
@Assen, Belanda
Fabio duduk dikantin sirkuit setelah latihan bebas pertamanya selesai. Pria itu tidak terlihat sedang bersama seseorang. Ia hanya duduk sendiri dan telihat banyak melamun.
"Kufikir free practice mu baik-baik saja, tetapi kenapa kau tampak murung?" tanya Christie yang membuyarkan lamunan Fabio.
Pria itu mendongak dan mendapati Christie dengan penampilan yang sedikit tomboy hari ini. Fabio tersenyum dan menyuruh Christie untuk duduk didepannya. "Duduklah," katanya.
Christie duduk didepan Fabio dan meletakkan minuman yang tadi ia beli dimeja.
"Tumben sekali kau sendirian?" tanya Fabio.
Christie terkekeh. "Iya, Elsa sedang bersama Maverick. Tidak bisa kuajak ke kantin," jawabnya. "Kau sendiri? Kenapa duduk sendirian? Biasanya kau dengan sepupumu atau teman-temanmu. Dan kau tampak memikirkan sesuatu. Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Christie penasaran yang sebenarnya gadis itu sangat khawatir.
"Ohh tidak. Aku memang sedang ingin sendiri. Jadi aku memutuskan untuk ke kantin karena dijam-jam begini, biasanya kantin tidak terlalu ramai."
Wajah Christie sedikit terkejut. "Aw sorry, berarti aku mengganggumu? Maaf maaf, aku tidak tau. Kalau begitu aku akan pindah tempat," katanya tidak enak hati.
Fabio menahan tangan Christie karena gadis itu hendak berdiri. "Duduklah. Setelah kau datang, kufikir aku butuh teman," katanya.
Christie tersenyum. "Tadi kau bilang kau ingin sendiri."
"Temani aku mengobrol," pinta Fabio.
Christie pun duduk kembali dan memangku dagunya dengan tangan. "Jadi apa yang sedang difikirkan oleh calon juara dunia kita, hm?"
Fabio terkekeh mendengar pertanyaan Christie. "Tidak ada, selain memikirkan bagaimana caranya mengajakmu jalan-jalan lagi seperti di Jerman."
Christie tertawa. "Kau ini, kemarin-kemarin juga tidak pernah mengajakku jalan-jalan. Tetapi kenapa sekali diajak jalan-jalan kau seperti ketagihan begitu?"
Fabio juga heran. Entah kenapa jalan-jalan dengan Christie kemarin seperti sangat menyenangkan. Gadis itu cerewet, ceria dan penuh cerita. Meskipun diawal-awal gadis itu nampak tegang dan kaku, tetapi setelahnya ia sangat asyik. Fabio ketagihan pergi berdua dengannya.
”Kau sangat menyenangkan. Siapapun yang sudah mengenalmu dengan dekat, pasti akan suka berteman denganmu."
Pipi Christie memerah, ia tersenyum malu mendengar penuturan Fabio. Ia meminum minuman didepannya untuk menutupi salah tingkahnya.
Fabio tersenyum melihat tingkah gadis itu. Christie benar-benar bisa mengembalikan suasana hatinya yang sedang buruk hari ini. Apa yang Christie lakukan selalu saja membuatnya tersenyum.
"Christie."
Suara Jonas terdengar menyeramkan ketika memanggil nama adiknya.
Christie mendongak dan melihat Jonas bersama dengan Marcel tengah berdiri disamping ia duduk. Gadis itu tertunduk seperti seseorang yang tengah tertangkap basah berselingkuh.
"Hai Fab," sapa Marcel memecah suasana seram yang baru saja terjadi.
Fabio tersenyum. "Hai Marcel."
"Aku mencarimu kemana-mana sampai ke paddock Maverick. Aku berfikir kau sedang bersama Elsa, ternyata kau disini dengan Fabio." Tatapan mata Jonas tidak lepas dari adiknya. Ia seperti ingin menguliti Christie hidup-hidup.
"Tadi aku ke paddock Maverick tapi Elsa tidak bisa ikut denganku ke kantin. Jadi aku kekantin sendirian," jelas Christie.
"Kalau begitu, ayo kembali ke paddock ku," kata Jonas menuntut.
Christie mengangguk. Ia menatap Fabio yang juga menatapnya.
Fabio kasihan pada Christie. Gadis itu seperti tertekan jika ketahuan Jonas saat bersama dirinya. Memangnya ia kenapa? Ia juga tidak akan macam-macam pada Christie.
"Maaf untuk sikap Jonas padamu," kata Marcel setelah Jonas dan Christie berlalu. "Dia memang seperti itu. Terlalu posesif pada Christie. Kuharap kau tidak tersinggung dengan sikapnya."
Fabio tersenyum. "Tidak, aku tidak terlalu memikirkan sikap Jonas. Aku hanya memikirkan Christie. Apa dia akan baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Marcel duduk didepan Fabio, menatapnya curiga.
"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Fabio. "Aku hanya khawatir pada Christie. Tadi dia terlihat sangat ceria ketika bersamaku, tetapi saat Jonas datang, dia seperti tertekan dan takut. Tentu saja aku sangat khawatir."
Marcel terkekeh. "Kau tenang saja, Jonas tidak akan menyakiti Christie. Christie akan baik-baik saja."
Fabio menatap Marcel. Ucapan temannya itu membuatnya sedikit tenang. Tetapi ia masih heran, kenapa Jonas sangat tidak suka Christie berteman dengannya? Padahal memang mereka berteman dan Christie sungguh teman yang asyik.
~~
"Kenapa hanya berdua dengan Fabio dikantin?" tanya Jonas tidak suka.
"Aku melihatnya sendirian dikantin dan dia tampak murung," jawab Christie.
Jonas tersenyum sinis. "Lalu apa urusannya denganmu? Memangnya kau ibunya yang akan mengurusnya ketika dia sedih atau senang?"
Christie menghentikan langkahnya dan menatap kakak kembarnya itu. Jonas berhenti melangkah saat adiknya tak lagi berjalan disebelahnya.
"Kau tidak pernah mengerti perasaanku. Walaupun hanya sekedar minum dan mengobrol, aku begitu senang," kata Christie sedih. "Tidak apa-apa jika kau tidak suka kalau aku menyukainya, tetapi jangan melarangku untuk berteman dengannya. Aku begitu senang melihatnya dari dekat."
Jonas berkacak pinggang. "Dia berteman dengan semua wanita, Christie. Kau akan patah hati jika melihat mereka."
"Tapi aku menikmati kedekatanku dengannya akhir-akhir ini, Jonas. Aku sangat ingin berdekatan dengannya, mengobrol dengannya, bercanda dengannya. Aku juga ingin melihatnya tersenyum karenaku."
Christie meneteskan airmatanya. Ia kesal dengan Jonas yang terlalu posesif padanya. Ia hanya ingin berteman dengan Fabio, jika memang tidak boleh menjadi kekasihnya. Tidak apa-apa, asal ia bisa dekat dengan Fabio.
"Jangan bermimpi terlalu jauh, Christie. Fabio adalah calon juara dunia tahun ini. Banyak wanita hebat yang dekat dengannya. Kau hanya akan patah hati jika terus memaksa untuk menyukainya."
Airmata Christie semakin deras menetes mendengar ucapan Jonas yang sangat menyakitinya. "Elsa adalah gadis biasa. Elsa sama sepertiku kan? Dia hanya adik kembar seorang pembalap. Tetapi Elsa bisa menjadi kekasih Marc Marquez. Bahkan Marc adalah juara dunia MotoGP. Apa bedanya denganku, Jonas?"
Jonas menyesali setiap ucapannya yang menyakiti adiknya. Seharusnya ia tidak mengatakan hal-hal yang membuat Christie menangis seperti ini. Tetapi saat melihat Christie dikantin dan duduk berdua dengan Fabio membuatnya menjadi emosi. Ia tidak suka adiknya berteman dengan laki-laki yang tidak begitu dekat dengannya.
__ADS_1
"Kalian berbeda."
Bukannya menenangkan sang adik yang tengah menangis. Jonas justru kembali melontarkan kata-kata yang menyinggung Christie.
"Apa bedanya? Apa karena masa lalu Elsa? Elsa yang pendiam dan menutup diri dari orang-orang?" Christie mengepalkan tangannya. "Apa kau juga ingin aku menutup diri dari orang-orang? Apa itu akan membuatku spesial? Apa itu akan membuatmu seperti Maverick yang menjaga Elsa dengan wajar?"
Christie menghapus airmatanya.
"Aku dan Elsa memang berbeda. Begitupun juga kau dan Maverick. Kalian sangat berbeda. Maverick saja bisa memberikan restunya untuk Marc, lalu kenapa kau tidak bisa? Kenapa kau begitu keras kepala?"
Jonas mendekati adiknya dan mencengkeram tangan Christie untuk ikut dengannya. Ia sangat malu karena semua orang disini menjadikannya dan Christie tontonan.
"Lepaskan aku. Aku tidak mau ikut denganmu. Aku membencimu," teriak Christie kesal.
"Ikut aku atau...."
"Atau apa?"
Tak tak tak!!
Marcel datang mendekati dua orang yang sudah menjadi tontonan orang-orang disirkuit itu. Fabio juga ada disana, tetapi tidak berani mendekat karena itu bukan ranahnya.
"Jonas, apa yang kau lakukan pada adikmu?" tanya Marcel khawatir.
"Lepaskan aku!!" Christie menghempaskan tangan Jonas dengan kasar dan pergi.
Jonas hendak menyusul Christie tetapi dicegah oleh Marcel. "Kau terlalu keras padanya. Christie juga butuh kebebasan," kata Marcel.
"Jangan ikut campur, Marcel." Jonas membalas ucapan Marcel dengan kasar dan ingin kembali menyusul Christie.
Marcel kembali mencegah Jonas. "Jonas, pikirkanlah tentang sikapmu ini. Bukankah kau sudah sangat keterlaluan pada Christie? Christie sudah besar. Kau hanya perlu mengawasinya seperti yang pernah kita bicarakan dulu."
"Aku hanya tidak bisa melihatnya menangis karena patah hati."
Marcel tahu betul kekhawatiran Jonas, tetapi kali ini Jonas sudah keterlaluan pada Christie. Ia tidak bisa membiarkan itu. Bagaimanapun juga, ia harus menyadarkan Jonas kalau sikapnya kepada Christie ini salah.
"Biarkan aku berbicara pada Christie. Setelah itu, kalian bisa berbicara berdua," kata Marcel sambil berlalu menyusul Christie.
♡♡⁹³♡♡
"Aku membenci Jonas. Dia tidak pernah membiarkan aku senang sedikit saja," kata Christie sambil menangis sesenggukan.
Elsa dan Maverick menatap kasihan gadis didepannya. Tadi saat Elsa dan Maverick baru saja keluar dari paddock, mereka melihat pertengkaran Jonas dan Christie. Mereka juga tidak terlalu jelas mendengar apa yang didebatkan kedua saudara kembar itu karena suara bising dari free practice kelas Moto3. Hanya saja, Elsa sangat yakin bahwa dirinya masuk dalam topik perdebatan itu.
"Jonas terlalu menyayangimu, Chris," kata Maverick mencoba menenangkan Christie.
Christie mendongak menatap Maverick. "Apa kau juga lebih memilih Elsa sedih seperti ini, Mack? Andai saja Elsa berada diposisiku."
Maverick duduk didepan Christie. Ia memegang tangan Christie untuk menguatkan gadis itu. "Cara setiap kakak laki-laki untuk menyayangi adiknya berbeda-beda. Aku juga seorang kakak laki-laki yang memiliki adik perempuan, jadi aku sangat mengerti perasaan Jonas."
"Mungkin cara Jonas sedikit salah, tetapi kau harus lihat bagaimana dia berjuang untuk menjagamu selama ini. Dia mungkin terlalu keras padamu, tetapi kau bisa melihat sendiri kan, kau tumbuh menjadi gadis yang kuat. Tidak sepertiku."
Wajah Maverick berubah sedih.
"Maksudmu?" tanya Christie yang mulai tertarik dengan pembicaraan Maverick.
"Aku gagal menjaga Elsa. Dia tumbuh menjadi gadis yang pendiam dan menutup diri. Andai saja waktu itu aku bisa mencegah ibuku pergi, Elsa pasti bisa tumbuh menjadi gadis sepertimu. Tetapi Marc menyelamatkanku dari kegagalanku menjaga Elsa. Perlahan, ia mulai mengubah segalanya."
Maverick tersenyum pada Christie.
"Fabio juga akan datang disaat yang tepat. Jika memang dia adalah sebuah takdir untukmu, perlahan dia akan menyadarkan Jonas."
Christie menangis mendengar ucapan Maverick. Bukan hanya Christie, Elsa pun juga menangis. Keduanya terharu karena Maverick mempunyai kata-kata manis seperti itu.
"Mack, aku begitu senang meskipun hanya duduk berdua dengan Fabio dikantin. Aku begitu bahagia meskipun hanya bisa menikmati senyumnya. Aku sangat antusias saat ia bercerita sesuatu padaku."
Christie menarik nafas.
"Hanya itu. Aku meminta Jonas untuk membiarkan aku berteman dengan Fabio, tetapi dia selalu mengatakan sesuatu yang menyakitiku."
Belum sampai Maverick menjawab, Marcel datang sambil berlari dengan raut wajah khawatir.
"Christie." Dada Marcel naik turun. "Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini."
Christie berhambur ke pelukan Marcel dan membenamkan wajahnya didada laki-laki itu. Selain menjadi teman Jonas, Marcel adalah tempat Christie untuk bersandar tanpa harus berdebat dan merasa takut. Katakanlah, Marcel adalah tempat Christie berkeluh kesah.
"Ayo kembali. Jonas mencarimu," kata Marcel.
Christie menggeleng. "Aku tidak mau, Marcel."
Marcel menatap Maverick dan Elsa bergantian. Maverick memberi kode untuk membiarkan Christie tenang dulu.
♡♡⁹³♡♡
Maverick dan Elsa kembali ke paddock Yamaha setelah Christie mengatakan ia akan baik-baik saja jika bersama Marcel. Tetapi ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Elsa. Gadis itu terdiam sedari tadi dan menyita perhatian Maverick.
"Els," panggilnya sambil menepuk pundak Elsa.
Adiknya hanya tersenyum dan masuk keruang ganti Maverick. Maverick ikut masuk kesana dan duduk disamping Elsa.
"Kau kenapa?" tanya Maverick.
Elsa menatap Maverick. "Aku masih memikirkan apa yang diperdebatkan Jonas dan Christie," katanya. "Aku tidak tau apa yang membuat mereka bertengkar, tetapi aku mendengar ada namaku disebut."
__ADS_1
Maverick mengelus rambut panjang Elsa. "Aku juga mendengar namaku ada dalam perdebatan itu."
Elsa menoleh mendengar ucapan Maverick. "Kau tau jelas apa yang mereka bicarakan?"
Maverick menggeleng. "Tidak. Aku tidak tau jelas apa yang mereka debatkan, tetapi dari yang Christie ceritakan tadi, aku bisa menyimpulkan bahwa Christie ingin Jonas sepertiku. Membebaskan dirinya untuk berteman dengan siapa saja, termasuk seorang laki-laki."
Elsa mengerutkan keningnya.
"Mungkin Jonas melarang keras Christie berteman dengan Fabio."
Elsa menghela nafas. "Aku kasihan pada Christie."
"Seharusnya mereka berbicara berdua. Aku yakin Jonas tidak akan sekeras itu pada Christie jika dia mengerti perasaan adiknya."
Elsa tersenyum menatap Maverick.
Tok tok tok!!
Suara ketukan pintu menyita obrolan keduanya. Maverick berdiri dan membuka pintu ruang gantinya. Ia mendapati Fabio tengah berdiri didepan pintu itu dan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa?" tanya Maverick heran. Tidak biasanya rekan satu timnya ini mendatangi ruang gantinya.
"Eumm..."
"Masuklah," kata Maverick.
Fabio masuk dan tersenyum pada Elsa yang menatapnya bingung.
"Fabio?"
"Begini. Tadi Christie dan Jonas bertengkar," katanya mengawali cerita.
Elsa dan Maverick tampak serius memperhatikan Fabio.
"Sebelum itu, Christie bersama denganku dikantin. Kami hanya mengobrol."
Maverick mengangguk. Ia sekarang mengerti kenapa Jonas tampak marah. Pria itu pasti kesal saat tahu adiknya berada dikantin bersama Fabio.
"Tetapi sepertinya Jonas tidak menyukai jika Christie mengobrol denganku."
Maverick menepuk pundak Fabio. "Tidak apa-apa. Semua kakak laki-laki yang terlalu menyayangi adik perempuannya akan melakukan itu."
"Tetapi aku dan Christie tidak melakukan apapun. Kami hanya mengobrol dan Jonas datang. Ia terlihat sangat tidak menyukaiku. Setelah itu, mereka bertengkar. Apa itu karena aku?" Fabio terlihat sangat bingung.
"Kau tenang saja. Mereka akan segera berbicara dan hubungan mereka akan membaik."
Fabio mengangguk. Sebenarnya ia tidak puas dengan jawaban Maverick, tetapi mau bagaimana lagi. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
♡♡⁹³♡♡
Christie duduk berhadapan dengan Jonas disebuah kedai es krim. Tentu saja pertemuan kedua orang ini ada andil Marcel yang merencanakannya.
Jonas terus menatap Christie yang sedang mengaduk-aduk es krim didepannya. Sebelumnya ia pun juga tak pernah bersikap seperti ini pada adiknya, tetapi entah kenapa ia tidak yakin dengan Fabio. Perasaannya mengatakan, Fabio tak menyukai adiknya.
"Menurutlah padaku, sekali ini saja," pinta Jonas.
Christie menghentikan acara mengaduk es krimnya. Ia membalas tatapan Jonas. "Menjauhi Fabio?" tanyanya.
"Aku sangat menyayangimu dan feeling ku mengatakan dia akan mematahkan hatimu. Itu adalah feeling seorang kakak, Chris."
"Jonas, beberapa hari ini aku sangat senang. Aku bisa berada dekat dengannya. Aku bisa bercanda dengannya. Aku bisa melihat senyumnya. Aku bisa bercerita apa saja dengannya." Christie tersenyum namun ia menahan airmatanya agar tidak keluar. "Aku tidak pernah merasakan bahagia yang seperti bersama Fabio sebelumnya. Tolong jangan suruh aku untuk menjauhinya."
Jonas menghela nafas. "Dia akan menyakitimu, Chris."
"Aku tidak peduli," kata Christie.
Jonas menatapnya sedih tetapi rahangnya mengeras. Ia berdiri dan mencari keberadaan Marcel, lalu menyuruh pria itu untuk mengantar adiknya pulang.
"Lalu kau?"
Christie mendongak mendengar suara Marcel.
"Aku akan segera kembali," katanya dan pergi dari kedai es krim itu.
"Jonas," teriak Christie yang menyita banyak perhatian dari pengunjung kedai.
Jonas tetap berjalan tanpa memedulikan teriakan Christie.
"Jonas." Christie kembali berteriak dan berlari menyusul kakaknya.
Marcel berlari untuk mencegah Christie. "Chris, sudah."
"Tapi Jonas pergi. Aku tidak mau Jonas pergi, Marcel," kata Christie sambil menangis. "Jonaaasss," ia mulai merengek.
"Sudah, kalian berdua perlu menenangkan diri."
"Aku tidak mau. Aku mau bersama Jonas." Christie menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. "Kumohon Marcel, aku hanya ingin berteman dengan Fabio. Tidak lebih. Katakan pada Jonas. Tolong jangan menyuruhku menjauhinya."
Marcel menghela nafas berat. "Kita pulang ke hotel ya."
"Tidak mau. Aku mau pulang bersama Jonas."
Marcel semakin tidak tega mendengar rengekan Christie. Ia memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Christie, jangan seperti ini."
"Jonaaaasss."