
@Sachsenring, Jerman
"Maaf Chris, aku belum sempat mampir kerumahmu. Kemarin aku benar-benar lelah, jadi tidak bisa mampir kerumahmu. Tetapi setelah latihan bebas hari ini, aku akan kerumahmu," kata Elsa pada Christie.
Seperti biasa, dua gadis cantik itu sedang berbincang dikantin sirkuit. Sembari menunggu saudara kembar keduanya yang sedang melakukan latihan bebas pertama hari ini.
"Kalau begitu, kau ikut mobilku saja. Maverick ikut, tidak?" tanya Christie.
"Sepertinya ia akan ikut, tetapi mungkin juga tidak karena lelah. Tetapi kalau tidak ikut, aku akan menyuruh Marc untuk menjemputku nanti."
"Jika tidak ada yang menjemputmu, aku dan Jonas akan mengantarkanmu ke hotel. Atau kau tidur saja dirumahku?"
Elsa tersenyum dan mengangguk sambil meminum jus strawberry yang tadi ia pesan.
"Hei gadis-gadis, kalian sedang apa disini?"
Suara seorang laki-laki menyita perhatian kedua gadis itu. Keduanya pun menoleh bersamaan dan mendelik kaget menatap siapa yang menyapa mereka.
"Fabio?" gumam Christie pelan.
"Sudah selesai latihan bebasnya?" tanya Elsa.
Fabio tersenyum dan duduk disamping Elsa. Christie memperhatikan pria itu dengan seksama, seolah hari ini adalah hari terakhirnya melihat pria pujaannya itu.
"Sudah. Sepertinya Maverick tadi sedang bersiap-siap kemari," jawab Fabio santai.
"Kenapa kau tidak kemari bersama dengan Maverick?" tanya Elsa yang sesekali celingukan melihat ke pintu kantin.
Fabio menggeleng. "Tadi saat aku kemari, Maverick masih mengganti warepack-nya," jawabnya lagi.
Pria tampan itu mengalihkan perhatiannya pada Christie dan tersenyum pada gadis itu. Yang ditatap sudah pasti tersenyum malu dengan jantung yang berdegup kencang lebih dari biasanya.
"Kau bisa menjadi tour guide ku selama di Jerman, Christie? Tahun depan, jika MotoGP di France, aku akan mengajakmu jalan-jalan." Fabio kembali tersenyum manis pada gadis manis didepannya.
Christie hanya tersenyum malu menanggapi ucapan Fabio. Ia tidak ingin terlalu percaya diri untuk meng'iya'kan apa yang Fabio katakan. Mungkin saja Fabio sedang berbasa-basi.
"Tentu saja Christie mau. Setelah ini, dia tidak ada kegiatan apapun. Pasti dia bisa menjadi tour guide mu hari ini."
Christie mendelik mendengar penuturan lancar dan lancang dari temannya itu.
Fabio tersenyum menatap Elsa dan kembali menatap Christie yang terlihat kebingungan untuk menolak permintaannya.
Bisa saja Christie menjadi tour guide Fabio, tetapi bagaimana dengan Jonas? Memangnya kakak kembarnya itu mengijinkan?
"Eum... tapi hari ini Elsa berencana mampir kerumahku."
Ahh benar juga, bukankah tadi dua gadis itu membuat sebuah rencana. Elsa akan mampir kerumah Christie setelah latihan bebas pertama ini.
"Ohh tidak apa-apa, aku bisa kerumahmu lain hari. Besok juga masih ada hari kan?" sanggah Elsa cepat. Gadis itu nampak bersemangat sekali jika ini menyangkut Christie dan Fabio.
Fabio terkekeh melihat Elsa yang nampak bahagia. Tetapi juga sedikit curiga, kenapa gadis itu kelihatan begitu bahagia.
"Tapi aku juga harus ijin Jonas dulu. Semoga saja dia mengijinkan," kata Christie.
Fabio kembali tersenyum dan menatap Christie senang. Sedangkan yang ditatap harus mengatur detak jantungnya agar tidak berpacu dengan cepat.
Elsa nampak cekikikan melihat temannya yang salah tingkah.
"Kau mau ikut, Els?" tanya Fabio dan beralih menatap Elsa.
Elsa mengangkat tangannya dan menggerak-gerakannya, tanda menolak ajakan Fabio. Gadis itu masih terus tersenyum sembari membayangkan Christie yang akan pergi dengan Fabio setelah ini.
"Ayo, Fab." Ajakan untuk segera meninggalkan kantin datang dari sepupu Fabio, Tom, yang membawa beberapa makanan dan minuman.
"Sudah?" tanya Fabio. Pria itu mengangguk. Fabio beralih ke dua gadis tadi. "Kalau begitu, aku kembali ke paddock dulu yaa, gadis-gadis."
"Oke. Hati-hati," kata Elsa.
Christie mencubit tangan Elsa pelan menyalurkan rasa kesal sekaligus bahagia. Gara-gara Elsa langsung meng'iya'kan permintaan Fabio tadi membuat Christie harus terjebak dalam dua situasi yang pastinya akan membuat jantungnya tidak bisa santai.
"Apa sih, Chris? Aku hanya berusaha membuat kalian berdua dekat." Elsa mengelus tangannya yang tadi dicubit Christie.
"Tapi bagaimana aku meminta ijin Jonas?" Christie menatap Elsa sambil memanyunkan bibirnya.
Elsa cekikikan. "Bilang saja pada Jonas kalau kau akan berkencan," celetuknya asal.
"Hiiiihhh Elsaaaa. Kau ini yaaa..."
Elsa tertawa melihat tingkah Christie yang sebenarnya senang tetapi bingung karena tidak tahu bagaimana caranya lolos dari ijin Jonas.
"Aku akan membantumu meminta ijin kakak posesifmu."
Christie melirik Elsa sinis. "Bagaimana caranya?"
"Kau tenang saja," kata Elsa sambil mengedipkan satu mata kearah Christie.
~~
"Ibu ada di Jerman."
Elsa menoleh cepat kearah Maverick dan mengerutkan keningnya, heran. "Mau apa ibu kesini?" tanyanya.
"Menemuimu."
Maverick dan Elsa berjalan bersama menuju paddock Maverick. Tadi sepeninggalan Fabio, Maverick mendatangi Elsa di kantin. Ia menyuruh adiknya itu untuk kembali ke paddock.
Sebenarnya Maverick ingin berbicara dengan Elsa karena saat latihan bebas pertamanya tadi, ayah mereka terus-menerus menghubungi Maverick. Pria paruh baya itu hanya ingin mengabari bahwa ibu mereka saat ini ada di Jerman. Wanita itu ingin sekali bertemu dengan Elsa.
"Kenapa harus sampai kesini?" tanya Elsa heran.
__ADS_1
Saat di Barcelona, Elsa menolak untuk bertemu dengan ibunya. Bahkan Maverick pun sudah mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja jika Elsa menemui ibu mereka, tetapi gadis cantik itu bersikeras untuk mengurungkan niatnya menemui wanita yang sudah meninggalkannya itu.
Marc pun ikut andil dalam membujuk Elsa, tetapi tetap saja gadis itu tidak mau bertemu dengan ibunya. Padahal Marc sangat tahu bahwa Elsa selalu menangis didepan Marc dan berharap bisa bertemu dengan ibunya. Tetapi setelah diberi kesempatan, kenapa gadis itu menolaknya?
"Entahlah," kata Maverick.
Elsa menghela nafas kasar. "Mau di Barcelona atau di Jerman, aku tetap tidak mau bertemu dengannya."
Maverick menahan tangan Elsa untuk berhenti. "Kenapa? Apa yang membuatmu berubah pikiran?"
Elsa hanya menatap Maverick dalam diamnya.
"Bukankah kemarin-kemarin kau sangat ingin bertemu dengannya? Apa kau takut menyakitiku? Jika iya, kau tak perlu memikirkan itu. Aku tidak apa-apa, Els."
Elsa melepaskan tangan Maverick yang menahannya. "Apa kau menyuruhku kembali ke paddock mu hanya untuk membicarakan ini?" tanya Elsa sedih.
"Ayah menghubungiku sedari tadi. Ibu menunggumu dilobi hotel. Ibu tidak bisa masuk kesini karena kehabisan tiket."
"Lalu apa peduliku?"
Keduanya saling menatap beberapa detik. Maverick mengakhiri itu dengan menghela nafas panjang.
"Kalian tidak memberitahuku alasan ibu pergi karena kalian tidak mau aku membencinya."
Maverick menatap Elsa kembali.
"Mack, ibu meninggalkan kita karena ada pria yang lebih kaya dari ayah. Itu menyakiti ayah. Bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku dan membiarkan aku mengharapkan wanita yang sudah menghianati ayah kembali?"
Maverick mendelik mendengar penuturan adik kembarnya. Bagaimana Elsa tahu itu?
"Kau... bagaimana kau tau?" tanya Maverick terkejut.
"Aku mendengarkan percakapanmu diteras dengan Marc," jawab Elsa. "Mack, jika kau terluka, aku juga akan terluka. Tidak mungkin jika ada seseorang yang melukaimu dan ayah, tetapi aku justru mengharapkan bisa memeluk orang yang sudah melukai kalian."
Maverick kembali menarik tangan Elsa untuk dipeluknya.
"Mack, kau dan ayah adalah segala-galanya bagiku. Jika ada yang melukai kalian, aku juga akan ikut terluka. Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku. Aku menyayangi kalian berdua." Elsa membalas pelukan Maverick.
Maverick tersenyum dan memeluk Elsa semakin erat.
"Kalian kakak-beradik romantis sekali." Ucapan seorang pria membuat Elsa dan Maverick melepaskan pelukan mereka.
Jonas dan Christie tersenyum menatap dua orang yang tersenyum malu didepannya.
"Kalian... mengganggu drama kami saja," canda Maverick yang sedang menyembunyikan rasa malunya.
Jonas terkekeh melihat tingkah temannya itu. "Mack, bagaimana dengan wanita yang...." Ia menggantung ucapannya dan melirik Elsa.
"Ihh Jonas, jangan selalu menggodaku dengan candaanmu itu. Maverick tidak akan memiliki kekasih sebelum aku menikah," protes Elsa sambil memukul-mukul lengan Jonas.
Jonas, Christie dan Maverick tertawa bersama melihat tingkah Elsa yang terlihat sangat lucu.
Elsa menghentikan aksi memukul lengannya dan nampak sedang berpikir sejenak. "Oo ya sebentar," katanya sambil menatap Jonas. "Aku ada urusan dengan Jonas, sebentar saja."
Maverick, Christie dan Jonas mengerutkan keningnya. Urusan apa? Tidak biasanya.
Elsa mengedipkan matanya melirik Christie.
"Ayo Jonas, sebentar saja," katanya sambil menarik tangan Jonas dan menjauh dari Maverick dan Christie.
Jonas, meskipun heran tetapi pria itu menurut saja ditarik tangannya oleh gadis cantik itu.
"Ada apa, Els? Sepertinya serius sekali."
Elsa tersenyum sangat lucu membuat Jonas terpesona melihatnya. "Apa setelah latihan bebas siang ini, Christie ada acara?" tanyanya.
Jonas nampak berpikir. "Kurasa tidak, kami langsung pulang saja," jawabnya. "Ohh kau ingin mengajak Christie pergi? Silakan saja, asalkan pulangnya tidak terlalu malam."
Elsa tersenyum. "Bukan aku yang mau mengajak Christie pergi," katanya.
Jonas kembali mengerutkan keningnya.
"Fabio yang akan mengajak Christie pergi."
Rahang Jonas mengeras mendengar nama itu. Ia terlihat tidak suka dengan ucapan Elsa.
"Kau memintakan ijin atas nama adikku atau laki-laki itu?" Nada suara Jonas terdengar dingin, membuat Elsa merinding.
"Jonas, kau jangan marah dulu ya. Tidak apa-apakan jika Christie pergi jalan-jalan dengan Fabio? Fabio akan datang ke paddock mu untuk menjemput Christie dan meminta ijinmu. Aku disini memintakan ijin untuk Christie." Elsa mulai memelas dan menyatukan kedua tangannya untuk memohon pada Jonas.
Jonas masih terlihat tidak suka dengan permintaan Elsa. "Mungkin aku bisa percaya padamu, tetapi dengan pria itu? Apa aku bisa membiarkan adikku pergi dengan pria yang bahkan aku tidak mengenalnya." Ia berkacak pinggang.
"Fabio adalah pria yang baik, Jonas. Aku tidak pernah melihat dia aneh-aneh di paddock," kata Elsa takut melihat Jonas yang tampak sedikit marah itu.
"Kau hanya mengenalnya sebatas rekan satu tim Maverick, tetapi kau tidak mengenalnya dekat."
Jonas masih bersikukuh, belum memberi ijin.
"Jonas, kumohon. Beri kesempatan untuk adikmu dekat dengan seorang pria. Christie sangat menyukainya. Aku berjanji, jika Fabio berani menyakiti adikmu, aku adalah orang pertama yang akan memukulnya."
Jonas mendesah. Melihat Elsa memelas seperti ini membuat sikap dinginnya meleleh seketika.
"Baiklah."
Elsa menghela nafas lega.
"Saat menjemput Christie, pria itu harus menemuiku dulu dan meminta ijinku," katanya tegas.
Elsa tersenyum dan kembali tampak bersemangat karena Jonas memberi sinyal mengijinkan. "Siap, Jonas," serunya.
__ADS_1
Mereka pun kembali menghampiri Maverick dan Christie yang sudah menunggu dengan rasa penasaran.
"Kalian terlibat bisnis apa? Sepertinya seru sekali melihat percakapan kalian. Ada dingin, marah, takut dan bahagia." Maverick menatap adik dan temannya itu curiga.
Elsa mengedipkan satu mata pada Christie dan tersenyum.
"Sudah, nanti saja aku ceritakan. Ayo kembali ke paddock," ajak Elsa sambil mendorong tubuh Maverick. "Bye Chris. Bye Jonas," serunya yang tampak bahagia sekali.
Christie tersenyum canggung. Ia melirik Jonas yang terlihat seram berdiri disebelahnya. Elsa pasti sudah meminta ijin Jonas agar setelah ini ia bisa pergi jalan-jalan dengan Fabio.
"Jadi yang mengajak pergi untuk jalan-jalan, kau atau Fabio?" tanya Jonas. Suaranya sarat akan emosi yang tertahan.
"Itu...." Christie sedikit takut untuk menjawab. "Fabio memintaku untuk menemaninya jalan-jalan setelah latihan bebas hari ini."
"Jika aku tidak mengijinkan, bagaimana?"
"Ya... itu... tidak apa-apa. Tidak masalah," katanya sedih. "Aku akan mengatakan pada Fabio, jika aku tidak bisa," lanjutnya.
Jonas mengusap rambut lurus Christie yang digerai. "Pergilah," katanya.
Christie membelalakkan matanya dan menoleh cepat pada Jonas. "Kau bilang apa?"
Jonas tersenyum. "Pergilah."
Gadis itu masih tampak tidak percaya. "Kau serius?" tanyanya sekali lagi.
"Ya."
Jawaban singkat Jonas membuat Christie melompat kegirangan dan memeluk kakak kembarnya itu. "Aku benar-benar menyayangimu, Jonas." Gadis itu mengecup pipi Jonas berkali-kali.
"Yaaa, tapi ingat. Tidak ada pulang lebih dari jam 7 malam. Itu batasmu keluar rumah karena kau pergi mulai siang ini." Jonas memperingatkan Christie agar tidak melewati batas jam malamnya.
Christie tersenyum dan mengangguk senang. Lalu ia melingkarkan tangannya dilengan Jonas dan menariknya menuju paddock.
♡♡⁹³♡♡
"Kau tampak sedang bahagia sekali," sungut Marc yang tadi tidak sengaja melihat kekasihnya ini sedang berbicara berdua dengan Jonas Folger.
Elsa tersenyum sumringat menatap Marc. "Aku memang sedang bahagia," katanya.
Marc menatap kesal. "Apa karena bisa berbicara berdua dengan Jonas Folger?"
Elsa menyipitkan matanya. "Kau melihatnya?" tanyanya.
"Tentu saja. Sinyal kau berduaan dengan laki-laki lain itu sangat kuat."
Elsa tertawa mendengar jawaban Marc. "Tetapi aku bahagia bukan karena itu. Aku tadi sedang meminta ijin Jonas, agar Christie boleh pergi jalan-jalan dengan Fabio."
Marc mengerutkan keningnya. "Christie dan Fabio?" tanya Marc.
Elsa mengangguk.
"Lalu Jonas mengijinkan?"
Elsa kembali mengangguk.
Marc tampak melamun setelahnya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Marc, ada apa?"
Suara Elsa membuyarkan lamunan Marc. Laki-laki itu tersenyum.
"Fabio mungkin memang laki-laki yang baik, tetapi mungkin juga ia akan menyakiti Christie tanpa ia sadari," ucap Marc yang membuat Elsa mengerutkan keningnya.
♡♡⁹³♡♡
Fabio yang sudah mengganti warepack nya, berjalan sendirian menuju paddock Jonas. Setelah Elsa memberitahunya bahwa Jonas mengijinkan Christie pergi dengannya, Fabio langsung sumringah. Ia langsung mengganti warepack nya dan buru-buru ke paddock Jonas untuk segera mengajak Christie jalan-jalan.
Jonas tampak garang berdiri didepan paddock nya saat melihat Fabio berjalan menuju kearahnya. Ia tidak akan bersikap seperti ini andai saja Fabio tidak mencoba mendekati adiknya. Hubungan mereka tidak terlalu dekat sebagai seorang pembalap, hanya sebatas kenal saja.
"Hai Jonas." Fabio berbasa-basi.
Jonas tampak dingin menyambut kedatangan Fabio. "Hai."
"Kufikir kau sudah tau, aku kesini untuk mengajak adikmu jalan-jalan. Jadi aku kesini untuk meminta ijinmu dan menjemput Christie."
Jonas menghela nafasnya berat. "Sebentar aku panggilkan Christie."
Fabio mendesah lega. Padahal ia hanya ingin mengajak jalan-jalan Christie, bukan ingin mengencaninya atau menikahinya, tetapi Jonas sungguh berlebihan kelihatannya.
Christie keluar dari paddock Jonas. Fabio sedikit terperangah saat melihat gadis itu. Padahal tidak ada polesan make up apapun, tetapi gadis itu masih tampak begitu manis.
"Sekarang, Fab?" tanya Christie.
Fabio mengangguk dan tersenyum.
"Jonas, aku pergi dulu," kata gadis itu yang membuat kakak kembarnya keluar dari paddock dan menuju kearahnya.
"Hati-hati," katanya lembut pada Christie. "Fabio, pulanglah sebelum jam 7 malam. Aku tidak bisa membiarkan adikku berkeliaran malam-malam tanpa diriku."
Christie tampak kesal karena Jonas bersikap garang pada Fabio.
"Aku janji akan mengantarkan Christie sebelum jam 7 malam."
Jonas mengangguk dan menyuruh mereka untuk segera pergi.
"Jonas begitu sangat menakutkan jika sudah menyangkut dirimu," bisik Fabio yang membuat Christie tertawa kecil.
Jonas terus memperhatikan adiknya dan Fabio yang berjalan semakin menjauh. Ia tampak tidak rela, tetapi melihat adiknya sebahagia itu, ia juga tidak bisa melarangnya.
__ADS_1
"Semoga saja Fabio tidak akan menyakitimu dan membuatmu patah hati," katanya dan kembali masuk ke paddock nya untuk berkemas pulang.