
Saat tengah asik berbisik-bisik tiba-tiba saja spidol melayang mengenai kepala Putri. tentu saja Putri meringis kesakitan dan keningnya memerah, marah tentu saja marah dan juga bukan hanya Putri yang dilempar sepidol Kinan dan Ranti juga ikutan kena bahkan Fathir hampir kena juga.
"Aww!"ringis Putri Kinan dan Ranti memegang kepalanya.
Putri Marsha Kinan dan Ranti melihat guru yang memasang mata elang kepada mereka, tanpa rasa bersalah Putri Kinan dan Ranti acuh menahan marahnya dan hanya mengumpat dihati. sementara itu gurunya kembali hendak melempar penghapus ke arah mereka berempat.
Srass!
Penghapus itu di tangkap oleh Fathir karena hampir mengenai wajah Marsha, semua mata menatap kearah Fathir dengan melongo termasuk sang guru.
"Apa ibu tidak puas setelah melempar spidol? dan masih ingin melempar penghapus juga?"tegur Fathir dengan dinginya.
"Mereka asik dengan diri sendiri di jam pelajaran saya! tidak menghormati guru adalah bentuk ketidaksopanan! mereka pantas di lempar! tidak tau sopan santun, tidak di ajar apa?!"ucap guru mereka melotot.
"Kalau begitu saya tanya... apa anda menghormati murid-murid anda ketika mereka membuat tugas? apa anda mengoreksinya? anda hanya memberi tugas, tugas, tugas dan langsung nilai inti... apa pantas mengatakan tentang kesopanan dan norma adab? jangan mentang-mentang anda seorang guru bisa seenaknya!"timpal balik Fathir.
Marsha yang merasa dirinya di bela hanya mematung diam.
"Kamu bagaimana tau?"
"Banyak laporan mengenai anda, anda hanya memakan gaji buta tanpa berniat mengajar dengan sungguhan... jika begitu anda lebih tidak sopan dari pada mereka yang hanya berbisik, setidaknya mereka masih menurut dan membuat tugas yang anda berikan tanpa mengeluh."
Guru itu diam dan menatap sinis, setelah itu dia berkata dengan tegasnya mengancam menggunakan nada tinggi. "SAYA AKAN LAPORKAN MASALAH INI KEPADA KEPALA SEKOLAH KALIAN! TERMASUK ANDA MARSHA!"
Ck, mau melapor aku kah? tidak tau diri! aku yang menahan papa supaya kau tetap jadi guru. benar-benar tidak tau terimakasih dan... sombong! (batin Marsha)
Guru macam apa ini? bisanya mengancam saja, tidakkah dia tau sekarang ini berurusan dengan siapa? semoga anda beruntung nantinya. (batin Kinan)
Lapor saja, papa gue sama pemilik sekolah ini teman dekat tau! lo tuh yang bakal gue lapor, guru nggak becus! (batin Putri)
Lapor sana, lapor! nggak takut gue! (batin Ranti)
"Apa anda tidak tau bahwasanya Marsha ini adalah putri pemil--"belum sempat melanjutkanya ucapan Putri dipotong oleh Marsha.
"Saya tunggu diruang kepsek besok pagi, jangan telat jangan tidak lapor! pukul 08.00 anda harus tiba sebelum saya tiba! atau jika tidak... heh, lihat saja nanti!"tantang Marsha dengan dinginya, melipat kedua tangan didada menatap penuh hawa dingin ke arah sang guru.
Semua mata terbelalak kaget mendengar tantangan Marsha, ada yang takjub ada juga yang membisu kecuali para sahabatnya yang menatap keren kearah Marsha tak terkecuali Fathir.
M*mpus! apa yang Marsha rencanakan, gue jadi bepikir guru ini bakal out cepat atau lambat. (batin Putri)
Gila nih, Marsha marah bener kek nya nih... kok gue merinding, sih. (batin Ranti)
Semoga ibu guru di beri kemudahan besok. (batin Kinan)
Hem. menarik... Marsha, gue semakin cinta sama lo. (batin Fathir)
Plak!
Satu tamparan mendarat diwajah Marsha, bercap 5 jari dipipi mulusnya.
-Astaga, Marsha ditampar cuy...
-Yaampun, kasihan banget bro... sayangku yang kuat yah.
-Guru sialan! beraninya ngasarin primadona gue!
-Gawat, Marsha bisa marah nih... dia kan nggak pernah dikasarin atau ditampar gitu..
-Habislah guru ini, mencari masalah dengan orang yang salah... tidakkah dia tahu posisi Marsha di sekolah ini? semoga beruntung kedepanya.
Beberapa bisikan murid lainya yang melihat Marsha ditampar.
Hooh, 5 jari yang menancap diwajahku ini akan aku balas beberapa kali lipat! berani membuatku marah, mati saja! (batin Marsha)
Di pegangnya pipinya yang terasa perih dan memerah bengkak itu.
"Ingatlah, 5 jari ini baik-baik... aku akan membalasnya nanti!"ucap Marsha dingin sambil menunjukkan pipinya yang bercap 5 jari itu.
"K-kamu beraninya?!"ucap gurunya geram.
"Selagi saya tidak salah, saya tidak takut! permisi saya tidak enak badan mau pulang! guys kalian semua boleh pulang, gue yang tanggung jawab kalo kalian mau dikeluarkan dari kelas!"ucap Marsha tegas
"Seriusan, sha?"
"Bener nih?"
__ADS_1
"lo tanggung jawab?"
Marsha mengangguk dan berucap. "gue ngomong hanya satu kali, bye! permisi bu!"ucap Marsha dingin dan acuh kemudian mengambil tasnya pergi disusul para gengnya.
"Sha, tungguin! bye ibu guru..."ucap Putri pergi dari sana.
Huuh, gue nggak perlu balas tuh guru sialan! maafin aja deh.. biar Marsha yang urus hehe. (batin Putri)
Marsha, gue salut sama lo... gadis terbaik. (batin Fathir)
Semua murid ikut keluar tanpa peduli teriakan guru itu, termasuk Fathir. sebelum keluar kelas dia menatap gurunya penuh makna.
"Semoga anda beruntung..."ucap Fathir lalu pergi.
"DASAR TIDAK ADA ADAB! KALIAN SEMUA KURANG AJAR! BRENGSEK! AWAS KALIAN!"teriaknya di dalam kelas.
****
Marsha tiba dirumah utama diantar sahabatnya dengan mobil masing-masing setelah itu mereka pamit pergi.
Tak! tak! tak!
Marsha berlari memasuki rumahnya dengan penuh amarah dan kesal, beberapa pembantu dirumahnya melihat itu langsung was-was.
-Apa yang terjadi dengan nona, tidak biasanya dia tiba di kediaman utama dengan wajah penuh hawa dingin itu.
-Lihatlah wajahnya membengkak, apa yang terjadi..
-Yatuhan, kenapa ini?
Bisik-bisik sang pembantu di mansion papanya. Marsha sengaja pulang kerumah papanya dan bukan mamanya.
"Dari pada bergosip lebih baik kasih tau dimana papa?!"tanya Marsha dingin kepada pembantu yang lewat dihadapanya.
"T-tuan besar ada di lantai ataa non, bersama nyonya kedua."ucap salah satunya menunduk takut.
Nyonya kedua adalah panggilan untuk bunda Marsha yaitu Gisel, sementara nyonya pertama yaitu mama kandung Marsha mantan istri papanya Mandine.
Tak! tak!
Marsha langsung berlari ke lantai atas untuk menghampiri papanya.
****
"Pa, bun!"teriak Marsha. yang merasa dirinya dipanggil pun menoleh.
"Marsha?!"ucap Gisel dan Hari kompak (Hari papa Marsha).
Mereka bahagia dengan kehadiran Marsha.
"Eh, sini nak..."Gisel menyuruh Marsha mendekat, dengan kesalnya Marsha mendekat.
"LOH, INI WAJAHMU KENAPA HAH?! KAMU BERKELAHI SAMA SIAPA? KENAPA WAJAHMU BENGKAK BEGINI?!"ucap Gisel mengamuk kala melihat wajah Marsha bengkak sebelah dan memerah, langsung saja dia berdiri memegang wajah Marsha.
Hari mendengar Gisel mengeluarkan nada keras langsung memperhatikan wajah Marsha anak sematawayangnya itu.
"Astaga, ini kenapa nak? siapa yang membuatnya begini?"tanya Hari sambil menyentuh pelan wajah Marsha.
Dengan malas Marsha menjawabnya. "Aku ditampar."singkat padat nan jelas, tapi berhasil membuat Hari dan Gisel marah dan melotot.
"APA?!"kaget mereka berdua.
"Siapa yang berani menamparmu, hah? katakan?! biar bunda hajar!"ucap Gisel.
"Ya. katakan pada kami, siapa? biar papa hancurkan orang yang berani menampar dan membuat wajahmu begini!!!"sambung Hari.
Marsha kaget kala melihat bunda dan papanya semarah ini, pasalnya tidak pernah Marsha melihat Mereka seperti ini kepadanya.
"Apa mamamu?!"tanya Hari lagi.
Marsha melotot dan hendak menjawab langsung dipotong duluan oleh Gisel. "Benarkah?!"penuh penekanan.
Yatuhan, kenapa jadi begini sih! tujuan aku kemari bukan mau mengadu tapi mau membahas soal Fathir! (batin Marsha)
"Gisel, telpon Mandine suruh kemari!"perintah Hari dan dibalas anggukan oleh Gisel.
__ADS_1
"Eh, loh? lah, papa kok nelpon mama sih?!"ucap Marsha menahanya.
"Lah kenapa? dia kan yang menamparmu?! papa saja tidak pernah!"ucap Hari marah.
"B-bukan mama pa!"
"Lalu siapa?!"
"Mangkanya dengarkan dulu!"
Gisel dan Hari sejenak mengangguk dan mencoba meredahkan emosinya yang memuncak. setelah dirasakan tenang barulah Marsha bercerita, Gisel dan Hari sangat marah kala mendengar itu. darah mereka mendidih naik turun tak henti.
Beraninya menampar anak sematawayangku! tidak betah hidup kah?! aku saja papanya tidak pernah menampar atau bahkan berbuat kasar padanya, justru seorang pemulung yang aku tolong berani sekali menampar putri berlian kuh... benar-benar tidak bisa dimaafkan! (batin Hari)
Kurang ajar! beraninya dia memperlakukan anakku begitu! aku tidak terima, enak saja menampar anakku satu-satunya! (batin Gisel)
Setelah Marsha bercerita Mandine tiba dengan tergesa-gesa dan langsung mendapati Marsha yang wajahnya bengkak sebelah.
"ANAKKU HIKS.. SIAPA YANG BERANI MEMBUAT WAJAHNYA JELEK BEGINI HAH?! WAJAHMU SEPERTI BALON SEBELAH! HUUH... TIDAK LAGI IMUTE..."teriak Mandine sambil menangis. dia memang lebai jika menyangkut putrinya ini, tapi ucapanya pedas.
"Ma, tenanglah aku nggapapa kok! alay banget ih... denger dulu penjelasan Marsha, ma!"kesal Marsha.
Mandine mengangguk, Marsha menjelaskanya dari awal hingga akhir kepada Mandine. dengan marah Mandine menatap Hari.
"Ini semua karenamu! karena salah membantu orang sampai dia menyakiti anak kita! jika putriku kenapa-napa aku akan memenjarakanmu yang tidak becus menjadi papanya!"Mandine memarahi Hari.
Gisel berusaha menenangkan Mandine sementara Hari sudah biasa di omel Mandine begitu.
"Mbak, tenanglah... besok kita akan membahasnya dengan perempuan itu!"ucap Gisel menenangkan Mandine.
"Tidak bisa besok! harus sekarang dong... aku ingin menampar nya balik, sebanyak seratus kali!"ucap Mandine.
Yang benar saja seratus kali, dia menamparku hanya sekali. (batin Marsha)
Marsha bersusah payah menelan salivanya, segini pedulinya kah para orang tuanya kepada dirinya.
Mama, papa, bunda... k-kalian membuatku terharu hiks.. aku menyayangi kalian, tapi kenapa ceritanya kalian jadi selebay ini sih! aku kan hanya ditampar, sudah seperti hampir mati terbunuh saja... tapi bagaimana pun aku bahagia kalain peduli dan akur begini. (batin Marsha)
"Baiklah."pasrah Hari mengikuti kehendak mantan istrinya itu.
"Tunggu! besok saja, aku sudah mengatakan besok disekolah saja!"tukas Marsha.
"Tapi..."ucap Mandine Hari dan Gisel kompak.
"Marsha mohon, besok saja..."
"Baiklah."turut mereka.
"Mama.. Bunda... Papa... Marsha sayang kalian!"Marsha langsung menghambur memeluk Mereka bertiga, dan yang dipeluk ternganga saja kemudian tak lama membalas pelukan Marsha.
Demi dirimu papa rela melakukan apapun... (batin Hari)
Marsha, kau adalah berlian sumber kebahagiaan kami, mana mungkin kami diam saja ketika ada yang berani menyakitimu... aku sangat menyayangimu meskipun kau terlahir bukan dari rahimku. (batin Gisel)
Anakku, jika melihatmu terluka rasanya jantungku berhenti di detik itu juga, kau tau aku sangat takut terjadi sesuatu padamu... kau benar-benar membuatku hampir serangan jantung dengan melihat wajahmu bengkak, meski hanya sebatas itu aku tidak rela anak kesayangan ku terluka sedikitpun! taukah kau aku sangat susah mendapati dirimu dulu... (batin Mandine)
"Sudahlah jangan lebai!"Mandine melepaskan pelukanya.
Huuh. yang lebai siapa, ma? (batin Marsha)
"Sini bunda obati wajahmu."ucap Gisel.
"Biar aku saja..."timpal Hari.
"Aku saja, aku mamanya."ucap Mandine
"Tidak. aku saja..."ucap Gisel.
Mereka berdebat hendak mengobati wajah Marsha, dengan malas dan jengah Marsha melerainya.
"Biar adil, kenapa tidak bekerja sama saja mengobatiku? aku mau nya mama papa dan bunda yang mengobati!"
Mendengar itu Hari Gisel dan Mandine bahagia dan mengangguk, langsung saja mereka mengobatinya ada yang mengambil air hangat, kotak p3k.
Sepertinya tidak tepat jika membahas Fathir sekarang... yasudah, lain kali saja lah. (batin Marsha).
__ADS_1
___
Sampai jumpa lagi next up...