seolah ibu berhak atas dirimu."
Elsa terdiam mendengar ucapan Maverick. Ia semakin penasaran kenapa ibunya meninggalkannya dulu sampai Maverick tidak mengijinkannya tahu alasan itu.
"Jika kau ingin menemuinya, pergilah besok. Aku akan mengatakan pada Marc untuk mengantarmu."
Elsa terus menatap Maverick. Ia begitu bimbang. Disatu sisi, ia sangat ingin bertemu dengan ibunya, tetapi disisi lain, ia sangat tidak ingin menyakiti Maverick.
"Aku akan memikirkannya malam ini, apakah aku ingin bertemu ibu atau tidak. Aku tidak ingin membuat keputusan yang nantinya malah menyakitimu."
Elsa tersenyum. Ia mengecup pipi Maverick dan kemudian memeluknya.
~~
Maverick menemui Marc yang tadi Elsa bilang laki-laki itu menunggunya diteras. Ia melihat Marc sedang melihat video balapan motor diponselnya. Entahlah, mungkin itu race ulang.
"Marc."
Panggilan Maverick membuat Marc mengalihkan matanya dari ponselnya.
"Hai," katanya.
Maverick duduk dikursi sebelah Marc. Ia menghela nafasnya. "Seharusnya kau menahan Elsa di Cervera sampai aku benar-benar siap mengatakan semuanya pada Elsa."
Marc menoleh pada Maverick dan ikut menghela nafas. "Meskipun itu berat, tetapi adikmu harus tau bahwa ibu kalian yang pergi setelah sekian lama, kini mencari kalian."
Maverick mengerutkan keningnya, heran. "Bagaimana kau tau?" tanya Maverick. Seharusnya Marc tidak mendengar percakapan Maverick dan Elsa tadi karena teras dan ruang keluarga letaknya tidak dekat.
Marc tersenyum. "Alex memberitahuku kalau kau membuang sebuah kotak besar ditempat sampah depan rumahmu. Ia bilang itu boneka dan manekin dirimu. Alex juga bilang, kau terlihat sangat marah saat membuangnya. Aku bisa menebaknya jika itu pasti dari ibumu.
Aku mengajak Elsa pulang bukan hanya karena adikmu mengkhawatirkanmu. Aku juga khawatir dengan keadaanmu. Kau pasti membutuhkan Elsa saat ini."
"Siang tadi, aku dan ayahku sudah bertemu dengan ibuku."
Marc menoleh cepat, menatap Maverick terkejut. "Lalu?"
"Aku memang masih kecil saat ibu meninggalkan kami waktu itu. Tetapi aku bukan anak yang bodoh. Aku mengenal betul ibuku. Hari-hari terakhir sebelum ia meninggalkan kami, ia terlihat begitu membenci ayahku. Kata-kata yang ia ucapkan begitu menghina ayahku, tetapi saat itu aku hanya berpikir bahwa ibu sedang kesal dengan ayah.
Saat ibu pergi dari rumah membawa semua barang-barangnya, aku melihatnya sendiri. Aku melihat ibuku dijemput oleh seorang laki-laki menggunakan mobil. Kata-kata terakhir yang membuat aku terluka adalah ibu ingin berpisah dari ayah."
Maverick menghela nafas kasar.
"Saat itu, Elsa sedang bermain bersama teman-temannya. Jadi saat ibu pergi, dia tidak dirumah. Itu alasan kenapa Elsa tidak mau lagi bermain diluar rumah bersama teman-temannya. Elsa takut jika ia bermain diluar bersama teman-temannya, aku atau ayah akan pergi meninggalkannya seperti ibu."
Marc menatap Maverick. Anak laki-laki didepannya adalah kakak yang hebat untuk adik perempuannya. Elsa sangat beruntung memilikinya.
"Aku sangat ingin memaafkannya, tetapi aku tidak bisa. Aku sangat ingin memeluknya, tetapi rasa kecewa itu menahanku."
Marc melihat Maverick menghapus airmata yang menetes dipipi pria itu. Ia menghela nafas mengerti. Pria didepannya selalu berusaha kuat didepan adiknya dan semua orang, tetapi hari ini dia melihat Maverick yang begitu lemah.
"Aku tidak ingin Elsa menemuinya, tetapi aku tidak bisa memaksanya jika memang dia ingin bertemu dengan ibunya. Jika besok Elsa memutuskan untuk menemui ibu kami, tolong temani dia, Marc. Aku tidak bisa menemaninya."
Marc tersenyum dan mengangguk.
Maverick bersandar dibahu kursi dan menghela nafas panjang. "Sudah hampir 20 tahun dan aku masih sangat mengingat jelas kejadian dimana ibu pergi dari rumah," kata Maverick.
"Mack, aku tidak tau bagaimana rasanya jadi dirimu, jadi aku juga tidak bisa memaksamu untuk melupakan hari itu," ujar Marc yang menatap prihatin pria didepannya. "Kau adalah anak laki-laki yang kuat dan kau selalu berusaha menjadi kakak yang hebat untuk Elsa."
Maverick menatap kosong ke depan. "Itu adalah salah satu alasan kenapa aku sulit untuk jatuh cinta. Karena prioritasku saat ini adalah adikku. Aku tidak akan menikahi seorang gadis sebelum adikku menikah dengan pria yang benar-benar bisa menjaganya."
Marc menatap Maverick tanpa ekspresi dan tanpa sepatah katapun.
__ADS_1