
Maverick berjalan menuju lift untuk segera kembali kekamar Elsa dan melihat keadaan adik kembarnya. Ia terus memikirkan Elsa yang terlihat sangat tertekan sekali. Ia juga merutuki kebodohannya yang tidak menyadari bahwa Elsa tengah mendengarkan percakapannya dengan Marc malam itu. Andai saja Elsa tidak mendengarkan percakapannya dengan Marc, gadis itu pasti sudah berada dipelukan ibunya karena rindu yang begitu dalam.
"Mack."
Panggilan seseorang memaksa Maverick untuk menghentikan langkahnya. Ia mendapati Jonas tengah berlari kearahnya.
"Ada apa, Jonas?" tanyanya.
"Kenapa buru-buru? Kau mau kemana?" Jonas balik bertanya.
Maverick menghela nafas berat. "Aku harus segera melihat keadaan Elsa. Ibuku baru saja datang dan itu membuat Elsa menangis begitu keras. Jadi aku khawatir dengannya," jawabnya sambil melanjutkan langkahnya menuju lift.
Jonas mengerutkan keningnya. "Elsa dikamar sendirian?" tanyanya sambil mengikuti Maverick menuju lift.
Maverick menggeleng. "Tadi sebelum aku mengantar ibuku ke lobi hotel, aku menitipkan Elsa sebentar pada Marc. Aku khawatir jika ia sendirian."
Kini Maverick yang mengerutkan keningnya heran menatap Jonas. "Kenapa kau disini? Bukankah kau tidak menginap dihotel kan?"
Jonas terkekeh. "Aku ada perlu dengan Jack Miller tadi. Lalu melihat kau turun dari lift bersama seorang wanita. Aku tau itu ibumu, wajahnya mirip dengan kau dan Elsa. Jadi aku menunggu sampai ibumu pergi dengan taksi," jawabnya.
Maverick mengangguk-anggukan kepalanya. "Eum, tumben kau tidak bersama Christie. Dimana adikmu?"
"Dia pergi... dengan Fabio," jawabnya yang kentara sekali tidak suka.
"Fabio...?? Quartararo?" tanya Maverick sedikit terkejut.
Jonas mengangguk kesal.
"Mereka berkencan?"
Jonas semakin memasang wajah kesalnya. "Jangan berkata seperti itu tentang mereka. Mereka tidak berkencan, Fabio hanya meminta Christie untuk mengantarkannya berkeliling Jerman dan itu bukan kencan," bantahnya.
Maverick terkekeh melihat tingkah Jonas. Pria itu terlihat kesal tetapi nampak sangat lucu sekali.
"Cobalah untuk mengenal Fabio. Dulu memangnya aku langsung menerima kehadiran Marc dihidup Elsa? Tetapi Marc begitu merubah Elsa, jadi tidak ada salahnya aku membiarkan mereka dekat."
Jonas terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ting!
Mereka keluar dari lift begitu pintu itu terbuka.
"Tenang Jonas, Fabio tidak seburuk yang kau kira."
Jonas menghela nafas. "Bukan begitu maksudku, Mack. Masalahku sekarang, Christie yang menyukai Fabio. Bagaimana jika Fabio tidak menyukai Christie dan hanya menganggap Christie teman biasa?" tanyanya khawatir.
Maverick tersenyum. "Ada aku, aku akan memeluk Christie jika dia patah hati," candanya.
Jonas memukul lengan Maverick pelan. "Sialan, jangan bercanda. Aku serius."
Maverick tertawa melihat tingkah Jonas. Jonas tak beda jauh dari dirinya. Posesif, selalu khawatir dan tidak mudah menerima siapapun yang dekat dengan saudara kembarnya. Mereka berdua sebenarnya sama, hanya saja Jonas sedikit kaku dalam mengenal beberapa pembalap. Sedangkan Maverick, dia mengenal semua pembalap, tetapi dia sedikit jutek dan galak.
~~
"Kau tak perlu menahan semuanya. Kau selalu bercerita padaku sambil menangis. Kau bilang kau merindukan ibumu. Bukankah Maverick sudah bilang jika ia tak apa?"
Elsa menggelengkan kepalanya masih terus menangis.
Marc menghela nafasnya. Ia mengusap rambut Elsa lembut. Gadis itu suka perlakuan Marc yang seperti ini, jadi Marc melakukannya untuk membuat Elsa nyaman.
"Mungkin kau belum siap karena ini pertemuan pertama kalian. Kau hanya masih terkejut saja."
"Ibu meninggalkan kami karena pria lain. Apa aku masih bisa mengharapkan pelukan dari wanita yang menghianati ayahku, Marc?"
Marc mendelik terkejut. Jadi Elsa sudah tahu alasan ibunya dulu pergi.
"Aku akan memaklumi sikap ibu, andai saja ibu pergi untuk bekerja. Tetapi ibu pergi karena ada pria kaya raya. Ibu lebih memilih menghianati ayah demi memiliki hidup yang mapan. Jika saja ibu mau menunggu, andai saja ibu mau bersabar, Maverick mewujudkan semua itu kan, Marc?"
Elsa menangis lagi.
"Maverick membelikan kami rumah. Maverick membelikan kami mobil. Maverick membelikan apapun yang aku inginkan, yang bahkan dulu hanya bisa ku impikan saja. Maverick mewujudkan semuanya.
Kebahagiaan Maverick juga pasti akan lengkap, kalau saja waktu dia juara dunia Moto3 ibu ada bersama kami. Kenapa ibu tidak mau bersabar? Aku selalu menyesalkan semua itu, Marc."
Marc memeluk Elsa yang tangisannya semakin kuat. Ia merasakan semuanya, kesedihan Elsa. Meskipun ia tak pernah harus kehilangan kehangatan keluarganya, tetapi membayangkannya saja membuat Marc tidak bisa menahan rasa sedihnya. Jika saja ia adalah Elsa, mungkin ia tidak bisa menjalani hidupnya. Ia pun juga sama, tidak mau kehilangan ayah atau ibunya hanya karena harta.
"Kau hebat. Kau adalah gadis yang kuat. Itulah alasan Tuhan mengelilingimu dengan orang-orang yang sangat menyayangimu. Kau kehilangan kasih sayang ibumu, tetapi Tuhan mengirimkan banyak kasih sayang untukmu. Meskipun tak bisa menggantikan kasih sayang seorang ibu, tetapi Tuhan sangat berharap itu semua mampu mengobati luka yang ditorehkan ibumu."
Elsa semakin menangis dipelukan Marc. Ia terharu dengan ucapan Marc. Kekasihnya ini memang selalu bisa menenangkannya.
Pintu kamar hotel Elsa terbuka, Maverick mendekat dan disusul Jonas dibelakangnya.
Maverick menggantikan Marc memeluk Elsa. Pelukan kakak kepada adiknya, berharap bisa menguatkan Elsa. "Kau tidak apa-apa?" tanya Maverick khawatir.
Elsa mengangguk.
"Aku tidak mau bertemu dengan ibu dalam waktu dekat ini, Mack. Aku masih butuh waktu untuk menguatkan hatiku," kata Elsa memohon. "Suruh ibu pulang ke Barcelona dan jangan menemuiku disini."
Maverick menatap sedih adiknya. "Ya, nanti aku bilang pada ayah," katanya ragu. Ia tak yakin jika ibunya mau pulang ke Barcelona. Wanita itu pasti terus berusaha menemui Elsa.
"Kalau begitu, kau istirahat dulu. Kau pasti lelah seharian ikut ke sirkuit," titah Marc sambil mengelus pundak Elsa.
Jonas tersenyum masam melihat perhatian Marc ke Elsa.
__ADS_1
Maverick menatap Elsa dan mengangguk, menyetujui ucapan Marc. "Marc benar. Kau harus istirahat. Aku akan pesankan makanan untukmu," katanya.
Elsa mengangguk. Ia berdiri dan berjalan menuju ranjang dengan sprei putih itu. Melepas sepatunya dan berbaring disana.
♡♡⁹³♡♡
Fabio mengangkat ponselnya dan diam-diam memotret Christie yang sedang membeli es krim dipinggir jalan. Sekarang mereka berada di taman Garten der Welt. Christie menyarankan untuk mampir ke taman itu karena menurutnya taman itu indah dan banyak digemari oleh wisatawan.
Christie menoleh pada Fabio dan tersenyum.
Ckrek!!
Fabio tersenyum bangga karena berhasil memotret senyuman Christie yang sangat manis. Ia melihat hasil fotonya, lalu menyimpan ponselnya disaku celana saat melihat Christie mendekat sambil membawa dua es krim ditangannya.
"Kau memotretku ya?" tanyanya sambil cemberut.
Fabio menaikkan satu alisnya keatas. "Tidak. Ahh kau percaya diri sekali," sanggahnya.
Gadis itu memicingkan matanya, menatap Fabio curiga. "Kau mengarahkan ponselmu kearahku, Fabio."
Fabio terkekeh. "Tidak, Christie. Aku memotret pemandangan disana." Fabio masih tidak mau mengaku. Lalu ia mengambil satu es krim ditangan kiri Christie dan merangkul gadis itu untuk segera memasuki taman Garten der Welt.
Berkali-kali gadis itu menarik nafas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantungnya. Apalagi sekarang ini, ia tengah dirangkul oleh Fabio, membuat jarak wajah mereka menjadi sangat dekat.
Christie menunjuk sebuah loket, memberitahu Fabio agar membeli tiket terlebih dahulu. Keduanya pun menuju loket dan antri dibelakang wisatawan lainnya.
"Itu Fabio kan? Waahh dia tampan sekali jika dilihat aslinya."
"Wah benar itu Fabio."
"Dia sedang berkencan ya?"
Christie menatap Fabio. Lalu berbisik, "Mereka semua melihatmu."
Fabio terkekeh. "Aku sangat terkenal, jadi semua orang tau aku." Ia balas berbisik.
Christie memutar bola matanya malas.
Fabio tertawa. "Jangan memasang wajah cemburu seperti itu. Jika kau tidak mengijinkanku berfoto dengan mereka, aku tidak akan melakukannya," canda Fabio yang membuat kedua pipi Christie memerah.
Christie tahu jika Fabio hanya bercanda, tetapi perasaan senangnya tidak bisa terhindarkan. Ia begitu malu jika Fabio terus bersikap manis seperti ini.
Setelah membeli tiket, Christie dan Fabio memasuki area taman. Untuk mengelilingi taman Garten der Welt, bisa saja menggunakan kereta gantung, tetapi Christie memilih berjalan kaki saja agar bisa menikmati bunga-bunga yang sedang tumbuh. Apalagi ini adalah musim panas.
Fabio berdecak kagum melihat pemandangan taman. Disana juga ada penangkaran sapi dan kambing.
"Kau tidak salah memilih tempat wisata," seru Fabio yang membuat Christie tersenyum senang.
Fabio mengangguk-anggukan kepalanya. "Chinese Garden? Apa itu tempat wisata utamanya?" tanya Fabio.
Christie mengangguk. "Ada danau cermin surga disana."
Fabio mengerutkan keningnya. "Dimana itu?" tanyanya penasaran.
"Itu," Christie menunjuk sebuah danau yang letaknya tidak jauh darinya berdiri. "Disana penuh dengan nuansa china."
"Ayo kesana," seru Fabio bersemangat.
Christie tersenyum senang melihat Fabio yang begitu bersemangat. Ia sangat senang jika apa yang ia pilih membuat lelaki pujaannya itu bahagia seperti ini.
~~
Setelah puas menikmati keindahan taman Garten der Welt, Christie kembali mengajak Fabio untuk menikmati makanan di Cafe am Japanischer Garten. Kafe itu jaraknya tidak jauh dari taman, hanya dengan berjalan kaki sebentar mereka sudah sampai di kafe itu.
"Wahh, kau memang ahlinya tempat wisata di Jerman, Chris," kata Fabio kagum melihat kafe yang baru saja ia masuki bersama Christie.
Di kafe itu, pemandangannya tak kalah indah dari taman Garten der Welt. Setelah melewati pintu masuk, mereka akan disuguhkan tempat seperti pekarangan rumah di Jepang. Fabio jadi merindukan balapan di Jepang.
Suasana di kafe itu sedikit ramai orang. Christie celingukan mencari tempat duduk dan Fabio pun menarik tangannya untuk mendekati meja yang kosong. Christie menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia salah tingkah.
"Disana juga ada nuansa Korea?" tanya Fabio yang terlihat benar-benar takjub dengan tempat wisata ini.
Christie mengangguk sambil tersenyum. "Ada China, Jepang, Korea, dan Bali."
"Bali?" tanya Fabio. Christie kembali mengangguk. "Indonesia?"
Christie menatap Fabio. "Benar sekali. Lalu setelah melewati Balinesicher Garten, kita bisa bermain dilabirin."
"Wahh pasti seru sekali. Ayo kita makan lagi, setelah itu bermain dan berfoto ditempat-tempat itu," ujar Fabio yang sangat semangat.
Christie melihat-lihat menu untuk memilih makanan yang ingin ia makan. Setelah mencatat pesanannya, ia menyerahkan buku menu kepada Fabio.
"Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi, Chris? Maksudku, tempat didunia yang sangat ingin kau kunjungi tetapi kau belum kesana."
Christie langsung tersenyum. "Ada," jawabnya singkat.
"Dimana itu?"
"Korea. Aku sangat ingin kesana, tetapi belum bisa dan belum boleh kesana."
Fabio mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Alasannya pasti karena Jonas, Fab. Dia tidak mengijinkanku berkeliling dunia sendirian. Dia juga belum ada waktu untuk menemaniku keliling dunia."
__ADS_1
Fabio mengangguk-anggukan kepalanya. "Kau benar-benar bernasib sama seperti Elsa. Dia juga sangat ingin ke Korea, tetapi Maverick belum mengijinkannya."
Christie terkekeh. "Jonas dan Maverick tidak ada bedanya," celetuknya asal. "Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tau jika Elsa ingin ke Korea?"
Fabio tersenyum. "Hanya pernah dengar saja," jawabnya.
Christie tersenyum samar, ada rasa iri lagi pada temannya itu. Fabio pun sampai tahu jika Elsa ingin pergi ke Korea. Sedangkan dirinya, baru bisa dekat dengan Fabio sekarang. Tetapi apakah setelah ini Fabio akan tetap akrab dengannya atau mungkin setelah ini Fabio akan bersikap biasa seperti kemarin-kemarin?
Fabio mengamati gadis didepannya, Christie tampak melamun. "Apa ada tempat wisata lagi yang keren seperti ini?" tanya Fabio.
Pertanyaannya tidak ditanggapi Christie. Ia benar-benar melamun.
"Chris," panggilnya. "Christie, kau melamun?"
Sentuhan tangan Fabio ditangan Christie membuat gadis itu sadar dari lamunannya. Ia tersenyum malu karena kedapatan melamun oleh Fabio.
"Ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Fabio.
Christie menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat. "Kau sudah selesai mencatat pesanan? Biar aku panggilkan pelayan."
Fabio tersenyum. "Pelayan sudah kesini dan mengambil pesanan kita," kata Fabio yang langsung membuat pipi Christie memerah. "Ada apa, Chris? Kau tadi nampak baik-baik saja. Kenapa sekarang seperti sedang ada yang kau pikirkan?"
Christie menggeleng lagi. "Tidak ada," jawabnya singkat. "Setelah ini kau ingin kemana lagi? Ahh tetapi ini sudah sore. Mungkin waktu kita akan cukup jika untuk menyelesaikan wisata ini. Lain kali, kita bisa melakukan tour di Jerman lagi."
Fabio tersenyum. "Apa besok kita bisa tour seperti ini lagi?" tanya Fabio.
Christie membalas senyuman itu. "Jonas mungkin akan berteriak sampai ke penjuru sirkuit jika tau aku pergi dengan seorang pria lagi," candanya yang membuat Fabio tertawa.
"Apa kau pernah pergi berdua dengan Marcel?" tanya Fabio.
Christie tertawa. "Kenapa kau terus bertanya tentangku dan Marcel? Kau curiga aku punya hubungan dengan Marcel?" tanyanya.
Fabio terkekeh. "Aku hanya penasaran saja. Kenapa Jonas begitu percaya jika kau bersama Marcel, sedangkan bersama pria lain dia tidak bisa percaya?"
Sekarang giliran Christie yang terkekeh. "Jonas mengenal Marcel sejak kecil. Tidak ada alasan untuk Jonas tidak percaya dengan Marcel."
"Jadi kau pernah pergi berdua saja dengan Marcel?" Fabio masih penasaran.
"Pernah. Hanya ke kedai es krim dan restoran daging panggang. Marcel sangat suka daging panggang."
"Kau suka es krim ya?"
Christie mengangguk. "Sangat suka," jawabnya sambil tersenyum.
"Elsa juga suka es krim."
Senyum Christie luntur mendengar itu.
"Beberapa kali di sirkuit, aku mendapatinya memakan es krim di paddock."
Christie hanya tersenyum samar. "Semua gadis mungkin menyukai es krim."
"Tidak, tidak semuanya. Beberapa wanita yang kukenal, tidak semuanya suka es krim. Katanya bikin gendut."
"Itu wanita kan? Aku dan Elsa masih gadis, jadi kami penyuka es krim."
Tidak tahu kenapa, Christie terdengar ketus saat menjawab pertanyaannya. Fabio terus menatap gadis didepannya sambil mencari tahu kenapa.
♡♡⁹³♡♡
Keesokkan harinya @Sirkuit Sachsenring
"Elsa."
Christie berlari menuju paddock Yamaha, didepannya berdiri Elsa yang baru saja datang bersama Maverick. Gadis itu menoleh dan langsung tersenyum melihat temannya itu.
"Christie."
Christie langsung memeluk Elsa khawatir. "Kau baik-baik saja? Jonas kemarin bilang jika kau menangis. Ada apa?" tanyanya.
Elsa menggeleng. "Nanti aku cerita saat dikantin saja. Ceritanya panjang dan aku tidak mau menangis didepan paddock Maverick."
Christie terkekeh.
"O ya, kemarin bagaimana kencan kalian?" tanya Elsa pelan sambil cekikikan.
Christie mendelik. "Itu bukan kencan, Els."
"Ahh sama saja. Laki-laki dan perempuan, jalan berdua, namanya apalagi kalau bukan kencan?"
"Hallo gadis-gadis." Maverick datang dari dalam paddock. Tangan kirinya mengusap rambut Elsa dan tangan kanannya merangkul pundak Christie. "Siapa yang baru saja berkencan?"
"Ssssstttt," seru kedua gadis itu bersamaan.
"Pelankan suaramu. Fabio bisa mendengarnya," kata Christie kesal.
Maverick terkekeh. "Lihatlah wajahmu memerah. Aku jadi gemas," kata Maverick sambil mencubit kedua pipi Christie.
"Maveriiiiiiiiiiicckkkk...!!!!!"
Teriakan Christie membuat beberapa orang disekitar paddock Yamaha termasuk Fabio menoleh kearahnya. Maverick yang tidak ingin kena masalah langsung masuk kedalam paddock nya sambil cekikikan membayangkan ekspresi kesal Christie.
Fabio terkekeh sambil menatap wajah Christie yang memerah. 'Ternyata Maverick yang dingin dan terlihat jutek itu bisa bercanda dengan seorang gadis,' batinnya.
__ADS_1