
Angel membuka pintu kamar putrinya setelah mendapat ijin untuk membukanya dari sang pemilik kamar. Ia menghela nafasnya sambil tersenyum. Berjalan mendekati gadis itu dan bertanya, "kau belum tidur?"
Elsa menggeleng, "belum, ayah. Ada apa?" tanya Elsa.
Angel ragu untuk mengatakannya, mengingat perkataan Maverick yang bilang kalau Elsa dan Marc mungkin sedang bertengkar.
"Ayah."
Sentuhan putrinya membuat Angel sadar dari lamunannya. Berkali-kali ia menarik nafas dan membuangnya.
"Ada yang mau bertemu denganmu," kata Angel.
Elsa mengerutkan keningnya. "Siapa? Kenapa malam-malam begini, yah?" tanyanya heran.
Angel tersenyum. "Temui saja dulu, kasihan kan malam-malam begini jika tidak kau temui," ucap Angel.
Elsa mengalah. Ia turun dari tempat tidurnya dan segera menemui orang yang malam-malam begini menganggu jam istirahatnya.
Gadis itu menyipitkan matanya, melihat siapa yang bertamu dirumahnya malam-malam begini. Sambil berjalan, Elsa melipat tangannya didepan dada.
"Kau tidak tau ini jam berapa?"
Marc menoleh mendengar suara ketus itu. Elsa berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk dengan wajah kesalnya.
"Kita harus bicara, Els," ucap Marc memelas.
Elsa menggeleng. "Apa besok tidak ada waktu sampai harus kesini malam-malam seperti ini?"
Marc menghela nafasnya berat. Ia harus sabar menghadapi sikap ketus Elsa. Semua ini juga salahnya.
"Kumohon, aku butuh berbicara sekarang." Marc masih berusaha.
"Apa aku peduli?"
Marc mendekati gadis itu. "Maafkan aku," katanya. "Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya... entahlah, ini sulit untukku."
Elsa menurunkan tangannya. "Lalu dengan alasan kau jatuh, kau boleh membentakku?"
Marc menghela nafasnya. "Aku tidak bermaksud membentakmu, Els. Kemarilah, aku bisa jelaskan," pintanya memohon. "Jangan mendiamkanku."
Elsa menggeleng. "Pulanglah, kita bicarakan ini besok. Kau pasti juga lelah kan?" Gadis itu mengusirnya secara halus. Bukan karena ia tidak mau berbicara dengan Marc, tetapi ia tahu ini jam berapa dan Marc baru saja tiba di Barcelona. Pria itu pasti sangat lelah.
"Aku tidak akan bisa tidur tenang jika kau masih marah." Marc kembali memelas. "Kumohon," pintanya.
Elsa menghela nafas, mengalah. Percuma, ia menolak pria ini. Marc tetap akan terus memaksanya meskipun ia harus memohon pada Elsa sampai matahari terbit nanti.
"Baiklah." Elsa menuju sofa diruang tamunya dan duduk disana.
Marc duduk didekatnya dan langsung meraih tangan Elsa. Gadis itu hendak menariknya tetapi Marc memegangnya erat. Pada akhirnya, gadis manis bermata coklat itu menyerah dan membiarkan Marc melakukan apa yang ia suka.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku... aku hanya merasa sangat sulit. Kau, hubungan kita, balapan dan cederaku. Marc meremas rambutnya, menunjukkan pada Elsa bahwa ia tidak sanggup menghadapi masa sulitnya kali ini. "Aku hanya tidak tau apa yang harus aku lakukan. Ketika aku benar-benar tertekan dengan balapanku, aku punya dirimu yang selalu berdiri disampingku untuk menenangkan."
Elsa memutar bola matanya kesal. "Kau bohong," serunya sambil mengambil bantal sofa dan memukulkannya ke tubuh Marc.
"Dengarkan aku dulu," kata Marc mengambil alih bantal yang dipegang Elsa. "Jika aku jatuh dan tertekan, aku butuh kau. Tetapi kemarin, aku jatuh karena mu."
Elsa memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Marc, tidak terima. "Aku tidak melakukan apapun padamu. Kenapa kau menyalahkanku?" Ia kembali memukul Marc dengan tangannya. Ia merasa tidak melakukan apapun pada Marc, kenapa pria itu menyalahkannya?
"Kau cemburu pada Lucia dan kau mengatakan kalau aku bukan siapa-siapamu saat aku bilang jangan terlalu dekat dengan Fabio."
Elsa hendak memprotes ucapan Marc, tetapi pria itu berkata lagi.
"Aku tau kita memang tidak memiliki status apapun selain tetangga depan rumah. Tetapi aku..."
Elsa terkekeh mendengar ucapan Marc. Ia akhirnya mengerti kenapa Marc menolaknya sampai membentaknya. Semua itu karena ucapannya yang sampai membuat Marc tidak bisa konsentrasi balapan dan akhirnya membuat pria itu mengalami kecelakaan di sirkuit.
"Aku apa?" tanya Elsa saat Marc tidak meneruskan ucapannya.
"Aku... menyukaimu,"ucap pria tampan itu pelan. Sangat pelan. Sampai-sampai suara detik jam mampu menyamarkan suaranya.
"Apa?" tanya gadis itu penasaran.
"Eum..."
"Kau bilang apa, Marc?"
"Eum, besok berdandanlah yang cantik. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," kata Marc. Ia menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Elsa memanyunkan bibirnya. "Tidak mau, aku masih marah padamu."
"Ayolah Els, aku sudah minta maaf."
"Tetap saja, aku belum bisa melupakannya."
Genggaman tangan Marc yang tadinya terlalu erat, kini melembut. Ia mengusap punggung tangan Elsa. "Kumohon. Aku akan membantumu melupakan apa yang aku lakukan hari ini padamu."
Elsa menarik nafas dan membuangnya. "Baiklah. Jam berapa kita pergi?"
"Jam 8 pagi, aku kerumahmu," jawab Marc sambil tersenyum lega. Bukan hanya lega karena Elsa mau menerima ajakannya, tetapi karena sekarang gadis itu sudah tersenyum padanya.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok. Aku akan istirahat sekarang." Marc berdiri.
__ADS_1
Elsa ikut berdiri dan mengantarkan Marc sampai depan pintu rumahnya. "Hati-hati, Marc. Istirahatlah, aku tau kau lelah."
Marc tersenyum mendengar perhatian Elsa. Ia mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan rumah Elsa.
Elsa menggeleng melihat kelakuan Marc yang bertamu kerumahnya malam-malam begini. Kemudian, ia kembali ke kamarnya dan istirahat karena besok ia harus bangun pagi-pagi untuk pergi dengan Marc.
♡♡⁹³♡♡
"Kau mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Maverick yang sudah ada didepan pintu kamar Elsa. Ia mengerutkan keningnya melihat penampilan adiknya. "Kenapa rapi sekali?" Maverick bertanya heran.
Elsa mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Maverick. "Memangnya aku selalu berantakan saat berpakaian? Lagipula baju dan celana ini kan pemberianmu, aku ingin memakainya hari ini," kata Elsa sambil menyisir rambutnya perlahan. Takut jika rambut yang ia keriting dari pukul lima pagi tadi menjadi rusak.
"Astaga. Dimana rambut lurusmu?" tanya Maverick heboh.
"Aku mengritingnya, khusus untuk hari ini," jawabnya dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.
Maverick menggeleng. "Memangnya kau mau kemana?" tanyanya lagi.
Elsa tersenyum. Ia menaruh sisirnya dan berjalan menuju Maverick. Pria itu masih setia berdiri dipintu kamar Elsa.
"Aku akan pergi dengan Marc pagi ini," kata Elsa.
Maverick mendelik mendengar ucapan adiknya. "Marc? Dia sedang berada di Italy, Els. Lagipula, kalian kan sedang bertengkar," seru Maverick.
Elsa menggeleng. "Tadi malam, ia pulang ke Barcelona dan Marc datang kerumah. Dia meminta maaf karena...," Elsa menghentikan ucapannya. Jika ia menceritakan bahwa dirinya dibentak oleh Marc, pasti Maverick akan sangat marah pada Marc. Lebih baik ia tidak usah cerita kenapa kemarin ia bertengkar dengan Marc. "Marc meminta maaf karena berbuat salah padaku, jadi ia merasa bersalah dan pergi kerumah untuk meminta maaf," jelas Elsa."Lalu, hari ini ia mengajakku pergi keluar," lanjutnya.
Maverick mengerutkan keningnya. "Kalian bertengkar karena apa?" tanya Maverick ingin tahu.
Elsa menggerakkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri. "Itu hanya aku dan Marc yang tau. Yang penting sekarang, masalah kami sudah selesai dan aku akan pergi pagi ini."
"Marc akan mengajakmu kemana?" tanya Maverick lagi.
"Entahlah. Dia tidak bilang."
Maverick menghela nafasnya. "Aku bahagia jika kau bahagia. Daripada kau harus menangis seperti kemarin, aku ingin kau tersenyum seperti hari ini." Pria itu tersenyum sangat manis.
Elsa membalas senyuman tulus itu. "Thank you, Mack," katanya.
"Els, dibawah ada Marc."
Teriakan Angel dari lantai bawah membubarkan dua anak kembar yang sedang berbincang. Keduanya menuruni tangga bersamaan dan menuju ke ruang tamu.
Disana sudah ada Marc yang terlihat sangat tampan dengan kaos putih polos yang ditutupi dengan hoodie biru tua. Jeans hitam yang ia kenakan, melengkapi penampilannya.
Marc menatap Elsa dari atas sampai bawah. Gadis itu terlihat sangat cantik meskipun hanya mengenakan pakaian sesimple itu. Kaos putih polos, celana pendek hitam dan sweater berwarna kuning.
"Kau terlihat sangat cantik," puji Marc.
Marc menaikkan satu alisnya. "Wah benar, aku baru menyadarinya," kata Marc.
Maverick hanya mengedikkan bahunya melihat dua orang didepannya. "Mungkin kalian berdua bisa saja kunamakan... budak cinta," celetuknya asal yang langsung mendapatkan pukulan Elsa dibahunya.
Marc tertawa. "Kau sudah siap?" tanyanya pada Elsa.
Elsa mengangguk. "Aku pergi dulu, Mack. Bye."
Maverick menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang terlihat sangat bahagia. Mungkin ia harus mengucapkan banyak terima kasih untuk Marc karena sejak pria itu menempati rumah mewah didepan rumahnya, Elsa selalu terlihat bahagia. Bahkan mungkin kemarin adalah pertama kalinya ia melihat Elsa menangis sejak tujuh tahun lalu sebelum Marc menjadi tetangganya.
Sejak orang tua Maverick dan Elsa memilih untuk bercerai, gadis itu tidak lagi bisa tersenyum lepas. Ia selalu merindukan ibunya. Hanya saja, ibunya tidak pernah datang padanya disaat gadis itu merindukannya. Maverick sampai tidak sanggup melihat adiknya yang selalu murung.
Ia harus banyak berterima kasih kepada Marc karena sejak Elsa bertemu pria itu, adiknya tidak pernah lagi bersedih. Maverick tahu, Marc menyukai Elsa. Hanya saja, ia belum sepenuhnya percaya pada Marc, meskipun ia tahu jika Elsa tidak pernah sedikitpun menangis karena Marc menyakitinya.
~~
Elsa langsung menampakkan wajah bahagianya saat tau Marc membawanya ke pantai. Gadis itu terlihat sangat antusias, terlihat saat turun dari mobil, Elsa langsung berlari menuju pantai.
Marc tersenyum melihat Elsa yang tidak berhenti menampakkan senyumannya. Ia mendekati Elsa dan menarik tangannya untuk bermain air.
"Hei, jangan menyiramku," protes Elsa saat Marc mengambil air pantai dengan tangannya untuk menyiramnya.
"Kau bahagia?" suara Marc tersamarkan dengan angin yang begitu kencang.
Rambut Elsa berantakan karena tiupan angin yang kencang. "Aku sangat-sangat bahagia. Sudah lama aku tidak ke pantai," jawab Elsa.
Marc mendekati Elsa dan merapikan rambutnya. "Kau sangat cantik," ucapnya.
Elsa menatap mata Marc. Mata tajam yang selalu membuat Elsa salah tingkah. "Jangan membual."
"Aku tidak bohong. Kau sangat cantik."
Elsa hanya tertawa mendengar penuturan Marc. Tangannya ditarik oleh Marc untuk menepi. Keduanya duduk diatas pasir ditepi pantai.
"Els," panggil Marc.
Elsa kembali menatap mata tajam itu. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku minta maaf tentang kejadian kemarin," kata Marc.
Elsa menghela nafasnya. "Kau sudah minta maaf tadi malam." Sebenarnya Elsa enggan untuk membahasnya, tetapi sepertinya Marc masih merasa bersalah.
"Aku takut kau masih marah padaku."
__ADS_1
Elsa menyentuh bahu Marc. "Kau sudah menjelaskan alasannya padaku dan tidak mungkin aku masih marah denganmu, Marc."
Marc tersenyum, senyum yang dipaksakan, tetapi gadis itu membalasnya dengan senyuman yang sangat tulus. Ia meraih tangan kanan Elsa, memeluk tangan itu dengan kedua tangannya.
"Aku tidak tau kenapa, tetapi aku masih tidak tenang. Aku masih merasa bersalah padamu."
Elsa kembali tersenyum. "Apa yang harus aku lakukan agar membuat perasaanmu lebih tenang?" tanyanya.
"Peluk aku," jawab Marc sambil merentangkan kedua tangannya.
Elsa langsung memukul lengan Marc. "Kau mencari kesempatan," tuduhnya.
Marc tertawa yang membuat Elsa ikut tertawa juga. Ia begitu terpesona dengan tawa manis yang selalu ditunjukkan oleh gadis itu. Ia menyukainya. Elsa sangat cantik jika tertawa seperti itu.
"Aku menyukaimu," celetuk Marc yang membuat Elsa menghentikan tawanya.
Ia menatap Marc terkejut. Marc mengatakannya lagi. Semalam ia mendengar apa yang Marc katakan, hanya saja, ia rasa itu tidak mungkin. Tetapi sekarang, Marc mengatakannya lagi. "Ha?" tanyanya.
"Eum, aku menyukaimu," ulang Marc sekali lagi.
Elsa menatapnya tak percaya. Sedetik kemudian, gadis itu terkekeh. Ia hanya berusaha menutupi rasa senangnya. "Kau tau, aku hanya seorang gadis biasa. Sedangkan kau, kau adalah seorang juara dunia. Tidak mungkin kan Marc, kau menyukaiku? Kau hanya bercanda." Ia mengelak, meskipun hatinya bersorak-sorak senang.
Marc menggeleng. "Aku yakin kau sadar tentang semua perhatianku selama ini padamu. Aku selalu mengutamakan dirimu. Aku selalu berusaha menjaga perasaanmu. Aku selalu menuruti kemauanmu." Marc menarik nafas, lalu mengeluarkannya. "Aku menyukaimu dan aku tidak bercanda," katanya.
Perlahan, sebuah senyuman terlihat diwajah gadis itu.
"Els," Marc meraih tangan Elsa dan menggenggamnya. "Aku menyukaimu. Sampai-sampai, apa yang kau lakukan berpengaruh padaku."
Elsa hanya diam, tetapi matanya terus menatap Marc. Mencari kebohongan lewat mata itu, tetapi ia tak menemukannya. Mata tajamnya mengisyaratkan kejujuran dan ketulusan.
"Jadilah kekasihku," pinta Marc yang membuat Elsa membelalakkan matanya.
Gadis itu tersenyum. Ia melepaskan tangannya yang digenggam oleh Marc dan beralih menggenggam tangan Marc. "Marc Marquez, aku tau. Aku sangat tau, banyak wanita-wanita yang lebih dari aku disekelilingmu, aku tidak pantas untukmu," kata Elsa yang merasa tidak percaya diri.
Marc kembali menggeleng, tidak membenarkan ucapan Elsa. "Banyak sekali wanita yang lebih darimu, tetapi aku hanya menyukaimu. Dari awal Maverick membawamu ke sirkuit, aku sudah tertarik denganmu. Aku mencari tau dimana rumah Maverick dan saat itu juga, aku tau rumah didepan rumah kalian sedang dalam proses penjualan. Aku meminta ayahku untuk membelinya dan aku ingin pindah dirumah itu. Hanya saja, ayahku tidak bisa mengabulkan itu. Kami harus berada lebih lama di Cervera.
Lalu, ketika aku naik ke kelas MotoGP, satu tujuanku adalah menjadi seorang juara dunia karena jika aku berhasil menjadi juara dunia MotoGP, ayah tidak akan bisa menolak keinginanku. Dan kemudian, aku berhasil. Aku meminta untuk pindah ke Andorra. Kerumah yang kami beli tapi tidak kami tempati, tepatnya didepan rumahmu." Marc tersenyum. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Elsa. "Aku melakukan itu semua, agar aku bisa dekat denganmu."
"Marc." Elsa sampai tidak bisa berkata apapun setelah mendengar penjelasan laki-laki tampan didepannya.
"Els, aku menyukaimu. Aku ingin kau menjadi kekasihku," kata Marc yang membuat Elsa kembali tersenyum.
"Marc, aku..."
"Jangan menolakku hanya karena kau merasa tidak pantas untukku."
Elsa menggenggam tangan Marc, erat. Sangat erat. "Aku juga menyukaimu," katanya.
Marc membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Kau bilang apa?"
Elsa menghela nafas. "Aku tidak mau mengulangnya lagi."
"Hei ayolah, ulang sekali lagi." Marc merangkul leher gadis itu dan membujuknya.
"Tidak mau."
"Ayo. Kau tadi bilang apa?"
"Aku tidak mau mengulangnya."
"Ayolah. Aku tidak mendengarnya."
"Tidak mau."
Marc berpura-pura kesal. Kemudian ia bertanya, "Kau mau kan jadi kekasihku?"
"Iya."
"Apa?"
"Apa apanya?"
"Kau bilang apa tadi?"
"Ih Marc." Elsa memukul-mukul pundak Marc. "Kau menyebalkan."
"Hahahaha," Marc tertawa puas setelah berhasil melihat wajah Elsa yang lucu dengan kedua pipi memerah karena malu. "Iya iya, aku mendengarnya," kata Marc dan kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Elsa membalas pelukan pria yang sekarang telah resmi menjadi kekasihnya.
"Terima kasih sudah membalas perasaanku dan terima kasih sudah mau menerima aku menjadi kekasihmu," ucap Marc.
Elsa memukul pelan pundak Marc. "Kau ini, seharusnya aku yang berterima kasih karena seorang Marc Marquez bisa mempunyai perasaan tulus untuk gadis biasa seperti ku."
"Kau adalah gadis luar biasa. Berhenti untuk merendahkan dirimu, mengerti?"
Elsa melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Terima kasih, Marc," katanya.
"Oo iya, ayo kita membeli es krim. Aku ingin kau menikmati makanan dan minuman kesukaanmu di kencan pertama kita."
Mata Elsa berbinar saat Marc menyebut Es Krim. "Aku akan pesan es krim special," serunya.
__ADS_1
Marc tersenyum dan segera menarik tangan Elsa menuju mobilnya dan pergi ke kedai es krim favorit Elsa.