
Elsa dan Christie kembali ke villa dengan menenteng banyak makanan. Keduanya terlihat sangat bahagia karena bisa dengan bebasnya kemanapun mereka sukai tanpa ada larangan dari Maverick ataupun Jonas.
Mereka memilih kembali ke villa dulu karena para laki-laki sedang menikmati makanan disana. Lalu Jack menitipkan beberapa makanan untuk Fabio yang ternyata batang hidungnya tidak terlihat untuk menyusul mereka dipasar.
"Itu Fabio," kata Elsa. "Kau saja yang memberikan makanan ini. Belajarlah menjadi kekasih yang baik," godanya yang langsung mendapatkan pukulan pelan dibahu. Ia malah cekikikan melihat semburat merah dipipi temannya.
"Aku kekamar dulu. Good luck." Elsa berlalu dan setengah berlari menuju kamarnya.
Christie menarik nafas dalam-dalam, lalu ia berjalan menuju ruangan bersantai dimana Fabio tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Pria itu belum menyadari kedatangan Christie, sampai ia berada didepannya pun Fabio masih belum mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Kenapa tidak ikut menjelajah makanan bersama teman-temanmu?" tanya Christie.
Fabio sedikit terkejut karena gadis itu tiba-tiba berada didepannya. Tetapi setelahnya ia tersenyum dan menyuruh Christie untuk duduk disampingnya.
"Aku merasa sedang tidak baik-baik saja sekarang," jawab Fabio.
Wajah Christie berubah khawatir. "Kau demam? Atau kau merasa tidak enak badan?"
Fabio tersenyum lagi, lalu menggeleng. "Tidak. Hanya tidak bersemangat. Mungkin butuh sedikit istirahat saja," jawabnya.
Christie mengangguk. "Tadi Jack menitipkan makanan ini padaku dan Elsa. Dia bilang kau sangat suka daging sapi," katanya sambil menyodorkan bungkusan yang tadi ia bawa.
"Lalu dimana Elsa sekarang?" tanya Fabio. Pria itu tidak segera mengambil bungkusan yang Christie bawa, tetapi justru celingukan mencari Elsa.
Christie meletakkan bungkusan itu diatas meja dan mendengus kecewa. "Dia masuk kekamar," jawabnya sedikit ketus. "Baiklah kalau begitu, aku kekamar dulu," katanya.
Tangan Fabio terangkat untuk menahan tangan Christie agar gadis itu tidak kemana-mana. "Temani aku makan," pintanya sedikit manja.
"Kau bisa makan sendiri kan?"
"Tidak. Aku ingin ditemani olehmu," jawab Fabio. "Kenapa tiba-tiba kau marah padaku?"
"Tidak."
"Kalau tidak, ayo temani aku makan."
Christie menghela nafasnya, ia menyerah jika Fabio sudah merengek seperti anak kecil. Itu sangat menggemaskan menurutnya.
"Baiklah."
Fabio tersenyum dan ia mulai membuka makanan kesukaannya. "Waahh," kagumnya saat menghirup aroma makanan yang sedap. Ia mulai mengambil garpu dan pisau untuk mencicipi makanan didepannya. "Suapan pertama untukmu."
Christie menggeleng. "Aku sudah makan," katanya.
"Dilarang menolak makanan." Fabio memaksanya.
Dengan wajah kesal tetapi hati senang, Christie pun menerima suapan dari Fabio. Rasanya dia ingin berlari ke pantai dan berteriak sepuasnya saking senangnya.
"Enak kan? Jack selalu tau makanan kesukaanku," kata Fabio sambil menyantap makanannya.
Christie tersenyum samar.
"Eum Chris, apakah bisa kita jalan-jalan seperti waktu di Jerman?" tanya Fabio tiba-tiba.
Christie menatap Fabio, kemudian ia menunduk sedih. Jalan-jalan seperti di Jerman? Mana mungkin? Melihat Christie duduk berdua dengan Fabio dikantin saat GP Assen saja, dirinya harus mogok bicara dengan Jonas selama dua hari setelah Jonas menyakitinya dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi jika ia jalan-jalan seperti waktu di Jerman.
"Kurasa...."
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Fabio. "Aku merasa suasana hatiku sedang tak baik saat ini dan aku sangat tau jika hanya kau yang bisa membuatnya menjadi lebih baik," lanjutnya.
Kedua pipi Christie berubah menjadi merah saat mendengar penuturan Fabio yang menurutnya sangat manis itu. "Aku sangat ingin, tetapi aku malas berdebat dengan Jonas."
Fabio terkekeh. "Apa Jonas tidak menyukaiku?" tanyanya yang membuat Christie reflek menyangkalnya.
'Andai saja aku tidak menyukaimu, mungkin Jonas akan bersikap baik-baik saja padamu,' batin Christie.
"Lalu kenapa dia terlihat tidak suka jika aku berbicara berdua denganmu?" tanya Fabio lagi.
"Itu...."
"Apa dia seposesif itu?"
"Aku minta maaf," kata Christie akhirnya. Sungguh ia merasa tidak enak dengan Fabio. Jonas bersikap seperti itu juga karena dirinya.
"Kenapa kau meminta maaf?"
'Aku menyukaimu, Fab. Itu alasan kenapa Jonas bersikap seperti itu padamu. Jonas takut jika kau menyakitiku.' Christie hanya bisa membatin.
"Kau bisa makan sendirian kan? Aku kekamar dulu," pamit Christie sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Christie." Fabio kembali menahan tangan Christie. Ia tidak mau jika gadis itu pergi. "Aku benar-benar sedang tidak baik dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuat itu menjadi lebih baik."
Christie menatap Fabio yang masih duduk. Ia tak mengerti dengan ucapan Fabio, tetapi itu kata-kata yang sangat manis.
"Ehheem."
Christie menoleh kearah sumber suara. Ia melihat para laki-laki sudah berdiri dipintu villa. Semuanya melihat kearahnya dan Fabio. Lalu tatapan Jonas? Ya Tuhan, Jonas terus menatap tangan Fabio yang sedang memegang tangannya.
Christie melepaskan tangannya dari genggaman tangan Fabio. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya.
"Kalian sudah pulang?" tanya Fabio yang mencoba mencairkan suasana.
"Kau sedang apa, hm?" Jack dan Tom menghampiri Fabio dan menggoda laki-laki itu.
Jonas mengepalkan tangannya dan berjalan menuju kamar Christie dan Elsa.
"Jonas!!" panggil Marcel yang tidak digubris oleh pria Jerman itu. Ia tahu Jonas pasti akan memarahi adiknya. Ia pun segera menyusul temannya itu.
Maverick dan Marc saling menatap, keduanya pun menghela nafas panjang dan kemudian mengikuti Jonas dan Marcel menuju kamar Christie dan Elsa.
Fabio terus memikirkan Christie, seharusnya ia tak menahannya pergi tadi. Gadis itu pasti dalam masalah besar. Jonas akan marah padanya dan hubungan mereka kembali memburuk.
~~
"Kau sudah kembali?" tanya Elsa yang sudah siap menggoda temannya ini habis-habisan.
__ADS_1
"Gawat Els..!!! Aku ingin kabur rasanya."
Melihat Christie yang tampak panik, ia mengurungkan niatnya untuk menggoda temannya ini. "Ada apa? Kau kenapa?" tanyanya yang ikutan panik.
"Jonas Jonas Jonas."
"Kenapa dengan Jonas?"
"Dia melihat Fabio memegang tanganku."
Elsa mengerutkan keningnya. "Fabio menyatakan perasaannya padamu?"
"Hiihh Elsa, bukaaaann. Duhh bagaimana ini?"
"Ada apa sih?"
Tok tok tok!!
"Christie, bukan pintunya..!!" Suara bariton Jonas terdengar dari luar kamar.
"Ya Tuhan Jonas ada diluar. Mati aku."
Elsa tertegun menatap Christie. Bukankah di Assen kemarin dia tampak menakutkan? Kenapa hari ini dia yang seperti ketakutan? Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Christie yang mondar-mandir didepannya.
"Dia bisa mengamuk. Tamatlah riwayatku."
Tok tok tok!!
"CHRISTIE..!!"
"Els, bagaimana ini?"
Elsa tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakukan lucu temannya ini.
"Heeeyyy, kenapa kau malah tertawa?"
"Kau ini sangat lucu."
Tok tok tok!!
"Christie Folger!! Buka pintunya atau kudobrak!!"
Christie semakin panik mendengar ancaman Jonas.
"Biar aku semprot kakakmu itu," seru Elsa. "Kau lakukan apa yang aku katakan pada Jonas. Hanya untuk jaga-jaga andaikan Jonas menerobos masuk kekamar kita."
"Els. Oh ya Tuhan, dia malah menantang iblis."
Elsa membuka pintunya dengan kasar dan berkacak pinggang didepan Jonas. "Apa kau bilang? Kau ingin mendobrak pintunya?" tanya Elsa dengan kesal. "Enak saja kau mengancam seperti itu..!! Memangnya kau siapa, haa? Hei Jonas Folger, kau adalah seorang kakak. Bisakah kau bersikap lembut kepada adikmu? Kau membuatnya takut. Dia hampir pingsan dan kehabisan nafas didalam karena gedoran pintumu dan suaramu yang begitu keras."
'Oh sial!! Kenapa Elsa harus berkata seperti itu?' batin Christie. Ia duduk disofa kamarnya dan berpura-pura lemas. Tangannya memijit keningnya untuk meyakinkan Jonas bahwa ia benar-benar terkejut dengan suara keras.
"Dimana anak nakal itu sekarang?" tanya Jonas.
Jonas berdecak. "Elsa, aku mau bertemu adikku. Aku harus...."
"Jonas," potong Marcel. "Sudahlah. Kau tidak dengar tadi Elsa bilang apa. Christie ketakutan dan itu karenamu. Jangan buat Christie menjadi trauma melihatmu."
Elsa diam-diam tersenyum melihat Marcel. Sepertinya dugaannya benar, Marcel ini bagaikan guardian angel bagi Christie. Andai ia jadi Christie, mungkin ia sudah jatuh cinta pada Marcel.
"Kita temui dia nanti saat makan malam," kata Marcel lagi.
Jonas menghela nafasnya kasar. "Christie, kita perlu bicara. Jadi aku mohon, setelah makan malam, kau tidak menghindariku lagi," serunya tegas. Bahkan Elsa yang berada didepannya sampai bergidik ngeri mendengar suara Jonas.
Kemudian Jonas dan Marcel berlalu dari hadapan Elsa.
"Kau berani sekali menghadapi Jonas," kata Maverick yang prihatin. "Kau tau, aku dan Marc sudah siap menerkam Jonas andai kata dia berani mendorongmu untuk menerobos masuk."
Elsa terkekeh. "Sudah, aku sudah memperhitungkan semuanya."
"Jangan pernah lakukan itu lagi. Atau kami bisa bertengkar dengan Jonas hanya masalah lecet sedikit pada kulitmu," kata Marc yang sedikit marah tetapi juga khawatir.
"Iya, aku hanya membela temanku. Kasihan kan Christie."
"Lalu dia tak apakan?" tanya Maverick yang ingin tahu keadaan Christie.
"Dia baik-baik saja. Ayo masuk." Elsa mempersilakan Marc dan Maverick untuk masuk.
Keduanya menghela nafas melihat Christie yang tengah duduk disofa dengan wajah polosnya. Maverick duduk disamping gadis itu.
"Kau ingatkan ucapanku tempo hari di Assen?" tanya Maverick.
Christie terdiam.
Maverick duduk disamping Christie. "Setiap kakak laki-laki yang mempunyai adik perempuan, mereka mempunyai cara tersendiri untuk menjaga adiknya, termasuk Jonas. Aku sudah bilang padamu kan?" Maverick mulai menasehati Christie. "Christie." Pria itu mengelus rambut Christie, menyelipkannya ke belakang telinga. "Berbicara berdua dengan Jonas akan membuat hubungan kalian menjadi lebih baik."
"Tapi Mack...," Christie mencoba membantah. "Ketika aku berbicara dengan Jonas, yang ada dia tidak mau mendengarku dan memilih pergi. Kemarin saat di Belanda juga begitu. Tiba-tiba pergi meninggalkanku dikedai es krim bersama Marcel."
Maverick menghela nafas. "Minta bantuanlah kepada Marcel. Aku yakin dia bisa membantumu."
Christie menatap Maverick yang sedang tersenyum padanya. Ia benar-benar salut pada pria ini, umurnya memang lebih mudah darinya, tetapi lihatlah dia bahkan jauh lebih dewasa daripada dirinya. Mungkin karena masa lalunya, dia dituntut menjadi dewasa dan dituntut juga untuk bisa menjaga adiknya dengan baik. Maka dari itu, dia jauh bisa mengerti dan menasehati Christie dibanding Jonas yang selalu ingin dimengerti tetapi tidak mau mengerti.
♡♡⁹³♡♡
"Marcel," panggil Christie.
Semua yang ada disitu menoleh pada Christie. Marcel, Jack, Tom dan Fabio tentunya yang sedang mengobrol sambil menikmati makanan ringan yang tadi dibeli dari pasar. Marcel berdiri dan menghampiri Christie.
"Chris, kau baik-baik saja kan?" tanya pria bermata biru itu.
Christie tersenyum dan mengangguk. "Aku ingin bicara denganmu dan... Jonas," katanya.
"Bicara denganku dan Jonas?"
Christie mengangguk.
__ADS_1
"Tentang?"
"Tentang aku."
Marcel nampak berpikir. "Apakah bisa nanti saja?"
"Aku ingin sekarang..!!" kata Christie tak terbantahkan dan membuat Fabio, Jack dan Tom kembali menoleh padanya.
"Baiklah. Aku panggil Jonas dulu. Dia ada dikamar."
Christie mengangguk dan memilih menunggu Marcel yang sedang memanggil Jonas.
"Duduk, Chris," kata Jack yang terdengar sangat ramah ditelinga Christie.
Christie tersenyum pada pria Australia itu. Lalu ia duduk disebelah Fabio yang memang dekat dari tempatnya berdiri.
"Hubunganmu dengan Jonas sedang tidak baik?" tanya Jack.
Christie tersenyum masam. "Hanya berbeda pendapat saja, Jack. Itu biasa kan kalau kakak dan adik berbeda pendapat," jawabnya.
Jack tersenyum dan mengangguk. "Berbicara berdua memang solusi yang tepat. Tetapi Marcel juga ikut?"
Christie tersenyum lagi. "Aku sudah menganggap Marcel seperti kakakku sendiri. Disaat aku dan Jonas berdebat, Marcel adalah penengah kami. Aku butuh bantuannya untuk berbicara dengan Jonas."
Jack mengangguk mengerti. "Kufikir kau dan Marcel dekat untuk hubungan yang lain," kata Jack yang langsung ditatap Fabio dengan tatapan bertanya-tanya. "Maksudku, hubunganmu dan Marcel lebih dari kakak adik."
Fabio mengerutkan keningnya dan mencoba fokus untuk mendengarkan tanggapan Christie.
Christie malah terkekeh mendengar penuturan Jack. "Banyak orang yang mengatakan hal yang sama denganmu," kata Christie.
Fabio menatap Christie dan ditatap balik oleh gadis itu.
"Tapi itu tidak benar. Marcel tidak pernah memandangku sebagai seorang wanita. Maksudku dia selalu menatapku sebagai gadis kecilnya. Jadi dia tidak pernah menganggapku lebih dari adik."
Fabio mengalihkan tatapannya dari Christie. Diam-diam, dia menghela nafas lega.
"Yeah, kufikir kau dan Marcel ada hubungan spesial karena kalian terlihat sangat dekat."
Christie tersenyum dan menggeleng. "Tidak, Jack."
"Ayo, Chris," ajak Marcel yang sudah berdiri berdampingan dengan Jonas.
Christie menoleh dan matanya langsung bertatapan dengan kakak kembarnya. Kemudian ia berdiri dan langsung dirangkul oleh Marcel.
"Jangan jauh-jauh, nanti kau hilang," seru Marcel.
"Kami pergi dulu," pamit Christie pada Jack, Tom dan Fabio.
Jack dan Tom mengangguk. Fabio hanya diam sambil menatap ketiga orang itu keluar villa.
~~
Christie, Jonas dan Marcel duduk disebuah restoran dekat villa. Ketiganya kompak hanya memesan minuman saja.
Tatapan Jonas begitu tajam dan tentu saja tatapan itu ditujukan untuk adik kembarnya. Rahangnya mengeras menahan emosi. Jika saja tidak ada Marcel, Jonas pasti akan memarahi Christie habis-habisan karena sudah berani menghindarinya dan menjadikan Elsa sebagai tameng.
Christie yang ditatap bagaikan ingin diterkam itu hanya menunduk ciut. Padahal tadi niatnya ingin bilang ke Jonas jika Fabio mengajaknya keluar untuk sekedar jalan-jalan saja. Tetapi melihat mata Jonas yang begitu mengintimidasi dirinya, ia tak punya nyali lagi.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan pada kami, Chris?" tanya Marcel memecah keheningan diantara mereka.
Christie mendongak dan menatap Marcel. Mukanya memelas meminta bantuan agar Jonas tak menatapnya begitu menakutkan, tetapi sayangnya Marcel tak mengerti kode itu.
"Eum, aku... tadi aku hanya menemani Fabio makan," kata Christie. "Lalu kalian datang saat Fabio memegang tanganku, itu tidak seperti apa yang kalian pikirkan."
"Memangnya apa yang kami pikirkan?" tanya Jonas ketus terdengar tidak bersahabat.
Marcel menyenggol tangannya.
"Kalian dekat sekarang?" tanya Marcel.
Jonas menoleh cepat pada Marcel dan mengerutkan keningnya.
Christie membantah. "Tidak," katanya. "Kami tidak sedekat itu. Hanya setelah aku menemaninya jalan-jalan di Jerman kemarin, hubungan kami lebih baik. Maksudku, seperti teman."
"Dan kau bangga sampai harus mengatakan itu pada kami seperti ini?"
"Jonas, berhentilah berkata ketus pada adikmu. Dia hanya mencoba bercerita pada kita," tegur Marcel yang tidak suka dengan nada suara Jonas. "Ck, kau seperti sedang cemburu pada kekasihmu."
Christie memanyunkan bibirnya.
"Lalu?" tanya Marcel lagi. Ia tersenyum pada Christie.
"Dan tadi Fabio mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Dia bilang dia...."
"Tidak. Tidak ada jalan-jalan berdua selama berada disini. Jika kau ingin jalan-jalan, ajak yang lainnya juga."
"Jonas!!" Marcel kembali menegurnya.
Kali ini Jonas menantang Marcel. "Aku tidak akan membiarkan adikku pergi berdua dengan seorang pria disini."
"Memangnya kenapa? Kau bisa percaya padaku, Fabio laki-laki yang baik. Dia tidak akan berbuat macam-macam pada Christie."
Jonas berdiri dari tempatnya duduk. "Marcel, perasaan seorang saudara kembar itu sangat kuat. Aku dan Christie mempunyai ikatan yang tidak bisa dirasakan orang lain termasuk dirimu. Perasaan khawatirku saat ini sangat kuat. Aku percaya padamu jika Fabio adalah laki-laki baik, tetapi dia akan menyakiti Christie. Memangnya kau sudah yakin jika Fabio tidak memiliki kekasih atau teman dekat wanita?"
Christie menatap Jonas dengan mata berkaca-kaca. Ia membenarkan ucapan Jonas, tetapi jika memang Fabio sudah memiliki kekasih atau teman dekat wanita, itu tidak masalah. Ia hanya ingin dekat dengan orang yang ia suka dan itu tidak berarti ia ingin menjadi kekasih Fabio.
Marcel bangkit dari kursinya dan berdiri didepan Jonas. "Fabio tidak dekat dengan wanita manapun."
"Kau sudah bertanya padanya? Bagaimana jika ada beberapa hal mengenai Fabio yang tidak kau ketahui? Kau bisa menjamin jika Christie tidak akan menangis patah hati karena temanmu itu?"
Marcel menatap Christie yang masih duduk dikursinya. Gadis itu menangis tanpa suara.
"Jika adikku menangis karena temanmu, kau adalah orang pertama yang akan aku mintai pertanggung jawaban," kata Jonas tegas. Ia menggeser kursi yang tadi ia duduki dengan kasar dan keluar dari restoran tanpa melihat pada Christie yang sudah menangis sesenggukan.
Marcel duduk dikursi sebelah Christie dan memeluk gadis itu. Menurutnya, Jonas benar-benar keterlaluan. Tidak seharusnya ia bersikap berlebihan pada adiknya.
__ADS_1