FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
Part 3


__ADS_3

Elsa berdiri sambil melihat Maverick yang sedang berdiskusi dengan timnya. Hari ini adalah race day, balapan sesungguhnya akan segera dimulai dan saudara kembarnya akan start diposisi ke 13. Ya, itu cukup jauh. Terlalu jauh malah.


Tetapi lihatlah, teammate Maverick, Fabio Quartararo, pria itu mampu merebut pole position. Fabio umurnya lebih muda dari Maverick dan ini adalah tahun keduanya berada di MotoGP, hanya saja ia sangat cepat beradaptasi dengan motornya.


Elsa berjalan keluar paddock untuk menemui Marc Marquez di paddock Repsol Honda. Hanya saja, Christie mengejutkannya. Gadis itu tiba-tiba muncul didepannya dan langsung menariknya keluar dari paddock itu.


"Hei Christie, ada apa?" tanya Elsa heran karena Christie benar-benar membuatnya terkejut.


Christie senyum-senyum sendiri sambil menatap Elsa. "Kau...," ucapnya sambil menunjuk ke dada Elsa. "Benar-benar beruntung bisa mengenal Marc Marquez. Dia mewujudkan keinginanmu, berkeliling sirkuit MotoGP dengan motor Marc yang sangat berat itu." Gadis itu berbicara dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya untuk menggoda Elsa.


Elsa ikut tersenyum mendengar penuturan temannya ini. "Kau tau, aku butuh perjuangan untuk mendapatkan ijin dari Maverick."


"Aaaakkhh.... aku sangat iri. Kira-kira siapa yang akan meminta ijin Jonas ya, agar aku bisa berkeliling sirkuit dengan motor 1000cc?"


Elsa tertawa mendengarnya. "Jorge Lorenzo," celetuk Elsa asal.


Christie memanyunkan bibirnya. "Tidak mungkin dia bisa meyakinkan Jonas. Bahkan aku ragu dia masih bisa mengendarai motor setelah hampir dua tahun pensiun."


Elsa tertawa mendengar ucapan temannya itu. Tetapi tawa itu menghilang karena melihat ke belakang Christie.


"Christie awas..!!!"


Belum sempat Elsa menarik Christie, seseorang sudah menarik gadis itu. Yang bersangkutan pun terkejut sekaligus heran. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi padanya.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Elsa khawatir. Ia menghampiri Christie yang masih dipegangi oleh seorang pria.


"Memangnya ada apa? Aku benar-benar terkejut. Tiba-tiba kau berteriak dan aku ditarik oleh se...," Christie membelalakkan matanya. Ia terkejut dua kali.


Pria yang menarik Christie tersenyum, lalu berkata, "tadi kau hampir tertabrak motorku. Maafkan paman mekanikku karena tidak melihatmu dibelakangnya." Pria itu menunjukkan wajah menyesalnya. "Dan maafkan aku juga karena tiba-tiba menarikmu sampai kau terkejut," lanjutnya.


Tidak ada jawaban dari Christie. Gadis itu malah menatap pria didepannya dengan penuh kekaguman.


"Christie," seru Elsa memanggilnya dan menyadarkan Christie dari kekagumannya menatap pria muda didepannya.


"Hm, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," kata Christie.


"Christie," panggil Jonas khawatir saat diberitahu bahwa adiknya hampir celaka. "Kau tidak apa-apa? Mana yang terluka?" tanyanya.


Christie tersenyum. "Jonas, tenanglah. Aku baik-baik saja," jawabnya santai.


"Jonas, kau mengenalnya?" tanya pria yang tadi menolong Christie.


Jonas menoleh dan mengangguk, wajahnya terlihat sedikit tidak suka. "Dia adikku. Lain kali, tolong hati-hati. Adikku hampir celaka karena mekanikmu, Fabio," ucap Jonas ketus pada laki-laki bernama Fabio itu.


"Jonas, aku tidak apa-apa." Christie mencoba meyakinkan Jonas agar kakaknya itu tidak bersikap ketus lagi dengan pria tampan yang akhir-akhir ini membuatnya berbunga-bunga.


Elsa mengamati ekspresi Christie. Temannya itu seperti sedang berusaha agar Jonas tidak marah dengan rekan satu tim Maverick ini.


Elsa mengernyit. "Jangan-jangan Fabio adalah pembalap yang Christie suka," gumamnya.


"Ayo kembali ke paddock ku," perintah Jonas.


Christie memanyunkan bibirnya. "Aku masih ingin mengobrol dengan Elsa."


Jonas menghela nafas kasar. "Iya, tapi nanti ya. Kau hampir saja celaka, kita lihat dulu apakah ada luka serius atau tidak?" Jonas berbicara hati-hati pada adik kembarnya ini agar Christie tidak merasa Jonas memaksanya.


Christie menatap Elsa, meminta bantuan agar gadis yang lebih muda darinya itu menolongnya.


Elsa tersenyum, lalu berkata, "menurutlah dengan kakakmu. Nanti aku yang akan ke paddock Jonas. Kita mengobrol disana."


Gadis berkebangsaan Jerman itu menghela nafas pasrah. "Baiklah. Aku tinggal dulu ya, Els," katanya.


Elsa mengangguk dan tersenyum.


"Gadis itu temanmu, Els?" tanya Fabio pada Elsa.


Elsa mengangguk.


"Dia benar-benar mirip dengan Jonas. Jonas versi wanita. Hanya saja, wajahnya lebih imut," kata Fabio.

__ADS_1


Elsa menggelengkan kepalanya sambil cekikikan. "Jangan suka mengomentari seseorang. Nanti kau bisa suka padanya," goda Elsa pada rekan satu tim Maverick ini.


Fabio memajukan bibirnya, berpikir. "Tak apalah suka dengan adik Jonas. Dia cantik, tapi sayang sekali, kakaknya posesif."


Elsa tertawa mendengar ucapan Fabio. "Pilih aku yang bilang ke Jonas atau kau bilang sendiri padanya?" lagi-lagi Elsa menggoda Fabio.


"Eheemm."


Sebelum Fabio membalas godaan Elsa, seseorang menghentikannya.


Fabio dan Elsa menoleh ke sumber suara. Ternyata itu adalah Marc Marquez. Pria itu menatap tidak suka pada Fabio.


"Marc?" Elsa menatap Marc terkejut.


"Jangan coba-coba untuk menggoda pria lain, Els." Marc memperingatkan.


Elsa tertawa. "Kenapa? Kau cemburu yaa?" godanya.


"Ten...."


"Marc, ternyata kau disini? Aku mencarimu dari tadi."


Belum selesai Marc menjawab Elsa yang sedang menggodanya, gadis yang kemarin Elsa lihat dikantin, sudah ada disamping Marc. Elsa menatap tidak suka pada gadis itu. Ia juga menatap Marc dengan pandangan kesal.


Marc menghela nafas. Kenapa Lucia tiba-tiba berada disini?


Elsa langsung berpaling dari Marc. Ia berpura-pura berbincang dengan Fabio.


Fabio yang mendapat kode untuk pura-pura berbincang dengan gadis itu, sempat bingung. Tetapi akhirnya ia mengerti kode dari gadis itu.


"Els," panggil Marc seperti sebuah rengekan. "Jangan terlalu dekat dengan Fabio."


Elsa menepis tangan Marc yang memegang bahunya. "Kau tidak ada hak untuk melarangku. Memangnya kau siapa? Kau bukan siapa-siapa," bentak Elsa yang membuat Marc terkejut mendengarnya.


Bukan hanya Marc, Fabio yang tidak tahu apa-apa pun terkejut karena tiba-tiba Elsa berteriak pada Marc. Ia pikir kode dari Elsa hanya untuk menggoda Marc.


Marc terdiam mendengar bentakan Elsa. Padahal memang niatnya mengabaikan Lucia yang menyapanya dan berpura-pura tidak tahu jika Lucia disini. Lalu ia ingin menggoda Elsa yang mungkin sedang membuatnya cemburu. Tetapi ia malah terkejut dengan respon Elsa yang membentaknya.


Sadar menjadi tontonan karena suaranya yang sedikit keras, Elsa masuk ke paddock Maverick.


Marc masih terdiam dan hanya menatap Elsa yang berlari masuk kedalam paddock. Lalu ia pergi dari paddock itu dan Lucia mengikutinya.


Maverick menghela nafas saat melihat apa yang sudah terjadi diluar paddocknya. Ia melihat adiknya yang tadi berlari kedalam ruang gantinya sambil menangis.


♡♡⁹³♡♡


Suasana tegang memenuhi paddock Movistar Yamaha. Elsa dan seluruh tim Maverick Vinales harap-harap cemas melihat pembalapnya yang sedang berjuang diatas lintasan.


Begitu juga dengan tim dari rekan satu tim Maverick, Fabio Quartararo. Apalagi Fabio sedang memperebutkan posisi pertama.


Elsa mengucap do’a berkali-kali untuk keselamatan dua orang yang selama ini selalu bersamanya. Iya, dua orang. Maverick dan Marc. Kedua orang itu, saat ini sedang berada dilintasan yang sama. Yah, meskipun tadi ia sempat bertengkar dengan Marc tapi ia tetap akan mendoakan Marc.


Kedua tangan gadis manis itu menyatu, jantungnya berdegup kencang, matanya tak lepas menatap layar TV di Paddock itu. Nafasnya putus-putus setiap kali Marc atau Maverick tersorot kamera.


Jika Marc atau Maverick berharap mendapatkan podiumnya, harapan Elsa tidak pernah lepas dari keselamatan mereka. Ia hanya ingin kedua orang itu baik-baik saja dan kembali padanya.


Petaka pun terjadi di putaran kedua. Tepatnya pada tikungan ketiga sirkuit itu, Marc kehilangan grip ban belakang dan terjatuh. Ia tidak bisa melanjutkan balapan.


Elsa menutup mulutnya terkejut. Marc mengalami kecelakaan dan tersingkir dari balapan. Detik itu juga, Elsa keluar dari paddock Maverick dan berlari menuju paddock Repsol Honda.


Gadis itu khawatir, ia benar-benar khawatir. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam hal-hal buruk yang bisa saja terjadi pada Marc. Meskipun ia kesal dengan Marc, tetapi ia tidak bisa melihat pria itu kecelakaan di lintasan balap.


Beberapa kali ia menabrak orang-orang yang sedang berjalan, tapi ia tak peduli. Dipikirannya hanya ada satu tujuan, Marc Marquez. Ia butuh tahu bagaimana keadaan Marc sekarang.


Elsa menghapus air matanya yang mulai menetes. Lama-lama, tangisan itu menjadi keras dan terdengar oleh orang-orang yang dilewatinya.


Mereka yang tidak tahu pun, bertanya-tanya, ada apa dengan gadis itu? Ia menangis sampai sesenggukan seperti itu.


“Paman," panggil Elsa pada salah satu tim dari Marc yang berada diluar paddock Repsol Honda.

__ADS_1


“Elsa?” laki-laki itu terkejut melihat Elsa disini. Ia mendekat dan mengusap bahu gadis itu. Pria itu adalah Emilio, manager Marc Marquez. "Sudah, Els. Jangan menangis ya. Marc akan baik-baik saja. Dia juga akan cepat bangkit. Kau tau kan, dia adalah orang yang kuat," hibur Emilio.


Elsa masih menangis meskipun Emilio sudah menghiburnya. Sekarang, Elsa benar-benar takut jika Marc jatuh dari motornya karena pria itu pernah mengalami crash dan harus absen selama satu musim. Ia takut jika cedera Marc kambuh.


Tak berapa lama, Marc tiba di paddocknya. Ia mengedikkan bahunya, pertanda ia sangat kecewa.


Brakk!!


Semua orang yang berada di paddock Marc sangat terkejut karena Marc membanting sarung tangannya. Pria itu segera melepas helm nya.


"Beri aku waktu untuk meredam emosiku," ucap Marc pada seluruh timnya. Itu menandakan pria itu benar-benar tidak bisa diganggu dan dia ingin sendiri.


Elsa melirik Emilio. Tangannya gemetar, sekarang ini bukan karena ia takut Marc cedera, tetapi karena Marc terlihat sangat marah. Ia tahu Marc tidak pernah semarah ini sebelumnya.


Emilio kembali mengelus bahu Elsa. Terlihat sekali gadis itu benar-benar takut. "Els, kau tau kan jika Marc tidak pernah marah padamu?" tanya Emilio.


Elsa mengangguk. Emilio benar, semarah apapun Marc terhadap dirinya sendiri, sekesal apapun Marc saat gagal finish, Marc masih mampu bersikap lembut kepada Elsa.


"Masuklah dan redamkan amarah Marc," kata Emilio.


Elsa menatapnya sendu. Ia menggeleng, ia takut.


Emilio tersenyum. "Marc tidak akan membentakmu. Dia tidak akan menyakitimu." Emilio mencoba meyakinkan Elsa.


Gadis itu pun menghela nafas dan mengangguk. Ia masuk kedalam dan menemui Marc.


♡♡⁹³♡♡


Marc membanting pintu ruang gantinya dengan sangat keras. Ia menggeram kesal. Tangannya mengepal dan… BRAK! Meja tak bersalah disampingnya menjadi korban kekuatan tangannya.


“Aaarrrggghhh!!!” teriaknya frustasi.


Marc teringat bagaimana dirinya sebelum ia terjatuh dan tidak bisa melanjutkan balapan. Konsentrasi yang ia bangun di awal race, tiba-tiba hancur karena teringat ucapan Elsa.


"Kenapa aku harus teringat kata-katanya?”


Bug bug bug!!! Berkali-kali tangannya meninju meja sampai ada retakan disana.


"SIAL..!!" umpat Marc sambil menendang meja yang tadi sudah ia retakan.


Cklek. Pintu ruang ganti ini terbuka. Marc menoleh dan mendapati Elsa disana. Marc mengabaikannya. Ia marah dan kesal pada gadis itu, karena teringat kata-kata Elsa, ia kehilangan konsentrasinya dan mengalami crash. Tunggu! Bukankah apa yang Elsa katakan benar, ia memang bukan siapa-siapa. Mereka tidak ada hubungan apapun, jadi untuk alasan apa Marc marah atas ucapan gadis itu?


Gadis manis itu berjalan pelan mendekati Marc. Ia sedih melihat Marc seperti ini. Wajah yang selalu menampakkan senyum itu, kini harus rela terlihat menyeramkan karena rasa frustasinya.


Ingin rasanya Elsa memeluk laki-laki itu, memberikan kekuatan dan semangat. “Marc," panggilnya pelan.


“Pergilah. Aku sedang ingin sendiri," tolak Marc.


Elsa sedikit terkejut mendengar penolakan Marc. Marc selalu tersenyum padanya meskipun ia sedang kesal kepada siapapun. Bahkan Marc tak pernah menolaknya. Marc selalu membutuhkan dukungannya.


“Marc," bujuknya agar Marc membiarkannya tetap tinggal dan menemani laki-laki tampan itu.


“Aku sedang ingin sendiri. Tolong," setiap ucapan Marc penuh penekanan. Ia sedang berusaha untuk menahan emosinya agar tidak meledak dan membentak gadis ini.


“Marc, kumohon.”


“AKU BILANG, AKU INGIN SENDIRI, ELSA!! KELUARLAH!!” kesabaran Marc habis. Laki-laki itu membentak Elsa.


Elsa terlonjak mendengar bentakan Marc. Hatinya sakit. Ini pertama kalinya Marc membentaknya. Airmata itu mengalir dipipi putih Elsa. Marc membentaknya? Laki-laki yang selama ini melindunginya, menjaganya, memperhatikannya bahkan sangat menyayanginya, hari ini membentaknya atas kesalahan yang tidak Elsa ketahui.


Elsa menggeleng tak percaya. Seseorang dihadapannya ini bukan Marc yang ia kenal. Marc tidak pernah menyakitinya, tapi orang ini menyakiti hatinya dengan membentak, Elsa tidak suka dibentak. Marc tidak pernah membentaknya tapi kenapa orang ini membentaknya?


Tangan kanan Elsa membekap mulutnya agar isakannya tidak terdengar oleh Marc, tapi sepertinya gagal karena Marc mendengarnya. Hatinya sakit mendengar suara isakan gadis yang ia cintai itu, terlebih gadis itu menangis karena dirinya.


Elsa berbalik dan keluar dari ruang ganti Marc. Menutup pintu dengan sedikit keras. Diluar, ia melihat Emilio. Tangisannya semakin keras saat Emilio mengusap rambutnya.


"Marc membentakku, paman." lirihnya.


Emilio menggelengkan kepalanya. "Marc tidak sengaja, Els." kata Emilio dan memeluk gadis itu. Elsa dan Emilio memang dekat, bahkan Emilio sudah menganggap Elsa seperti anaknya sendiri. "Maafkan Marc."

__ADS_1


Semua orang yang berada di paddock itu menatap iba pada Elsa. Mereka merasa kasihan karena memang biasanya Marc terlihat sangat menyayangi Elsa, tetapi kenapa hari ini pria itu membentaknya?


Sepasang mata menatap Elsa yang sedang dipeluk Emilio. Ia penasaran dengan Elsa. Siapa Elsa sampai bisa sedekat itu dengan Marc?


__ADS_2