FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
PART 17


__ADS_3

Race Day @Sirkuit Sachsenring


Tim Repsol Honda bersorak senang melihat pembalap andalan mereka mencapai garis finish. Ini adalah podium pertama dan kemenangan pertama Marc Marquez tahun ini. Setelah didera cedera yang sangat panjang, akhirnya dia membuktikan kepada dunia bahwa dia masih menjadi raja di sirkuit Jerman ini.


Dari paddock Yamaha, Elsa hanya bisa turut senang saja. Tidak mungkin ia berlari ke podium dan memeluk kekasihnya itu. Ia tahu diri, dunia belum mengetahui bahwa dirinya adalah kekasih seorang Marc Marquez. Seluruh fans Marc Marquez hanya tahu bahwa ia memang dekat dengan Marc karena Marc dekat dengan Maverick. Ia tersenyum bangga melihat layar televisi didalam paddock Maverick.


Para kru mekanik Fabio keluar paddock untuk menyambut pembalap mereka di podium. Yah, Fabio finish ke 3 hari ini. Tahun ini, peforma Fabio memang sangat baik. Dia bisa saja menjadi juara dunia.


Maverick kembali ke paddock nya dengan raut wajah yang sangat kecewa. Elsa mendatangi kakak kembarnya dan memeluk pria itu. "Kau bisa mencobanya lagi di Assen," katanya mencoba menenangkan Maverick.


Maverick mengangguk dan melepaskan helm yang ia pakai. Ia duduk ditempat duduknya dan menjelaskan pada mekaniknya apa saja masalahnya hari ini.


Elsa menunggu Maverick selesai berdiskusi dengan timnya diruang ganti. Sambil memainkan ponselnya dan mengirim pesan untuk Marc. Setelah mengirim pesan untuk Marc, Elsa melihat sosial medianya dan mendapati beberapa fans Marc yang menonton langsung race di sirkuit Sachsenring ini melakukan live di akun Instagramnya.


Elsa menonton salah satu live itu. Ia melihat kamera fans itu menyorot kearah Marc. Elsa tersenyum melihatnya. Tetapi senyum itu lenyap saat kamera fans itu mengarah ke bagian kru mekanik Marc. Diantara para kru, ada gadis yang sangat familiar. Itu adalah teman Marc yang menggandeng tangan Marc saat dikantin sirkuit Mugello. Lucia. Ya benar, gadis itu adalah Lucia.


Elsa memanyunkan bibirnya kesal melihat video live itu. Dirinya tidak bisa menemani Marc di podium, tetapi malah digantikan oleh gadis lain. Ia keluar dari akun sosial medianya dan membanting ponselnya ditempat duduk sebelahnya.


"Kau kenapa?"


Maverick masuk keruang ganti dengan raut muka bertanya-tanya. Tidak biasanya Elsa suka membanting ponselnya.


Elsa semakin memberenggut. "Apa seperti ini rasanya jadi kekasih pembalap? Disembunyikan sampai fansnya menerima."


Maverick terkekeh melihat sikap menggemaskan adiknya. "Tidak semua. Buktinya pembalap lain banyak yang menikah dan punya anak. Mereka pun memposting kehidupan sehari-harinya ketika bersama istri dan anak di sosial media."


"Maveriiiiiiccckkk," seru Elsa geram karena bukannya dihibur, Maverick justru membuat suasana hati Elsa semakin memanas.


Maverick tertawa melihat wajah merah padam adiknya. "Kau ini juga lucu. Kau jangan mau kalah, datang ke podium dan tunjukkan bahwa kau adalah kekasih Marc. Jika Marc marah, lebih baik putus. Enak saja, punya pacar tetapi disembunyikan. Sedangkan ada wanita lain disekitar podium menyambut juara satunya." Benar kan, Maverick membuat suasana semakin panas.


Elsa berdiri dan keluar dari ruang ganti Maverick.


"Hey, kau mau kemana?" teriak Maverick khawatir.


Ia cepat-cepat mengganti warepack yang ia pakai dan bergegas menyusul Elsa.


~~


Elsa menatap Marc yang sudah berada diatas podium dengan kesal. Gadis itu bersorak-sorai dengan bangganya diantara para kru mekanik Marc. Heh dia pikir dia siapa?


"Ayo kita kembali ke paddock ku," bujuk Maverick khawatir.


"Kau yang bilang kan aku tidak boleh kalah, aku harus berada disana dan menggeser gadis itu. Lihatlah dia berdiri disana dengan sorak sorainya, seolah-olah dia adalah kekasih Marc."


"Iya, kau bisa protes pada Marc nanti saat Marc sudah turun dari podium. Tadi aku hanya bercanda, sayang."


Elsa memukul kepala Maverick. "Kau ini ya. Kau dan Marc, membuat ku kesal. Jangan ada yang berbicara padaku hari ini. Aku marah sampai besok," serunya sambil berlalu meninggalkan Maverick diantara kerumunan fans Marc.


Maverick menatap ke sekitar, ternyata tak sedikit yang menatap ia dan adiknya heran. Beberapa kru Marc pun juga menatapnya dengan penuh pertanyaan. Maverick tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian ia ikut berlalu menyusul Elsa.


Lucia yang juga melihat Maverick dan adiknya berdebat kecil pun tersenyum penuh kemenangan. Seolah ia sudah menang karena bisa berada dibawah podium menemani Marc.


♡♡⁹³♡♡


Marc baru saja selesai mengganti warepack nya. Ia keluar dari ruang gantinya dan dihadang oleh Jose, temannya.


"Apa kau tau tadi Elsa mendatangi podium?" tanya Jose.


Marc mengerutkan keningnya. "Tidak," jawabnya. "Kapan?" tanyanya balik.


"Tadi saat kau sudah diatas podium. Elsa mendatangi podium, tetapi wajahnya sedang tidak baik-baik saja. Maksudku, ia tampak marah. Lalu Maverick datang dan mereka sedikit berdebat. Aku tidak dengar apa yang mereka debatkan karena suasana begitu berisik, tetapi Elsa terlihat kesal setelah Maverick datang." Jose mencoba menjelaskan. "Setelah itu Elsa meninggalkan Maverick sendirian."


Marc semakin penasaran, ada apa dengan kekasihnya?


"Thank you, Jose. Aku akan ke paddock Maverick sekarang," kata Marc yang terlihat khawatir.


~~


"Mack," panggil Marc saat melihat Maverick yang sudah bersiap pulang.


Marc mengerutkan keningnya mendapati muka Maverick yang terlihat sangat khawatir.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat khawatir seperti ini? Dimana adikmu? Dia baik-baik saja kan?" tanya Marc tak kalah khawatirnya.


Maverick bingung harus menjelaskannya bagaimana. Ini juga salahnya, kenapa harus membuat suasana hati Elsa semakin panas? Seharusnya ia menghibur Elsa atau membujuknya agar adiknya itu tidak gegabah dan marah.


"Elsa marah padaku dan kau," kata Maverick sedih.


Marc mengerut heran. "Marah denganku? Aku berbuat salah?" tanyanya.

__ADS_1


"Sebenarnya ini salahku, Elsa marah karena ucapanku. Sekarang dia pulang kehotel sendirian, Marc. Naik taksi." Maverick terlihat merengek seperti anak kecil.


"Lalu kau membiarkannya?" tanya Marc yang juga ikut kesal.


"Dia... Dia sedang marah padaku dan dia tidak mau mendengarkanku."


"Lalu kenapa kau masih disini? Kenapa tidak mengikutinya?"


"Aku masih membereskan barang-barangku."


"Haissshhh, jadi barang-barangmu lebih penting dari adikmu?"


Marc nampak sangat kesal sekali. Ia langsung berlari menuju parkiran mobil dan menyusul Elsa kembali ke hotel tempat mereka menginap.


"Ayo paman, seru Maverick kepada salah satu mekaniknya agar lebih cepat dan segera pulang ke hotel."


~~


Elsa menutup pintu kamarnya dengan kasar. Wajahnya nampak tidak bersahabat. Ia benar-benar kesal dengan Marc dan juga Maverick.


Disaat Marc mendapatkan podiumnya tahun ini untuk pertama kali, Elsa yang merasa adalah kekasih Marc justru diam saja karena merasa Marc belum mempublikasikan hubungan mereka. Tentu saja Elsa sangat sadar diri. Tetapi kenapa justru ada wanita lain disana, dibawah podium itu.


Elsa tidak ingin menangis, sungguh ini adalah hal bodoh jika harus meneteskan airmatanya karena hal semacam ini. Ia hanya kesal, marah dan merasa tidak dianggap. Apalagi Maverick yang mengatakan bahwa pembalap lain memposting kebersamaan mereka bersama istri dan anak-anaknya. Bukankah itu menyebalkan?


Elsa memukul-mukul ranjangnya. Bantal dan guling pun menjadi sasaran amukannya.


"Kalian berdua menyebalkaaaaannnn...!!!!!" teriaknya.


Elsa mendengar ponselnya yang berada didalam tas berdering. Ia bangkit dari ranjangnya dan mengambil tasnya yang berada diatas sofa.


Ia langsung menerima panggilan itu karena si penelepon adalah Christie. Mungkin Christie bisa membuatnya merasa lebih baik jika gadis itu datang kesini.


"Hallo Chris," sapanya menjawab panggilan itu.


"Els, kau baik-baik saja? Maverick bilang kau sedang marah dan pulang ke hotel sendirian. Kau sudah sampai?" tanya Christie yang suaranya terdengar sangat khawatir.


"Christiiiiiieeee," tangis Elsa pun pecah. Tidak tahu kenapa, ia jadi merasa ingin menangis setelah mendengar suara Christie.


"Hey kau kenapa? Jangan menangis. Aku, Maverick dan Jonas sedang menuju ke hotel sekarang. Sebentar lagi sampai. Mungkin Marc sudah sampai disana, dia langsung ke hotel saat tahu kau pulang naik taksi sendiri."


"Elsa kenapa? Dia menangis? Dia baik-baik saja kan?"


Terdengar suara Maverick yang juga terdengar khawatir menanyakan keadaan adiknya.


Tok Tok Tok!!


"Els, kau didalam?" suara Marc tampak khawatir. "Kau kenapa? Kata Maverick kau marah padaku, ada apa?" tanyanya.


Elsa bergeming. Ia hanya duduk disofa kamarnya dan tak menjawab pertanyaan Marc.


Tok Tok Tok!!


"Kau baik-baik saja kan?" tanyanya lagi. "Setidaknya keluarlah dulu dan katakan padaku apa salahku. Aku tidak mau jika ada masalah akan berlarut-larut dan membuat hubungan kita memburuk."


Ucapan Marc benar, pria itu bahkan lebih sabar dari yang Elsa bayangkan. Marc berbicara dengan sangat lembut meskipun dirinya tidak tahu kesalahan apa yang membuat Elsa marah padanya.


"Marc, Elsa belum mau keluar?" Itu suara Christie.


"Els, buka pintunya." Maverick menggedor pintu kamar adiknya dengan buru-buru. Ia tidak sabar melihat Elsa didalam kamarnya. Apa gadis itu baik-baik saja?


"Maverick, jangan berteriak seperti itu. Ini kan juga salahmu, jadi kau harus lebih sabar menghadapi Elsa," tegur Christie yang ikut kesal melihat tingkah Maverick.


"Kau berbicara apa dengan Elsa, Mack?" tanya Marc.


Maverick cemberut karena semua orang menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tersudut. Ia tadi hanya bercanda, tetapi ia juga tidak tahu jika Elsa akan sekesal ini dengannya dan Marc.


"Tenang, Marc. Tadi aku sudah menghubungi Elsa dan Elsa bilang hanya aku yang boleh masuk kekamarnya, jadi biarkan aku masuk dan mendengarkan Elsa. Kalian para laki-laki tolong diluar dan menunggu," jelas Christie.


Marc menghela nafasnya kesal, ia merasa jengah dengan Maverick. Sebenarnya apa yang dilakukan Maverick sampai adiknya tidak mau bertemu dengan kekasihnya ini?


~~


"Maverick dan Marc sangat khawatir padamu," kata Christie memberi informasi.


Elsa memberenggut. "Aku tidak peduli. Aku kesal dengan mereka berdua. Pertama Marc, kau tahu kan Chris jika Marc belum mempublikasikan hubungan kami ke media."


Christie mengangguk.


"Aku pun juga tidak berani menampakkan diriku sebagai kekasihnya didepan umum, apalagi memposting foto kami berdua di akun instagramku. Aku hanya memposting foto bertiga dengan Maverick atau berempat dengan Alex. Selebihnya, aku tidak berani karena Marc pun tidak melakukan hal itu di akun instagramnya.

__ADS_1


Tadi saat Marc di podium, aku hanya diam di paddock Maverick. Meskipun aku sangat ingin berlari ke podium dan memeluknya karena ini adalah kemenangan pertamanya tahun ini. Aku menahan semua itu karena aku menghargai Marc yang belum mempublikasikan hubungan kami.


Tetapi apa yang aku lihat, wanita itu, Lucia. Wanita yang menggandeng Marc dikantin sirkuit Mugello, berada disana. Semua kamera menyorotnya. Bahkan saat aku melihat live instagram dari fans Marc, fans itu menduga jika Lucia sedang dekat dengan Marc sekarang. Aku kekasihnya, Chriissss. Aku cemburu."


Elsa mulai menangis. Awalnya gadis itu berpikir, jika ia menangisi semua ini hanya akan merugikan dirinya. Tetapi entah kenapa ketika berbagi cerita dengan Christie, ia malah menjadi sangat cengeng.


Christie mengusap-usap bahu Elsa, mencoba menenangkan temannya itu.


"Lalu Maverick. Aku mencoba untuk bercerita padanya tentang seorang gadis yang ada dipodium, tetapi dia malah membuat suasana hatiku semakin memburuk. Katanya, pembalap yang lain jika memiliki kekasih atau istri, dia akan memposting kebersamaan mereka di akun instagramnya. Tetapi Marc tidak.


Maverick menyuruhku untuk memposting kebersamaan kami berdua di akun instagramku. Jika Marc marah, lebih baik putus kata Maverick. Masak punya pacar tetapi disembunyikan."


Elsa memukul-mukul sofa mengingat bagaimana wajah menyebalkan Maverick ketika ia mengatakan hal menyebalkan itu.


Christie menampakkan wajah kesal, marah dan sangat mengerikan. Ia geram dengan Maverick yang bukannya menghibur adiknya, tetapi malah menjadikan suasana semakin memanas.


"Sudah, Els. Aku akan berbicara dengan dua orang itu. Kau jangan menangis lagi ya," ucap Christie menenangkan Elsa.


Elsa menghapus airmatanya dan menarik nafas untuk menenangkan dirinya.


"Oo ya, Chris. Bagaimana kencanmu kemarin?"


Sekarang giliran Christie yang memberenggut. "Itu bukan kencan. Fabio hanya mencari teman untuk pergi ke tempat wisata."


Elsa terkekeh. "Ya, bisa dibilang kencan karena kalian hanya pergi berdua," kata Elsa menggoda temannya ini.


Christie bersedekap. "Tetapi aku senang, Els. Tempat wisata yang aku pilihkan membuat Fabio terkesan dan ia terlihat bahagia," ceritanya sambil tersenyum bahagia.


"Wahh itu awal yang bagus. Berarti selera kalian sama. Itu pertanda jika kalian cocok."


Christie menghilangkan senyuman dari wajah cantiknya. "Kurasa Fabio tidak menyukaiku," katanya sedih.


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Fabio mungkin juga dekat dengan beberapa wanita dan mungkin saja disetiap negara yang ia kunjungi, ia punya teman wanita disana. Barangkali wanita-wanita itu juga dijadikan tour guide baginya."


Elsa mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau tau?"


"Itu hanya tebakanku saja," jawab Christie sedih.


"Kau tidak boleh berpikir seperti itu. Kau harus yakin jika Fabio juga menyukaimu."


Christie kembali tersenyum. "Oo iya Els," kata Christie setelah mengingat sesuatu. "Kemarin saat mengobrol dengan Fabio, ia sempat bertanya padaku tempat yang sangat ingin aku kunjungi tetapi belum bisa ku kunjungi. Lalu aku menjawab Korea. Dan kau tau, Fabio bilang jika kau juga ingin mengunjungi Korea."


Elsa mengerutkan keningnya. "Bagaimana dia bisa tau?"


Christie mengedikkan bahunya. "Aku juga tidak tau. Fabio juga tau jika kau sangat menyukai es krim."


Elsa nampak berpikir. "Mungkin dia sering melihatku makan es krim di paddock Maverick, jadi dia berpikir aku sangat menyukai es krim. Tetapi kalau aku sangat ingin ke Korea, dia tau darimana? Atau mungkin Maverick pernah bercerita pada Fabio?"


Christie menggaruk tengkuknya. "Bisa jadi Maverick yang bercerita."


Elsa mengedikkan bahunya. "Bisa saja sih. Akhir-akhir ini Fabio juga sering mengobrol dengan Maverick, tetapi aku tidak tau apa yang mereka bicarakan."


Christie tersenyum dan mengangguk.


"Kau jangan cemburu padaku ya. Kau kan temanku, tidak mungkin aku merebut pujaan hatimu."


Christie terkekeh mendengar penuturan Elsa. "Tidaakk, aku hanya bertanya saja. Karena kemarin kau masuk dalam topik pembicaraan kami," katanya.


"Lalu kalian bicara apalagi?"


"Dia banyak bertanya tentangku dan Marcel."


Elsa kembali mengerutkan keningnya. Semua yang diceritakan Christie tentang Fabio membuatnya heran dan diluar topik obrolan orang yang sedang berkencan. Aahh yaaa, mereka memang tidak sedang berkencan.


"Bertanya tentang apa?"


"Fabio sangat lucu, dia bertanya apakah aku tidak jatuh cinta pada Marcel. Sedangkan kau tau sendiri kan aku dan Marcel seperti apa. Kami sudah seperti kakak dan adik. Bahkan bisa dibilang Marcel jauh lebih mengerti aku daripada Jonas."


Elsa terkikik geli. "Inilah yang aku tunggu-tunggu."


Christie menatap Elsa tidak mengerti. "Maksudnya?"


"Iya, itu artinya Fabio ingin tau apakah kau ada hubungan spesial dengan Marcel atau tidak? Jika tidak, dia akan mendekatimu."


Christie mengibas-ngibaskan tangannya didepan Elsa. "Jangan mengada-ada, Els. Kau bisa saja membuatku besar kepala."


Elsa tertawa mendengar ucapan Christie. "Aku mencoba membuka pikiran positifmu agar kau tidak terus berpikir bahwa Fabio tidak menyukaimu."

__ADS_1


Christie terkekeh. "Aku hanya tidak mau dihancurkan oleh harapanku sendiri, Els. Kadang apa yang kita harapkan, tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi aku mencoba untuk tidak terlalu berharap pada Fabio."


Elsa tersenyum mendengar ucapan Christie. Christie adalah gadis yang baik. Dia akan mendapatkan laki-laki yang baik pula dan semoga saja Fabio adalah laki-laki baik itu.


__ADS_2