FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
Part 7


__ADS_3

"Aku baru tau jika Barcelona semenarik itu," kata Christie pada Elsa.


Kedua gadis itu duduk bercengkrama di kantin sambil menunggu selesainya latihan bebas pertama untuk kelas MotoGP.


"Tentu saja, Barcelona adalah kota terbesar di Spanyol," kata Elsa. "Bahkan, kota ini lebih besar daripada ibukotanya," bisik Elsa menambahkan.


Christie terkekeh. "Lain kali, kau harus mengajakku berkeliling Barcelona saat hari libur," serunya. Gadis itu terlihat sangat bahagia.


"Lalu, bagaimana quality time mu dengan Jonas?" tanya Elsa antusias.


Christie tersenyum. "Aku benar-benar berterima kasih padamu, Els. Itu adalah hari yang paling menyenangkan. Jonas menuruti semua mauku. Apa yang aku inginkan tidak ada satupun yang ditolaknya. Tapi...," ia menghentikan ceritanya.


"Tapi kenapa?" tanya Elsa penasaran.


"Kami sempat berdebat karena masalah Fabio."


Elsa membuang nafas lemas.


"Jonas sangat terkejut karena aku menyukai Fabio. Dia bilang, Fabio tiga tahun lebih muda dari aku, Els."


"Apa yang salah?" Elsa bertanya dengan sedikit keras.


"Jonas tidak yakin dengannya karena dia masih terlalu muda," Christie menunduk sedih.


Elsa mengusap pelan bahu Christie. "Chris, bagaimana jika kita mencari tau dulu tentang Fabio?"


Christie mengerutkan keningnya.


"Maksudku, diam-diam kita mencari tau tentang dia. Apalagi, akan lebih mudah bagiku mencari tau tentang Fabio karena dia satu tim dengan Maverick."


Mata Christie langsung berbinar. "Kau benar. Baiklah, aku setuju," katanya semangat.


Elsa menghela nafas lega melihat temannya yang kembali bahagia. Ia tidak tega jika harus melihat Christie sedih. Bagaimanapun caranya ia harus meminta bantuan Maverick untuk mencari tahu tentang Fabio.


Elsa kembali menyuapkan satu sendok es krim kedalam mulutnya sambil menatap Christie yang terus tersenyum. Begini lebih baik daripada melihat Christie sedih.


"Hai gadis-gadis, kalian sedang apa?" tanya Maverick yang sudah berdiri disamping Elsa dengan membawa beberapa teman.


Elsa dan Christie serempak mengerutkan keningnya. Pria yang sedari tadi mereka bicarakan, sekarang berdiri bersama Maverick. Christie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, gadis itu salah tingkah.


"Kau sudah selesai?" tanya Elsa.


Maverick mengangguk dan duduk disamping adik kembarnya. Semua teman-teman Maverick juga ikut duduk satu meja dengannya.


Elsa mengenal semua pria ini. Maverick sering pergi berlibur bersama mereka. Pria yang duduk disamping Maverick adalah Jack Miller, dia pembalap tim Ducati. Kemudian, disamping Jack, ada Tom. Dia adalah sepupu sekaligus manager dari Fabio Quartararo. Lalu yang duduk didepan Jack adalah Marcel Schrotter, pembalap Moto2. Dan yang terakhir, yang sedari tadi menjadi bahan perbincangan, yang sekarang duduk disamping Christie adalah Fabio Quartararo.


Elsa tersenyum menatap Christie. Hatinya tertawa puas karena melihat Christie yang sama sekali tidak berkutik. Beberapa kali temannya itu menyeruput minuman didepannya agar tidak ada yang tahu jika gadis itu sedang salah tingkah.


"Sebentar lagi liburan musim panas, bagaimana jika kita liburan bersama lagi," kata Marcel.


Jack menjentikkan jarinya. "Setuju," serunya. "Bagaimana jika ke Ibiza? Oh sudah lama sekali aku tak kesana."


"Boleh juga," Fabio menimpali. "Kemarin Tom juga baru saja bertanya padaku tentang liburan dan kebetulan Marcel mengajak berlibur bersama."


Tom mengangguk menyetujui ucapan Fabio.


"Kau ikut tidak, Mack?" tanya Marcel pada Maverick.


Maverick menatap Elsa. "Kau mau tidak?" Bukannya menjawab pertanyaan Marcel, Maverick justru bertanya pada Elsa.


"Kenapa bertanya padaku?" tanya elsa bingung.


"Jika kau mau ikut, aku akan mengatakan pada Marcel kalau aku ikut ke Ibiza," jawab Maverick.


Elsa menatap satu per satu teman Maverick. Keempat orang itu membalas tatapannya. Kemudian ia mengedikkan bahunya dan berkata, "baiklah. Aku ikut."


Jack, Tom, Marcel dan Fabio bernafas lega mendengar jawaban Elsa.


"Kau juga boleh ikut, cantik."


Suara Fabio menarik perhatian teman-temannya dan Elsa. Yang ditanya menoleh dan tersenyum manis.


"Kurasa aku tidak ikut karena..."


"Christie?" Jawaban Christie terputus karena suara panggilan Marcel. "Sejak kapan kau duduk disitu?" tanyanya seolah akrab dengan Christie.


Christie memanyunkan bibirnya, mengejek Marcel. "Aku dari tadi juga disini. Kau yang tidak melihatku," katanya.


"Hei sorry. Aku benar-benar tidak sadar itu kau. Baru sadar saat Fabio berbicara denganmu."


"Kau mengenal Marcel, Chris?" tanya Elsa terkejut.


Christie mengangguk. "Marcel teman baik Jonas dan Marcel juga dari Jerman, jadi aku mengenalnya," jawabnya.


Elsa manggut-manggut mendengar jawaban Christie. "Oo ya, bagaimana jika Marcel mengajak Jonas untuk libur musim panas ke Ibiza?" Elsa memberi saran. "Jadi Christie bisa ikut liburan bersama kita," katanya ceria.


Semua orang menatap Marcel, setuju dengan saran yang dilontarkan Elsa. Yang ditatap membalas tatapan itu dengan sengit.


"Ya ya ya, baiklah. Nanti akan kuajak Jonas," kata Marcel menyerah.


Christie diam-diam tersenyum sambil menatap Elsa. Dia sangat berterima kasih dengan teman kakaknya itu.


~~


"Marcel terlihat akrab sekali denganmu," bisik Elsa pada Christie.


Christie melihat Marcel yang berjalan didepannya. "Tentu saja. Dia sudah berteman sejak kecil dengan Jonas dan berlatih bersama Jonas. Kami sering bertemu. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri, apalagi dulu Marcel sangat sering menginap dirumahku", ceritanya sambil berbisik juga.


Elsa mengangguk mengerti. "Itu adalah hal bagus dan penting dalam misi kita mencari tau tentang your future," kata Elsa sambil terkekeh pelan.


Christie mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Maksudmu?" tanyanya.


"Marcel sangat dekat dengan Fabio. Dia pasti tau Fabio itu seperti apa. Benar kan?"


Christie mengerutkan keningnya, berpikir. "Benar juga. Marcel pasti tau semuanya, apalagi dia sangat dekat dengan Fabio," katanya masih dengan suara pelan.


"Christie."


Suara panggilan dari Marcel mengagetkan Elsa dan Christie yang sedang saling berbisik. Keduanya menoleh kearah Marcel dengan takut-takut. Barangkali Marcel mendengar apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Ayo ke paddock Jonas," katanya sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Christie.


Christie mengangguk dan menatap Elsa. "Aku pergi dulu, Els. Sampai ketemu nanti," pamitnya.


Elsa melambaikan tangannya dan memberi isyarat pada Christie untuk tidak lupa menanyakan tentang Fabio pada Marcel.


Christie menunjukkan ibu jarinya dan memegang tangan Marcel yang tadi terulur padanya. Marcel merangkul Christie dan berjalan berdampingan menuju paddock Jonas.


Sepasang mata terus menatap kedekatan dua orang itu. Matanya tak beralih sampai tepukan dipundak menyadarkannya.


"Kau mau berdiri disini terus, Fab?" tanya Maverick.


Fabio meliriknya dan kemudian berjalan mengikuti Maverick menuju paddocknya dengan lesu. Pikirannya tak bisa lepas dari dua orang tadi.


~~


"Kau menikmati hari-harimu disini?" tanya Marcel yang melihat Christie tidak seperti biasanya.


Christie mengerti dengan arah pertanyaan Marcel. Pria itu jelas tahu dan sangat mengerti tentang dua anak kembar, Jonas dan Christie. Marcel mengenal Jonas sejak kecil, mereka berlatih bersama dan tumbuh menjadi seorang pembalap bersama-sama. Dia tahu bagaimana Jonas teramat sangat posesif dengan adik kembarnya, Christie.


"Ya. Aku menikmatinya. Aku mempunyai seorang teman yang sangat-sangat dekat denganku, Marcel. Untuk pertama kalinya," kata Christie dengan menekankan kata-kata terakhirnya.


Marcel tersenyum. "Baguslah. Jonas tak melarang...."


"Tetapi Jonas masih melarangku dekat dengan seorang pria," katanya memotong ucapan Marcel.


Marcel menggeleng, tidak percaya. "Aku tau apa yang dilakukan Jonas adalah untuk kebaikanmu. Tetapi mau sampai kapan?" protesnya.


Christie cemberut. "Kemarin aku bercerita dengan Jonas kalau aku menyukai Fabio, tapi Jonas...."


"Fabio siapa?" tanya Marcel terkejut. Christie memejamkan matanya, takut melihat ekspresi terkejut dari Marcel. "Hei, Fabio siapa? Fabio Quartararo? Temanku?" Pertanyaan Marcel menuntut jawaban.


Christie menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia takut Marcel terkena serangan jantung jika ia bilang iya.


"Sejak kapan kau menyukainya?" tanya Marcel. "Kenapa baru bilang padaku sekarang? Aku bisa membantumu," katanya antusias. "Kau tau, Fabio adalah laki-laki baik. Dia juga tidak terlihat sedang dekat dengan wanita. Hmm, mungkin akan sedikit sulit untuk menaklukkannya, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku akan membantumu."


Christie tersenyum menatap Marcel, tetapi matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba ia berhenti berjalan dan menangis. "Marceeeellll," rengeknya. "Aku ingin Jonas meresponku seperti kau meresponku. Aku tidak ingin dia terlalu mengekangku. Kumohon katakan padanya, aku sudah besar dan bisa menjaga diriku dengan baik."


Marcel menampakkan wajah prihatinnya. Ia tahu jika Jonas terlalu berlebihan dalam menjaga Christie. Bahkan saat umur gadis itu sudah menginjak 17 tahun, Christie masih tetap tidak boleh mempunyai teman laki-laki.


Marcel mengelus rambut panjang Christie dan tersenyum pada gadis itu. "Aku akan membantumu berbicara pada Jonas. Jangan menangis lagi."


"Jonas akan tetap melarangku, Marcel." Christie kembali merengek.


"Christ." Marcel memegang bahu gadis yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. "Kau percaya padaku kan?" Gadis itu mengangguk. "Aku akan membantumu berbicara pada Jonas."


Christie menatap Marcel penuh harap. Ia benar-benar berharap jika Marcel bisa membujuk kakak kembarnya itu agar tidak terlalu posesif padanya.


"Ayo," ajak Marcel.


Christie seperti enggan untuk berjalan.


Marcel tersenyum dan kembali merangkul gadis itu. "Aku janji, aku akan membujuk Jonas agar tidak terlalu mengekangmu," ucapnya untuk menenangkan Christie.


"Jangan katakan pada Jonas jika aku bercerita padamu tentang Fabio." Christie merengek sambil mengusap airmatanya.


Marcel kembali tersenyum dan menggeleng. "Iya, aku janji," ucapnya. "Jangan khawatir. Aku ada dipihakmu," bisiknya.


Setelah melepaskan pelukannya, Christie menarik tangan Marcel untuk segera menuju paddock Jonas.


~~


Jonas berdiri didepan paddocknya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Pria itu memang sedang menunggu adik kembarnya, Christie. Terlihat ia menghela nafas lega saat Christie datang bersama Marcel.


"Aku sudah menunggu dari tadi, Christ," kata Jonas.


"Aku tadi dikantin bersama Elsa," jelas Christie.


Jonas menatap Marcel. "Bagaimana kalian bisa bersama?" tanyanya heran.


"Kami bertemu dikantin." Marcel yang menjawab.


Jonas mengangguk mengerti, adiknya dan Marcel kebetulan bertemu dikantin.


"Marcel, bisa kita bicara berdua?" tanya Jonas.


Christie mengerutkan keningnya. "Ada apa? Aku tidak boleh tau?" tanya Christie ingin tahu.


Jonas tersenyum dan mengacak rambut Christie. "Ini tentang masa depanku di MotoGP, Christ. Aku akan membicarakan ini dengan Marcel dulu karena jika aku sudah tidak lagi di MotoGP, dia akan menjadi pembalap dari Jerman satu-satunya." Jonas menjelaskan dengan sabar. "Biarkan aku berbicara dengan Marcel dulu ya. Aku janji, nanti aku juga akan bercerita denganmu." Ia mencoba memberi pengertian pada adiknya.


Christie mengangguk dan kemudian berjalan masuk ke paddock Jonas.


Jonas menatapnya hingga punggung yang tertutup rambut panjang itu menghilang dibalik bilik paddocknya.


"Ada apa, Jonas?" tanya Marcel yang mengalihkan perhatian Jonas.


"Marcel, sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan karier ku."


"Lalu?" tanya Marcel penasaran. 'Jadi tadi Jonas berbohong dengan Christie. Apa ini ada hubungannya dengan Fabio?' pikirnya.


Jonas menatap Marcel. "Aku ingin kau membantuku," katanya.


Marcel mengerutkan keningnya. "Membantu apa?"


"Christie menyukai Fabio," kata Jonas.


"Fabio siapa?" tanya Marcel pura-pura tidak tahu.


"Fabio Quartararo."


Marcel terdiam. "Kufikir itu normal, Jonas. Tidak ada yang salah dengan itu."


"Marcel, aku tidak mengenal Fabio. Bagaimana jika dia menyakiti adikku."


"Aku mengenalnya, Jonas. Aku mengenal Fabio dengan baik. Aku bisa menjamin jika Fabio tidak akan menyakiti Christie."


Jonas menggeleng. "Kau bisa menjamin jika Fabio juga menyukai Christie?" tanya Jonas yang membuat Marcel tidak mampu menjawab pertanyaannya. "Belum tentu Fabio menyukai Christie juga."


Marcel menghela nafas kesal. "Jonas, berhenti mengekang Christie. Biarkan dia melakukan apa yang dia sukai."

__ADS_1


"Marcel, kau sangat tau, aku hanya tidak ingin...."


"Aku bosan mendengar alasanmu, Jonas." Marcel memotong ucapan temannya itu. "Jonas, setiap orang yang jatuh cinta itu pasti akan mengalami patah hati. Entah itu dikhianati, entah cintanya tak terbalas atau bahkan orang yg disayangi menyakitinya. Itu pasti Jonas. Itu sudah menjadi satu paket." Marcel menarik nafas sebelum melanjutkan, "jika nanti Christie mengalaminya, yang perlu kau lakukan adalah berada disampingnya. Menjadi penenang untuknya. Menjadi tempatnya bersandar. Apalagi kalian adalah saudara kembar, kalian pasti punya ikatan yang kuat."


Kening Jonas berkerut. Mencerna setiap kata yang diucapkan Marcel. Pria itu benar. Tidak seharusnya ia melarang Christie jatuh cinta atau dekat dengan laki-laki.


"Jonas, aku tau susahnya menjaga adik perempuan. Kau boleh posesif padanya, tapi jangan terlalu mengekangnya. Dia tidak akan suka itu. Biarkan dia melakukan apapun yang dia suka." Marcel menepuk bahu Jonas. Melihat tak ada jawaban dari Jonas, Marcel meneruskan, "tadi aku kesini karena aku ingin mengajakmu untuk berlibur bersama. Libur musim panas nanti, kami akan ke Ibiza. Ada Elsa disana, jadi Christie ingin sekali ikut. Tetapi dia takut jika kau tidak mengijinkannya. Kau mau ikut kan, Jonas?"


Jonas menatap Marcel. Ia tersenyum dan bertanya, "siapa saja yang ikut?"


Marcel membalas senyuman itu. "Jack, Maverick, Elsa, Fabio dan Tom. Mungkin kami akan mengajak yang lainnya juga," jawab Marcel.


"Baiklah. Aku akan ikut," kata Jonas. "Tetapi kenapa ke Ibiza? Kita akan balik ke Spanyol lagi."


"Jack ingin kesana. Sudah lama dia tidak kesana," jawab Marcel.


Jonas mengangguk mendengar jawaban Marcel. "Baiklah," kata Jonas.


"Kalau begitu, aku kembali ke paddock ku. Jangan lupa dengan apa yang kita bicarakan hari ini, Jonas. Kau adalah kakak terbaik untuk Christie," kata Marcel dan berbalik untuk  kembali ke paddock nya.


Tetapi...


"Marcel."


Pria yang dipanggil menoleh dan mengerutkan keningnya. Isyarat ia bertanya, ada apa?


"Elsa...," Jonas berhenti sebentar. Kening Marcel semakin berkerut mendengar nama adik Maverick itu. "Sekarang, dia adalah kekasih Marc Marquez," katanya yang membuat Marcel membelalakkan matanya terkejut.


♡♡⁹³♡♡


Elsa menunggu Maverick didepan paddock Yamaha. Ia tidak sabar untuk sampai dirumah. Membayangkan kasur dikamarnya, membuatnya mengantuk. Apalagi seharian ini ia berkeliling sirkuit bersama Christie. Yah setidaknya, tadi ia sempat istirahat sebentar dikantin.


Elsa menghentak-hentakkan pelan kakinya ke tanah, ia merasa kakinya sedikit ngilu. Mungkin karena lelah. Nanti sesampainya dirumah, ia akan meminta pereda nyeri untuk sekitaran kakinya.


"Ada apa dengan kakimu?"


Elsa menoleh saat ada suara lembut seorang pria tepat dibelakangnya. "Marc?"


Marc tersenyum dan mengelus rambutnya. "Kakimu sakit?" tanyanya lagi.


Elsa menggeleng. "Tidak. Hanya sedikit lelah," jawabnya.


"Seharian ini kakimu tidak kau istirahatkan?" Marc nampak tak suka.


Elsa menampakkan cengirannya. "Aku ingin sekali berkeliling sirkuit. Selagi ada teman yang mau kuajak berkeliling, jadi aku akan melakukannya," katanya.


"Iya, aku tau. Tetapi lain kali, jangan memaksakan kakimu. Kau mengerti, gadis cantikku?"


Ucapan Marc sukses membuat merah pipi Elsa. Gadis itu tersipu malu dan menangkup pipinya dengan kedua tangannya.


Marc terkekeh melihat kekasihnya ini. "Kau ini, aku sedang menasehatimu. Eh kau malah tersipu malu begitu," kata Marc yang membuat kekehan kecil keluar dari bibir tipis Elsa.


"Els," suara panggilan Maverick membuat Elsa mengalihkan pandangannya dari Marc.


"Ya, Mack?"


"Kau tau dimana ponselku?" tanya Maverick.


Elsa meminta ijin kepada Marc untuk menghampiri Maverick dan pria tampan itu menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak tau, Mack," katanya sambil berjalan menghampiri Maverick. "Kau tadi menaruhnya diruang gantimu. Terakhir aku melihatnya disana."


"Hei Mack, kau menaruhnya disini. Kau lupa?" teriak salah satu mekaniknya sambil mengangkat ponselnya dan menunjuk sebuah laci yang berada disebelah singgasananya.


Maverick menghela nafas lega. Sepertinya ia memang benar-benar lupa jika menaruhnya disana. Ia mengedikkan bahunya menatap Elsa dan tertawa.


"Sorry mengganggu kencan kalian," canda Maverick.


Elsa memanyunkan bibirnya. "Tidak ada kencan didepan paddock," serunya. Ia kembali menghampiri Marc.


Marc tersenyum melihat tingkah dua anak kembar itu. "Sepertinya Maverick menjadi pelupa sekarang," kata Marc sambil terkekeh.


"Sepertinya begitu, dirumah juga sering lupa menaruh barangnya."


Marc tertawa mendengar jawaban Elsa. Kemudian ia menarik tangan Elsa untuk mengikutinya.


"Sambil menunggu Maverick, kita kesana dulu ya." Pria itu menunjuk pagar pembatas di pit wall.


Elsa mengangguk dan tersenyum senang. "Anginnya sedikit kencang," kata Elsa.


"Kau tidak membawa ikat rambut?" tanya Marc yang melihat rambut Elsa sedikit berantakan karena tiupan angin.


"Bawa." Elsa menunjukkan pergelangan tangannya dengan ikat rambut yang melingkar disana.


Marc mengambilnya dan membalikkan Elsa untuk membelakanginya. Ia menyatukan seluruh rambut Elsa dan mengangkatnya sedikit keatas, lalu mengikat rambut itu dengan ikat rambut yang tadi melingkar dipergelangan tangan Elsa. Setelah selesai, Marc membantu Elsa menaiki pagar pembatas itu dan melihat sirkuit yang sudah sepi.


"Jika aku menang, maukah kau berada disini untuk menyambutku?" tanya Marc sambil menatap Elsa dari samping.


Gadis spanyol itu tersenyum dan berkata, "tentu saja aku mau. Aku akan berada disini dan tersenyum menyambutmu."


Marc tersenyum mendengarnya. "Aku akan berusaha untuk menang. Rasanya aku sangat rindu berada diatas podium," ucap Marc.


"Kau harus tetap tenang, seperti yang biasa kau lakukan. Aku yakin, kau pasti akan kembali ke podium cepat atau lambat."


Marc kembali tersenyum mendengar ucapan Elsa. Ia tak salah memilih wanita untuk dijadikan kekasih. Elsa benar-benar mampu memberinya semangat, meskipun sekarang memang kecil kemungkinan ia bisa kembali memenangi balapan atau hanya sekedar finish di posisi 2 atau 3.


Kecelakaan di sirkuit Jerez tahun lalu memang berdampak besar untuk karier seorang Marc Marquez. Cedera patah tulang lengan atas kanan membuat kariernya hampir selesai. Bayangkan saja, ia harus absen di MotoGP 2020. Gelar juara dunianya lepas begitu saja. Bukan karena ia kalah diatas lintasan, tetapi karena ia harus menyerah dengan cederanya.


Di tahun ini, ia seperti baru memulai kariernya di MotoGP. Yang biasanya ia berada dibarisan depan, bersaing dengan pembalap-pembalap barisan depan, kini harus berjuang mati-matian meskipun hanya untuk memperebutkan posisi 10 besar.


Elsa mengusap bahu Marc. "Kau akan kembali ke podium," kata Elsa yakin. "Kau tau kenapa?"


Marc mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Karena kau adalah Marc Marquez, seorang juara dunia yang tidak akan menyerah hanya karena cedera."


Lagi-lagi Marc dibuat tersenyum dengan kata-kata kekasihnya itu. Ia mengacak rambut Elsa dan menariknya kedalam pelukan.


"I'm so lucky to have you," bisik Marc tepat ditelinga Elsa.

__ADS_1


Maverick menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua sepasang kekasih itu dari paddocknya. "Tadi katanya tidak berkencan didepan paddock. Lalu apa sekarang? Memangnya pit wall terlihat lebih bagus daripada paddock seorang rider?" Pria itu menggerutu sendiri karena tidak terima.


__ADS_2