FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)

FALLING IN LOVE (MARC MARQUEZ)
PART 15


__ADS_3

Fabio mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parkiran sirkuit. Ia melirik pada Christie yang hanya diam saja, wajah gadis itu nampak tegang. Ia tersenyum kecil melihat gadis unik disampingnya.


Gadis yang disebelahnya ini memang sangat unik. Jika bersama Elsa, ia akan sangat ceria, penuh cerita dan wajahnya terlihat santai. Tetapi kenapa bersama dirinya Christie tidak bisa seperti itu? Atau mungkin karena mereka baru kenal?


"Santai saja, Chris. Jangan tegang seperti itu," kata Fabio.


Christie tersenyum malu karena ketahuan memasang wajah tegang. Ia memang sedang mengatur detak jantungnya yang dari tadi berdetak begitu cepat. Ia begitu gugup saat harus bersama dengan Fabio seperti ini. Apalagi ini adalah pertama kalinya mereka satu mobil.


"Kita mau kemana dulu, Ms. Tour guide?" tanya Fabio.


Christie nampak berpikir sebentar. "Kau mau makan siang dulu atau langsung jalan-jalan?" Ia balik bertanya pada Fabio.


"Makan siang? Boleh juga. Aku sudah lapar," kata pria dengan rambut blonde itu.


"Kalau begitu, kita pergi ke The Toppels."


Fabio mengerutkan keningnya mendengar nama asing itu.


"Apa itu?" tanya Fabio.


"Itu kafe terbalik. Bangunannya sangat unik, kita bisa berfoto disana. Semuanya serba terbalik. Kau pasti suka," jelas Christie.


"Boleh juga. Kita kesana sekarang," katanya sambil sedikit mempercepat laju mobilnya.


Christie tersenyum. Ia sudah terlihat santai dan tidak tegang lagi. Mungkin banyak berbicara dengan Fabio bisa membuatnya sedikit rileks jika berdekatan dengan pria itu.


"Memangnya selama di Jerman kau tidak pernah jalan-jalan, Fab?" tanya Christie.


Fabio menoleh dan tersenyum. "Hanya jalan-jalan disekitar hotel saja," jawabnya.


"Kenapa tiba-tiba mengajakku? Maksudku, kau bisa mengajak Marcel atau temanmu yang lain."


"Kau tidak suka ya, jalan-jalan denganku?"


Christie langsung menyanggah pertanyaan Fabio. "Bukan itu maksudku," katanya sedih.


Fabio terkekeh melihat tingkah lucu gadis disampingnya. "Iya, aku mengerti. Jangan canggung begitu padaku. Tenang saja, aku tidak galak," candanya.


Christie mempoutkan bibirnya.


"Sudah berapa lama kau mengenal Elsa?" tanya Fabio.


"Eum, aku lupa. Sepertinya sejak Maverick dan Jonas masih di Moto2. Cukup lama aku mengenalnya. Dia satu-satunya temanku di sirkuit," jawabnya.


Fabio mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku tau Elsa sudah lama, hanya saja bisa berbicara dan dekat dengannya baru tahun ini ketika aku satu tim dengan Maverick," ujar Fabio. "Sebelumnya, sama sekali tidak bisa mendekati Elsa. Kau tau sendiri kan, seposesif apa Maverick pada Elsa?"


Christie terkekeh. "Iya, tidak ada satu pun laki-laki yang bisa mendekati Elsa. Yah, kecuali Marc Marquez."


Fabio mengerutkan keningnya. "Marc Marquez?"


Christie mengangguk. "Ya, karena mereka bertetangga. Kau tidak tau?" Ia menatap Fabio sangsi.


Fabio menggeleng. "Sama sekali tidak tau," katanya. "Sepertinya banyak yang tidak tau juga karena Maverick orang yang sedikit tertutup."


Christie tertawa sambil mengangguk, membenarkan ucapan Fabio.


"Apa kau pernah ke kafe ini sebelumnya?" tanya Fabio.


Christie tersenyum. "Ya. Dengan Jonas dan Marcel," jawabnya.


Fabio mengerutkan keningnya. "Sedekat apa kau dengan Marcel?" tanyanya penasaran.


"Eum, sangat dekat. Marcel adalah teman Jonas. Dia juga sangat baik padaku. Menjagaku seperti Jonas, jadi aku, Jonas dan Marcel sudah seperti saudara."


Fabio hanya tersenyum samar. "Kau tidak jatuh cinta dengan Marcel?"


Pertanyaan Fabio membuat Christie menoleh cepat dan tertawa pelan.


"Apa pertanyaanku lucu?"


"Bukan lucu, aku hanya tidak menyangka jika akan ada orang yang bertanya seperti itu padaku," jawab Christie. "Tidak ada alasan untuk aku jatuh cinta padanya. Lagipula Marcel baik padaku bukan karena dia menyukaiku tetapi karena memang dia sudah menganggapku seperti adiknya sendiri."


Fabio mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Ia membelokkan mobilnya kekiri dan memarkirkan mobilnya.


"Wahh, rumahnya terbalik," serunya takjub. "Aku bisa saja membangun rumah dengan desain seperti ini di France."


Christie terkekeh. "Lalu kau buat untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk museum diriku jika tahun ini aku menjadi juara dunia."


Christie tersenyum sangat lebar. "Aku akan selalu mendoakanmu agar tahun ini, tahun depan dan tahun selanjutnya kau menjadi juara dunia MotoGP. Itu impianmu kan? Aku selalu mendengar itu ketika kau diwawancarai."


Fabio begitu takjub melihat senyum dan kata-kata tulus keluar dari bibir gadis didepannya. Ini adalah pertama kalinya ia bersama seorang gadis dan gadis itu terus tersenyum begitu tulus. Ia jadi teringat pada ibunya yang selalu mendoakannya disetiap balapan.


"Kau mengingatkanku pada ibuku," ujar Fabio.


Lagi-lagi Christie tersenyum. "Kau pasti sangat menyayangi ibumu."


Fabio mengangguk. "Ibuku adalah orang yang tidak pernah lupa untuk mendoakanku setiap aku balapan."


Christie tersenyum sendiri, membayangkan dirinya pun juga sering melakukan itu untuk Fabio. Duduk di paddock Jonas, menyatukan kedua tangannya dan memanjatkan doa untuk keselamatan Jonas dan Fabio.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Fabio. "Hari ini sudah berkali-kali kau tersenyum. Apa kau memang selalu tersenyum?"


Christie mengerutkan keningnya. "Memangnya aku tidak boleh tersenyum?" tanyanya.


"Tidak, bukan tidak boleh tersenyum. Senyummu itu sangat manis, aku takut jika terlalu banyak senyum, semut-semut akan mendatangimu nanti."


Christie mengedip-ngedipkan matanya. 'Apa Fabio sedang membual sekarang?' batinnya.


Christie menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu buru-buru membuka pintu mobil Fabio dan keluar dari sana. Lama-lama berada didalam mobil bersama Fabio membuatnya bisa kena serangan jantung diusianya yang masih muda. Oh laki-laki itu sangat pintar membuat jantungnya bekerja lebih cepat.


"Ayo masuk kedalam," ajak Fabio yang sudah berada disebelahnya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum, lagi.


'Benar kan, gadis ini selalu saja tersenyum. Kadang tersenyum malu, kadang juga senyumnya sangat manis. Dia juga selalu gugup jika berbicara denganku. Apa dia juga seperti itu pada orang lain?' batin Fabio.


Fabio berjalan bersebelahan dengan Christie memasuki kafe The Toppels, kafe yang sangat terkenal di Jerman.


♡♡⁹³♡♡


Maverick menggandeng adiknya untuk memasuki hotel yang sudah mereka pesan dari kemarin untuk menginap. Yang pertama kali ia lihat saat memasuki pintu utama hotel adalah seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul yang sedang duduk dilobi hotel. Genggaman tangan Maverick semakin erat membuat Elsa menoleh padanya.


"Mack," ucapnya.


"Dia masih disini. Temuilah," kata Maverick.


Elsa mengedarkan matanya dan menemukan sosok itu. Wanita yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya. Wanita yang dulu berpenampilan biasa, kini beberapa merk terkenal melekat ditubuhnya. Mulai dari pakaian, tas, sepatu dan kacamata. Semuanya bisa dipastikan berharga fantastis. Ibunya memang semakin cantik.


Airmata keluar dari sudut mata Elsa. Ibunya yang dulu selalu ingin ia temui, kini duduk dilobi hotel tempatnya menginap. Ibunya ada didepan matanya. Ini nyata dan ia bisa memeluknya sekarang. Tetapi kenyataan yang baru ia ketahui, membuatnya tidak lagi menginginkan wanita itu kembali.


Elsa merasa sebuah tangan kekar mengelus rambutnya lembut. Ia menoleh dan itu adalah kekasihnya, Marc Marquez. Pria itu melihat Elsa dan Maverick hanya berdiri saja dilobi hotel sambil memperhatikan wanita yang belum mengetahui kehadiran keduanya. Wanita itu masih fokus dengan ponselnya.


"Kau dan Elsa bisa menemui ibu kalian. Kau harus menemani Elsa. Jangan membiarkannya sendirian. Elsa sangat membutuhkanmu," kata Marc membujuk Maverick.


Marc benar. Maverick adalah saudara kembar Elsa. Mau bagaimanapun ia pada ibunya, ia harus tetap menemani Elsa menemui ibunya. Mereka harus menghadapi wanita itu berdua.


Maverick menatap Elsa sebentar, lalu menggandeng tangan Elsa dan membawanya menuju ibu mereka.


Wanita yang tengah sibuk dengan ponselnya itu menyadari kedatangan dua anaknya. Ia menangis haru saat melihat anak perempuannya kini sudah tumbuh dengan cantik. Jika berdampingan seperti ini, Maverick dan Elsa memang tampak mirip.


Maria hendak memeluk Elsa, tetapi gadis itu justru bersembunyi dibelakang Maverick. "Els," panggilnya dengan suara bergetar.


"Elsa sedikit terkejut dengan kedatangan anda," kata Maverick dengan menekankan kata 'anda'. Ia tidak ingin menyebut Maria dengan panggilan ibu lagi. Ia masih belum bisa memaafkan wanita ini.


"Ibu merindukanmu, nak," ucapnya lirih. Airmata terus menetes membasahi pipinya. Ia sangat merasa bersalah pada dua anaknya ini, seharusnya ia tidak meninggalkan mereka. Tetapi harta membutakan matanya saat itu.


"Sebaiknya kita berbicara dikamar," kata Maverick. "Ayo, Els." Ia menggandeng Elsa dan diikuti Maria yang masih menangis karena ditolak oleh anak perempuannya.


Marc menatap mereka sampai menghilang dibalik pintu lift. "Semoga masalah kalian cepat selesai," katanya sedih.


~~


"Ibu minta maaf. Ibu bersalah. Ibu ingin menebus semua kesalahan ibu, nak." Maria sampai memohon sambil menggenggam tangan Elsa.


Saat ini mereka duduk di sofa kamar Elsa menginap. Maria terus menggenggam dan menciumi tangan Elsa. Setelah dibenci oleh Maverick, ia tak ingin dibenci juga oleh anak perempuannya ini.


"Maafkan ibu, Els," lirihnya.


Elsa bergeming dan hanya menangis saja melihat wanita yang sudah lama ia rindukan itu menangis meminta maaf padanya. Ia sangat ingin memeluk wanita itu tetapi ketika ia mengingat alasan ibunya meninggalkannya, ia tak lagi ingin memeluk Maria.


"Jangan diam saja, sayang. Jika kau marah pada ibu, pukul ibu. Sakiti ibu seperti ibu menyakitimu dan kakakmu. Jangan hanya diam saja."


Airmata Elsa semakin deras.


"Setiap hari, yang ibu inginkan hanya melihat kalian. Tetapi ibu tidak bisa melakukannya. Ibu takut jika kalian membenci ibu."

__ADS_1


"Lalu kenapa sekarang kembali jika ibu takut? Apa rasa takut itu menghantuimu sampai 20 tahun lamanya?" Pertanyaan Elsa membuat Maria terdiam. "Setiap malam aku selalu memikirkanmu dan merindukanmu. Aku ingin tidur dipeluk olehmu. Apa kau tau itu, bu?"


Maria menutup mulutnya, ia menangis sesenggukan.


"Maverick rela tidak tidur hanya untuk menjagaku agar tidak menangis dalam tidurku. Aku begitu merindukanmu, bu. Aku sampai berfikir, apa ibu meninggalkan kami karena kami nakal? Apa ibu pergi dari rumah karena kami terlalu berisik dan kadang tidak mau mendengarkan perkataan ibu?


Aku sampai berjanji pada diriku, berbicara pada malam dan berdoa pada Tuhan. Jika ibu kembali kerumah, aku janji aku tidak akan nakal, aku janji aku tidak akan berisik dan aku berjanji aku akan mendengarkan perkataan ibu. Asalkan ibu pulang kerumah. Tetapi tidak juga hari itu datang."


Elsa mengusap airmatanya.


"Aku berpikir akulah yang salah. Aku yang menyebabkan ibu pergi dari rumah. Tetapi ternyata ibu pergi dari rumah karena ada pria kaya yang mau menghidupi kehidupan ibu. Padahal sebelum itu, ibu sangat bahagia dengan ayah. Sebelum pria itu datang, ibu menerima ayah apapun keadaannya."


Maverick yang membelakangi dua wanita itu, meneteskan airmatanya mendengar penuturan adiknya.


"Jika saja ibu mau menunggu sedikit lebih lama lagi, aku dan Maverick tidak akan pernah membenci ibu. Ibu akan melihat aku dan Maverick tumbuh. Aku tidak akan menjauh dari dunia luar dan aku akan mempunyai banyak teman sekarang."


"Ibu tau, ibu...."


"Ibu tidak tau, bu. Ibu tidak tau apapun." Elsa memotong ucapan ibunya. "Maverick masuk kekelas balap motor, umur 5 tahun. Ayah membiayai sekolahnya, membelikannya motor kecil dan ayah juga mau menemaninya berlatih setiap hari dikelas itu. Ayah bekerja keras, mencari uang dengan pekerjaan tambahannya agar Maverick bisa terus masuk kekelas balap motornya."


Elsa menatap ibunya dengan marah.


"Dan ibu tau, setiap hari itu pula, dimana Maverick berlatih dan ayah bekerja, aku dirumah selalu memikirkan ibu. Mengharapkan ibu pulang." Elsa melepaskan tangannya yang digenggam Maria. "Tidak lama bu, setelah itu Maverick bisa masuk ke kelas Moto3 untuk mengikuti lomba balap motor dunia. Sejak itu, kehidupan kami berubah, bu. Ayah tidak lagi harus mencari pekerjaan tambahan untuk menghidupi kami.


Maverick juga meraih gelar juara dunianya, bu. Kehidupan kami benar-benar berubah sejak itu. Ayah berhenti bekerja dan kami bisa pindah kekota. Maverick membelikan kami rumah di Barcelona. Dia membawaku ikut serta disetiap balapannya. Ayah pun dikota juga bisa bekerja dikantor bu, seperti orang-orang."


Elsa menarik nafasnya dalam-dalam. "Apa ibu tidak menyesal melewatkan semua itu?"


Maria menunduk dan tangisannya semakin kencang. "Ibu menyesal, nak."


"Tetapi ibu tetap tidak bisa meninggalkan pria itu kan?" seloroh Elsa tidak suka.


"Ibu mencintainya, nak. Dia cinta pertama ibu," kata Maria yang semakin membuat hati Elsa terasa sakit.


"Kalau begitu, jangan menemui kami lagi. Ibu pasti sudah bahagia dengan pria itu."


Maria menggeleng. "Ibu tetap ingin menjadi ibu kalian," katanya egois.


"20 tahun ibu meninggalkan kami dan kami masih baik-baik saja, bu. Ayah mendidik dan membesarkan kami dengan baik. Itu artinya kami tidak membutuhkan ibu."


Maverick berbalik dan menatap dua wanita yang sedang menangis itu. Ia juga tidak bisa berbuat apapun sekarang. Ia mendekati Elsa dan duduk disamping gadis itu.


"Sebaiknya anda pulang. Biarkan Elsa menenangkan dirinya dulu. Ini adalah pertemuan pertama kalian, Elsa masih terkejut dengan kehadiran anda," kata Maverick.


Maria menggeleng. "Ibu ingin terus bersama kalian, nak."


Maverick menghela nafas, menahan emosi mendengar ucapan ibunya. "Mari kuantar ke lobi," katanya sedikit mengusir.


"Mack."


"Biarkan Elsa sendiri dulu. Besok temuilah ia lagi."


Maria berdiri dan hendak memeluk Elsa, tetapi gadis itu tetap tidak mau memeluknya. Ia dan Maverick berjalan keluar kamar Elsa dan meninggalkan gadis itu sendirian dikamarnya.


"Marc," panggil Maverick saat melihat Marc hendak memasuki kamar hotelnya.


Yang dipanggil menoleh dan menghampiri Maverick. "Bagaimana?"


"Tolong temani Elsa sebentar. Aku akan mengantarkan nyonya Maria ke lobi dan mencari taksi," jawab Maverick.


Marc menoleh pada Maria dan tersenyum pada wanita itu. Ia kembali menatap Maverick dan mengangguk. Kemudian ia menuju kamar Elsa dan masuk.


"Kau membiarkan adikmu bersama...."


"Jika kau tidak mengenal Marc Marquez, jangan berdebat denganku mengenai dirinya. Aku lebih tau dengan siapa adikku dekat. Aku juga tidak seceroboh itu, membiarkan adikku dekat dengan laki-laki yang tidak baik. Kau tidak perlu khawatir." Maverick berkata ketus.


Maria menghela nafas dan kembali berjalan menuju lift.


"Apa kau juga sudah memiliki kekasih, Mack?" tanya Maria ingin tahu.


"Itu bukan urusan anda, nyonya."


"Mack, ayolah jangan begini. Ibu sangat menyayangimu. Ibu tidak mau kau bersikap seperti ini pada ibu." Maria memohon.


Maverick menatap tajam Maria. "Apa saat kau meninggalkan kami, kau tidak memikirkan resikonya? Kau harus menerima sikapku yang seperti ini karena kau berani meninggalkan kami dan membuat Elsa menderita. Kau tidak pantas mendapatkan sikap yang baik dan tulus karena kau telah menelantarkan kedua anakmu."


Ucapan ketus Maverick menusuk tajam kedalam jantung Maria. Wanita itu benar-benar tertohok dengan apa yang dikatakan anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


Maverick mengeraskan rahangnya. Ia tak lagi menatap Maria. Setelah lift terbuka, ia langsung berjalan menuju lobi dan memesan taksi untuk ibunya.


Maria masih merasakan kasih sayang anak laki-lakinya itu. Buktinya, Maverick masih sudi memesankan taksi untuknya pulang dan menunggu sampai taksi itu datang. Hingga membukakan pintu untuknya. Samar-samar Maria tersenyum melihat perlakuan anak laki-lakinya ini.


__ADS_2