FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
Part 8


__ADS_3

Langit tampak cerah ditengah sibuknya para mekanik motor di sirkuit Catalunya, Spanyol. Tampak wajah serius mereka saat membenahi motor-motor yang akan digunakan para pembalap untuk balapan hari ini. Salah sedikit saja dalam pengerjaan, akan berakibat fatal saat balapan nanti. Entah itu akan menyebabkan kecelakaan, motor mati atau rusak mesin.


Satu motor saja, bisa lebih dari lima mekanik yang menanganinya. Ditambah lagi, jika pembalap itu mengerti urusan motor, mereka akan ikut andil dalam pembenahan motor yang mereka gunakan untuk balapan nanti.


Maverick Vinales, pembalap dari tim Yamaha, terlihat sedang berbicara dengan mekaniknya yang sedang membenahi motor yang akan ia pakai. Tampak keseriusan diwajahnya sambil menunjuk ban depannya.


Setelah itu, ia berjongkok didepan motornya dan menunjuk salah satu bagian depan motor itu. Ia berdiri kembali dan berbicara sedikit dengan mekaniknya. Pria beruban yang diajak berbicara mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti dengan apa yang Maverick inginkan.


"Aku percaya padamu," kata Maverick sebelum masuk kembali ke dalam paddocknya.


Berbeda lagi dengan rekan satu tim Maverick, Fabio Quartararo. Ia lebih memilih memberi gambar untuk diberikan kepada mekaniknya. Menjelaskan apa yang dia maksud dan dia inginkan. Setelah itu, ia tetap berada disekitar mekaniknya dan melihat kinerja para mekanik yang sudah membantunya itu.


Suara berisik disirkuit ini bukan hanya diisi oleh suara motor, para mekanik dan para pembalap yang akan tampil, melainkan juga para fans yang berada dikursi penonton. Tetapi para fans dari pembalap-pembalap itu tidak hanya ada dikursi penonton, mereka yang memiliki akses paddock juga bisa bertemu langsung dengan pembalap idola mereka.


Elsa dan Christie adalah salah satu yang beruntung. Mereka memiliki akses di paddock karena saudara mereka adalah pembalap, jadi mereka tidak perlu susah-susah untuk membayar mahal agar bisa berkeliaran disekitar paddock.


"Kau menginap dirumahku dulu kan setelah race hari ini?"


Christie tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Elsa. "Aku tidak tau. Aku akan bertanya pada Jonas," jawabnya. "Di Jerman besok, kau dan Maverick harus mampir kerumah kami. Menginap dirumah kami juga," kata Christie mengingatkan.


Elsa tersenyum dan mengangguk. "Baiklah," ucapnya. "Kau menonton race dimana?" tanya Elsa lagi.


"Di paddock Jonas. Memangnya mau dimana lagi?"


Elsa terkekeh mendengar jawaban Christie. "Di paddock Fabio, kau tidak mau?"


Christie menggeleng cepat. "Tidak. Aku tidak mau histeris disana saking senangnya."


Kedua gadis itu tertawa bersama karena jawaban nyeleneh Christie.


"Kalau begitu, kembalilah ke paddock Jonas karena 10 menit lagi, race akan segera dimulai." Elsa melihat ke sekitar dan melihat para mekanik sibuk mendorong motor yang akan digunakan pembalapnya untuk diletakkan di starting grid.


Christie mengangguk, kemudian ia berpamitan pada Elsa dan melambaikan tangannya. Elsa membalas lambaian tangan itu.


Elsa kembali masuk ke paddock Maverick dan bersiap duduk disalah satu kursi yang sudah disediakan untuknya. Kemudian, tiba-tiba ia teringat dengan kekasihnya, Marc Marquez. Segera ia mengambil ponsel yang ia letakkan didekat ponsel Maverick dan mengirim pesan untuk kekasihnya itu.


Hari ini bukan hari baik untuk Marc. Pria itu harus start di posisi 13. Jadi Marc harus berusaha sekeras mungkin diawal balapan.


Seperti biasa, suasana tegang memenuhi paddock Yamaha. Elsa duduk diantara para kru Maverick yang lebih memilih berdiri. Hari ini pembalap mereka memulai balapan diposisi 6. Tidak cukup bagus, tetapi juga tidak terlalu buruk.


"Kenapa aku memikirkan Marc terus?" gumam Elsa.


Lampu start sudah menyala hijau, menandakan balapan telah dimulai. Elsa menatap layar televisi yang berada diatasnya, matanya tak bisa lepas menatap pembalap bernomor 93 itu.


Perasaan lega menyelimutinya karena Marc bisa melesat diposisi 6. Akhirnya pria itu bisa bertarung didepan untuk memperebutkan podium. Ini yang diinginkan Marc, bertarung dibarisan depan.


Saat memasuki lap kedelapan, Marc siap berbelok ditikungan kesepuluh tetapi...


"Oh ****," kata Elsa tertahan saat melihat Marc kembali gagal. Pria itu kembali terjatuh saat posisi balapannya sudah membaik.


Elsa menyandarkan punggungnya dikursi yang ia duduki. Kedua tangannya saling meremas. Yang ia harapkan sekarang adalah semoga Marc baik-baik saja dan tidak mengalami cedera apapun.


Ia teringat kata-kata Marc yang menginginkan dirinya untuk berada di pit wall saat Marc memenangi balapan. Tetapi sekarang Marc jatuh dan keinginan Marc tak bisa dipenuhi di sirkuit ini.


Elsa berdiri dan keluar dari paddock Maverick. Semua kru Maverick menatapnya mengerti. Mereka tahu jika adik Maverick itu sangat dekat dengan Marc Marquez, jadi wajar saja jika gadis itu bersedih karena Marc gagal finish lagi.


Elsa melihat beberapa kru Marc berada didepan paddock Repsol Honda dan ada Emilio juga disana. Ia langsung menghampiri Emilio dan memaksakan untuk tersenyum.


"Dia akan baik-baik saja dan kembali memimpin di Jerman."


Elsa mengangguk mendengar ucapan Emilio. Ia selalu tahu jika Emilio adalah orang yang selalu menenangkannya disaat Marc mengalami kecelakaan.


Marc tiba di paddocknya lewat pintu belakang. Beberapa kru mendekatinya dan menanyakan apa yang terjadi padanya.


"Aku mengerem terlalu dalam," jawabnya. "I'm so sorry. We will come back strong at Sachsenring," tuturnya.


Marc melepas helmnya dan matanya langsung menangkap seorang gadis yang berdiri didepan paddocknya. Ia tersenyum.


"Aku senang dia disini," gumamnya.


~~


"Kau baik-baik saja?" tanya Elsa.


Marc tersenyum. "Aku baik-baik saja," jawabnya.


"Kau meninggalkan paddock Maverick begitu saja? Race belum selesai, Maverick pasti mencarimu saat dia tiba di paddocknya."


"Jika Mack mencariku, dia akan tau aku dimana."


Marc menghela nafas, tidak bisa membantah kekasihnya.


Elsa terus menatap Marc. Sebenarnya ia masih khawatir, takut jika Marc sebenarnya mengalami cedera tetapi pria itu tidak mau membuatnya khawatir.


"Jangan menatapku begitu, aku baik-baik saja, sayang," protes Marc sambil terkekeh. Ia tahu jika kekasihnya ini sangat menggemaskan jika khawatir. "Lihatlah, kau terus melihatku sampai balapannya selesai," ucap Marc sambil menunjuk layar televisi dipaddocknya.

__ADS_1


Elsa menoleh dan tersenyum melihat saudara kembarnya berada diposisi kelima.


"Oo iya, aku lupa bertanya padamu," kata Marc yang membuat gadis itu menatapnya penasaran. "Kau ikut dengan Maverick ke Ibiza?" tanyanya.


"Iya. Maverick tidak akan ikut jika aku tidak ikut. Lagipula, aku tidak ada alasan untuk menolaknya. Jadi tidak ada salahnya jika aku ikut bersama mereka."


Marc mengangguk mendengar jawaban Elsa. "Kemarin Maverick mengajakku untuk pergi bersama teman-temannya. Hanya saja, aku belum menjawabnya."


"Kenapa kau tidak ikut saja?" tanya Elsa sedih.


"Aku akan memikirkannya, Els. Lagipula aku harus berbicara dulu dengan Alex. Ia pasti akan ikut liburan bersama ku. Entah Alex mau atau tidak jika liburan bersama teman-teman Maverick."


Elsa mengerutkan keningnya mendengar jawaban Marc. "Memangnya kenapa dengan teman-teman Maverick?" tanya Elsa.


Marc tersenyum dan mengusap bahu Elsa. "Kau tenang saja ya, aku akan segera berbicara dengan Alex. Jika ia ikut, aku akan langsung berbicara dengan Maverick," kata Marc mencoba mengakhiri perbincangan mereka mengenai liburan musim panas.


"Tapi ke...."


"Marc." Ucapan Elsa terputus karena kedatangan Emilio. "Maaf menganggu kalian," kata Emilio sopan.


"Tidak apa, Emilio. Ada apa?" tanya Marc.


"Ada temanmu diluar." Emilio melirik Elsa yang menatapnya heran.


"Biasanya teman Marc langsung bisa masuk kesini kan? Apa dia baru pertama kali kesini? Memangnya siapa?" Elsa melontarkan berbagai pertanyaan.


Marc tersenyum menatap kekasihnya. "Aku yang meminta tim ku untuk melakukannya. Khusus orang ini, aku tidak membiarkannya masuk sembarangan kedalam paddock ku," ucap Marc yang semakin membuat Elsa penasaran.


Marc berdiri dan berjalan keluar paddocknya.


"Hai Marc. Ya Tuhan, kenapa kau bisa terjatuh?" tanya Lucia yang terlihat khawatir saat menatap baju balap Marc yang kotor karena pasir dan terdapat banyak goresan disana. "Kau baik-baik saja kan?"


"Aku tak apa," jawab Marc singkat. "Ada apa, Lucia?" tanyanya. Suaranya terdengar dingin.


"Aku hanya khawatir melihatmu terjatuh. Aku ingin masuk ke paddock mu, tetapi tidak ada yang mengijinkanku masuk."


"Iya, aku yang memintanya."


"Tapi kenapa?" tanya Lucia.


"Aku sedang...."


"Marc." Suara Elsa memanggil Marc dan langsung berdiri disebelahnya.


Marc tersenyum. "Ada apa sayang?" tanya Marc.


Elsa menatap Lucia dan tersenyum, namun dibalas tatapan tidak suka oleh gadis berambut pirang itu.


"Maverick menghubungiku. Aku harus segera kembali ke paddocknya," kata Elsa.


Lucia menaikkan satu alisnya, menatap Elsa dengan heran. 'Maverick? Dia saudara kembar Maverick Vinales itu?' batinnya lagi.


"Tunggu, sayang. Kenalkan, ini Lucia, teman sekolahku." Marc tersenyum menatap Elsa. "Dan Lucia, ini Elsa, kekasihku." Marc menarik Elsa agar menempel padanya.


Lucia membelalakkan matanya terkejut.


"Hai Lucia," sapa Elsa.


Tangan gadis itu mengepal kuat. Ia langsung meninggalkan paddock Marc begitu saja.


"Temanmu bukan orang ramah rupanya," kata Elsa. "Jadi dia yang dilarang masuk sembarangan?"


Marc mengangguk dan terkekeh. "Sebenarnya dia sangat ramah, tetapi mungkin kau terlihat sangat cantik, jadi dia menjadi tidak percaya diri."


Elsa menggeleng mendengar candaan Marc yang memujinya. "Aku pergi dulu," katanya.


"Mau kuantar?" goda Marc.


"Ambil BMW mu dan antar aku." Elsa membalas menggoda kekasihnya.


Marc tertawa. "Bagaimana dengan lamborgini ku saja?"


"Tidak. Itu kau jual saja."


Marc semakin tertawa mendengar celotehan kekasihnya itu.


♡♡⁹³♡♡


Elsa setengah berlari menuju mobil Land Rover hitam yang terparkir ditempat parkir sirkuit. Disamping mobil mewah itu, berdiri laki-laki paruh baya yang masih terlihat sangat tampan diusianya yang hampir kepala lima.


"Hei, jangan berlari. Kau bisa terjatuh," seru Maverick.


Elsa tetap berlari dan langsung memeluk Angel. "Ayah sudah pulang? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Elsa yang terlihat bahagia.


Angel tersenyum melihat putrinya. "Ayah sangat lelah, tetapi lelahnya hilang setelah melihat senyum putri ayah yang cantik." Angel mencubit pipi Elsa.

__ADS_1


Maverick menggeleng melihat tingkah adiknya. "Aku tidak mau melihatmu berlari seperti tadi lagi, Elsa Vinales. Itu yang terakhir," kata Maverick sambil membuka pintu mobilnya dan masuk.


Elsa memanyunkan bibirnya menatap ayahnya. "Terkadang ia iri padaku yah. Maverick harus menerima kenyataan kalau ayah lebih sayang padaku," kata Elsa manja.


Angel tersenyum sambil mengusap rambut lurus putrinya. "Ayah menyayangi kalian berdua," katanya dan membukakan pintu mobil untuk Elsa.


~~


Christie memainkan kakinya dilantai, mengetuk-ngetuk ujung kakinya yang menandakan ia bosan. Meskipun balapan sudah selesai, tetapi kantin ini tidak sepi pembeli. Ia pun masih bisa melihat beberapa pembalap yang masih berada disini. Entah untuk makan, hanya sekedar minum atau untuk berbincang-bincang saja.


Tangannya merogoh tas ranselnya untuk mengambil ponsel. Ponselnya berbunyi dan menampilkan sebuah layar dengan panggilan masuk. Nama Jonas tertera disana.


"Iya Jonas," kata Christie menjawab panggilannya.


"Masih lama?" tanya Jonas.


Christie menatap antriannya. "Sebentar lagi," jawabnya.


"Kau ingat, kau dari tadi bilang sebentar lagi terus." Tidak ada jawaban dari Christie. Gadis itu hanya merengek untuk meminta Jonas agar bersabar. "Apa kau hanya ingin es krim itu? Kita bisa membelinya dikedai es krim yang kemarin kita kunjungi."


Christie menggeleng. "Aku tidak mau. Aku ingin es krim disini. Lagi pula kita akan kembali kesini satu tahun lagi kan? Ayolah Jonas, bersabar sedikit lagi. Aku sudah akan selesai." Gadis itu kembali merengek.


"Baiklah adikku tersayang. Aku akan menunggumu," kata Jonas yang akhirnya lebih memilih menyerah.


Christie tersenyum setelah menutup teleponnya.


"Hai Christie."


Seseorang menyapa gadis manis itu. Ia menoleh dan sedikit terkejut dengan siapa yang telah menyapanya. Setelah sadar dengan keterkejutannya, ia tersenyum.


"Hai Fabio," balasnya.


Fabio ikut tersenyum, ia sangat mengagumi senyuman manis gadis didepannya. "Kau sendirian?" tanyanya.


Christie mengangguk.


"Dimana Elsa? Biasanya kau dengannya."


Christie kembali tersenyum. "Dia sudah pulang," jawabnya. "Maverick dan Elsa dijemput oleh ayah mereka. Jadi mereka buru-buru untuk pulang," tambahnya.


Fabio mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu dimana Jonas? Kau tidak bersamanya?"


Lagi-lagi Christie tersenyum, yang membuat Fabio harus berkali-kali pula memuja senyum manisnya.


"Dia diluar kantin. Sedang menungguku, hanya saja antriannya tadi lama. Sekarang aku hanya tinggal menunggu satu orang," jawabnya.


"Oh begitu. Baiklah kalau begitu, aku duluan, Christie. Senang bertemu denganmu."


Christie mengangguk dan kembali tersenyum sebelum Fabio pergi.


"Eee... Christie."


Christie menatap Fabio heran, keningnya berkerut. "Ada apa?" tanyanya.


Fabio diam sebentar sebelum akhirnya berkata, "senyummu sangat manis. Aku menyukainya."


Christie terdiam mendengar ucapan Fabio. Bibirnya kelu, tidak tahu harus berbicara apa. Bahkan untuk tersenyum seperti tadi, tidak mampu ia lakukan.


"Nona, silakan. Anda ingin pesan apa?"


"Nona."


Suara wanita yang berdiri didepan mesin kasir pun tidak ia hiraukan.


"Nona, maaf. Sudah giliran anda untuk memesan," kata pelanggan yang berdiri tepat dibelakangnya.


Christie sedikit terkejut dengan suara wanita dibelakangnya. Kemudian ia sadar bahwa ia membuat antrian semakin panjang. Ia segera menuju ke kasir dan memesan es krim yang ia inginkan.


Kini senyuman mengembang diwajahnya. Kata-kata Fabio benar-benar membiusnya. Mungkin ia memang sudah jatuh cinta dengan pria itu.


♡♡⁹³♡♡


"Sialan," umpat Lucia kesal.


"Bagaimana?" tanya seorang pria.


Lucia menatap pria itu tajam. "Kau tau, adik Maverick Vinales adalah kekasih Marc Marquez," katanya kesal.


"Sial. Seharusnya aku yang menjadi kekasihnya."


"Aku harus menyingkirkan gadis itu," seru Lucia.


Pria itu mengacungkan jari telunjuk didepan wajah Lucia. "Berani kau menyentuh Elsa barang sedikitpun. Kau berurusan denganku," kata pria itu tidak main-main.


"Apa maksudmu? Sialan, kita sama-sama akan memisahkan mereka," teriak Lucia marah.

__ADS_1


"Ya, tapi tidak dengan menyingkirkan Elsa."


Lucia menggeram. Tangannya mengepal. Ia menatap tajam pria didepannya.


__ADS_2