Fathur My Future

Fathur My Future
SI COWOK CULUN...


__ADS_3

Marsha tengah menikmati membaca buku di perpustakaan sebelum bell masuk berbunyi, namun saat tengah asik membaca ponselnya mendapati notifikasi.


Marsha melirik handphonenya, tertera nama Petran disana, dimulainya baca chat Petran.


📩Temuin kakak di atas atap sekolahan.


"Kenapa kak Petran mau ngajak ketemu di atap?"gumam Marsha.


Tidak ingin menunggu lama lagi, Marsha dengan santainya berjalan menuju ke atas atap. di jalan Marsha melihat seorang laki-laki tengah di bully, di ganggu oleh beberapa siswa siswi, karena tidak tega Marsha mendekatinya.


"HENTIKAN!"bentak Marsha.


"Eh?!"lelaki itu menoleh.


"M-marsha?"ucap salah satunya.


"Jadi dia Marsha? Primadona disekolah ini"gumam lelaki itu.


Yang membully jadi ketakutan saat melihat kedatangan Marsha, mereka merinding dan langsung pergi dari sana sebelum Marsha berkata lagi.


Marsha mengulurkan tanganya kepada lelaki itu, entahlah kenapa dia ingin menolongnya, biasanya Marsha tidak peduli dengan hal begituan.


"K-kamu mau ngapain?"ucap lelaki itu


"Nolong kamu supaya berdiri"ucap Marsha.


"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!"tolaknya. tanpa peduli uluran tangan Marsha lelaki itu berdiri, setelah itu dia menatap Marsha.


"Terimakasih."ucapnya. setelah itu dia pergi dari pandangan Marsha.


"Lelaki berkaca mata, tahi lalat dipipi, gaya culun... Seriously disekolah ini masih ada?"ucap Marsha kepada dirinya sendiri.


Drrtt.. Drttt.. Notifikasih dari Petran kembali masuk.


📩Sha, kamu dimana? kakak sudah nunggu disini dari tadi.


Marsha mengambil nafas dalam lalu membuangnya.


"Aku datang, masa mau ngehindar terus."ucap Marsha dengan diri sendiri sambil menatap layar hp nya.


****


Di atas atap Marsha melihat Petran yang sudah menunggunya sambil berdiri melihat sekeliling.


"Kak..."sapa Marsha. di dekatinya Petran.


"Akhirnya datang juga, kakak kira nggak bakal datang."


"Kak Petran mau ngomong apa? sampe ngajak ketemuan disini segala,"kepo Marsha.


"Hmm.. Sha, apa kamu mendengar percakapan kakak sama Luna, kemarin?"


Marsha mengangguk dan menatap Petran.


"Lalu, karena itu kamu ngehindar kakak selama beberapa hari?"


Marsha hanya diam tanpa ingin membuka mulut untuk bicara


"Biar kakak jelaskan, sebenarnya--"


"Marsha udah tau, jadi nggak perlu dibahas. Marsha nggak marah kok kak... Marsha malah seneng kak Petran jujur soal perasaan kakak sama Luna."jawab Marsha memotong ucapan Petran.


"Marsha hanya kecewa dan sedih aja, soal kejujuran kakak tentang hubungan kita... Marsha pikir ada spesialnya, tapi yaudahlah mau gimana lagi..."


"Sha, Maaf. Kakak nggak bermaksud nyakitin perasaan kamu..."


"Kak Petran udah tau sejak kapan perasaan Marsha sama kakak,"tanya Marsha.


"Udah dari awal, Sha."


"Ohh gitu..."


"Maaf, kakak nggak bisa balas perasaan kamu untuk sekarang.... Mungkin nanti,"pinta Petran.


Nanti? Apa akan ada hari itu?


Marsha hanya diam, tidak ada niat untuk menjawab.


"Sha, apa kamu mau nunggu? sampe kakak bisa nentuin, sebenarnya perasaan kakak itu gimana sama kamu,"pinta Petran.


"Em, Marsha nggak janji."jawab Marsha.


"Yasudah baiklah... Sekarang apa kita bisa berdamai?"


"Tentu."


"Kita masih bisa seperti biasa?"


"Maaf. Marsha butuh waktu,"pinta Marsha.


"Baiklah."jawab Petran sedih.


****


Setelah berdamai keadaan kembali seperti semula. 1 minggu telah berlalu dengan cepatnya, hubungan Petran dan Luna makin membaik, gosip tentang mereka sudah banyak tersebar luas.

__ADS_1


Marsha sangat sedih mendengarnya, namun dia juga bahagia karena titik terbaik mencintai adalah mengikhlaskan.


Setelah kejadian lalu hubungan Marsha dan Petran tidak sedekat dulu lagi, Marsha hidup dalam kesedihan melihat tawa ria Petran dan Luna disekolah, kantin, lapangan, dan berbagai tempat. Luna juga terus menempel dengan Petran membuat Marsha tidak ada kesempatan untuk dekat dengan Petran lagi.


Sejak itu juga Marsha tanpa sadar sudah mulai melupakan perasaannya, menguburnya dalam-dalam dan berharab akan ada orang lain yang mampu menyembuhkan lukanya, di lepasnya Petran untuk bahagia dengan gadis pilihannya. saat itu juga Marsha yang dikenal ramah, mudah akrab dan ceria menjadi begitu pendiam, dan dingin dengan banyak orang. ekspresif wajah yang tidak pernah tersenyum membuat beberapa pengagumnya menjadi sedih, mereka tau penyebab primadona sekolahnya berubah begitu.


"Semoga Marsha tetap kuat yah, kasian banget dia sama Petran nggak jadian."


"Iya, padahal cocok."


"Dia sakit hati banget kayaknya, selama 2 tahun deket sama Petran dan pada akhirnya Petran sama cewek lain."


Beberapa tanggapan orang-orang yang melihat Marsha.


Marsha semakin hari makin berubah, bahkan saat ada yang menyapa tidak lagi dibalas senyuman. jika dia melirik itu adalah tanggapan paling ramah yang dia berikan sekarang.


"Mulai hari ini, kejadian hari kemarin dan masalalu... Semuanya akan aku kubur dalam-dalam."


"Tidak ada lagi Marsha yang menyedihkan kali ini, Marsha yang berdiri disini sekarang harus bahagia bahkan lebih bahagia lagi..."


Marsha terus menyemangati dirinya sendiri, hidup dalam ke sendirian membuatnya sedikit terbiasa.


****


Di kantin sekolah Marsha tengah menikmati camilanya. saat tengah mengemil beberapa makanan, Luna datang menghampiri dirinya.


"Ekhem..."sengaja Luna berdehem.


Marsha tidak menoleh, dia terus melahap camilanya.


"Hei! Marsha gue ngomong sama lu!"


"Kalo mau ngomong, ya ngomong aja,"jawab Marsha.


"Ck. Hemm, minggu depan gue ultah... Lo dateng yah,"pinta Luna. diberinya undangan.


"Buat apa?"


"Ya, dateng aja sih... Sekalian gue mau ngumumin soal hubungan gue sama Petran, lo pasti datang, kan?"


"Oh, mau manesin nih ceritanya... Okeh kita liat siapa yang akan panas nanti.,"guman Marsha.


"Ok."jawab Marsha.


"Ditunggu, Sha. Kedatangan lo sangat penting buat gue... Lo kan primadona disekolah ini, enggak mungkin nggak dapet undangan..."ucap Luna.


"Oh yah, satu lagi nih... Jangan lupa bawa pasangan, Yah!"perintah Luna.


"Kenapa mesti bawa pasangan?"


"Oh, ok."


"See you, Sha."


Setelah itu Luna pergi dari sana, Marsha nampak kebingungan untuk pergi dengan siapa. namun saat dalam kebingungan Marsha melihat kasus bully kembali terjadi di sekolah, bahkan didepan matanya.


"Akh!"


"Rasain lo!"


"Dasar cupu!"


Marsha terbelalak saat melihat siapa yang dibully.


"Lah, itu kan sih cowok cupu itu? Dia kenapa dibully lagi sih!"kesal Marsha.


Marsha langsung bergerak berlari kesana, entahlah ada apa denganya sampai mau menolong lelaki itu.


"Berhenti!"teriak Marsha.


"Eh, Marsha?!"


"Sha?"


"Astaga, Marsha cantik banget kalo dilihat dari deket gini..."


Marsha tidak peduli ucapan mereka, Marsha mendekati lelaki itu, dilihatnya jemari lelaki itu lecet bagian tangan kiri.


"Ayo berdiri!"Marsha membantunya berdiri.


"K-kamu? Kenapa kamu nolongin aku lagi?"ucap lelaki itu


"Jangan banyak tanya!"


Marsha melirik yang membully lelaki itu


"Lo pada ngapain bully dia?"


"Ehm, dia kan cupu..."


"Memangnya kenapa? dia manusia bukan hewan!"marah Marsha.


"T-tapi, si cupu ini nggak bisa apa-apa. Lo kenapa belain dia?"


"Karena gue nggak suka lo pada bully dia!"

__ADS_1


"Eh?"lelaki itu tertegun.


Semua mata melihat mereka berdua, banyak yang bergosip.


"Astaga, itu beneran Marsha?"


"Astaga, dia nolong cowok cupu itu?"


"Baru kali ini Marsha peduli soal beginian"


"Apa mereka ada hubungan?"


"Nggak mungkin"


Marsha mulai risih dengan gosipan orang-orang, dengan cepat dia menarik lelaki itu untuk mengikutinya pergi.


****


Di uks Marsha mengobati lelaki itu, setelah selesai Marsha meliriknya dengan tajam.


"Mereka kenapa mbully kamu, tadi?"selidik Marsha.


"Gapapa."jawanya singkat.


"Heh. Kamu pikir aku percaya? Kamu cowok kan?"


"Iya cowok lah!"


"Aku pikir bencong!"ejek Marsha.


"K-kamu kenapa ngatain aku gitu?! Aku nggak kayak gitu!"marahnya.


"Karena kamu persis seperti itu, lemah dan mudah ditindas!"


Lelaki itu terdiam atas penuturan Marsha.


"Apa aku seperti itu?"tanyanya dengan nada pelan.


"Tentu, tetapi tidak juga kalo kamu sedikit keras dengan mereka... Hidup ini harga diri yang paling utama."


Lagi-lagi laki-laki itu diam mendengar penuturan Marsha.


"K-kamu kenapa nolong aku? Kita kan nggak saling kenal, dan sudah 2 kali kamu menolong..."


"Entahlah, aku merasa akrab aja kalo lagi liat kamu..."jawab Marsha.


"Ck. Sebelumnya terimakasih lagi, lain kali jangan membantu aku lagi..."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak butuh pertolongan dari seorang gadis!"


Marsha tersentak kaget, tak lama lelaki itu sudah pergi dari pandanganya.


"K-kenapa aku merasa akrab sekali dengan dia? Ucapanya barusan seperti aku pernah mendengarnya, tapi dimana?"gumam Marsha.


"Astaga, aku lupa menanyakan namanya."


Tanpa disadari tubuh Marsha tadi beraksi sendiri untuk menolong lelaki itu, apa yang dipikirkanya.


****


Pukul 12.30 siang.


Marsha baru pulang sekolah, di parkiran dia melihat Petran sedang bersama Luna, dengan langkah malas Marsha melewati mereka.


"Eh, Marsha!"teriak Petran


Marsha menghentikan langkah kakinya, dia berbalik arah menoleh ke arah Petran dan Luna.


"Mau pulang bareng?"tawar Petran


"Bertiga satu motor? Jangan konyol!"ucap Marsha.


"Eh, iya juga yah..."


"Sudahlah, aku ada jemputan kok kak. kak Petran urus aja Luna."


Setelah berucap Marsha melangkahkan kaki keluar gerbang sekolah, mobil jemputanya sudah tiba.


Diperjalanan Marsha asik dengan hp nya, namun karena Bosan dia mencoba membuka kaca mobil untuk menghirup udara. sesaat pandanganya teralih pada sosok lelaki yang tidak asing.


"Si cowok culun?!"ucap Marsha


"Ada apa, nona?"tanya supirnya.


"Pak, pak, stop bentar!,"pinta Marsha.


Supirnya langsung berhenti, Marsha segera keluar dari mobil tanpa peduli panggilan dari supirnya.


"Cowok culun!"teriak Marsha


Lelaki yang merasa dirinya disebut pun menoleh. "M-marsha?!"Kagetnya.


Marsha berjalan menyeberangi jalan, guna menghampiri lelaki itu.

__ADS_1


"Kok kamu bisa disini?"tanya lelaki itu.


__ADS_2