
Marc membukakan pintu mobilnya untuk Elsa. Gadis itu tersenyum dan keluar dari mobil. Ia termangu melihat bangunan tua nan modern didepannya.
"Ini rumah kakek dan nenekmu?" tanya Elsa
Marc mengangguk. "Mereka pasti senang melihatmu."
"Kakek dan nenekmu mengenalku?l
Marc tersenyum. "Aku selalu bercerita tentangmu pada mereka," jawab Marc.
"Marc." Seorang wanita tua yang masih terlihat sangat sehat berdiri didepan pintu rumah. "Kau kah itu, nak?"
Marc tersenyum mendengarnya. Ia menarik pelan tangan Elsa untuk mendekat pada sang nenek.
"Grandma," panggil Marc. "Ya, ini aku."
Tampak sebuah senyuman dibibir wanita tua itu.
"Hei Marc, kau datang kesini pagi sekali." Suami dari nenek Marc pun keluar dan memeluk pinggang sang istri.
"Iya, grandpa. Aku hanya ingin menikmati udara pagi hari," jawab Marc.
l
Nenek Marc mendekati Elsa dan memeluknya. "Aku sangat senang bertemu denganmu, nak," ucapnya. "Kau cantik sekali."
Elsa masih bingung, tetapi ia tetap tersenyum dan membalas pelukan itu.
Nenek Marc melepaskan pelukan itu. "Ketika Marc kesini, ia selalu bercerita tentangmu. Selalu saja tentangmu," katanya dan membuat Elsa tersenyum malu" "Ayo masuk nak, biar barang-barang kalian dibawa oleh Marc dan grandpa."
Elsa menatap Marc, meminta persetujuan dan pria itu pun mengangguk sambil tersenyum.
Nenek Marc memegang tangan Elsa dan membawanya masuk kedalam rumah. Wanita tua itu menyuruh Elsa untuk duduk di sofa ruang tamunya, sedangkan nenek Marc akan membuat minum.
"Eum grandma," panggil Elsa.
Wanita tua itu menoleh, "ya?"
"Aku akan membantumu membuat minuman," ucapnya sambil menghampiri nenek Marc dan mengajaknya ke dapur. "Dapurnya sebelah mana, grandma?" tanya Elsa sopan.
"Disana, nak. Masuk ke pintu itu," jawabnya sambil menunjuk pintu coklat didepan mereka.
Elsa mengangguk dan kembali berjalan pelan bersama nenek Marc.
Sedangkan diluar rumah, Marc dan kakek Marc sedang menurunkan semua barang-barang yang Marc dan Elsa bawa. Ada banyak makanan juga yang membuat kakek Marc menggelengkan kepalanya.
"Kau membawa banyak sekali makanan, Marc," kata pria tua itu.
"Yeah, kita bisa membagikannya kepada tetangga juga, grandpa."
Kakek Marc pun membawa sebagian makanan masuk kedalam rumah. Sedangkan Marc, ia membawa barang-barangnya dan Elsa. Kemudian pria tampan itu keluar lagi dan membawa sebagian lagi makanan yang masih berada dimobil.
"Waaahh gadis-gadis cantikku, terima kasih sudah membawa minuman untuk kami," canda Marc setelah masuk kedalam rumah dan membuat nenek Marc pun tertawa.
Setelah meletakkan minuman diatas meja, wanita tua itu pun memukul pelan tubuh Marc. "Kau pikir, grandma mu ini masih gadis?" Nenek Marc berpura-pura marah. Ia tidak bisa menahan tawanya.
Marc tertawa lebar dan Elsa senang melihat itu. Marc bisa tertawa lepas disini, seperti tidak ada beban. Ya, ia sangat tahu jika Marc beberapa bulan terakhir ini memang terlihat stress. Apalagi masalah cederanya.
"Haha, Marc memang suka begitu, selalu saja menggoda grandma nya," kata kakek Marc.
Elsa hanya tersenyum melihat tingkah Marc yang memang sangat manja dengan neneknya. Ia pun menggelengkan kepalanya dan mengambil minumannya, lalu meminumnya.
"Kenapa Alex tidak ikut, Marc?" tanya kakek Marc.
"Tidak grandpa, jika dia ikut, dia akan mengganggu waktu kami berdua," jawab Marc sambil menatap Elsa dan mengedipkan satu matanya.
Elsa menggelengkan kepalanya, meskipun raut wajahnya tidak bisa berbohong, ia tersenyum malu.
"Ajak Elsa berkeliling Cervera, Marc. Kekasihmu harus tau dimana dulu seorang Marc Marquez bermain ketika kecil," kata nenek Marc.
Marc mengangguk. "Aku pasti akan mengajak Elsa berkeliling Cervera, grandma." Pria itu menatap Elsa dan tersenyum. "Oo ya, aku membawakan makanan untuk sarapan. Ayo kita sarapan bersama."
Marc berdiri dan mengambil empat box makanan didalam satu plastik yang lumayan besar. Ia membawanya ke dapur.
Elsa berdiri dan meminta ijin kepada kakek dan nenek Marc untuk membantu Marc menyiapkan sarapan. Sepasang suami istri itu pun mengangguk dan tersenyum pada gadis cantik didepannya.
"Kakek dan nenekmu sangat baik," kata Elsa.
__ADS_1
Marc tersenyum dan mengusap rambut kekasihnya. "Mereka menyukaimu," katanya.
"Aku senang semua orang baik padaku." Elsa mengambil empat piring.
"Ya, karena kau juga baik pada semua orang. Kau berhak mendapatkan semua itu."
Marc dan Elsa saling melempar senyuman.
"Kau ingin mengajakku kemana hari ini?" tanya Elsa.
"Kita kerumahku dulu, sudah lama aku tidak melihat kesana."
Elsa mengangguk antusias. "Rumahmu jauh dari sini?" tanya Elsa.
Marc menggeleng. "Belakang rumah ini," jawabnya. "Hanya lima menit jika memakai motor."
"Kenapa harus memakai motor?"
"Ya, karena kami tidak memiliki jalan kecil disini, jadi kita harus memutar."
Elsa mengangguk mengerti. "Oo ya Marc, boleh aku meminjam ponselmu? Untuk memberi kabar kepada Maverick. Ponselku mati, aku lupa mengisi baterainya semalam."
Marc tersenyum dan mengangguk. "Tentu sayang," katanya sambil mengambil ponsel itu di saku celana. Kemudian menyerahkannya pada Elsa.
~~
"Sebenarnya lebih asyik ke Andorra daripada Ibiza," kata Alex sambil berdiri dan memakan camilan milik Maverick.
"Andorra akan lebih bagus jika kita berlibur setelah akhir musim. Ibiza lebih bagus jika musim panas," ucap Maverick tak mau kalah.
"Ahh masak?"
Maverick memukul wajah Alex dengan bantal karena menurutnya itu sangat menyebalkan. Alex pun membalas pukulan Maverick dengan bantal pula. Terjadilah perang bantal dikamar dengan corak biru terang ini.
Sampai getaran sebuah ponsel pun menghentikan aksi mereka. Maverick pun mencari-cari dimana ponselnya.
"Minggir kakimu," kata Maverick saat melihat ponselnya dibawah kaki Alex. "Hallo Marc, ada apa dengan Elsa?" Wajah Maverick berubah khawatir karena yang menghubunginya adalah Marc bukan Elsa.
"Hei, ini aku. Aku lupa mengisi baterai ponselku, jadi ponselku mati. Aku meminjam ponsel Marc untuk menghubungimu," kata Elsa.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja." Maverick menghela nafas lega. "Bagaimana disana? Kau suka suasananya?" tanya Maverick.
"Berani kau tidak pulang? Akan kubawakan semua pakaianmu ke Cervera." Maverick membalas candaan Elsa.
"Maverick!!!! Kau mengusirku, hah?!!!!!!" Elsa berteriak.
Maverick terkekeh. "Kau sendiri yang tidak mau pulang," katanya masih menggoda Elsa. Ia membayangkan wajah adiknya pasti sangat lucu saat ini.
Terdengar suara kekehan Marc diseberang sana.
"Oo ya, kau sedang apa sekarang?" tanya Elsa.
"Akuuu... sedang memesan villa untuk tempat menginap kita di Ibiza dan aku bersama Alex sekarang," jawab Maverick. "Sejak pagi kalian berangkat, aku menyuruh Alex kerumah. Untuk membantuku mencari villa di Ibiza. Aku juga sedang melihat-lihat tempat wisata disini. Barangkali ada yang kau suka dan kau ingin kesana. Kita bisa berpisah dari rombongan dan pergi ketempat yang kau suka. Aku akan menemanimu."
"Thanks, Mack. Aku tau kau selalu memikirkanku. I love you to the bone."
Maverick tersenyum mendengar ucapan adiknya. "I love you too," jawabnya.
"Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kakek dan nenek Marc. Pasti mereka sudah menunggu. Nanti akan kuhubungi lagi."
Maverick mengangguk dan tersenyum meskipun Elsa tidak tahu itu. "Baiklah. Have fun disana. Salam untuk Marc dan juga untuk kakek dan nenek."
"Ya, akan aku salamkan. Bye Mack," kata Elsa.
"Bye baby," kata Maverick dan menutup teleponnya.
"Mereka sudah sampai?" tanya Alex. Maverick mengangguk. "Apa katanya tentang Cervera?"
Maverick mendongak menatap Alex yang berdiri. "Aku baru melihat rumah kakek dan nenek Marc saja sudah senang, apalagi berkeliling Cervera, aku mungkin tidak mau pulang," ucap Maverick sambil mempraktekannya mirip dengan suara Elsa.
Alex tertawa. "Dia akan menyukai Cervera, aku yakin itu."
Maverick mengedikkan bahunya. "Setidaknya jika ia sangat menyukai Cervera, dia harus ingat pulang," seru Maverick kesal.
Alex semakin tertawa melihat raut wajah Maverick yang kesal.
~~
__ADS_1
Elsa membuka sebuah pesan diponselnya, ia tersenyum dan mengetik sesuatu untuk membalasnya. Kemudian ia menyimpan kembali ponselnya dikantung celana.
Ia duduk dikursi depan rumah kakek dan nenek Marc, menunggu Marc yang sedang pergi ke kamar mandi. Ia menatap sebuah pantai yang langsung bisa dilihat didepan rumah tua ini. Suara deburan ombak pun terdengar jelas. Marc berjanji akan mengajaknya kesana.
"Kau tersenyum setelah mendapat sebuah pesan, ada apa?" Suara Marc yang sarat akan kecemburuan terdengar dibelakang Elsa. "Pesan dari siapa?" tanyanya lagi.
Elsa tertawa. "Bukan dari siapa-siapa," ucapnya yang berniat mengerjai Marc.
Wajah Marc berubah tidak suka karena Elsa tidak memberitahunya. "Bawa kemari ponselmu," perintah Marc.
"Hei, kau marah?" tanya Elsa untuk menggoda Marc.
"Tidak. Aku hanya ingin tau, siapa yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri setelah menerima pesan."
"Kau cemburu?"
"Ya Tuhan. Tidak, Els. Aku hanya ingin memastikan kalau tidak ada pria lain yang bisa membuatmu tersenyum seperti tadi."
Elsa terkekeh mendengar ucapan Marc. "Katakan dulu jika kau cemburu, baru aku kasih lihat ponselku."
"Aku tidak cemburu," kata Marc yang wajahnya mulai memerah.
"Jika yang memberi pesan adalah laki-laki tampan, bagaimana?"
Marc menoleh pada Elsa dan memanyunkan bibirnya, tanda ia tidak suka.
Elsa terkikik geli melihat ekspresi Marc yang menurutnya sangat menggemaskan. "Kau cemburu kan?" tanyanya semakin menggoda Marc.
"Tidak, sayang. Katakan siapa yang memberimu pesan."
"Christie," ucap Elsa yang membuat Marc terdiam.
"Berikan ponselmu," perintah Marc kembali.
Elsa semakin tertawa. "Kau tidak percaya padaku?"
"Kau bilang laki-laki tampan," seru Marc kesal karena Elsa mengerjainya.
Elsa mengambil ponselnya disaku celana dan menunjukkan pesan yang tadi ia baca. "Christie yang memberiku pesan. Dia bilang dia akan ikut liburan ke Ibiza karena Jonas menyetujui ajakan Marcel," katanya sambil menjelaskan pesan singkat yang dikirimkan temannya itu.
Marc terlihat menghela nafas lega. Ternyata Christie yang mengirim sebuah pesan pada Elsa. Hanya saja, Marc menangkap sebuah pesan dari Christie yang sedang membicarakan tentang Fabio. Marc mengerutkan keningnya.
"Fabio siapa?" tanya Marc sambil menatap Elsa. Pria itu menuntut sebuah jawaban.
"Hei, kau membaca pesan yang lain yaa," protes Elsa.
"Kau menyodorkan ponselmu untuk kubaca, jadi mataku kemana-mana untuk membaca lebih dalam," kata Marc tidak mau kalah.
"Marc Marquez," seru Elsa sambil memukul-mukul lengan Marc.
Marc tertawa melihat wajah kesal Elsa. Kemudian ia menangkap tangan Elsa untuk berhenti memukulnya. "Katakan, Fabio siapa dan kenapa Christie terus membicarakannya disetiap pesannya?"
Elsa tersenyum dan menyuruh Marc duduk. "Sebenarnya aku tidak boleh bercerita dengan siapapun. Tetapi kau harus janji, jangan menceritakan kepada siapapun termasuk Maverick dan Alex," kata Elsa memperingatkan Marc.
Marc menunjukkan jari tengah dan telunjuknya, tadi ia berjanji tidak akan memberitahu siapapun.
"Christie menyukai Fabio. Fabio Quartararo," kata Elsa yang membuat Marc mengerutkan keningnya. "Tetapi kami tidak tau apakah Fabio menyukai Christie atau tidak. Kami berniat mencari tau tentang Fabio, lewat Maverick, karena Maverick adalah rekan satu tim Fabio. Lagipula Mack juga dekat dengan Fabio.
Tetapi kufikir Christie mempunyai Marcel untuk bertanya tentang Fabio dan sepertinya Marcel lebih dekat dengan Fabio daripada Maverick."
Marc terdiam setelah mendengar cerita Elsa. Keningnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Marc?" tanya Elsa.
Marc tersenyum dan menggeleng. "Els," panggilnya.
Elsa tersenyum dan bertanya, "ada apa?"
"Jangan terlalu dekat dengan Fabio," jawab Marc yang membuat Elsa sedikit terkejut.
"Ada apa?"
"Tidak. Aku tidak mau kau terlalu dekat dengan pria lain."
"Marc, yang menyukai Fabio adalah Christie. Jadi tidak mungkin jika aku...."
"Aku hanya menginginkan agar kau tidak terlalu dekat dengan Fabio. Meskipun itu hanya sebatas mencari tau tentangnya dan meskipun itu hanya membantu Christie."
__ADS_1
Elsa tetap tersenyum, walaupun ia tidak tahu alasan Marc. Ia tahu Marc cemburu meskipun pria itu tidak mau bilang. Ia meraih tangan Marc dan mengelusnya. "Ya, aku tidak akan terlalu dekat dengan Fabio, Marc. Jangan khawatir ya."
Marc tersenyum, senyum yang dipaksakan. Alisnya masih berkerut, ia masih memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi juga.