
Marsha masih terus mencemaskan keadaan Fathur, wajah Fathur yang memucat serta suara nafas menahan sakit begitu terngiang nyaring di pendengaran Marsha.
"A-apa yang terjadi? siapa yang melakukan ini padamu? ini kenapa? Fathur, jelaskan!"Marsha terus menginterogasi Fathur berharab dapat jawaban.
Fathur hanya memegang perutnya kemudian menatap Marsha dengan tatapan dingin berbeda seperti biasanya.
"Aku bilang pergi yah pergi! jika kamu tetap disini maka kita akan mati berdua! apa kamu mau kita mati berdua dengan cepat? percayalah padaku, aku tidak apa-apa... Marsha, aku mohon pergilah!"tegas Fathur dengan sekuat tenaga menekan setiap ucapanya kepada Marsha.
"Jika aku bilang tidak yah tidak!"teriak Marsha tak mau kalah, "Aku akan tetap disini menemanimu, bahkan jika harus mati tidak masalah... aku bukan tipe perempuan yang akan meninggalkan temanya saat dalam bahaya, kamu mengerti!"lanjut Marsha sambil menekankan perkataanya kepada Fathur.
Deg!
Ada rasa aneh dan tidak percaya Fathur kala mendengar itu, dia terpaksa mengalah biar bagaimanapun tubuhnya sudah mulai melemah.
"Baiklah. kamu sungguh keras kepala!"
"Memang!"
"Ck. kenapa ada perempuan sebodoh ini! merepotkan sekali, dia belum boleh tau siapa aku!"gumam Fathur. "Cari remot mini didalam lemari disana, cepat!"perintah Fathur kepada Marsha.
"Ha? remot mini? untuk apa?"
"Banyak tanya! lakukan saja jika masih ingin hidup!"
"B-baiklah!"Marsha langsung berdiri dan mencari remot yang Fathur maksud dilemari yang ditunjukkan tadi.
Beberapa lemari sudah terbuka dan akhirnya Marsha menemukanya, dia berbalik badan mengisyaratkan kunci itu.
"Pencet tombol merah!"perintah Fathur. tanpa bertanya Marsha langsung memencet tombol sesuai perintah Fathur.
Krekkk!
Suara dinding di sudut kanan berbunyi dan terbuka, lebih jelasnya itu seperti pintu rahasia untuk menuju sebuah ruangan privasi milik Fathur.
"I-ini ruang rahasia?!"Marsha melongo dan beralih ke Fathur.
Fathur berdiri dan Marsha langsung membantu memafahnya, dengan kesal Marsha berucap. "Kenapa tidak bilang minta tolong padaku! kamu lagi terluka begini masih saja angkuh!"Marsha kesal.
"Berisik! cepat kita masuk sebelum mereka datang! jangan lupa remot nya dibawa masuk!"ucap Fathur.
Cih! si cowok culun ini bisanya memerintah saja, mimpi apa aku mau membantunya... akh, aku menyesal membantunya!
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu setelah masuk pintu itu kembali tertutup rapat tanpa ada garis dan kembali membentuk seperti dinding biasanya.
****
"Kenapa gelap sekali? aku tidak bisa melihat, mataku tidak seperti mata kelelawar!"oceh Marsha kepada Fathur.
"Kau bisa diam?"tanya Fathur dengan biasa karena bagaimanapun luka di perutnya tidak seberapa untuknya. sakit dan nyilu masih terasa tapi untungnya pendarahan sudah berhenti karena bantuan Marsha.
"Kita harus segera kerumah sakit! jika perutmu tidak dirawat akan berbahaya nantinya, ayo kita ke rumah sakit saja... kenapa malah ke ruangan ini? kita kan bisa keluar pintu utama!"
"Disini lebih aman dari pada diluar!"
"Maksudmu?"
"Terus lah berjalan kedepan sampai aku berkata stop!"
Marsha mengangguk menanggapi ucapan Fathur. sekitar 4 menit berjalan akhirnya Fathur menahan Marsha untuk berhenti.
"Eh, sudah sampai?"tanya Marsha kala Fathur menahanya.
Sial! mereka tau jalan rahasia rumah ini, sangat tidak aman sekarang jika aku keluar membawa Marsha... aku harus ke arah jalan lain, itu satu-satunya melarikan diri dari sini.
"Kita tidak bisa keluar dari jalan di depan, sepertinya sudah dikepung!"ucap Fathur.
__ADS_1
"Lah, terus dari mana? kamu takut sama mereka? nggakpapa aku ada kok, aku bisa bantu kamu melawan mereka... tapi kayaknya nggak mungkin deh karena kamu terluka begini."
"Jangan banyak omong! semakin kamu banyak berucap aku semakin ingin menendangmu keluar!"geram Fathur.
Ck. lelaki ini aneh sekali, kadang begitu penurut, kadang penakut terkadang juga angkuh dan mengerikan... firasatku mengatakan, sifat yang biasa dia tunjukkan itu hanyalah tipu daya mengelabui orang.
Mereka tiba di satu arah disana ada jalan menuju kehutan. Marsha memasang wajah tak percaya kala keluar menembus hutan, inikah yang dimaksud rumah penuh rahasia.
"K-kenapa bisa ada hutan?"aneh Marsha.
"Ini jalan yang hanya aku dan orang tuaku yang mengetahuinya, jika dalam terdesak aku akan melarikan diri lewat jalan pintas ini."ucap Fathur menjelaskan.
"Oh, ini kita akan kemana?"tanya Marsha.
"Mencari kijang..."jawab Fathur tersenyum.
Marsha hanya mengernyit aneh saja mendengar Fathur mengatakan kijang.
15 menit mereka menembus hutan itu dan berhenti ketika sudah tiba disebuah lapangan yang sangat luas dan terparkir helikopter disana, sepertinya milik Fathur karena itu masih daerah rumah Fathur.
"H-helikopter siapa ini? kenapa bisa disini?"Marsha takjub sambil menatap helikopter itu dan bebera lelaki yang keluar memakai seragam hitam.
"Milikku..."jawab Fathur.
M-miliknya?! sebenarnya siapa dia ini, bahkan helikopterpun ada... seberapa kaya sih Fathur ini, kenapa dia bisa seculun ini tapi memiliki banyak rahasia. ada berapa banyak lagi yang dia sembunyikan? lama-lama aku bisa mati penasaran...
"Tuan muda, anda terluka?!"khawatir lelaki berpakaian hitam itu.
"Aku tidak apa-apa, masih bisa aku tahan... Marsha, naiklah duluan!"
Marsha mengangguk dan menaiki helikopter itu dibantu oleh lelaki berpakaian hitam lainya.
"Tuan, bagaimana bisa mereka menerobos kerumahmu?"
"Alfa, ini bukan saatnya untuk bertanya... aku yang gegabah tidak melihat situasi,"ucap Fathur.
"Maafkan saya tuan, saya gagal menjaga anda hari ini..."
"Tidak masalah, kita harus segera pergi! aku yakin mereka sekarang masih mencariku dan Marsha."
"Baiklah."
Fathur melewati Alfa dan menaiki helikopter, sementara Fathur masih berdiri mematung.
Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa sepertinya ini bukan penyerangan biasa?
****
Saat helikopter itu sudah lepas landas, Marsha tidak bergeming sementara Fathur mengobati lukanya di tumpangan belakang bersama dokter yang sudah dibawakan oleh Alfa. Alfa sudah tau jika Fathur terluka sejak awal dan telah mempersiapkan dokter untuk mrngobatinya.
Setelah akhirnya selesai Fathur berpindah duduk di dekat Marsha, sesekali dia melirik Marsha.
"Apa yang kamu pikirkan?"tegur Fathur.
"Thur, siapa yang menyerangmu tadi? kenapa mereka tidak menyerangku juga?"tanya Marsha.
"Mereka tidak tau jika ada kamu, mereka masuk melewati jalan lain dan bukan pintu utama... untung saja kamu baru tiba saat aku memanggil."
"Kenapa kamu bisa terluka begitu?"
"Sedikit tidak fokus saja."
"Huhh. aku sangat khawatir tadi, tapi siapa yang menyerangmu? kamu tau orangnya?"
Fathur tidak menjawab dan hanya diam.
__ADS_1
Sepertinya dia tidak mau bercerita padaku, aku semakin yakin ada rahasia yang dia simpan dariku... tapi yasudahlah, melihatnya masih bernyawa aku sedikit legah...
"Kita mau kemana?"tanya Marsha.
"Mengantarmu pulang."ucap Fathur.
"Lah, helikopternya mendarat dimana?!"
"Tenanglah, tidak akan mendarat didepan rumahmu!"
Marsha mengangguk legah, jika mendarat didepan rumahnya bisa menghancurkan beberapa rumah lainya.
Tidak butuh waktu lama Fathur sudah mengantar Marsha pulang, dan setelah itu Fathur langsung pergi bersama Alfa.
"Kita mau kemana, tuan?"tanya Alfa.
"Kembali kekediaman lama."
"Baiklah."
"Tuan, apa kau yakin yang menyerangmu adalah suruhan tuan muda Fathir?"tanya Alfa kepada Fathur.
"Ya. apa kau tidak percaya padaku?"
"Tidak, bukan begitu tuan... aku tentu percaya padamu, kau memiliki bakat yang tidak dimiliki orang lain... bagaimana mungkin tebakanmu itu salah."
"Hemm."
"Tapi... kenapa dia ingin membunuhmu, tuan?"
"Karena dia ingin merebut apa yang aku miliki... merengut segalanya...Huh, adik kembaranku itu tidak bisa melihatku tenang sedikit!"
Tuan muda Fathur selama ini dalam kesusahan terus, di campakkan dari keluarganya dan di kucilkan. bergaya seperti ini demi menghindari masalah, nama keluarganyapun sudah tidak dia pakai lagi... sangat kasihan sekali padahal tuan muda sangat baik jika tuan dan nyonya besar membuka matanya lebar-lebar, heran dengan kedua tuan muda kembar ini... karena masa lalu mereka jadi saling membenci.
"Apa yang kau pikirkan?"Fathur menegur Alfa
"Ah, tidak tuan muda..."jawab Alfa.
"Jangan coba membohongi aku!"
"Maaf."
"Kau memikirkan hubungan diantara kami?"
Alfa mengangguk takut kepada Fathur.
"Kami tidak ada hubungan apapun! jangan memikirkanya lagi, dan ingatlah aku bukan bagian dari mereka... hanya aku tuan muda mu, mengerti?!"
"S-saya mengerti, tuan."
"Bagus! untung sekarang kau jangan sampai biarkan dia berkesempatan mendekati Marsha lagi,"titah Fathur.
"Kenapa begitu tuan? bukankah kau sudah berjanji akan membantunya menemukan nona Marsha, dan membantu mereka untuk seperti dulu lagi?"tanya Alfa.
"Aku berubah pikiran, aku tidak sudi melihat mereka bersama! aku menarik segala yang aku katakan kepadanya... sekarang aku yang akan merebut miliknya... sampai dia tahu bagaimana rasanya kehilangan apa yang paling berarti untuknya!"ucap Fathur tersenyum menyeringai.
Marsha, saat kau tau siapa aku nanti... aku yakin kau akan jatuh cinta padaku dan bukan dia... maafkan aku Fathir, aku terpaksa harus merebutnya darimu... dia akan aku jadikan pion untukmu menghancurkan dirimu..
"Adikku yang malang... karena kamu berani berkhianat maka jangan salahkan aku jika mengambil teman kecilmu dari genggamanmu... ini adalah balasan untuk sang penghianat!"gumam Fathur.
Sudah cukup sabar aku selama ini, tapi kamu terus saja ingin membunuhku... sepertinya merebut kebahagiaanku dimasa lalu belum cukup untukmu, maka Marsha adalah satu-satunya yang akan membuatmu sadar nanti... aku akan membuat dia mengingatmu dan mencampakkanmu di detik itu juga, tunggu saja permainan ini adik ku tersayang... mari kita lihat siapa yang akan berakhir.
"Hahahaha..."Fathur tertawa penuh makna membuat Alfa hanya merasa sedikit aneh kepada majikanya itu.
Kapan masalah diantara mereka akan berakhir, aku sangat ingin tuan muda Fathur kembali ke kediaman Ars.
__ADS_1
__
Just info: panggilan aku dan kamu hanya tertujuh untuk orang tertentu saja, yah. :)