
Maverick berjalan tergesa menuju paddock Repsol Honda. Tadi setelah balapan selesai, Maverick segera mengganti wearpack nya. Ia sangat heran, kenapa adiknya tidak ada di paddock. Kata para kru nya, Elsa keluar paddock karena melihat Marc Marquez terjatuh.
Maverick semakin mempercepat langkahnya saat melihat adiknya berdiri didepan paddock itu. Ia juga melihat manager Marc Marquez berdiri didepannya. Ia mengerutkan keningnya.
"Kenapa Elsa didepan paddock dan tidak masuk?" gumamnya.
Maverick memegang tangan Elsa dan membuat gadis itu terlonjak kaget. "Mack?" serunya panik dan berbalik membelakangi kakaknya ini. Segera ia menghapus airmatanya.
"Hei hei," Maverick membalik badan Elsa menghadapnya. "Kenapa kau menangis?"
Elsa menggeleng. "Aku hanya kelilipan tadi. Banyak debu disini," bohongnya.
"Aku sangat tau saat kau jujur atau sedang berbohong," Maverick mengerutkan keningnya. "Kau kenapa?" tanyanya lagi.
Elsa menatap Emilio sedih. "Emilio, aku pergi dulu. Terima kasih sudah menemaniku," katanya.
Emilio tersenyum dan mengangguk.
Elsa menarik Maverick menjauh dari paddock Marc Marquez. Ia berjalan, terus berjalan menjauhi paddock Repsol Honda itu.
Maverick hanya pasrah tangannya ditarik oleh adik kembarnya. Menunggu Elsa berhenti sendiri dan menjelaskan kenapa gadis itu menangis, pasti sesuatu telah terjadi sampai adiknya menangis.
Elsa masuk kedalam paddock Maverick dan masih menarik tangan kakaknya. Kemudian ia menyuruh Maverick duduk dan ia mengemasi barang-barangnya.
"Ada apa, Els?" tanya Maverick untuk kesekian kalinya.
Elsa hanya diam saja.
Pria itu menghela nafas dan membantu adiknya berkemas.
"Kita pulang sore ini."
Maverick terkejut mendengar ucapan Elsa. "Tapi..."
"Kita pulang sore ini." Elsa menegaskan sekali lagi.
"Kau bilang kau ingin keliling Italia dulu. Makan pizza, pasta, seperti keinginanmu kemarin. Seperti itu kan?"
Maverick mencoba mengingatkan Elsa dengan keinginan gadis itu sebelum datang kesini. Gadis itu memang ingin jalan-jalan di Italy, menyicipi makanan di negara itu. Tetapi kenapa tiba-tiba adiknya berubah pikiran?
"Aku ingin pulang," kata Elsa.
"Tapi Els..,"
"Aku ingin pulang ya pulang," katanya lagi. Kali ini nada suaranya sedikit meninggi.
Maverick mendengus. "Baiklah," katanya pasrah.
Kemudian ia membantu Elsa mengemasi barang-barang miliknya.
~~
Emilio memperhatikan Marc yang baru saja keluar dari ruang gantinya. Wajah pria itu sudah lebih tenang daripada tadi saat ia kembali ke paddock. "Kau sudah lebih baik?" tanya Emilio.
"Apa Elsa masih disini?" tanya Marc tanpa menjawab pertanyaan Emilio.
"Untuk apa disini? Untuk kau bentak lagi?" sindir Emilio.
Marc menghela nafas kasar. "Aku tidak bermaksud membentaknya," katanya merasa bersalah.
Emilio menepuk pundak Marc. "Seharusnya, mau serumit apapun balapan yang sedang kau hadapi saat ini, jangan pernah melampiaskan itu kepada Elsa." Ia mencoba memberi nasehat pada pria didepannya.
Marc meremas rambutnya frustasi. "Sebelum aku jatuh, aku teringat apa yang Elsa katakan padaku saat didepan paddock Yamaha," cerita Marc. "Dia bilang aku bukan siapa-siapanya," lanjutnya.
Emilio mengerutkan keningnya. "Apa yang membuat Elsa mengatakan itu? Tidak mungkin kan, Elsa mengatakan itu tanpa alasan."
"Tadi...,"
"Marc?" seorang wanita memanggil Marc.
Marc dan Emilio menoleh ke sumber suara. Emilio mengerutkan keningnya. "Kau belum pulang?" tanya Emilio pada wanita itu.
Lucia tersenyum. "Belum. Aku menunggu Marc," jawabnya.
Alis Marc bertaut, ia menghela nafas. Lucia, gadis ini yang membuat Elsa cemburu hingga Elsa mengatakan kata-kata yang sangat menyakiti Marc.
"Emilio, apa Alex tadi kesini?"
Marc mengabaikan keberadaan Lucia.
"Oh iya, dia menunggumu dikantin," jawab Emilio. Ia hampir saja lupa jika tadi Alex kesini dan menitip pesan untuk Marc.
"Baiklah. Aku pulang dulu."
Marc menepuk lengan Emilio dan berjalan melewati Lucia.
Emilio menatapnya heran. Kemudian ia hanya mengedikkan bahunya karena memang tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Marc.!!" panggil Lucia dan berlari mengejar Marc.
♡♡⁹³♡♡
"Els, kau benar-benar tidak mau cerita padaku?" Maverick mencoba membujuk adiknya lagi.
"Aku tidak apa-apa, Mack," jawab Elsa sambil memasukkan barang-barang kedalam kopernya.
__ADS_1
Maverick menghela nafas panjang. "Kau selalu saja tidak mau cerita masalahmu padaku," gerutu Maverick kesal.
Elsa menghentikan kegiatan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. "Jika aku cerita, kau pasti akan marah. Aku tidak mau itu terjadi," katanya.
"Memangnya apa?"
Elsa berjalan mendekati Maverick dan memeluknya. Gadis itu membenamkan wajahnya didada bidang Maverick.
"Mack, berikan aku kesempatan untuk menyelesaikan masalahku sendiri," kata Elsa.
"Tapi Els...,"
"Kumohon."
Elsa mempererat pelukannya.
Maverick membalas pelukan adiknya. Mendekapnya dengan begitu erat.
"Baiklah. Aku mengerti."
~~
"Biar aku saja yang membawa kopermu, Els." kata Maverick.
Elsa tersenyum. "Kau sudah membawa ransel, biar aku saja yang membawa ini. Lagipula ini tidak berat kok." Ia menolaknya.
"Baiklah adikku yang sedang ingin mandiri. Aku menurut saja."
Elsa terkekeh mendengar ucapan Maverick. Ia menurunkan kacamata hitam yang tadi ia kenakan diatas kepalanya dan kemudian berjalan menuju lift. Diikuti Maverick dibelakangnya.
Saat lift terbuka, mata Elsa langsung dihadapkan oleh sosok yang baru beberapa jam lalu berani membentaknya. Marc Marquez. Pria itu bersama Alex, ayahnya dan juga temannya, Jose. Marc berjalan dilobi hotel dan hendak menggunakan lift untuk menuju ke kamarnya.
Elsa keluar dari lift. Ia berjalan melewati Marc begitu saja. Tanpa menoleh, tanpa sedikitpun melirik pria itu, apalagi menyapanya.
Maverick yang melihat kejadian itu, hampir tidak percaya. Elsa mengabaikan Marc? Ada apa? Apa ada hubungannya dengan Elsa yang menangis didepan paddock Marc? Apa Marc yang membuat Elsa menangis?
Marc membalikkan badannya. Ia terus menatap punggung Elsa yang semakin menjauh. Ia menghela nafas berat.
"Kenapa Elsa menangis?" Maverick langsung melabrak Marc.
Marc hanya menatap Maverick, matanya menyorotkan kesedihan. Ia benar-benar merasa bersalah pada Elsa. Emilio benar, tidak seharusnya ia membentak gadis itu.
"Elsa menangis didepan paddock mu dan tiba-tiba dia meminta untuk segera pulang. Pasti sesuatu terjadi padanya saat dia berada di paddock mu," tuduh Maverick yang merasa tidak terima.
Alex menarik Marc ke belakang. Sekarang, ia yang berada didepan Maverick. "Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Elsa?"
Maverick tidak menggubris Alex. Ia menatap tajam Marc yang berada dibelakang adiknya itu.
"Mack?" Elsa memanggil Maverick dengan sedikit berteriak. Maverick menoleh. "Kita sudah terlambat, Mack," serunya lagi.
"Kenapa berhenti?" tanya Elsa.
Maverick tersenyum. "Tidak. Tidak apa-apa," jawabnya.
Elsa menoleh ke belakang Maverick. Marc masih berdiri di lobi hotel dan masih terus menatapnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan sedih, tetapi Elsa tidak peduli. Ia kecewa kenapa Marc harus membentaknya hanya karena Elsa tidak mau meninggalkan Marc sendirian.
♡♡⁹³♡♡
Alex hampir memukul muka Marc kalau saja tidak ada Jose disini. Wajah pria itu merah padam, menahan emosi.
"Kau bilang kau mencintainya, tapi kau membentaknya. Dimana letak otakmu, ha?" teriak Alex yang kesal karena baru saja mendengar Marc menceritakan kenapa tadi Elsa sempat mengabaikannya.
"Kau tidak tau betapa kesalnya aku saat Elsa bilang aku bukan siapa-siapa untuknya." Marc membela diri.
"Memangnya kau siapanya Elsa?" tanya Alex sambil menunjuk Marc. "Kau pacarnya?" sindir Alex. "Kau saja tidak ada keberanian untuk menyatakan perasaanmu itu."
Marc hanya diam mendengar ucapan Alex yang sangat menohoknya. Alex benar, bahkan Marc belum menyatakan perasaannya. Jadi, atas dasar apa pria itu merasa tersinggung dengan ucapan Elsa?
"Marc, sebelum kau membentak Elsa, berkacalah dulu. Elsa tidak akan mengatakan itu jika kau menyatakan perasaanmu dan memberinya kepastian." Setelah mengatakan itu, Alex berjalan menuju pintu kamar. "Oh dan satu lagi, Maverick adalah kakak yang sangat menyayangi adiknya. Kufikir dia tidak akan tinggal diam jika tau kau membentak adiknya."
BRAK!! Alex menutup pintu kamar itu dengan kasar.
Jose dan Julia, ayah Marc dan Alex, tidak mampu berbuat apa-apa melihat kedua pria itu bertengkar. Mereka hanya mampu menghalangi Alex saja agar tidak memukul Marc.
"Aaaakkkhhh..!!" teriak Marc sambil menjambak rambutnya sendiri, lalu kakinya menendang sofa.
♡♡⁹³♡♡
@Barcelona, Spanyol
"Elsa," teriak Maverick saat adik kembarnya itu langsung masuk kedalam rumah setelah mobil mereka terparkir rapi digarasi rumah.
Angel Vinales, ayah dua anak kembar itu, mengerutkan keningnya melihat anak perempuannya yang bersikap tidak biasa. Biasanya setelah dari bandara, Elsa akan membantu menurunkan kopernya. Tetapi hari ini, anak perempuannya itu justru langsung masuk kedalam rumah.
"Adikmu kenapa, Mack?" tanya Angel kepada Maverick.
Maverick menatap ayahnya sedih. "Sepertinya Marc sudah membuat Elsa marah, ayah. Tapi aku tidak tau kenapa," jawab Maverick.
Angel menghela nafas. "Masuklah. Temani adikmu," suruhnya pada Maverick.
"Iya, ayah."
Maverick setengah berlari masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamar Elsa. Ia membuka pintunya dan mendapati adiknya itu sedang berbaring diranjangnya sambil memainkan ponsel.
Maverick tersenyum saat Elsa menoleh. "Boleh aku masuk?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku sedang ingin sendiri," kata Elsa.
"Kau kenapa?" tanya Maverick lagi. Tak ada jawaban dari gadis itu. "Kau ingin makan es krim? Atau minum bubble tea kesukaanmu? Atau kau ingin makan pizza yang super besar? Aku akan mentraktirmu."
Elsa bangun dan duduk diatas ranjangnya. Ia melihat Maverick yang berdiri didepan pintu kamarnya. Ia tidak tega jika Maverick sudah menawarkan banyak hal seperti tadi. Itu artinya Maverick benar-benar ingin menemani Elsa dan tidak mau meninggalkan gadis itu.
"Kau serius ingin mentraktirku?" tanya Elsa pura-pura tertarik dengan tawaran Maverick.
Sebenarnya ia tidak tertarik dengan semua yang ditawarkan Maverick. Hanya saja, ia tidak sanggup mengabaikan kakak kembarnya itu. Ia sedang marah dengan Marc, tidak seharusnya Maverick ikut ia abaikan kan?
"Ya. Kau mau?" Maverick terlihat bahagia.
Elsa tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan Maverick.
"Pakai jaketmu," perintah Maverick. "Kutraktir makan dan minum sepuasmu."
Segera Elsa mengambil jaketnya yang tadi ia gantungkan digagang pintu lemarinya.
"Ayo, Mack."
Dua anak kembar itu segera menuruni tangga dan berpamitan kepada ayah mereka untuk keluar sebentar.
~~
@Bandara Internasional Barcelona
Marc duduk dibandara di Barcelona dengan memegang paspornya. Ia memutuskan pulang malam-malam hanya karena ia merasa sangat tidak tenang berada dihotel. Ia terus kepikiran dengan gadis itu. Setiap kali ia mengingat Elsa, rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya.
Sebenarnya tadi Jose menawarkan diri untuk menemaninya, tetapi Marc tidak mau. Ia ingin pulang sendiri.
Pria itu berdiri dan menarik kopernya keluar bandara. Ia ingin segera sampai dirumahnya dan langsung kerumah Elsa. Malam ini juga.
"Ibu, aku sudah dibandara. Aku segera kerumah sekarang," katanya sambil menempelkan ponsel ditelinganya.
"..."
"Maaf bu, membuatmu khawatir."
"..."
"Tak apa bu, aku tetap akan kerumahnya malam ini."
"..."
"Ibu mau kubelikan apa?"
"..."
Marc tampak tersenyum. "Baiklah. Sampai jumpa dirumah," katanya mengakhiri panggilan.
Marc segera menuju mobilnya yang terparkir ditempat parkir bandara. Pria itu segera menjalankan mobilnya menuju rumah.
~~
Setelah memarkirkan mobilnya dihalaman rumah, Marc langsung menuju rumah Elsa. Pria itu melihat jam ditangannya sebentar. Sudah jam 11 malam. Apa Elsa masih terjaga?
Tak peduli dengan itu, Marc tetap menekan bel disamping pagar rumah Elsa. Belum ada tanda-tanda sang penghuni rumah membukakan pintu.
Marc berdecak. Apa ia harus menghubungi Maverick? Tidak. Tadi saja, saat ia berpapasan dengan Maverick di lobi hotel, Maverick tampak kesal padanya karena membuat Elsa menangis.
Lampu diruang tamu Elsa menyala. Membuat Marc tersenyum lebar. Lalu ia menekan bel dipagar lagi. Pintu rumah itu terbuka dan seorang pria setengah baya keluar dari sana.
"Paman," teriak Marc memanggil.
"Marc?" tanya Angel yang tahu bahwa suara itu adalah suara Marc.
"Iya paman, ini aku."
Pria itu segera menghampiri pagar rumahnya dan membukanya. "Hei, ada apa malam-malam begini? Mau bertemu Maverick?" tanyanya heran yang melihat Marc malam-malam bertamu kerumahnya.
"Bukan paman. Apa Elsa sudah tidur?"
Kening Angel berkerut. "Elsa?" tanyanya memastikan.
"Iya, paman," jawabnya.
"Lampu kamarnya sudah padam, kufikir dia sudah tidur."
Marc menundukkan kepalanya. "Aku boleh meminta tolong, tidak?" tanya Marc ragu.
Angel tersenyum dan mengangguk.
"Minta tolong untuk melihat kekamar Elsa, paman. Apa dia sudah tidur atau belum?"
Angel menautkan alisnya. "Apa harus sekarang?"
Marc menunjukkan wajah memohonnya. "Kumohon, paman. Aku benar-benar harus bertemu Elsa sekarang. Aku tidak mau menunggu besok."
"Kalian berdua sedang bertengkar?"
Marc menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya.
"Pulanglah, Marc. Besok datang lagi kesini. Elsa pasti sudah tidur."
Marc memegang tangan Angel, meminta tolong. "Paman, aku tidak bisa tidur malam ini jika tidak bertemu dan meminta maaf pada Elsa," katanya. "Kumohon, paman. Hanya melihat saja, apa Elsa sudah tidur apa belum? Jika sudah, aku janji, aku akan pulang."
__ADS_1
Angel menghela nafasnya berat. "Baiklah. Masuklah dulu," Angel mempersilakan Marc masuk dan menyuruhnya menunggu diruang tamu rumahnya. Kemudian ia berjalan menaiki tangga menuju kamar anak perempuannya.