
Hal yang paling mudah berubah adalah perasaan cinta yang tak terbalas, cinta sesaat. hanya karena dia pernah mencintai kamu, jangan berpikir seterusnya akan begitu... Hati mudah berbolak balik, jadi jangan terlalu narsisme bahwa dia akan selalu mantap menetap padamu, padamu yang tidak menghargai cintanya... karena cinta, akan memudar pada waktunya.
\*\*\*\*\*\*\*
Marsha dengan asiknya bercerita kepada Putri sampai tidak sadar Fathur sudah berdiri dihadapanya beberapa menit, saat hendak menegur Marsha, Fathir dari arah pojokan langsung mendekati Fathur dan mendorongnya keras.
"Lo ngapain kesini, hah?!"tatapan penuh kebencian Fathir terhadap Fathur membuat Marsha dan Putri terhenti dengan obrolanya.
"Loh, kok Fathur disini?"kaget Marsha dan Putri.
"Memangnya salah?"tanya Fathur dingin
Fathir memegang erat kerah baju Fathur, urat saraf tanganya pun terlihat.
"Ck. Mending lo pergi sana! Muak gue lihat muka lo!"bentak Fathir.
"Gue ke sini bukan untuk lo, tapi untuk Marsha."
"Marsha itu milik gue!"
"Ck."Fathur tersenyum mengejek kala itu.
Marsha belum bergerak dan hanya memperhatikan saja, kepo akan apa yang Fathur lakukan.
Fathur ambil nafas dalam-dalam dan melepas cengkraman Fathir dengan satu tangan, diletakkanya nasi kotak itu dimeja Marsha.
"Jaga nasi kotaknya baik-baik, jangan sampai terjatuh!"bisik Fathur kepada Marsha.
Marsha hanya bingung dan mengangguk, Fathir semakin geram dan kembali menarik kerah baju Fathur mendorongnya hingga mengenai papan tulis.
"Sha, kamu nggak mau ngehentiin mereka?"tanya Putri sambil memandang Marsha.
"Biarkan saja, aku lagi malas ikut campur!"jutek Marsha.
Entah apa yang Marsha pikirkan, dia tidak pernah mengalihkan tatapanya kepada Fathir dan Fathur, matanya tetap melirik mereka tanpa berkedip sedikitpun.
"Lo kenapa masih disini, hah?! Cowok cupu kayak lo nggak pantes di kelas ini, sana pergi!"usir Fathir dengan Kasarnya.
"PERGI!"teriak Fathir. dan para sahabatnya hanya mengurut sepertiga alisnya dengan tingkah Fathir.
"Ck."kesal Fathur menahan emosinya.
Karena Marsha tau Fathur tidak akan melawan lagi kali ini, dengan malasnya Marsha mendekati mereka sambil membawa nasi kotak tadi.
"Sudah, hentikan!"lerai Marsha.
Fathur dan Fathir menatap Marsha penuh tanya.
"Fathir, lepasin!"perintah Marsha.
Fathir merengut sambil melirik sinis kearah Fathur dan Marsha.
"Kok ngegas?!"ucap Fathir kepada Marsha
"Gue nggak ngegas, lo nya aja yang nggak sadaran!"
"Loh, kok gue?!"
"Thir, lepasin deh... jangan kasar banget sama Fathur, nggak boleh gitu."
"Ck."
"Lepas!"dengan malasnya Fathir melepasnya
Huuh. Fathir kasar banget, belum juga akrab sama aku udah segitunya... ya tuhan, apa yang akan terjadi nantinya. (batin Marsha)
"Ayo, ikut aku!"Marsha menarik tangan Fathur pergi dari sana.
"Lagi-lagi terulang lagi, huuuh."ucap Putri.
Brak!
Fathir meninju papan tulis.
"Kenapa Marsha selalu saja belain dia?! Apa istimewanya dia, hah?!"marah Fathir.
"Bodoh, dan menyedihkan."ucap Putri berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju keluar kelas.
Srtt! Fathir menahnya, Putri sinis menoleh kearahnya dengan tatapan kasihan.
"Apa maksud ucapan lo, hah?!"bentak Fathir.
"Lo itu bodoh, nggak bisa kontrol situasi... Menyedihkan, nggak bisa menjaga diri... Dengan begitu, Marsha mana tertarik buat dekat sama lo, karena lo itu kasar! Marsha benci orang kasar, bukan hanya Marsha sih... Tapi semua perempuan di dunian ini, ck."ejek Putri menatap Fathir sadis kemudian melepaskan cengkraman tangan Fathir.
"Nggak usah nyentuh gue!"sinisnya kemudian pergi
"Berengsek!"
Sahabat Fathir berjalan mendekat sambil melipatkan tangan didada.
"Gadis itu menarik, sesuai sama pikiran gue."
__ADS_1
"Lo bela dia?!"marah Fathir
"Enggak sih, tapi apa yang dia katakan itu memang benar. Semakin lo nggak bisa ngontrol emosi lo, maka Marsha akan semakin benci dan nggak tertarik sama lo... Fathir, Fathir, secara nggak sadar lo udah ngasih Fathur peluang untuk memenangkan hati Marsha."
Fathir terdiam dan mengepal tanganya geram, emosinya susah sekali di kontrol, hal kecil saja mampu menaikkan emosinya.
Akh sial! penyakit paranoid gue semakin parah! (batin Fathir)
"Jadi, dia sengaja mancing emosi gue hanya untuk buat Marsha benci ke gue?!"ucap Fathir, sahabatnya mengangguk.
"Ck. Brengs*k!"
****
Di salah satu tempat teduh Marsha mengajak Fathur berteduh disana, sambil ditemani nasi kotak yang Marsha pegang.
"Nih, nasi kotak kamu."disodorkanya nasi kotak itu kepada Fathur.
Fathur menerimanya, kemudian langsung membukanya tanpa berbasa basi. ada berbagai jenis sayuran, ikan goreng, kangkung, tempe campur toge, sambal ayam, dan kepiting.
"Banyak banget, Sha."ucap Fathur.
"Hmm, aku nggak tau kesukaan kamu, mangkanya aku bawa banyak... Sebenarnya itu memang aku siapkan buat kamu, hehehe."ucap Marsha.
"Nasi nya dikit banget."protes Fathur.
"Banyak protes! Udah makan-makan aja, udah dingin tuh."
"Mau nggak?"tawar Fathur
"Kan yang ngasih aku, kok yang nawar kamu?"
"Kan, udah punya aku!"
"Idih, bisa aja!"
"Hm. Mau nggak nih?!"
"Apanya?"
"Makan barengan?"
"Satu kotak? Berdua?"Fathur mengangguk.
"Sendoknya hanya ada satu, Fathur!"
"Pake tangan aja, cuci tangan dulu, sini!"
Fathur menarik tangan kanan Marsha dan membasuhnya dengan air minum yang berada dalam botol milik Fathur.
"Nggak perlu jaga image dihadapan aku, aku lebih suka cewek yang apa adanya... Makan pake tangan jauh lebih asik, dari pada pake sendok, iya kan?"
Deg!
Seketika jantung Marsha berdebar, sentuhan lembut tangan Fathur yang membasuh tanganya membuat Marsha tak menentu. Wajahnya semerah tomat, diperlakukan begitu oleh Fathur bahkan dengan Petran tidak pernah sebelumnya.
"Sudah, ayo makan!"ucap Fathur.
"Kamu nggak cuci tangan?"tanya Marsha
"Ini mau cuci, hmm."
Marsha ikutan gaya Fathur dan mencuci tanganya dengan air botolan, kemudian setelah itu dia tekekeh.
"Huuh. Dasar!"di acak-acaknya rambut Marsha menggunakan tangan kiri.
"Ih, kusut!"protes Marsha.
"Sorry-sorry, yaudah jadi kapan makanya nih?"
"Sekarang!"
"Kamu duluan!"ucap Fathur kepada Marsha
"Kamu lah! Kan yang punya bekalnya sekarang kamu!"Fathur mengangguk dan mulai mencoba nasi kotak pemberian Marsha.
Satu suapan berhasil lolos di mulutnya.
"Gimana?"tanya Marsha was-was
"Ini yang masak kamu?"
"Iya."
"Enak."dua jempol Fathur berikan kepada Marsha.
Deg! Kembali jantungnya tak karuan dibuat Fathur.
"Udah, jangan salting!"tegusr Fathur.
"Ih, sial! Kok aku salting sih?!"gumam Marsha.
__ADS_1
"Ayo dimakan!"
"I-iya."
Fathur dan Marsha makan berdua dalam satu nasi kotak, dengan tangan tanpa sendok. Romantis, sesekali Marsha dan Fathur tertawa. ada rasa senang kala itu, bahkan tidak jijik sedikitpun, mereka menikmati masakan Marsha dengan begitu santai. tanpa disadari sahabat Marsha memperhatikan itu, dan Kinan diam-diam mengambil foto mereka.
"Kalo diperhatikan, Marsha semenjak kenal Fathur sering ceria, yah?!"ucap Putri kepada Kinan dan Ranti.
Kinan dan Ranti mengangguk.
"Syukurlah, sepertinya Fathur lebih cocok dekat sama Marsha."sambung Ranti.
"Baguslah, melihat Marsha bahagia aku juga begitu."ucap Kinan.
"Sama."sambung Ranti dan Putri.
"Semoga mereka akan terus seperti ini, hehe."gumam Kinan.
****
Fathir jengkel melihat kedekatan Marsha dan Fathur, sesak dan cemburu di hatinya tak menentu melihat Fathur bersama Marsha makan bersama dalam satu tempat.
"Sialan! Nggak bisa diterima! sudah melewati batas, gue nggak suka!"umpat Fathir.
"Hmm. Sepertinya Fathur lebih cerdik dari pada eloh, pantas saja dia lebih disayang sama keluarga lo. bahkan hingga detik ini, lo masih jauh kalah denganya."ucap salah satu sahabat Fathir.
"DIAM! BERISIK!"bentak Fathir kemudian pergi.
"Fathir, Fathir. Suatu hari ego lo sendiri yang bakal ngehancurin lo."gumamnya.
****
"Thur, minta air!"lirih Marsha yang kepedasan.
"Nih!"di sodorkanya botol minum miliknya.
"Lo, ini yang kamu."
"Mau minum atau enggak? Kalo enggak mau punya aku ya sudah, sana beli ke kantin sendiri!"
"Idih, resek amat. Perhatian dikit kenapa, beliin kek jadi cowok."
"Ogah!"
Marsha merengut mengumpat Fathur dalam hati, dengan terpaksa dia meminum air minum milik Fathur yang di dalam botol.
"Jangan di habisin! aku juga mau minum!"ucap Fathur
"Minum air kran aja!"usil Marsha
"Sialan!"umpat Fathur.
"Huh. Ini namanya ciuman secara nggak langsung!"ucap Marsha ketika sudah meminumnya.
"Mau yang langsung?"tanya Fathur santai, namun berhasil membuat Marsha melongo.
"Langsung aja!"
"Sini! Pipi,leher, bibir, atau hidung?"
"A-apaan sih! Ngasal aja kalo bicara!"
"Becanda, jangan kebaperan! aku juga malas kalik ngasih fist kiss aku sama cewek tepos!"
"Idih! Emang aku mau ciuman sama kamu? Ngarep!"
"Kalo mau, ayo!"
"Jangan gila deh!"
"Siapa yang gila? Aku serius."
"Maaf, aku belum siap diseriusin sama kamu."
"Ga jelas banget jadi cewek!"
"Gapapalah."
"Hahahaha, aneh!"
"Kita aneh berdua, nggak masalah kan?"
"Kamu aja!"
Marsha hanya menahan tawa sementara Fathur mendengus sebal saja.
Setelah beberapa menit menikmati nasi kotak bersama, Fathur dan Marsha mencuci tangan dengan air kran disekitar sana.
Setelah itu mereka kembali duduk berdua di bawah pohon bercerita dan membaca buku bersama. Tanpa disadari ada Petran yang memperhatikan mereka dengan sendu.
"Sudah menemukan pengganti ku ternyata, pantas saja tidak pernah berkomunikasi denganku lagi."gumam Petran.
__ADS_1
BERSAMBUNG.