
***Ku pikir kau adalah payungku dikalah hujan datang, namun aku salah, kau hanyalah hujan yang awalnya membuatku senang kemudian akhirnya aku sakit***.
****
Marsha adalah gadis misterius dikenal banyak orang disekolah. menjadi kebanggaan para guru karena prestasi yang dia raih, wajahnya yang terlihat sombong dan dingin membuat orang terpikat untuk mengenalnya lebih jauh, tidak ada dendam tidak ada benci yang tersimpan. namun sebelumnya Marsha adalah tipe gadis yang ceria, murah tersenyum dan dekat dengan siapa saja. hingga pada akhirnya sikapnya berubah 180° dari biasanya.
Marsha sebelumnya pernah dekat dengan salah satu kakak kelas yang tampan kelas 3 SMA sementara dia kelas 2 SMA. banyak yang mengira mereka pacaran padahal tidak, penyebab mereka bisa akrab karena tetanggaan rumah, mereka berdua sama-sama digemari banyak orang. Marsha sebenarnya sudah menyimpan perasaan kepada kakak kelasnya itu sejak awal kelas 1 SMA, namun cinta nya hanya terungkap dalam diam.
Marsha tengah melewati koridor sekolah, semua mata menatapnya penuh kagum, ada yang menyapa dan bahkan ada juga yang mengambil foto.
"Marsha..."
"Hai, Sha."
"Sha..."
"Eh, primadona lewat..."
"Misi cantik..."
Beberapa pujian dan sapaan dari siswa siswi disana.
Tersenyum adalah balasan yang Marsha berikan, kali ini dia tersenyum menanggapi orang-orang.
"Sha!"teriak Petran.
"Eh, kak Petran?"jawab Marsha.
Petran adalah kakak kelas yang juga digemari banyak orang, wajahnya yang ramah dan tampan, hanya dia lelaki yang berhasil dekat dengan Marsha hingga detik ini.
Petran mendekati Marsha. Petran tersenyum sambill melirik mata lentik Marsha.
"Kak Petran kenapa? Kok liat aku gitu? Wajah aku aneh atau gimana kak?"Marsha merasa aneh. Marsha memegang wajahnya, mencari sesuatu yang mungkin membuat penampilanya jelek.
"Nggak kok, kamu cantik,"puji Petran.
Blus, pipi Marsha memerah serta jantung berdetag hebat, namun ia tahan dan berusaha simpan agar tidak disadari Petran.
"Kak Petran mah kalo muji suka berlebihan... Aku kan jadi salting!"protes Marsha.
"Hahaha... Maaf deh, oh yah kamu mau kemana?"
"Hmm, ke perpustakaan kak."
"Mau ngembaliin buku pinjeman?"
"Enggak sih, mau mampir aja sambil baca-baca dan nyari buku cerita baru."
"Lah, buku yang kamu pinjam kemarin mana?"
"Udah mau tamat, heheh."
"Astaga, kamu baca nya ngebut atau gimana? cepet banget,"takjub Petran.
"Hehehe, Ya gitu deh."ucap Marsha.
"Mau kakak temenin nggak?"
"Emm, emang kak Petran nggak sibuk?"
"Enggak sih, gimana?"
"B-boleh!"Marsha kegirangan.
****
Diperpustakaan mereka sibuk dengan mencari beberapa buku, saat tengah hendak mengambil buku yang Marsha suka tiba-tiba saja Petran merebutnya.
"Ish! Kak balikkin dong!"pinta Marsha sambil mangut.
"Nggak mau...,"tolak Petran.
"Kak! Ish, kok gitu sih..."
"Hehehe, Yaudah nih... Kakak balikkin deh."
"Yaudah sini!"
"Ambil sendiri lah"
"Ish, tinggi kak! Kak petran tuh kan kayak tiang listrik tingginya!"kesal Marsha. pasalnya Petran mengangkat buku itu tinggi dengan satu tanganya, tentu saja Marsha tidak nyampai untuk mengambilnya karena tubuh nya jauh pendeknya dari tubuh Petran.
"Huh. Kamu nya aja yang pendek kayak kurcaci,"ejek Petran.
"Mulai deh!"
"Iya-iya, nih."
Marsha menerima buku yang Petran berikan padanya. Petran menemani Marsha membaca buku selama beberapa menit, setelah itu ia kembali pamit untuk ke kelas.
****
Dikelas Luna sudah berdiri di ambang pintu menunggu Petran datang. Petran tersenyum melihat Luna berdiri di ambang pintu kelas, namun Luna hanya menanggapi jutek Petran.
"Loh, kok mayun gitu?"tanya Petran dengan Luna.
"Kamu kemana aja sih? Aku cari dikantin nggak nemu, cari di tempat temen-temen kamu nggak nemu, di kelas ngga ada. kemana sih?"
__ADS_1
Petran hanya sedikit bingung menanggapi ucapan Luna. Petran mengambil nafas dalam, kemudian menatap Luna penuh kasih. "Lun, aku nemenin Marsha ke perpustakaan."
Luna yang mendengar penjelasan Petran tentu saja cemburu, bagaimana bisa kekasihnya menemani gadis lain dan bukan dia.
"Kamu tuh nemenin Marsha terus tiap hari! Waktu untuk aku mana sih, Pet?"
"Kamu tau kan Lun, aku sama Marsha cuman adek kakak doang kok. Nggak lebih!"
"Iya tau... Tapi aku cemburu Pet, sebagai cewek kamu aku tuh ngerasa kamu lebih pentingin dia dari pada aku!"
"Astaga, kok mikir jauh gitu?"
"Beneran gitu kok!"
"Lun, meski aku welcome sama Marsha... Dihati aku tuh cuman kamu doang... Marsha tuh cuman adek aku doang, nggak lebih..."jelas Petran.
"Tapi--"
"Kamu tau kan alasan kenapa aku mau dekat sama Marsha?"
"Karena dia mirip sama adik kamu yang udah ninggal, kan?"
"Nah, sekarang kamu tau alasan kenapa aku welcome sama dia..."
"Pet, maaf... aku tuh cuman cemburu doang, aku takut kehilangan kamu."
Grep!
Petran memeluk Luna erat, di elusnya kepala Luna dan menciumi keningnya.
"Cinta aku tuh tetap kamu, Lun."ucap Petran.
"Janji?"
"Janji sayang..."
"Kamu udah kasih tau Marsha, tentang hubungan kita?"
"Belum"
"Kok belum?"tanya Luna
"Belum waktunya..."
"Lalu kapan?"
"Nanti, kalo waktunya sudah pas."
"Yasudah. Jujur kamu nggak ada rasa kan sama Marsha?!"
"Bener?"
"Iyaa"
"Bener?"
"Iya sayang..."jawab Petran. dielusnya rambut Luna mesra.
Marsha melihat kemesraan itu sedari awal, bahkan mendengar segalanya, rasanya ada benda tajam merampas hatinya secara paksa saat ini, dia pikir Petran tulus ingin dekat denganya. seketika buku yang digenggamnya jatuh begitu saja kelantai, dengan rasa sedih Marsha melangkah pergi dari sana.
Tiba di atas atap sekolah.
Marsha meneteskan air matanya dan menangis tanpa meraung, rasanya dadanya begitu sakit dan tertusuk duri tajam, lelaki yang dicintainya selama 2 tahun terakhir ternyata tidak lebih menganggap dirinya sebagai adik dan alasan yang didengarnya sangat sakit.
Menerima kenyataan ini sangat menyakitkan, menunggu selama ini sia-sia, cintanya tidak akan pernah ada untuk Marsha.
"Kenapa rasanya sesakit ini?"
Ditengah tangisnya Marsha menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak dan nyeri, pada akhirnya semua sia-sia.
****
3 hari kemudian.
Marsha tengah membaca buku diperpustakaan, cerita yang ia baca sangat menarik hingga dia tidak sadar sejak kapan Petran duduk disampingnya. setelah selesai akhirnya Marsha menutup buku dan tersenyum.
"Udah selesai bacanya?"
Suara yang familiar membuat Marsha terpaku, dia tidak menoleh dan hanya fokus untuk mengembalikan buku ke rak, setelah itu dia berniat untuk pergi.
"Sha! kok pergi?"cegat Petran.
"Kak, lepasin...,"pinta Marsha.
"Kamu kenapa, Sha?"
Marsha mengambil nafas dalam. Kemudian berkata. "Aku nggak kenapa-napa kok kak, cuman nggak mau diganggu aja..."
"Lah, emang aku salah apa sama kamu?"
"Nggak ada kok, kan Marsha nggak bilang kak Petran ganggu... Hehe."
"Terus, kenapa kayak ngehindar gitu? kamu tau sesuatu?"
"E-enggak kok, Marsha nggak apa tau maksud kak petran ngomong gitu..."
Marsha berusah untuk tidak terlihat menyedihkan dihadapan Petran.
__ADS_1
"Jujur!"
"Jujur apa lagi sih?"tanya Marsha.
"Kamu kenapa? kenapa tiba-tiba jadi kayak gini sama kakak?"
"Kak, aku nggak--"
"Jawab!"
Marsha tertegun saat Petran membentaknya, seumur-umur baru kali ini dia dibentak, dan itu oleh orang yang dicintainya selama 2 tahun ini."
"Kenapa diam? Jawab Sha!"
"Kak lepas!"ucap Marsha. suaranya sudah berubah dari biasanya.
"Jawab dulu!"
"Kak, please."mohon Marsha. dia berusaha untuk tetap tenang.
"Nggak, jawab kakak dulu!"
Marsha berusah beronta, dia berusaha melepas genggaman Petran.
"Jawab dulu!"
"JAWAB, SHA!"bentak Petran.
Untuk kedua kalinya dia dibentak, Marsha menunduk dan melemaskan tubuhnya.
"Lepas..."
"Nggak!"
"AKU BILANG LEPAS!"Marsha membentak Petran.
Petran sangat terkejut kala itu, dia melihat air mata Marsha terjatuh, selama ini Marsha tidak pernah menangis dihadapanya, namun sekarang dia melihatnya bahkan ekspresi kecewa dan sedih terlihat jelas dimata Marsha. Petran melonggarkan genggamanya.
"Sha, k-kamu?"
Marsha menepiskan tangan Petran yang hendak mengusap air matanya, dengan cepat Marsha pergi dari perpustakaan.
"Apakah aku menyakiti perasaan dia?"gumam Petran.
****
Marsha mengurung diri di dalam toilet, sejenak ia basuh muka setelah dirasanya tenang.
Marsha kembali ke kelas untuk membaca didalam kelas, sepanjang jam pelajaran Marsha tidak fokus sama sekali.
Setelah bell bunyi Marsha berjalan menuju parkiran menunggu jemputan datang.
Tin! Tin!
Suara klakson motor Petran membuat Marsha menoleh seketika.
"Ayo pulang!"ajak Petran.
Marsha sejenak mengingat kejadian beberapa jam lalu, melihat Petran yang seolah tidak bersalah membuat Marsha malas untuk pulang bersama.
"Nggak usah kak, jemputan bentar lagi nyampek."tolak Marsha.
"Udah naik aja, biasanya juga kita bareng pulangnya... rumah kita kan searah, Sha."
Marsha tidak menanggapi Petran, sejenak dia melihat Luna yang berdiri di ambang gerbang sekolah menatap kesal kearahnya.
"Mending kak Petran bareng kak Luna aja,kayaknya kak Luna nggak ada tebengan. "usul Marsha.
Petran terbelalak kaget lalu melihat arah pandangan Marsha, tepat Luna berdiri diambang pintu gerbang.
"T-tapi..."
Belum sempat Petran berucap, mobil jemputanya sudah tiba.
"Eh, jemputan Marsha udah sampe... duluan yah!"seru Marsha.
Marsha langsung berlari cepat ke arah mobil.
"Silahkan masuk, Nona."
Marsha langsung masuk mobil, kemudian mobil itu hilang dari pandangan Petran.
"Kenapa aku merasa Marsha sedang menghindari aku... Sha, kenapa kamu nggak mau kasih tau apa yang terjadi? kenapa kamu hanya memilih diam begitu?"gumam Petran.
"Apa kamu mendengar pembicaraan aku dan luna beberapa jam lalu?"
Petran bingung untuk berpikir, Luna berjalan menghampiri Petran.
"Pet, Ayo!"ajak Luna.
Petran mengangguk mengiyakan ucapan Luna.
****
Ke esokan harinya.
Marsha sengaja pagi-pagi sudah stay disekolah lebih dulu dari papa Biasanya, karena tidak mau pergi sekolah bareng Petran.
__ADS_1