FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
PART 12


__ADS_3

Marc tersenyum melihat Elsa keluar dari rumah neneknya. Gadis itu terlihat lebih ceria dari semalam saat ia bercerita tentang Christie. Gadis itu setengah berlari menuju Marc dan hendak memeluknya. Marc merentangkan kedua tangannya dan menyambut pelukan kekasihnya itu.


"Kau terlihat lebih ceria, sayang."


Ucapan Marc membuat gadis itu sedikit melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap Marc.


"Christie kembali menghubungiku semalam dan dia meminta maaf. Aku merasa lega jika dia merasa lebih baik." Elsa kembali memeluk Marc erat.


Marc semakin melebarkan senyumannya. "Kubilang juga apa kan. Kalian seperti ponsel dan chargernya. Kalau kau lemas tak bertenaga, Christie akan melakukan pengisian baterai. Lihatlah sekarang, kau tampak bersemangat."


Tubuh Elsa bergetar karena tertawa. Dengan masih memeluk Marc, gadis itu berkata, "aku sangat menyayangi Christie. Aku takut jika dia menjauhiku atau berubah sikap padaku hanya karena dia iri padaku."


"Tidak, dia tidak akan melakukannya. Dia adalah gadis yang baik. Sama sepertimu, sayang." Ucapan Marc benar-benar membuat gadis didalam pelukannya merasa lega. "Ayo kita lihat sunrise dulu ditepi pantai. Kita bisa berciuman disana."


Sontak, Elsa melepaskan pelukannya dan memukul dada Marc. Pria itu benar-benar terlalu blak-blakan jika berkata.


"Memangnya kau tidak ingin melakukan hal romantis denganku, hm?" goda Marc.


Elsa berjalan menjauhi Marc menuju tepian pantai. "Tidak," serunya yang membuat Marc mendengus kesal.


Pria itu menutup pintu mobilnya yang tadi sempat ia buka untuk memasukkan beberapa makanan kedalam mobil. Ia langsung menyusul Elsa yang tengah merentangkan kedua tangannya untuk merasakan terpaan angin pantai yang sudah lama tidak ia rasakan.


"Kau menyukainya?" tanya Marc yang berdiri disamping kekasihnya itu.


Elsa menoleh padanya dan tersenyum. "Terima kasih, Marc. Aku sangat menyukai ini. Pantai, sunrise, angin dan suara ombak," katanya. "Terakhir aku ke pantai adalah ketika aku berumur 4 tahun. Ketika ibuku masih bersamaku."


Marc tidak menyukai itu, wajah sedih Elsa selalu membuatnya ingin mengubur masa lalu gadis itu. Jika menyangkut ibunya, Elsa tidak bisa jika tidak menangis. Gadis itu sangat merindukan ibunya, hanya saja ia tidak ingin melukai hati Maverick dan ayahnya.


"Ibu tidak terlalu menyukai pantai, tetapi ibu selalu bahagia jika melihatku bermain dipantai."


Marc tidak sanggup mendengarkan cerita sedih Elsa, tetapi ia harus mendengarkannya. Ia hanya tidak ingin membuat Elsa semakin sedih dengan sikapnya yang seolah membenci masa lalu gadis itu.


Tentu saja Marc sudah mengetahui semuanya dari Maverick, cerita tentang masa lalu gadis itu. Ditinggalkan oleh seorang ibu diusia 4 tahun. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orang tuanya. Setiap hari, ketika ia bangun tidur, yang ia cari adalah ibunya.


Rasa takut dan khawatir ditinggalkan, menjadikan Elsa tumbuh menjadi gadis pendiam dan tidak mau mengenal dunia luar. Dipikirannya hanya ada rasa takut kehilangan Maverick dan ayahnya setelah ibunya pergi. Ia tidak mau bermain dengan teman-temannya karena ia takut ketika ia pulang, ia tidak akan melihat Maverick atau ayahnya.


Marc mengangkat tangannya untuk mengelus rambut panjang gadis itu. Matanya berkaca-kaca melihat gadis yang sangat ia cintai itu terus dihantui masa lalunya. Jika boleh, ia sangat ingin mencari keberadaan ibu Elsa, tetapi sama seperti Elsa, ia tidak bisa melihat Maverick dan paman Angel terluka.


Ia tahu betul alasan ibu Elsa meninggalkan keluarganya. Hanya saja, sejak dulu Elsa tidak mengetahui alasan itu. Marc tersenyum getir mengingat itu. Ia juga marah pada ibu Elsa. Alasan ibu Elsa meninggalkan suami dan dua orang anaknya adalah alasan paling bodoh.


"Ibumu akan menyesal karena tidak melihatmu tumbuh menjadi gadis cantik."


Elsa menoleh mendengar ucapan Marc.


"Ditambah lagi, kau adalah kunci sukses seorang Maverick Vinales. Anak laki-laki yang sudah ia telantarkan sejak kecil, kini tumbuh menjadi salah satu pembalap terbaik Spanyol."


Marc membalas tatapan Elsa, lalu tersenyum.


"Kau tidak perlu mencarinya. Tidak perlu berusaha untuk menemuinya. Ibumu yang akan datang padamu dan Maverick."


Marc mengatakannya asal, tetapi entah kenapa ia begitu yakin kalau ibu Elsa dan Maverick akan mendatangi kedua anaknya itu suatu hari nanti. Tidak tahu kapan itu, tetapi ia begitu yakin hari itu akan datang.


♡♡⁹³♡♡


Maverick membuka pintu utama rumahnya dan menampakkan seorang pria dengan seragam resmi dari sebuah perusahaan layanan pengiriman barang. Ia mengerutkan keningnya melihat pria itu berdiri didepan rumahnya sambil membawa sebuah kotak besar.


"Ya?" tanyanya heran karena ia merasa tidak memesan atau membeli sesuatu dari online shop.


"Ada paket untuk nona Elsa Vinales dan tuan Maverick Vinales," kata pria itu.


Maverick semakin mengerutkan keningnya mendengar penuturan pria didepannya. "Dari siapa?" tanyanya lagi.


"Disini tidak ada nama jelasnya, tuan. Hanya ada inisial 'R'," jawab pria itu. "Paketnya sudah dibayar dan anda tinggal tanda tangan disini," ujarnya sambil menunjukkan sebuah kertas yang harus ditanda tangani Maverick.


Maverick menurut meskipun ia masih bingung. Ia segera mengambil kotak yang disodorkan oleh pria pengirim barang itu.


Setelah pria itu pergi, Maverick masuk kedalam rumahnya dan memanggil ayahnya. "Ayah, apa kau memesan sesuatu untukku dan Elsa?"


Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu berjalan menghampiri Maverick dan menatapnya bingung. "Memesan apa?" tanyanya yang juga tidak tahu menahu.


Maverick mengedikkan bahunya. "Ada paket untukku dan Elsa, tetapi nama pengirimnya hanya sebuah inisial 'R'. Kira-kira siapa itu?"


Angel mendekat dan mengambil kotak besar itu. Perasaannya tidak enak. Ia berharap apa yang ia pikirkan tidak benar. Ia tidak ingin anak-anaknya kembali sedih dan mengingat masa lalu mereka.


"Coba kau buka, Mack," titahnya.


Maverick merobek kertas yang membungkus kotak itu. Ia mengambil pisau kecil untuk membelah perekat dikotak itu dan membukanya. Matanya melebar melihat sebuah boneka beruang dan manekin dirinya yang duduk diatas motor yamaha miliknya.


'Jika kelak aku menjadi pembalap terkenal, aku akan membuat manekin diriku yang berada diatas motor balapku dan menaruh manekin itu diatas meja belajarmu. Agar ketika kau sedang malas belajar, kau akan kembali bersemangat dan bangga padaku, Els.'


Tiba-tiba bayangan masa lalu kembali berputar diotak Maverick. Ia ingat, sangat-sangat ingat jika sejak kecil impiannya memang menjadi seorang pembalap. Ia ingin membuat adik kembarnya bangga padanya. Bahkan ia mengatakannya juga pada ibunya yang saat itu hanya menganggap remeh impian Maverick.


'Jangan bermimpi terlalu besar. Jika kau ingin menjadi seorang pembalap, kau harus mulai latihan naik motor sejak kecil. Bahkan ayahmu saja tidak bisa membelikan motor kecil untukmu.'


Ia pun ingat apa yang ibunya katakan waktu itu. Meremehkannya dan menghina ayahnya. Tangannya mengepal mengingat wanita yang sudah lama pergi meninggalkannya itu.


"Ini bukan dari wanita itu kan, ayah? 'R' adalah inisial dari Ruis?"


Pertanyaan yang sarat akan emosi itu membuat Angel terdiam. Perasaannya mengatakan itu dari ibu anak-anaknya, tetapi melihat Maverick yang begitu marah justru membuat Angel terdiam.


"Kenapa wanita itu mengirim ini? Apa ia ingin kembali menemuiku dan Elsa?" tanya Maverick yang masih tidak terima jika ibunya tiba-tiba kembali ingin menemuinya dan Elsa.


"Dia pasti merindukan kalian. Kalian pasti juga merindukan ibu kalian."


Ucapan Angel membuat Maverick menatapnya. "Kau tau, ayah? Aku sudah lama membencinya karena ia membuat adikku menderita. Sejak ia pergi, Elsa bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku rela untuk tidak tidur semalaman hanya untuk menjaga Elsa agar tidak menangis dalam tidurnya.


Ayah tau sendiri, Elsa selalu mencari wanita itu ketika ia bangun tidur. Menangis dan memanggil ibu setiap ia membuka matanya. Mengurung diri dikamar dan tidak mau berteman dengan siapapun. Aku sama menderitanya dengan Elsa. Hanya saja, aku menderita karena adikku menderita. Bukan karena wanita itu."


"Adikmu pasti mau menemuinya, Mack."


"Tidak," kata Maverick tegas. "Aku tidak akan membiarkannya. Jika adikku menderita, wanita itu harus menderita juga."


Maverick menenteng kotak besar itu keluar rumah.


"Mack, jangan lakukan ini. Biarkan mereka bertemu. Ayah yakin, Elsa sangat ingin bertemu ibumu."


"Aku tidak akan mengijinkannya, ayah."


BRAK!!


Maverick melemparkan kotak berisi boneka dan manekin dirinya ke tempat sampah. Setelah itu ia kembali masuk kedalam rumah menuju kamarnya.


Angel menatap sedih kotak berisi boneka beruang dan manekin Maverick. "Kau mungkin berniat baik, ingin menebus kesalahanmu dimasa lalu. Tetapi kenapa baru sekarang, ketika anak laki-lakimu begitu membencimu?"


Pria paruh baya itu menunduk. Ia memaklumi sikap Maverick yang terlihat sangat marah. Ia bahkan tidak bisa mendebat Maverick dikala anak laki-lakinya itu sedang emosi seperti ini.


Dari rumah seberang, Alex melihat kejadian itu dari jendela rumahnya. Ia terlihat heran dengan Maverick yang membuang kotak besar ditempat sampah.


"Kotak apa itu?" tanyanya penasaran.


Setelah Angel masuk kedalam rumahnya, Alex mendekati tempat sampah didepan rumah keluarga Vinales. Ia mengerutkan keningnya melihat kotak berisi boneka beruang dan manekin Maverick itu justru dibuang oleh pemiliknya.


"Apa Maverick membenci dirinya sendiri, sampai-sampai manekin dirinya dibuang ke tempat sampah. Aneh, pria itu sungguh aneh. Aku tidak tau jalan pikirannya. Letak otaknya saja aku ragu jika berada didalam kepala."


Alex menggerutu sambil berjalan masuk kedalam rumahnya.


♡♡⁹³♡♡

__ADS_1


"Ini rumahmu dulu?" tanya Elsa yang nampak kagum melihat rumah kecil Marc di Cervera.


Marc mengangguk. "Dulu disana ada sebuah taman bermain. Aku dan Alex selalu bermain bola disana, tetapi sekarang sudah dijadikan minimarket."


Elsa menatap tempat yang ditunjuk Marc. "Sayang sekali," katanya.


"Disini tidak ada tempat wisata modern, Els. Seperti kebun binatang atau wahana bermain. Kau hanya akan melihat pantai, bukit, tebing dan bangunan-bangunan kuno yang masih berdiri," ujar Marc. "Bangunan kuno itu seperti gereja, museum, atau pabrik. Tetapi di museum biasanya ada monumen atau patung."


Elsa tersenyum mendengar penjelasan Marc. "Aku suka bukit dan tebing," katanya.


"Kita bisa bersepeda kesana."


Elsa menampakkan wajah bahagianya. "Benarkah? Kita kesana sekarang."


Marc tersenyum melihat kekasihnya begitu riang. "Kita harus ambil sepeda dulu dirumah grandpa."


Elsa mengacungkan ibu jarinya, tanda ia tak masalah jika harus bolak-balik.


Marc merasakan getaran didalam kantung celananya. Ia mengambil ponselnya dan melihat sebuah panggilan masuk dari Alex. Ia mengerutkan keningnya.


"Siapa?" tanya Elsa.


"Alex," jawabnya. "Aku angkat dulu, Els."


Elsa mengangguk. Ia kemudian menyusuri dinding ruang tamu rumah Marc yang dipenuhi foto-foto Marc dan Alex waktu kecil.


"Ada apa?" tanya Marc setelah menggeser menu bergambar telepon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Apa Elsa didekatmu sekarang?" Alex berbisik.


Marc mengerutkan keningnya. "Memangnya ada apa? Ada masalah dirumahnya?" suara Marc lebih pelan dari pertama kali ia menjawab telepon.


"Menjauh dari Elsa sebentar. Jangan sampai ia curiga."


Marc menurut. Ia duduk disofa ruang tamunya yang berada sedikit jauh dari Elsa berdiri. Ia takut Elsa curiga kalau sampai harus keluar rumah hanya untuk berbicara dengan Alex.


"Apa yang terjadi?"


"Sepertinya sesuatu sedang terjadi dirumah Elsa. Aku tidak tau pasti apa itu. Hanya saja, tadi aku melihat Maverick membuang sebuah kotak besar berisi boneka beruang dan manekin Maverick."


"Lalu?"


"Sedangkan ayah mereka seperti tidak rela jika Maverick membuang kotak itu. Setelah Maverick masuk kedalam rumahnya, ia melihat kotak itu dengan wajah sedih dan berkata sesuatu tetapi aku tidak bisa mendengarnya karena aku berada didalam rumah."


Marc terdiam sambil memperhatikan Elsa yang tertawa kecil melihat foto-foto diatas meja.


"Jangan beritahu Elsa atau bertanya padanya. Sepertinya Maverick membuang kotak itu karena ia tidak ingin Elsa tau tentang boneka dan manekin itu. Mungkin itu dari seseorang yang Maverick benci?"


Marc semakin penasaran dengan cerita Alex. Seseorang yang Maverick benci? Apa jangan-jangan itu...


"Bantu aku, Alex," ucap Marc.


"Bantu apa?"


"Ambil kotak itu dari tempat sampah Maverick dan simpan sampai aku pulang."


"Apa??? Kau menyuruhku untuk memungut sampah?"


Marc menjauhkan ponselnya saat Alex berteriak heboh. Ia menggelengkan kepalanya. Heran, kenapa adiknya itu selalu saja berlebihan?


"Jika kau tidak mau, jangan harap aku mau mengajarimu lagi."


"Baiklah baiklah baiklah, super Marc. Aku akan memungut sampah yang sudah dibuang oleh Maverick."


Marc terkekeh dengan tingkah adiknya itu. "Adik yang pintar dan baik hati. Baiklah, terima kasih infonya. Aku tutup ya."


Marc berdiri setelah sambungan teleponnya terputus. Ia menghampiri Elsa dan berdiri dibelakangnya.


Elsa tersenyum. "Kau sangat jelek ketika kecil."


Wajah Marc berubah masam.


"Lihatlah, Alex sangat tampan disini, tetapi kau sangat kurus dan kucel." Elsa tertawa dengan ucapannya sendiri.


Marc berkacak pinggang, tanda ia kesal. "Tetapi lihatlah sekarang, bukankah aku sangat tampan. Bahkan Alex tidak bisa menandingi ketampananku."


Elsa mengangguk-anggukan kepalanya. "Kau benar. Setelah menjadi kekasihku, kau berubah tampan."


Marc terkekeh mendengarnya. "Berarti aku tampan karena menjadi kekasihmu?"


"Iya. Jika kau berselingkuh dengan wanita lain, wajah tampanmu ini akan menjadi sangat jelek."


Marc melotot.


"Kau sudah dikutuk. Rumah ini saksinya, jadi kau tidak bisa putus dariku," canda Elsa yang membuat Marc gemas dengannya.


"Aku siap menerima kutukan itu, tuan putri."


Elsa dan Marc sama-sama tertawa.


"Ada apa Alex menghubungimu?"


Pertanyaan Elsa membuat Marc menghentikan tawanya.


"Hanya telepon iseng karena dia merindukanku."


Elsa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Kau percaya diri sekali."


"Itu benar, sayang. Alex sering merindukanku jika aku jauh darinya."


Elsa menatapnya sangsi. "Ayo segera ambil sepeda, aku sudah tidak sabar untuk pergi ke bukit."


Marc berjalan mengikuti Elsa yang sudah mendahuluinya keluar rumah. "Aku kunci dulu pintunya."


♡♡⁹³♡♡


Maverick duduk ditepi tempat tidurnya. Ia masih terus memikirkan tentang kotak yang dikirim kerumahnya tadi. Ia yakin kalau ibunya yang mengirim itu. Ia ingat betul jika ia pernah memberitahukan pada ibunya dan juga Elsa bahwa ia ingin sekali punya manekin dirinya ketika sudah menjadi pembalap terkenal.


Ia tidak beda jauh dari adik kembarnya, sedih dan terpuruk ketika ditinggalkan ibunya. Tetapi rasa kecewa lebih mendominasi daripada rasa sedihnya. Karena Maverick melihat sendiri bagaimana menderitanya Elsa saat itu. Ia jauh lebih menyayangi adiknya daripada siapapun.


'Mack, ibu akan pulang kan? Aku tidak bisa tidur jika tidak dengan ibu.'


Suara Elsa yang terus menanyakan ibunya di masa lalu, kembali berputar dipikiran Maverick.


'Aku yang akan menemanimu tidur. Hari ini, besok, lusa dan seterusnya. Aku akan menjagamu sampai kau tidur. Jangan khawatirkan apapun, oke?'


'Jadi ibu tidak akan pulang?'


Maverick kecil hanya diam mendengar pertanyaan Elsa kecil. Ia juga tidak tahu apakah ibunya akan pulang atau mungkin tidak akan pernah menemui ia dan adik kembarnya lagi.


'Pulang, tapi tidak sekarang. Sekarang, kau tidur denganku ya. Aku akan menjagamu dengan baik.'


Elsa kecil hanya menganggukkan kepalanya, menurut.


Maverick mengusap wajahnya, ia terlihat sedikit takut. Harusnya ia senang karena ibunya kembali, tetapi ini sudah terlalu lama. Hampir dua puluh tahun wanita itu pergi dan sekarang ia datang lagi. Untuk apa?


Mereka sudah hidup terlalu lama tanpa wanita itu. Mereka juga sudah terbiasa tanpa kehadirannya. Maverick mulai berpikir untuk menemui ibunya sebelum wanita itu datang kerumahnya dan bertemu Elsa. Ya, ia hanya takut jika ibunya kembali hanya untuk meninggalkan mereka lagi.

__ADS_1


Ia tidak akan bisa melihat adik kembarnya kembali seperti dulu. Gadis pendiam yang tidak mau mengenal dunia luar. Ia sudah cukup bersyukur karena Elsa bisa bertemu Marc dan Christie. Mereka berdua sudah seperti cahaya bagi Elsa saat menemui dunia luar dan ia tidak akan pernah membiarkan cahaya itu redup hanya karena kehadiran ibunya.


♡♡⁹³♡♡


"Kau kenapa?" tanya Marc yang sudah siap dengan sepedanya.


Elsa menatap Marc sendu. "Aku tidak tau kenapa, tetapi aku tiba-tiba teringat pada Maverick. Apa dia sedang sedih ya sekarang?"


Marc tersenyum mengerti. Mereka kembar, barangkali Elsa sedang merasakan apa yang Maverick rasakan dan mungkin saja memang saat ini Maverick sedang sedih dan tertekan dengan kiriman kotak itu.


"Apa kau mau menghubunginya dulu sebelum kita pergi bersepeda?"


Elsa nampak berpikir sebentar, lalu mengangguk. Ia mengambil ponselnya didalam tas kecil dan segera menghubungi nomor Maverick. Tidak perlu menunggu lama, panggilan suaranya sudah dijawab oleh kakak kembarnya itu.


"Hallo," suara Maverick langsung menyahut dan membuat Elsa sedikit lega. "Kau merindukanku?"


Elsa tersenyum. "Aku selalu merindukanmu."


"Kau sedang apa sekarang?" tanya Maverick.


"Aku akan bersepeda dengan Marc. Kau sedang apa, Mack? Aku tiba-tiba teringat padamu. Apa kau baik-baik saja?"


Marc menatap kekasihnya yang terlihat sedikit khawatir.


"Aku baik-baik saja, Els. Aku akan keluar sebentar untuk membeli makanan. Ayah sudah berangkat kerja, jadi aku sendirian dirumah."


Jawaban Maverick membuat Elsa memajukan bibirnya lucu. "Maaf aku tidak dirumah."


Maverick terkekeh. "Bersenang-senanglah. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia."


Elsa tersenyum.


"Ngomong-ngomong, kapan kau pulang?" tanya Maverick.


"Kata Marc, besok siang kami akan sampai di Barcelona." Elsa menjawab sambil menoleh pada Marc, membuat laki-laki itu tersenyum padanya. "Kalau begitu, aku tutup dulu. Marc sudah menunggu untuk bersepeda."


"Baiklah, hati-hati."


Ucapan Maverick yang singkat membuat hati Elsa sedikit resah. Ia meyakini bahwa Maverick sedang tidak baik-baik saja. Biasanya laki-laki itu akan posesif padanya jika tahu ia melakukan kegiatan diluar rumah. Tetapi Maverick tidak secerewet biasanya.


"Ya. Aku tutup teleponnya."


Pada akhirnya ia tetap mengubur perasaan resahnya dan menutup sambungan telepon itu. Ia menghela nafas sambil menatap Marc, memancing pria itu untuk mengusap bahunya.


"Masih merasa khawatir?" tanya Marc.


Elsa mengangguk pelan. "Dia bahkan tidak secerewet biasanya."


Marc tersenyum. "Mau pulang ke Barcelona sekarang?" Ia mencoba mengerti apa yang kekasihnya ini rasakan. Perasaan anak kembar memang tidak bisa dibohongi.


Elsa menggeleng. "Ayo berangkat sekarang," katanya yang langsung mengayuh sepedanya.


Marc menghela nafasnya. Ia pun mengayuh sepedanya mengikuti Elsa yang sudah berada didepannya.


♡♡⁹³♡♡


Maverick duduk bersebelahan dengan ayahnya diruangan VIP sebuah restoran untuk makan siang. Ia sengaja datang ke tempat ayahnya bekerja untuk dipertemukan dengan wanita yang sudah hampir dua puluh tahun tidak ia lihat rupanya.


Awalnya Angel ragu karena harus kembali menghubungi keluarga mantan istrinya itu, tetapi demi Maverick, pria paruh baya itu akhirnya menghubungi keluarga mantan istrinya. Dan disinilah mereka sekarang, duduk disebuah restoran dekat perkantoran Angel bekerja, menunggu ibu dari kedua anak kembarnya.


"Maverick?"


Maverick terdiam mendengar suara yang sudah sangat lama tidak ia dengar. Suara yang bahkan tidak pernah ia lupakan, suara yang selalu memarahinya saat ia tidak bisa menjaga adiknya dengan baik, suara wanita yang dulu sangat ia sayangi. Ia mendengarnya lagi. Setelah sekian lama, akhirnya ia mendengarnya lagi.


"Ibu merindukanmu, nak."


Wanita dengan rambut disanggul itu memeluk Maverick yang terlihat tidak bergerak sama sekali. Ia mematung mendapat pelukan dari wanita itu. Maverick melepaskan pelukan ibunya dengan perlahan. Wanita itu nampak sedikit terkejut, tetapi tetap tersenyum meskipun matanya berair.


"Duduklah, Maria," kata Angel mempersilakan mantan istrinya untuk duduk dikursi depan Maverick.


Maverick masih menunduk, seolah tak ingin melihat wajah ibunya.


"Dimana Elsa?" tanya Maria pada dua laki-laki didepannya. "Dia tidak ikut?"


"Tidak. Elsa sedang berlibur bersama kekasihnya." Angel yang menjawab pertanyaan ibu dari anak-anaknya itu.


"Berlibur? Kekasih?" tanya Maria terkejut. "Mack, kau tidak ikut Elsa berlibur? Bukankah ibu selalu bilang padamu untuk menjaga adikmu? Dan apa itu? Kekasih? Elsa sudah memiliki kekasih?"


Maverick mengepalkan tangannya mendengar serentetan pertanyaan dari wanita yang bahkan sudah tak sudi ia panggil ibu itu.


"Lalu apa pedulimu?"


Nada dingin dari pertanyaan yang dilontarkan Maverick membuat Maria menatapnya sedih. Anak laki-lakinya yang dulu sangat menyayanginya dan menghormatinya sekarang tumbuh menjadi anak yang berani berkata tidak sopan padanya.


"Kau bahkan tidak pantas mencurigai orang yang sekarang menjadi kekasih Elsa."


Maverick menatap tajam Maria.


"Mack, Elsa masih terlalu kecil untuk memiliki kekasih."


"Dan Elsa masih terlalu kecil untuk kau tinggalkan..!!"


Maria menatap sedih putranya. Ia tidak menyangka jika Maverick yang dulu sangat menghormatinya justru berani membantahnya. Bahkan anak itu menatapnya bagai musuh.


"Laki-laki yang kau curigai itu adalah laki-laki yang mengeluarkan Elsa dari gelapnya dunia yang sudah kau buat."


"Mack..."


"Nyonya Maria yang sudah tidak lagi pantas untuk aku panggil ibu, aku ingin menemuimu karena memang ada satu hal yang ingin aku sampaikan." Maverick mengambil nafas dalam. "Jangan mengirim apapun lagi kerumah kami. Jangan memperlihatkan dirimu didepanku, ayahku atau pun adikku. Bagi kami, kau sudah lama mati."


"Mack."


"Maverick..!!" suara lantang Angel menentang ucapan yang baru saja keluar dari mulut Maverick.


"Maafkan ibu. Ibu..."


"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun darimu. Apapun itu alasanmu, tidak seharusnya kau meninggalkan kami begitu saja. Kau tidak tau bagaimana menderitanya adikku. Ia selalu menanyakanmu sebelum tidur, memanggilmu dalam tidurnya dan mencarimu setiap bangun tidur. Siapa yang tidak menangis melihat adik yang begitu disayangi harus menderita setiap hari?"


Airmata berkumpul dipelupuk mata Maverick.


"Aku adalah saudara kembarnya, tetapi aku tidak bisa menyembuhkan luka yang kau buat. Elsa takut keluar kamar. Elsa takut keluar rumah. Elsa tidak mau berteman dengan siapapun. Elsa menutup dirinya. Elsa membiarkan dunianya gelap. Asal aku dan ayah tidak pergi, ia mampu bertahan didunia gelap itu DAN SEMUA ITU KARENAMU."


Airmata jatuh membasahi kedua pipi Maverick. Ia tidak tahan untuk tidak menangis. Ketakutan yang dulu membekapnya, seolah kini datang kembali.


"Setiap hari, Elsa selalu menunggumu pulang. Ia tidak tau jika ibunya telah meninggalkannya karena pria yang lebih kaya dari ayahnya. Ia tidak tau itu hingga sekarang."


Maverick mengambil nafas dalam-dalam untuk menghilangkan sesak didadanya.


"Elsa tidak tau sedikitpun alasan kenapa kau pergi. Jadi jangan sekali-kali muncul dihadapannya karena itu hanya akan membuka luka lamanya. Apalagi jika ia tau jika kau meninggalkan kami karena pria lain yang lebih kaya dari ayah kami."


Maria menangis histeris mendengar setiap ucapan putranya. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan fatal. Harta dan kekuasaan telah membutakan matanya kala itu. Seorang pria yang adalah cinta pertamanya, datang untuk menawarkan kebahagiaan. Harta dan kekuasaan adalah kebahagiaannya waktu itu.


Ya, ia memang bahagia karena hidup berkecukupan, tetapi bayangan kedua anak kembarnya yang masih terlalu kecil saat ia meninggalkan mereka, tidak bisa melengkapi kebahagiaannya. Setiap hari, ia akan menangis karena merindukan dua anak itu.


"Ibu bersalah, Mack. Kau boleh menghukum ibu, tetapi ijinkan ibu untuk tetap menemui kalian," pinta Maria.


Maverick tersenyum sinis.

__ADS_1


"Kau hidup dengan baik bukan, selama ini? Lanjutkan hidupmu dengan pria yang membuatmu meninggalkan kami dan jangan mengganggu kami karena kami bisa hidup tanpamu."


Maverick menggeser kursinya dengan kasar. Ia langsung meninggalkan restoran tanpa mendengarkan panggilan Angel.


__ADS_2