FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
Part 2


__ADS_3

@Mugello, Italia


Elsa berjalan menyusuri sepanjang paddock MotoGP, mata gadis mungil itu bergerak kesana-kesini melihat banyaknya orang berlalu-lalang didepannya. Orang-orang yang berprofesi sebagai mekanik, tampak sibuk menyiapkan motor yang akan digunakan oleh pembalap mereka. Dengan papan kertas ditangan kiri dan bolpoin ditangan kanan mereka. Mekanik satunya melakukan pengecekan pada motor dan yang satunya lagi mencatatnya.


Para pembalap yang sudah siap dengan wearpack-nya ikut berdiskusi mengenai perkembangan motor. Elsa menatap saudara kembarnya di paddock Movistar Yamaha. Guratan diwajahnya menandakan ia tengah serius berdiskusi mengenai motornya.


Tak jauh dari sana, Elsa melihat orang yang selalu berusaha membuatnya tersenyum. Ya, Marc Marquez. Pembalap Repsol Honda itu tampak serius mendengar penjelasan dari mekaniknya. Ia semakin tampan saat alisnya saling bertautan dan rahangnya mengeras. Benar-benar pahatan yang sempurna.


Elsa mengalihkan pandangannya ke paddock Yamaha Tech 3. Ia tersenyum senang saat melihat seorang gadis disana. Dengan sedikit berlari, ia mendekati gadis itu.


"CHRISTIE," teriaknya bahagia sambil melompat dan memeluk gadis yang ia lihat tadi.


Gadis itu awalnya terkejut dengan teriakan dan pelukan tiba-tiba dari Elsa, tetapi setelah tahu Elsa yang memeluknya, ia melebarkan bibirnya untuk tersenyum. Ia membalas pelukan Elsa dengan erat. Kerinduan nampak jelas didalam pelukan dua gadis itu.


"Aku benar-benar senang saat melihatmu tadi," kata Elsa dengan masih memeluk gadis itu.


"Apalagi aku, yang langsung mendapat pelukan darimu," balas gadis yang bernama Christie itu.


Mereka berdua saling melepaskan pelukan dan tersenyum menatap satu sama lain.


"Ayo kita mengobrol," ajak Elsa. "Waktu 2 minggu terasa sangat lama saat kita terpisah," tambahnya.


Christie tertawa. "Sebentar ya, aku ijin Jonas dulu."


"Baiklah. Aku tunggu disini ya," kata Elsa. Ia memperhatikan Christie yang masuk kedalam paddock Yamaha Tech 3 dan berbicara dengan pembalap muda dari tim itu.


Tak lama kemudian, Christie keluar dari paddock itu dan langsung mengajaknya pergi ke tempat favorit mereka di sirkuit manapun, kantin.


~~


"Aku kira kau tidak ikut kesini," kata Elsa sambil menyeruput minuman yang tadi ia pesan. "Kau ingat kan kau pernah bilang, mungkin kau tidak akan sesering dulu mengikuti Jonas ke sirkuit karena Jorge Lorenzo sudah tidak disini lagi.


Christie tersenyum. "Kucabut saja ucapanku," katanya. "Aku tidak mau melewatkan satu sirkuit pun sekarang," tambahnya dengan senyum penuh arti.


Elsa mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?" tanyanya penasaran.


"Aku sedang menyukai seseorang," Christie tersenyum seperti orang jatuh cinta.


Elsa semakin penasaran. "Ada pembalap yang kau suka? Siapa?" tanyanya. "Dia dari tim mana? Cakep tidak? Aku ingin tauuu." Gadis itu mulai merengek.


Christie terkikik geli melihat wajah Elsa. Ia memakan kue didepannya dan menyuapkan juga ke mulut Elsa karena gadis itu tidak bisa diam.


"Christiiiiiiiiiiee..!!" Elsa berteriak dengan mulut penuh kue dan melotot kearah Christie.


Christie melebarkan tawanya. Wajah Elsa ketika kesal adalah hiburan untuknya. Gadis itu begitu mungil. Mungkin itu yang membuat Marc Marquez terus menempel padanya.


"Setelah ini, aku akan menunjukkannya padamu. Jadi kau bisa langsung melihat wajah tampannya." Christie berucap sambil membayangkan wajah tampan pria yang ia sukai.


Elsa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Christie. Gadis berkebangsaan Jerman itu umurnya memang 2 tahun lebih tua dari Elsa, tetapi sifat kekanak-kanakannya melebihi Elsa.


Dan sekarang, mari kita berkenalan dengan Christie. Christie adalah teman Elsa saat menonton race MotoGP. Mereka hanya bertemu saat race digelar dan tidak pernah bertemu selain disirkuit. Mereka sudah kenal sejak tahun 2015 saat di sirkuit Jerez, Spanyol. Saat itu, Elsa sedang menunggu Maverick, tiba-tiba Christie datang dan meminta ijin untuk duduk dikursi sebelahnya karena kursi lain sudah penuh.


Mereka berbagi cerita yang awalnya hanya bermula dari MotoGP hingga mereka bisa mengenal satu sama lain lewat perkenalan singkat mereka. Hobby mereka sama, menonton MotoGP. Mereka sama-sama penggemar K-Pop dan drama-drama dari negeri ginseng tersebut. Tentu saja yang lebih mencengangkan lagi, mereka adalah saudara kembar dari seorang pembalap. Elsa kembar dengan Maverick dan Christie adalah saudara kembar Jonas Folger.


"Els, kau tau tidak? Kemarin aku mencoba meminta ijin pada Jonas untuk pergi ke Korea Selatan."


Elsa tampak tertarik dengan cerita Christie. "Benarkah?" tanyanya. "Lalu, Jonas mengijinkan?"


Christie menggeleng. "Tentu saja tidak." jawabnya dan membuat Elsa membuang nafasnya lemas.


"Ihh aku kira boleh. Jika boleh, aku bisa saja ikut."


"Maverick mengijinkan?" tanya Christie.


"Tentu saja tidak."


Elsa tertawa dan membuat Christie tertawa juga. Kebahagiaan kedua gadis itu tidak bisa dikendalikan jika sudah bertemu. Tawa mereka membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum senang. Tetapi sayangnya, tawa itu harus berhenti saat seorang laki-laki memasuki kantin dengan seorang wanita cantik.


Elsa mematung. Matanya terus mengikuti setiap gerak-gerik Marc dan wanita itu. Memperhatikan wanita itu menggandeng Marc yang selama ini dekat dengannya. Tangannya mengepal. Jadi untuk apa Marc mendekatinya, bersikap seolah-olah sedang menyukainya?


Atau... mungkin Elsa yang terlalu percaya diri. Marc mendekatinya karena mereka tetangga, bukan karena Marc menyukainya.


Elsa menggeser kursinya dan berdiri. Christie yang terkejut, reflek mengikuti Elsa dan bertanya, "Els, kau tidak apa-apa?"


Elsa masih mengepalkan tangannya. "Ayo kita pergi dari sini, Christ." katanya dan langsung berjalan keluar.


Marc melepaskan tangan wanita yang tadi menggandengnya saat melihat Elsa berjalan melewatinya. Ia langsung menyusul Elsa keluar dari kantin yang diikuti Christie dibelakangnya.


"Marc..!!" teriak wanita yang tadi bersama Marc. Ia heran, kenapa Marc tiba-tiba meninggalkannya.


~~


"Jika Marc mencariku, katakan padanya aku tidak disini."


Maverick heran dengan ucapan Elsa. Adiknya tadi sangat gembira saat keluar dari paddock-nya, tetapi ketika ia kembali, gadis itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti. Ada apa?


"Hei hei, ada apa?" tanya Maverick.


Elsa melipat tangannya didada. "Bilang saja jika Marc mencariku. Aku sedang tidak ingin membahasnya."


Maverick menggelengkan kepalanya. "Katakan padaku, ada apa? Kenapa kau kembali kesini dengan marah-marah?" desaknya agar Elsa mau bercerita.


"Marc bersama wanita lain dikantin." katanya pelan dan... sedih.

__ADS_1


Ya, gadis itu sedih. Ia tidak bisa membohongi perasaannya. Marc Marquez adalah orang yang tiga tahun terakhir memberikan perhatian lebih padanya, melebihi perhatian Maverick. Sejak Marc menjadi tetangga barunya, Elsa menjadi punya dua kakak, Maverick dan Marc. Hanya saja, perhatian yang Marc berikan justru meluluhkan hati Elsa. Gadis itu menyukai Marc.


Ia tidak tahu apakah Marc menyukainya juga atau tidak. Atau Marc hanya menganggapnya seperti adiknya sendiri? Yang pasti, perlakuan Marc sudah membuat Elsa menyukainya. Tetapi sekarang, laki-laki itu justru bersama wanita lain.


"Kau sudah bertanya padanya?" tanya Maverick yang ingin mencoba menengahi. Elsa menggeleng. Maverick menghela nafasnya. "Bagaimana jika itu hanya fans?"


"Fans harus mengandeng tangan saat ke kantin?" tanya Elsa.


Maverick mengelus rambut adiknya. "Kau tidak lupa kan, Marc pernah dicium pipinya oleh fans?" Tanpa menjawab pertanyaan Elsa, Maverick melontarkan pertanyaannya kembali.


Elsa menghentakkan kakinya. Pertanyaan Maverick benar-benar menohoknya. Ia meninggalkan Maverick dan masuk ke ruang ganti di paddock itu.


Maverick hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya. Ia tahu, Elsa sedang cemburu.


~~


"Elsa tidak mau bertemu denganmu."


Baru saja Marc tiba didepan paddock Maverick dan si pemilik paddock langsung mengerti maksud dan tujuan Marc datang kesini.


Saat Marc ingin melangkah memasuki paddock nya, Maverick langsung mencegahnya. "Heeeiii, kau dilarang masuk kesini."


"Tapi aku harus bertemu Elsa, Mack."


"Iyaa, aku mengerti. Tapi Elsa sedang marah sekarang. Dia tidak mau bertemu denganmu," ujar Maverick memberi penjelasan.


Marc berkacak pinggang. "Aku ingin berbicara dan menjelaskan pada Elsa. Dia sudah salah paham saat melihatku bersama Lucia." tuturnya.


Maverick mengerutkan keningnya. "Lalu, siapa Lucia yang kau maksud itu?"


"Dia... hanya teman sekolah ku dulu," jawabnya.


"Elsa melihat kalian bergandengan."


"Dia yang menggandengku." Marc membela diri. "Aku hanya menemaninya disini. Dia jauh-jauh datang kesini untuk menontonku. Tidak mungkin aku mengabaikannya."


Maverick hanya diam.


"Aku hanya menemaninya ke kantin dan tidak ada yang salah dengan itu."


Maverick melangkah lebih dekat dengan Marc. "Adikku menyukaimu dan kau...," Maverick menempelkan jari telunjuknya ke dada Marc. "Kau yang bilang sendiri padaku, kau menyukai Elsa dan meminta ijinku untuk mendekatinya. Jadi, jaga sikapmu."


Rahang Marc mengeras. "Elsa hanya salah paham padaku, Mack. Dia tidak tau bahwa Lucia adalah temanku." Marc mencoba menegaskan pada Maverick.


Maverick ingin menimpali perkataan Marc, tetapi ia urungkan. Ia menghela nafasnya kesal. Akan sangat sulit menjelaskan pada orang yang tidak mau kalah dan tidak mau salah. Marc tidak mengerti kalau Elsa cemburu pada wanita bernama Lucia itu. Elsa hanya tidak mau Marc terlalu dekat dengan wanita manapun, meskipun itu hanya temannya.


Tanpa mengatakan apapun, Maverick masuk kedalam paddock-nya.


♡♡⁹³♡♡


Elsa yang masih bermain dengan ponselnya pun mendongak mendengar ajakan Maverick. "Langsung ke hotel?" tanyanya.


"Kau mau kemana dulu?" Maverick mengelus kepala adiknya.


Elsa nampak sedang berpikir. "Naik motor," pintanya. "Motormu. Keliling sirkuit."


Maverick menghela nafas. "Tidak, Els." tolaknya.


"Kumohon, Mack. Aku ingin sekali."


"Ijinkan Elsa berkeliling sirkuit ini, Mack. Dengan motorku," suara berat seorang laki-laki menghentikan perdebatan Elsa dan Maverick. "Aku akan menjaganya," imbuhnya.


Maverick menggeleng. "Tidak, Marc." katanya. "Itu sangat berbahaya."


"Aku berjanji tidak akan membahayakannya dan Elsa akan aman bersama ku." Marc tidak menyerah untuk meyakinkan Maverick.


Elsa menghela nafasnya. Sebenarnya ia masih sangat kesal dengan Marc, tetapi Marc bisa saja membujuk Maverick yang selalu saja tidak mengijinkannya naik motor MotoGP. Lagipula, di pesawat Marc juga berjanji akan mengajaknya berkeliling sirkuit naik motornya.


"Els, ayolah. Jangan naik motor ya. Itu sangat berbahaya." Maverick membujuk Elsa, berharap gadis itu berubah pikiran.


Elsa mempoutkan bibirnya. "Tapi aku ingin, Mack. Lagipula ada Marc, dia berjanji akan menjagaku kan?" Wajah Elsa penuh permohonan.


Maverick menghela nafas pasrah, ia beralih menatap Marc. "Kau harus berjanji bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan adikku," kata Maverick. Memastikan agar Marc benar-benar menjaga keselamatan Elsa.


Marc tersenyum dan mengangguk. "Aku janji, Mack. Elsa akan kembali padamu dengan baik-baik saja."


Maverick menatap Elsa. "Ikat rambutmu dengan benar. Jangan sampai rusak karena angin." Ia memperingatkan Elsa.


"Siap, kak." katanya sambil tersenyum dan mengangguk.


Marc menggandeng Elsa menuju ke paddock-nya. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Wearpack untuk Elsa dan tak lupa dengan helm-nya. Dengan semua perlengkapan keamanan itu, Elsa pasti akan aman.


Saat menuju paddock Marc, Elsa tersenyum melihat motor Marc didepan paddock-nya, yang memang sudah disiapkan oleh tim mekanik pria itu. Rasanya, gadis itu sudah tidak sabar untuk segera menaiki motor mengagumkan milik Marc Marquez.


"Segera ganti pakaianmu dengan ini," kata Marc sambil menyerahkan wearpack pada Elsa.


Elsa tersenyum dan mengangguk. Gadis itu mendadak sudah melupakan kekesalannya dengan Marc akibat pria itu menggandeng wanita lain dikantin tadi. Dengan perasaan berdebar, Elsa memasuki ruang ganti yang ada didalam paddock Repsol Honda itu.


Tak berapa lama, gadis itu keluar. Kaos beserta celana jeans yang tadi ia kenakan, sudah berganti dengan wearpack warna orange-putih. Elsa yang tadinya tersenyum bahagia, mukanya menjadi kesal karena melihat Marc yang tengah berdiri didepan paddock-nya sedang mengobrol dengan wanita yang tadi menggandengnya dikantin.


"Marc, aku sudah siap," teriak Elsa dengan nada ketus.


Marc yang melihat Elsa sudah memakai wearpack yang sama seperti miliknya pun tersenyum dan mendekati gadis itu. Pria itu tampak mengerutkan keningnya melihat ekspresi yang ditunjukkan Elsa.

__ADS_1


"Kau membawa ikat rambut?" tanya Marc lembut.


"Ya," jawab Elsa masih dengan nada ketusnya.


Alis Marc naik satu, menatap Elsa dengan heran. "Kau kenapa?"


Elsa memutar bola matanya malas. "Tak apa," jawabnya singkat.


"Els," panggil Marc sambil mengangkat dagu Elsa dengan telapak tangannya. "Ada apa?" tanyanya lagi, tetapi hanya dijawab dengan gelengan kepala. Marc menangkap raut sedih diwajah manis gadis itu.


Marc menurunkan tangannya dan menoleh ke luar paddock-nya. Ia mengerutkan keningnya. 'Apa karena Lucia?' batinnya.


Pria itu kembali menatap Elsa dan tersenyum, lalu mengelus rambut panjang gadis itu. "Kemari kan ikat rambutmu. Aku akan mengikatnya," ujar Marc lembut.


Elsa tampak terkejut, tetapi ia tetap memberikan ikat rambutnya pada Marc.


Marc menyuruh Elsa duduk didepannya dan ia mulai menyisir rambut Elsa dengan sisir yang diberikan oleh managernya, Emilio Alzamora. Tangannya sangat kaku saat membuat bentuk kepang pada rambut Elsa. Pada sentuhan terakhir, ia mengikat rambut Elsa diujung bentuk kepangnya. Ia tersenyum melihat rambut Elsa. Itu tidak terlalu rapi, tetapi juga tidak terlalu buruk.


Merasa Marc sudah selesai mengikat rambutnya, Elsa menyentuh bagian belakang rambutnya dan membelalak menatap Marc.


"Bagaimana bisa kau melakukannya?" tanyanya terkejut.


Marc menampakkan cengirannya. "Aku menonton di youtube," jawabnya sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


"Kalian sudah siap?" tanya salah satu mekanik Marc.


Marc menatap Elsa dan tersenyum. Ia mengambil helm diatas meja, lalu memakaikannya ke kepala Elsa.


"Matamu sangat indah."


Ucapan Marc membuat Elsa tersipu malu. Lagi-lagi, pria itu bisa membuatnya lupa dengan kekesalannya barusan.


Marc meraih helm yang tadi berada dimeja yang sama dengan helm yang dipakai Elsa dan memakainya. Marc menggandeng tangan Elsa menuju ke depan paddock-nya. Motor yang mereka akan pakai sudah siap.


Marc menaiki motor itu dulu dan disusul Elsa yang dibantu para mekanik Marc.


"Kau siap?" tanya Marc yang semakin membuat Elsa berdebar.


Elsa tersenyum bahagia. "Ya, Marc. Aku sangat siap," jawabnya semangat.


Setelah mendengar jawaban Elsa, Marc melajukan motornya dengan perlahan.


"Nikmatilah balapan pertamamu di MotoGP, Els." kata Marc bercanda


Elsa tertawa mendengarnya.


Elsa menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar sangat bahagia berada diatas motor Marc. Ia pun melambaikan tangannya saat melihat Maverick didepan paddock Movistar Yamaha. Ia juga melihat Christie didepan paddock Yamaha Tech 3 dan Christie melambai padanya sambil tersenyum.


Oh ya Tuhan..!! Semua orang melihat padanya. Ini benar-benar mengesankan.


~~


Marc melajukan motornya di kecepatan 100 km/jam. Tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lamban. Ia sedikit menoleh ke belakang untuk melihat Elsa.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Marc sedikit berteriak karena ia tahu suaranya akan hilang bersama angin jika tidak berteriak.


Elsa tertawa bahagia. "Luar biasa," jawabnya bersemangat. "Itu karenamu, Marc. Terima kasih." Pelukannya pada Marc, ia eratkan.


Marc sedikit memelankan laju motornya. Ini kesempatannya untuk meluruskan salah pahamnya dengan Elsa.


"Kenapa pelan-pelan?" tanya Elsa heran.


Marc sedikit menoleh ke belakang. "Els," panggil Marc. "Kenapa kau tiba-tiba keluar dari kantin setelah melihatku masuk?" tanya Marc yang seketika membuat suasana hati Elsa menjadi buruk.


Elsa menghela nafasnya kesal. "Aku tidak suka dengan wanita itu," jawabnya jujur.


"Kau cemburu?" Marc terkekeh saat bertanya.


Elsa memukul punggung Marc. "Tidak," jawabnya berbohong. "Aku hanya tidak suka dengan wanita itu."


Marc kembali terkekeh mendengar jawaban Elsa.


"Dia hanya teman sekolahku," kata Marc. "Dia datang kesini untuk mendukungku. Tidak mungkin kan jika aku membiarkannya atau mengabaikannya? Jika dia hanya seorang fans, aku akan memperlakukannya selayaknya fans. Masalahnya, dia adalah teman sekolahku. Aku tidak mungkin menyamakannya dengan fans ku yang lain." Marc menyentuh tangan Elsa yang melingkar diperutnya.


"Marc," panggil Elsa.


"Hmm?"


"Aku tetap tidak suka. Ia menggandeng tanganmu."


Marc tersenyum dibalik helm-nya. "Aku tidak akan terlalu dekat dengannya."


Seharusnya Elsa senang mendengar Marc mengatakan itu, tetapi entah kenapa ia justru semakin bingung. Sebenarnya bagaimana perasaan Marc padanya? Lalu, apa hubungan mereka hanya sebatas hubungan tanpa status?


Elsa hendak bertanya tentang hal itu, namun Marc mendahuluinya berbicara.


"Jangan marah lagi padaku," kata Marc. "Aku akan membuatmu tersenyum bahagia dan tidak akan melupakan moment hari ini."


Elsa tersenyum. Meskipun terkadang Marc membuatnya kesal dengan sikapnya yang terlalu baik terhadap wanita lain, tetapi tidak bisa Elsa pungkiri, Marc adalah salah satu orang yang berperan besar atas kebahagiaannya.


"Kecepatannya akan aku tambah."


Motor itu melaju dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Elsa berteriak bahagia saat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar tidak akan melupakan moment hari ini.

__ADS_1


"MARC MARQUEZ YANG TERBAIIIIIIIIIIIIK..!!"


__ADS_2