Fathur My Future

Fathur My Future
NASI KOTAK.


__ADS_3

Hai guys! aku kembali nih, ada yang nunggu nggak? 😭 Malam ini aku sempatin up demi kalian lohh, masa nggak ada yang nungguin, besok masih ujian aku nya, tapi hari terakhir... doa'in moga tetap lancar 😭


Guys, makasih komentarnya yah, nggak sempat aku balas dan hanya aku like, maaf yah. I love you ♥


Berikan Vote, Like, Rate, dan Komentar kalian dengan seikhlas mungkin!


HAPPY READING!


****


15 menit berlalu...


Fathur kembali dengan style hoodie yang Marsha berikan dan wajah yang kembali seperti awal tidak basah. Namun tetap kacamata, tahilalat, dan rambut culunya menutupi dirinya. Entah kapan dia akan menampakkan wujud aslinya, dalam hitungan hari sepertinya sudah dekat.


Marsha memperhatikan Fathur yang masih dalam kejauhan berjalan elegan persis seperti lelaki estetic tanpa ada bentuk cupunya sedikitpun. Marsha pangling, pikiranya bertempur akan sesuatu hal.


Ah, bodoh! Kata yang menggambarkan kesadaran Marsha kala melihat Fathur.


"Bagaimana? Bajunya pas kayaknya."ucap Marsha ketika Fathur berdiri berhadapan denganya.


Hoodie itu benar-benar mantap melekat ditubuh Fathur, jika Marsha yang memakainya mungkin akan seperti patung sawah, habisnya kebesaran.


"Iya, kok ukuranya besar banget... Nggak sesuai sama bentuk tubuh kamu."ucap Fathur kepada Marsha.


"Hehehe, itu hoodie aku nemuinya di gudang rumah."jawab Marsha jujur. Fathur hanya mengangguk paham tanpa bertanya lagi.


"Yasudah, aku mau ke kelas."lanjut Fathur kala melihat Marsha hanya diam.


"Ah, iya... Aku juga."ucap Marsha.


Diambilnya nasi kotak yang tadi dia taruh dibangku kosong sampingnya, kemudian disodorkanya kepada Fathur sambil tersenyum tipis. Tipis namun bisa terlihat.


"Eh, ini apa?"heran Fathur.


"Nasi kotak."ucap Marsha singkat.


"Iya tahu! Tapi kenapa disodorkan sama aku?"


"Buat kamu!"


"A-aku?!"


"Iya, Fathur! Habisnya tadi aku lihat bekal kamu di kacaukan sama Adit... Yaudah aku ganti sama yang aku aja, nih ambil!"


Fathur tertegun dengan menatap Marsha, gadis itu kenapa begitu baik padanya.


"Tapi, kamu?"


"Aku udah kenyang."


"Beneran?"


"Iya!"


"Yasudah, aku terima yah... Terimakasih."


"Sama-sama, hehehe..."


Fathur mengangguk dan menerima nasi kotak itu, melangkahkan kaki dan pergi dari sana. Marsha masih mematung menatap punggung Fathur dari kejauhan.

__ADS_1


"Hmmm, semoga suka!"teriak Marsha.


Mendengar teriakan itu Fathur hanya tersenyum dan terus berjalan tanpa menoleh dan menghiraukan Marsha lagi, diperhatikanya nasi kotak itu sepanjang jalan.


"Unik,"lirihnya.


Nasi kotak yang bewarna merah, entahlah isinya lauk apa Fathur belum tahu.


****


Bell masuk berbunyi, nampak Fathir cs tengah menatap Marsha, Putri, Ranti dan Kinan yang baru masuk melewati ambang pintu.


"Ck."umpat Fathir kala melihat Marsha yang menatapnya.


"Tuh anak kenapa? Sinting kayaknya,"bisik Putri kepada Marsha.


"Tau. bodohamat,"cuek Marsha.


"Napa luh liat-liat kita kayak gitu?!"sinis Putri menatap Fathir


"Siapa yang lihatin eloh, pede amat!"judes Fathir.


"Lah, barusan apa?!"


"Ck. Gue nggak merhatiin eloh! Gue merhatiin Marsha!"


"Napa lu merhatiin sahabat kita?!"hardik Ranti


"Emang nggak boleh? Yang diperhatiin aja cuek kok, kok kalian pada sirik?! Ngiri yah?"


"Ck. Nyenyenye!"kompak Ranti dan Putri.


Kinan hanya diam saja memperhatikan perdebatan receh itu, heran dengan Putri dan Kinan yang terkadang suka kadang tidak dengan Fathir.


Hal itu menarik perhatian seisi kelas, termasuk Fathir cs.


"Apa?! Nasi kotak? Ngasih sama cupu itu, serius lo?!"ucap Fathir dengan nada tingginya, membuat seisi kelas kaget.


"Beneran, Sha?"tanya Ranti dan Putri kompak.


Dengan malasnya Marsha mengambil nafas, diliriknya semua yang disana.


"Ya. Memangnya kenapa?"dingin Marsha tanpa ekspresi.


Jawaban singkat itu mampu membuat gejolak amarah dan cemburu bangkit didiri Fathir, bersamaan fans gila Marsha. Sahabat Marsha hanya tertegun dan menelan ludah tanpa banyak berucap lagi.


"Kok lo ngasih dia nasi kotak?! Mana yang gue?!"hardik fathir.


"Apa sih, Fathir?"lirih Marsha jengah.


"Gue tanya, mana nasi kotak yang gue?"


"Nggak ada!"jutek Marsha


"Kok gitu?! Giliran sama Fathur aja lo segitunya, sementara gue lo jutek banget... Jangan bilang lo naksir yah sama si cupu?"


"Apaan sih! Sok tau, deh!"


"Yah, bisa aja kan... Seluruh murid di sekolah ini ngegosipin kalian, dan lo nggak pernah ambil pusing, apa namanya kalo lo nggak naksir sama dia? Dan lagi, lo hanya perhatian dan fastrespon hanya pada Fathur, Fathur, bahkan yang lainya lo nggak segitunya... Bahkan saat lo deket sama Petran dulu aja nggak sedekat si cupu itu, kan?!"

__ADS_1


Deg!


Marsha terhenyak akan ucapan terakhir Fathir yang menyebut nama Petran.


"L-lo kenapa tau soal Petran dan gue? Bukanya kita baru kenal dan berjumpa?"tanya Marsha.


"Lo nya aja yang nggak sadar kehadiran gue! Selama ini gue nyariin elo, dan malah dia yang lebih dulu nemuin elo! selama ini yang lo cinta itu gue, bukan dia kan?!"


Ucapan Fathir nambah membuat pangling Marsha, dan Kinan hanya menyimak tanpa ikut berucap.


"Apa sih maksud lo? Gue nggak paham, kenapa jadi bahas kesana?"


"Ck. Lo mana bisa paham, kalo sebenarnya lo itu A--"ucapan Fathir di potong oleh salah satu sahabatnya.


"Fathir!"tegasnya sambil mengode lewat mata, sejenak Fathir terdiam.


"Kok berhenti, kenapa?"ucap Marsha.


"Akh! Sudahlah!"kesal Fathir kemudian duduk dibangkunya sambil mengepalkan tanganya.


"Intinya, lo cinta sama gue apa sama Fathur cupu itu?! Jawab!"


Marsha adalah Marsha, tidak akan merespon jika itu tidak begitu dia sukai. namu ucapan Fathir mampu menarik jiwa Marsha, untungnya tidak lama guru datang, Marsha terselamatkan dari pertanyaan konyol Fathir.


****


Dikelasnya Fathur belajar dengan tekun sambil memperhatikan nasi kotak pemberian Marsha, beberapa kali dia tersenyum, entah sadar atau tidak Fathur kala itu tidak memperhatikan yang guru jelaskan.


"Dia unik, menarik, berbeda dari yang pernah ada... Marsha, kau berbeda dari yang lama, sangat terlampau jauh, hmm... Jika adikku tersayang mengetahui ini, mungkin dia semakin membenciku, hahaha."gumam Fathur.


Bell kembali berbunyi, Fathur keluar kelas melangkahkan kakinya menuju kelas Marsha. Entah apa rencana Fathur, kali ini dia nekad ke kelas Marsha sambil membawa nasi kotak pemberian Marsha.


Setelah tiba di ambang pintu kelas, kebetulan sekali disana berdiri Kinan dan Ranti.


"Eh, Fathur... Nyari Marsha?"tegur Kinan kala Fathur berhenti di depan kelasnya.


"Ya."singkat Fathur.


"Masuk aja, dia di dalam sama Putri."


"Ok."Fathur berjalan masuk kelas.


Ranti dan Kinan saling bertatapan kala Fathur masuk ke kelasnya.


"Dingin, kayak es,"bisik Ranti.


"Belum seberapa."timpal Kinan.


"Andai dia nggak culun, mungkin keren tuh... Dapet julukan beruang kutup, atau serigala kutup haha..."


"Ck. jika dilihat dengan teliti, dia lebih tampan melebihi Fathir... Kaya melebihi Fathir, kamu akan tergila-gila pastinya."bisik Ranti.


"Ck. Nggak mungkin!"


Kinan hanya tersenyum dengan melipatkan kedua tangan didada.


"Di dunia ini ada 2 hal yang sulit di percaya dengan logika. Yang pertama, hal yang nggak mungkin biasanya bisa menjadi mungkin... Yang kedua, orang culun biasanya jenius di atas rata-rata."


"Maksudnya?"Ranti tidak mengerti

__ADS_1


"Orang seperti Fathur, biasanya cenderung lebih banyak menyimpan rahasia... Lebih tepatnya, seperti emas di dasar laut, semakin kamu coba selami, maka kamu akan semakin banyak mendapatkanya dari yang kamu duga."


Ranti terdiam dengan ucapan Kinan, pikiranya berputar akan hal-hal yang sulit ia jangkau.


__ADS_2