FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
PART 18


__ADS_3

"Lain kali, jika kau ingin bercanda lihat-lihat dulu. Apakah waktunya tepat atau tidak. Kalau sudah begini, Elsa tidak mau bertemu dengan kita," tegur Marc kesal. "Untung saja Elsa langsung pulang ke hotel. Bagaimana jika dia mampir-mampir dulu untuk menenangkan diri?"


Maverick cemberut tiada habisnya. Ia kesal karena sedari tadi Marc terus mengomel padanya.


"Itu kan juga salahmu, kenapa kau membiarkan Lucia datang disaat kau podium?"


"Memangnya aku menyuruhnya?" tanya Marc kesal.


"Sudahlah, Marc. Jika kau terus mengomeli Maverick, tidak akan membuat Elsa membuka pintu kamarnya juga kan. Kita hanya bisa menunggu Christie dan mendengarkan apa yang Elsa katakan padanya."


Ucapan Jonas ada benarnya. Jika Marc terus mengomeli Maverick, yang ada hanya Marc semakin kesal saja. Sebaiknya ia menunggu Christie dan mendengarkan penjelasannya.


Setelah menunggu sedikit lama, ponsel Jonas berdering dan memunculkan nama Christie disana. Jonas menerima telepon itu, tetapi Christie hanya menanyakan tentang keberadaan mereka bertiga. Setelah Jonas menjawabnya, gadis itu menutup teleponnya.


"Christie bilang apa?" tanya Maverick tak sabar.


"Hanya menanyakan keberadaan kita. Setelah itu sambungannya terputus," jawab Jonas.


Marc mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Ia tidak sabar menunggu Christie datang.


"Marc," panggil Christie yang sudah berdiri disamping Marc duduk.


Marc menoleh.


"Bagaimana Chris?" tanya Maverick.


Christie tidak menghiraukan Maverick. "Sebaiknya kau temui Elsa. Dia sangat marah padamu karena Lucia berada diantara kru mu di podium. Elsa hanya cemburu. Kau harus menjelaskan padanya siapa Lucia dan kenapa dia bisa berada disana saat kau podium?"


Marc hendak berdiri dan menghampiri Elsa dikamarnya, tetapi Christie menahan tangannya.


"Satu lagi, Marc. Tolong jaga perasaan Elsa. Jika kau memang mencintainya, kau harus tau bagaimana cara membahagiakannya. Aku tidak memintamu bersikap seperti pembalap lainnya, tetapi aku sebagai teman Elsa sangat menuntutmu untuk bersikap seperti pembalap yang lain, yang bangga ketika memiliki kekasih. Karena semua wanita didunia ini akan sangat bahagia jika diakui oleh kekasihnya dihadapan publik, bukan disembunyikan hanya untuk menjaga perasaan seseorang."


Ucapan Christie bagai sebuah tamparan keras untuk Marc. Ia merasa tersindir dengan kata-kata Christie. Gadis itu benar, Marc memang tidak pernah mempublikasikan Elsa sebagai kekasihnya. Ia juga tidak pernah memposting kebersamaannya bersama Elsa di akun sosial medianya. Tetapi bukan seperti itu alasannya. Bukan untuk menjaga perasaan seseorang. Lagi pula, ia juga tidak akan marah jika saja Elsa memposting foto berdua dengannya di akun sosial media gadis itu.


Marc mengangguk dan berlalu dari hadapan Christie. Ucapan Christie benar-benar mengganggu pikirannya. Ia tidak pernah membahas ini dengan Elsa, tetapi sepertinya gadis itu tahu jika ia tidak suka memposting kehidupan pribadinya di akun sosial media. Apalagi memposting foto orang yang adalah kekasihnya.


Marc hanya ingin menghindarkan Elsa dari fans fanatiknya. Selain itu, Marc tidak suka kehidupan pribadinya terlalu diekspos oleh media. Dia hanya seorang atlet balap motor, bukan aktor besar. Cukup prestasinya saja yang diekspos.


Marc menghela nafas sebelum masuk kedalam kamar Elsa. Gadis itu sedikit terkejut karena bukan Christie yang masuk, melainkan Marc.


"Els," panggilnya.


"Kau mau apa?" tanya Elsa yang sepertinya masih kesal dengan pria itu.


"Kita harus bicara."


Elsa berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menjauhi Marc. "Aku tidak...."


"KITA HARUS BICARA," ucap Marc menekankan kata-katanya.


Elsa memanyunkan bibirnya.


"Jika kita tidak segera membicarakannya, masalah tidak akan selesai dan malah berlarut-larut. Jika kau ada masalah denganku atau ada sikapku yang tanpa sengaja menyakitimu, katakan padaku. Bukan menghindariku. Itu bukan solusi masalahnya."


Elsa menghela nafas.


"Jadi...??"


"Lucia hanya teman sekolahku. Aku sudah pernah bilang ini padamu. Dia tidak lebih dari seorang teman," jelas Marc. "Beberapa temanku bilang kalau dia menyukaiku, tetapi dari sebelum aku bertemu denganmu pun aku tidak tertarik dengannya."


"Tetapi dia ada diantara para kru mu saat kau naik podium. Bahkan aku menahan diri untuk tidak datang kesana karena aku tau kau tidak mau media tau jika aku adalah kekasihmu," kata Elsa marah.


"Kenapa kau selalu mengambil kesimpulanmu sendiri? Kenapa tidak mencoba bertanya padaku? Aku lebih tau jawabannya daripada pikiranmu yang salah itu," bantah Marc tidak mau kalah. "Aku mencintaimu. Dari awal aku mencoba mendekatimu sampai aku pindah rumah didepan rumahmu, itu semua karena aku mencintaimu. Aku tidak pernah berpikir sedikitpun seperti apa yang kau pikirkan."


Marc mendekati Elsa.


"Aku bahkan ingin media tau jika kau adalah kekasihku, tetapi aku memikirkan privasimu. Aku tidak mau jika nantinya kau terganggu dengan media yang selalu mengeksposmu."


Elsa menangis saat tangan hangat Marc menyentuh kulit pipinya. "Seorang wanita tidak selalu menginginkan kebersamaan bersama kekasihnya dipertontonkan oleh publik. Yang diinginkan hanya kekasihnya menjaga perasaannya," sindir Elsa. "Jika kau tidak pandai menjaga perasaanku, bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku?"


Marc tersenyum sambil merapikan rambut Elsa yang jatuh diwajah gadis itu. Ia selalu bersyukur karena dirinyalah yang bisa mengambil hati Elsa. Gadis ini sangat polos, bahkan ia tidak tahu banyak pembalap yang menyukainya.

__ADS_1


Andai saja, ibunya tidak pergi dan Maverick bukan kakak yang posesif, Elsa pasti bisa mendapatkan teman banyak. Akan semakin banyak pria-pria yang menyukainya.


"Setiap aku melakukan sesuatu, entah itu pekerjaan atau hal pribadiku, aku selalu memikirkanmu. Bukankah jika aku tidak tau harus berbuat apa, aku selalu bertanya dulu padamu?"


Elsa terdiam, memikirkan ucapan Marc.


"Aku tidak pernah mencoba untuk menyakitimu. Jika ini adalah masalah Lucia dipodium, itu diluar kendaliku. Aku tau kau akan melihatnya, tetapi aku tidak tau jika kau akan marah seperti ini. Aku pikir, aku bisa menjelaskannya nanti saat kita bertemu, tetapi kau malah tidak mau bertemu denganku." Marc tersenyum samar sambil mengusap bahu Elsa.


"Aku hanya cemburu padanya. Dia yang hanya temanmu, bisa dengan mudahnya kesana kemari mendampingimu. Sedangkan aku, hanya diam saja karena tidak ingin media tau siapa aku," ucap Elsa sedih.


Marc menggeleng. "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk diam seperti itu. Jika kau ingin mengunggah foto kita berdua, silakan. Aku tidak akan marah. Jika kau ingin terus didekatku, silakan. Aku akan senang sekali. Jika kau ingin berada di paddock ku saat latihan bebas maupun race, silakan. Aku tidak pernah keberatan."


Marc tersenyum sangat manis menatap Elsa.


"Biarkan semua orang menduga-duga hubungan kita," kata Marc lembut. "Terkadang aku takut bukan karena media, tetapi karena fans fanatikku. Aku takut mereka menyakitimu. Aku takut mereka menganggu privasimu. Kadang aku selalu mencoba menjaga itu. Mencoba untuk tidak mengunggah foto kita berdua di akun ku, tetapi sepertinya kau salah paham."


Elsa meneteskan airmatanya. Ternyata ia salah paham pada Marc. Pria itu sedang menjaganya dari fans fanatik yang bisa saja menyakiti dirinya jika mereka tahu Elsa adalah kekasih Marc. Bukan bermaksud menutupi hubungan mereka dari media.


"Maafkan aku," kata Elsa merasa bersalah.


Marc tersenyum dan memeluk gadis itu. "Tidak apa-apa. Bukankah aku sudah bilang, jika ada masalah harus segera membicarakannya. Kalau tidak, masalahnya akan berlarut-larut dan hubungan kita akan memburuk. Aku tidak mau itu."


Elsa mengangguk dalam pelukan Marc. Gadis itu menyembunyikan wajahnya dibahu tegap Marc. Sesuatu yang paling ia sukai saat memeluk kekasihnya ini.


"O iya," kata Marc sambil mengusap punggung Elsa. "Maverick mencarimu, dia sangat khawatir."


Elsa melepaskan pelukannya. "Aku juga kesal padanya, dia terus memanasiku saat melihat Lucia dipodium menemanimu," katanya sambil bersedekap.


Marc terkekeh. "Aku sudah memarahinya tadi. Tidak apa-apa, temui kakakmu. Dia yang paling heboh jika kau mengurung diri dikamar. Berisik menurutku."


Elsa tertawa mendengar ucapan Marc. Ia mengangguk dan mengajak Marc menemui Maverick.


~~


"Maveriiiiccckk..!!! Kau bisa tenang tidak?" protes Christie. "Mulutmu berhenti berbicara tetapi jari tanganmu terus bergerak mengetuk-ngetuk meja. Itu sama saja kau masih berisik."


Maverick cemberut. "Sudah dibilang aku tidak bisa tenang jika belum bertemu Elsa."


Maverick terkekeh. "Kau jatuh cinta dengan Fabio ya?" godanya.


"Sssssttt berisik." Giliran Jonas yang protes. Pria itu tidak mau membahas adiknya dengan Fabio.


Christie dan Maverick cekikikan.


"Wah kalian berdua cocok sekali. Kompak untuk mengerjai Jonas."


Christie dan Maverick langsung menoleh kompak mendengar ucapan Marc.


"Apa kau bilang?" tanya keduanya bersamaan.


Marc tertawa. "Benarkan kalian sangat kompak. Lebih baik kalian mulai membicarakan hubungan yang lebih serius," ledeknya.


Jonas yang mendengarnya jadi terkekeh. "Sebenarnya niatku juga seperti itu, Marc. Bukankah adikku sangat cocok dengan Maverick?" Ia justru menambahi dengan ledekannya.


"Jonaaaaaassss, kenapa kau ikut meledekku?" Christie memanyunkan bibirnya kesal.


Jonas dan Marc tertawa bersama melihat Christie tampak kesal.


"Kalian memang cocok sih, tapi Christie kan menyukai...."


"ELSAAAAA," seru Christie dan Maverick lagi-lagi bersamaan. Keduanya langsung berdiri dan memeluk Elsa.


Marc dan Jonas nampak cekikikan.


"Sepertinya adikku memang berjodoh dengan Maverick."


Seruan Jonas menyadarkan Christie dan Maverick yang tengah memeluk Elsa bersamaan. Keduanya reflek melepaskan pelukannya dan menjaga jarak.


"Maverick kenapa kau mengikutiku?" protes Christie.


Maverick tidak terima. "Siapa yang mengikutimu? Kau saja yang ikut-ikut aku."

__ADS_1


"Ti..."


"Sudaahh." Elsa menengahi keduanya. "Aku disini kalian malah bertengkar."


Maverick menangkup wajah adiknya. "Kau baik-baik saja kan? Kau masih marah padaku?" tanya Maverick khawatir.


Elsa menggeleng. "Kau harus berterima kasih pada Marc. Dia yang membujukku agar tidak marah padamu."


Maverick menatap Marc. "Terima kasih adik ipar," candanya.


Marc berpura-pura ingin memukul Maverick. Elsa, Christie dan Jonas tertawa melihatnya.


♡♡⁹³♡♡


Maverick menggandeng tangan Elsa saat keluar dari hotel tempat mereka menginap selama di Jerman. Sekarang mereka akan berangkat ke bandara untuk pergi ke Belanda. Ya, race selanjutnya adalah Assen, Belanda.


Marc yang berjalan dibelakang kekasihnya, tersenyum kagum. Ia melihat Elsa dari atas sampai bawah. Gadis itu meskipun hanya dibalut kaos putih polos dan rok mini, sudah tampak cantik meskipun tanpa riasan make up.


"Maverick."


Bukan hanya yang mempunyai nama saja yang menoleh, tetapi orang disekitarnya pun ikut menoleh karena panggilan itu terlalu keras.


"Maaf maaf, suaraku terlalu keras," kata Fabio sambil tertawa.


Elsa cekikikan melihat tingkah lucu Fabio.


"Jangan tertawa, Els. Aku mengejar Maverick dari dia keluar dari lift. Aku terus memanggilnya tetapi dia tidak mendengarku."


Maverick ikut cekikikan. "Ada apa memangnya?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berangkat ke bandara bersama-sama. Kita kan satu pesawat."


Marc yang mendengar ucapan tidak penting dari Fabio hanya memutar bola matanya malas. Ia lalu mendahului Elsa dan Maverick untuk menunggu mobilnya datang.


~~


"Elsaaaaa."


Elsa menoleh mendengar seseorang meneriaki namanya. "Christiiiiiiieeeee." Ia menyambut pelukan temannya itu.


Maverick menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua gadis didepannya. Mereka seperti terpisah puluhan tahun dan baru bertemu. Padahal tadi malam, Elsa baru saja main kerumah Christie.


"Kita satu pesawat kan?" tanya Christie heboh.


"Tentu, tapi aku duduk dengan Maverick," jawab Elsa.


"Aku duduk dengan Jonas."


Fabio yang melihat keakraban dua gadis itu hanya tersenyum. Ia jelas melihat perbedaan antara Christie ketika bersamanya dan Christie ketika bersama Elsa. Gadis itu jauh lebih bebas saat bersama temannya.


"Aku sudah mempersiapkan kebutuhanku untuk pergi ke Ibiza," kata Christie.


Elsa tersenyum senang. "Asyiikk setelah ini kita liburan," serunya.


Pria-pria itu, Maverick, Marc, Fabio dan Jonas hanya melihat keseruan dua gadis itu yang sangat antusias dengan liburan musim panas mereka.


"Oo ya, Marc. Apa Alex sudah memberitahumu?" tanya Maverick pada Marc.


Marc mengerutkan keningnya. "Soal apa?"


"Danny Kent, ikut liburan musim panas kita ke Ibiza," jawab Maverick.


Marc memasang wajah tidak sukanya. "Dia sendirian atau..."


"Kalau itu aku tidak tau, Marc."


Marc bersikap tenang meskipun pikirannya terus memikirkan ucapan Maverick. Ia tidak menyambut senang kabar dari Maverick yang mengatakan bahwa Danny Kent ikut liburan ke Ibiza. Perasaannya tidak enak dan ia tidak menyukai pria itu.


"Marc." Tepukan pelan Elsa di bahu Marc menyadarkan lamunan pria itu. "Kau baik-baik saja?"


Marc tersenyum samar dan mengelus rambut Elsa. "Ya. Aku baik-baik saja," katanya.

__ADS_1


Fabio mengerutkan keningnya menatap Marc yang bersikap sangat manis pada adik Maverick itu. Ia tahu jika Elsa dekat dengan Marc. Christie pun kemarin juga berkata seperti itu. Tetapi ia baru tahu jika Marc dan Elsa sedekat itu. Itu terlalu dekat menurutnya.


__ADS_2