Fathur My Future

Fathur My Future
MENYEBALKAN!


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan para orang tuanya semalam. hari ini Marsha kerumah sekolah tidak langsung ke dalam kelas melainkan keruangan kepsek, ditemani bunda dan mamanya sementara sang papa masih menelpon seseorang di luar ruangan. Putri, Kinan dan Ranti tengah asik menunggu di depan pintu untuk melihat apa yang akan terjadi pagi ini.


"Mana Rumi? lama sekali tiba disekolah ini, aku ingin memarahinya sekarang juga!"ucap Gisel mengoceh dalam ruangan ditemani Mandine dan Marsha.


"Sabar,"ucap Mandine menenangkan Gisel.


"Nggak bisa dong... tanganku sudah gatal, mbak!"ucap Gisel.


"Yasudahlah. terserah padamu, yang penting kau senang saja."


"Aku tidak senang jika belum menamparnya! mbak kenapa santai begitu? tidak berniat ingin menamparnya?"


"Kau saja yang mewakili aku,"perintah Mandine.


"Menyebalkan!"ketus Gisel.


Marsha hanya terkekeh geli saja kala itu, dan tak lama sang papanya masuk ke dalam ruangan. namun berhenti diambang pintu kala melihat 3 gadis yang berdiri setia disana.


"Kinan, Putri, Ranti. kalian tidak masuk kelas?"tegur Hari.


"Ah, anu om nungguin Marsha..."ucap Ranti.


"Iya, om."sambung Ranti dan Kinan.


"Sana ke kelas!"perintah Hari.


Terpaksa ketiga gadis itu menurut saja dan membuang nafas jengah sambil melambaikan tangan kepada Marsha.

__ADS_1


Cih! alay sekali! (batin Marsha)


Tak! Tak! Tak!


Seorang wanita memasuki ruangan dengan sedikit ngos-ngosan, dia adalah guru yang bermasalah dengan Marsha dan hari ini nasibnya belum bisa diprediksi.


"M-maaf tuan, saya tadi habis ke rumah sakit melihat anak saya... jadi saya terlambat tiba disini."ucapnya.


"Oh, jadi kau wanita sialan yang berani menampar anakku?!"marah Gisel dengan tatapan elangnya kepada wanita itu.


Dia menatap kaget sambil terbelalak, ekspresinya tidak bisa ditentukan. sebut saja namanya Rumi.


Rumi dulunya seorang pengemis, dia bisa bekerja di sekolah ini semua berkat orang tua Marsha yang mempekerjakanya namun pernah hampir di pecat dan di cegah oleh Marsha karena dia kasihan dengan putri Rumi yang dirawat dirumah sakit.


Banyak laporan mengenai rumi akan korupsi disekolah, main kekerasan dan lainya terhadap murid.


Plak!


"Ng.. nyonya kedua kenapa menampar saya?"tanya Rumi dengan tatapan tidak pahamnya.


Gisel semakin jengkel dan menatapnya ganas.


"Apa katamu?! kau tanya kenapa aku menamparmu? itu adalah balasan karena kau berani menampar putri kesayangan kami itu!"bentak Gisel.


Plak!


Aww... pasti sangat perih. (batin Marsha)

__ADS_1


Satu tamparan lagi mendarat diberikan Gisel.


"Ini tamparan kedua mewakili mbak Mandine, karena kau sudah lancang berani menamparnya dan bahkan kami para orang tuanya pun tidak pernah mengasari dirinya! dan juga tamparan ini mewakili semua murid yang kau lempar dengan sepidol!"


Rumi baru paham dan mengerti dia kemudian melirik Marsha yang sedari tadi hanya menatap datar dan dingin sambil menikmati bobbanya, wajahnya masih terlihat membengkak tapi agak mendingan dari hari kemarin.


T-ternyata dia putri keluarga yang tidak semestinya aku kasari, habislah... (batin Rumi)


"M-maafkan saya nyonya, saya melakukan itu semua semata-mata hanya ingin menghukum mereka... mereka tidak mendengar ketika saya menjelaskan di depan papan tulis."jelas Rumi sambil menunduk.


Hooh, masih ingin menyalahkan aku rupanya? tidak tau terimakasih sekali. (batin Marsha)


"SETIDAKNYA TEGUR SAJA! KAU TAU KAN, SEBELUM AKU MEMPEKERJAKANMU DISEKOLAH INI TUGAS DAN SYARAT APA YANG KAMI BERIKAN?!"bentak Mandine dengan tajamnya.


"T-tau nyonya pertama."jawabnya gelagapan.


"Sebutkan salah satu syaratnya!"


"Tidak boleh korups--"belum selesai berucap Gisel memotong ucapan Rumi.


"SALAH! yang benar adalah tidak di izinkan satupun kekerasan terjadi disekolah ini terhadap para murid atau lainya, meski ada kesalahan diantara mereka kau hanya boleh menghukumnya ringan dan tidak ada main tangan kecuali sudah dapat perintah dari kami!


Dan yang terpentingnya adalah, jangan sekali-sekali berani menyentuh putri kami karena jika terjadi maka tidak ada maaf atau pengecualian!"


Sekarang habislah aku, aku tidak tau betapa bahayanya keluarga ini. keselamatan nyawaku dan putriku ada ditangan mereka. ah tidak, seperti nya ditangan bocah itu... (batin Rumi)


___

__ADS_1


Telat up 😭


__ADS_2