
Pukul 07.15 wib Marsha sudah stay di depan gerbang sekolah ditemani sahabatnya yaitu Kinan, Ranti dan Putri. ketiga sahabatnya jarang berkumpul dengan Marsha karena mempunyai kesibukan masing-masing, kesibukan tidak membuat mereka saling menjauh dan mengabaikan justru saja itu membuat mereka rindu akan berkumpul bersama meski kadang hanya kumpul di kelas atau bahkan kantin sekolah. Marsha tipikal perempuan super duper sibuk penuh sifat penyendiri dan misterius, hampir seluruh masalah atau tentang dirinya tidak ada yang tahu.
"Ran, cowok kamu mana?"Putri bertanya kepada Ranti pasalnya tumbenan sekali Ranti datang kesekolah sendirian.
"Dia nggak sekolah hari ini, jadi gitu deh."jawab Ranti.
"Yaudah, kita ke kelas dulu apa kantin nih?"tanya Putri kepada ketiga sahabatnya.
"Kelas, aku mau buat tugas dulu nih."usul Kinan sang pendiam diantara mereka.
"Kamu, Sha?"Putri beralih ke Marsha.
"Hm, ngikut aja."jawab Marsha.
Mereka berempat segera berjalan ke arah kelas mereka. di depan pintu kelas suara melengking Putri keluar seperti hari biasanya.
"SELAMAT PAGI GUYS, GUYS, GUYS... I'M COME BACK AGAIN! HEIYO... HUAHAHAHA APA KABAR GUYS?!"teriaknya seperti orang gila dengan gaya dibuat-buat persis seperti kehabisan obat.
Marsha, Kinan dan Ranti menutup kuping mereka rapat-rapat guna menjaga telinga agar tidak budek ulah Putri.
"Woi! budek kuping gue!"tegur Adi sang ketua kelas mereka.
"Ck. apa peduli gue? huuh!"
"Dasar keradak mesin! baru datang juga udah heboh aja, bobrok abis!"umpat Adi.
"Yaelah, dari pada lo... ATM BERJALAN!"ejek Putri.
"Maksud lo apa ngomong gitu?"
"Yah, lo pasti tau lah yah... istilah atm berjalan itu apa. Iya kan?"
Adi hanya acuh mengabaikan Putri sementara Putri merasa dirinya menang. Putri memang sering mengatakan Adi atm berjalan pasalnya Adi hanya dijadikan tempat pengambilan uang oleh kekasihnya kakak kelas.
Sekitaran 8 menit akhirnya pelajaran pertama dimulai.
"Sha, nyontek dong!"Dafi berucap kepada Marsha agak berbisik pelan supaya tidak di dengar guru.
"Buka google!"jawab Marsha cepat tanpa menoleh ke Dafi.
"Yaelah, Sha... nyontek doang kok."
"Modal! kalo mau sukses usaha sendiri, jangan suka nyontek doang... maluin diri sebagai cowok!"ucap Marsha kepada Dafi secara tegas.
"Kali ini aja, Sha..."
"Nggak!"
"Ayo dong..."
"Lo tuh mau sampe kapan nyontek muluh? tiap hari absen, usaha dong!"
"Gue males, mau nyontek aja! hehe..."
"Yaudah, terserah!"
"Nyontek yah."
Marsha tidak bergeming dan hanya acuh tak acuh saja sambil mengerjakan tugas fisika-nya.
"SHA!"
"NNGAK! KALO GUE BILANG ENGGAK YAH TETAP ENGGAK! NGERTI NGGAK SIH DIKASIH TAU? BUDEK ATAU APA LO, HAH?!"kesal Marsha dengan nada tingginya. Marsha tipe cewek yang tidak suka mengulang kata-katanya ataupun di paksa, jika tidak maka tetap tidak.
Mendengar itu beberapa siswa atau siswi lainya hanya diam tidak berani berkomentar atau berkata, sementara Dafi hanya pasrah jika Marsha sudah berkata begitu.
"Cuek banget sumpah... "gumam Dafi.
Guru yang mengajar kaget dan melirik mereka berdua, termasuk para sahabat Marsha ikutan melihat mereka berdua.
"Ada apa Marsha, Dafi?"tegurnya.
"Nggak ada bu,"ucap Dafi.
Marsha hanya diam tidak peduli terus saja dia menulis.
__ADS_1
"Baiklah. lanjutkan mengerjakan tugasnya, 5 menit lagi dikumpul!"
"Baik bu..."
****
Di kantin Marsha bersama ketiga sahabatnya tengah berkumpul bersama disatu meja.
"Sha, udah jarang banget kita ngumpul gini... sekalinya ngumpul bakal ada aja rumpian pagi, heran aku."ucap Ranti kepada Marsha yang menikmati mie pesananya.
"Namanya juga ngumpul, kalo nggak ngerumpi... yah, ngegibah!"seru Marsha.
"Hahaha... tapi sayang banget kamu nya dingin kayak es utuh, bweuh kalo disentuh bisa menggigil."cicit Ranti.
Pletak!
Marsha menjitak kepala Ranti dengan garpu.
"Sakit kamvret!"kesal Ranti
"Siapa suruh ngatain gue gitu!"
"Kan kenyataan!"
"So tau..."
"Emang tau!"
"Udah, berisik! mending bahas yang penting aja deh... pelajaran kek, apa gitu yang asik!"tukas Kinan yang kesal melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Pelajaran bikin pusing!"timpal Putri
"Kalo kamu mah semuanya di pusingin... pantesan aja selalu ke pusingan, hahahah."ejek Ranti.
"Hidih, tau apa kamu... so tau!"kesal Putri.
Beginilah para sahabat ini jika tidak berdebat maka tidak akan ada yang menyenangkan atau yang dirindukan.
"Marsha!"suara teriakan Fathur menghentikan pembicaraan Marsha, Kinan, Ranti dan Putri. Marsha dan ke tiga sahabat nya melirik ke arah Fathur yang memanggil.
"Bisa bicara berdua?"pinta Fathur
Sejenak Marsha berpikir dan melirik ke tiga sahabatnya.
"Hellow, cupu kayak lo berani banget mau ngajakin Marsha bicara 4 mata... kalo mau bicara yaudah bicara aja disini, gue yakin nggak seberapa penting kok!"ucap Putri bar-bar.
"Bener, mau bahas apa lo sama Marsha?!"selidik Ranti sinis sambil memperhatikan penampilan Fathur.
"G-gue--"belum sempat Fathur meluruskan kata-katanya sudah terlebih dahulu Marsha memotong.
"Ayo! 10 menit!"tegas Marsha dan berdiri dari tempat duduknya.
Ditariknya tangan Fathur pergi dari hadapan para sahabatnya, sementara ketiga sahabatnya menatap keheranan akan perlakuan Marsha terhadap Fathur.
"Gila, kok Marsha mau yah bicara sama cowok cupu itu?"ucap Putri kepada Kinan dan Ranti.
"Ga tau, mungkin memang ada urusan pribadi."jawab Kinan santai.
"Ck."
****
Marsha menarik Fathur ke atas atap sekolahan dan hanya ada mereka disana, Marsha dan Fathur saling berhadapan sebelum ada yang memulai menyapa duluan.
"Sha, kamu masih marah sama aku?"tanya Fathur memberanikan diri.
Marsha menatapnya jenuh kemudian memejamkan mata membuang nafas kasar, setelah dirasa tenang barulah Marsha berucap. "Enggak."
"Aku mau minta maaf soal kemarin malam, aku udah ingkar janji dan buat kamu kecewa menunggu lama... aku mendadak ada urusan penting jadi tidak bisa hadir, sekali lagi maafkan aku."tampak jelas Fathur tulus berucap kepada Marsha, ada rasa iba dan tidak enak hati untuk marah.
"Gapapa, yang sudah usai nggak perlu di ungkit... aku sudah melupakanya."ucap Marsha kemudian.
"K-kamu nggak marah, Sha?!"
"Untuk apa? buang energi saja, sudahlah tidak masalah... lain kali aku juga nggak akan maksa kamu lagi kok, buat nemenin aku ke acara begituan."
__ADS_1
Fathur menatap Marsha penuh tanda tanya kala itu, sewaktu di salon terlihat sekali raut wajah Marsha yang jarang ia tunjukan, namun disisi lain dengan mudahnya dia tenang dan melupakannya.
"Jadi, apa kamu akan menjauhi aku?"tanya Fathur kepada Marsha. Marsha menggelengkan kepalanya lalu tersenyum untuk Fathur.
"Aku tipe cewek yang memang mudah berkata kasar... tapi ketahuilah, aku jarang sekali marah... bisa di bilang hampir tidak pernah,"kata Marsha itu membuat Fathur sedikit memahami bahwasanya Marsha masih kecewa terhadapnya.
"Aku nggak tau kenapa aku bisa begitu mudahnya memaklumi kamu, Thur... hati aku berkata kalo kamu tidak akan pernah mengecewakan aku, karena itulah aku mempercayai kamu tidak bisa datang karena suatu hal... kamu terlalu mudah mengatakan maaf untuk orang sepertiku."
Fathur terhenyak kaget atas perkataan Marsha, bagaimana bisa kata itu dia dengar sekarang, gadis ini kenapa begitu cepatnya berinteraksi denganya.
"Maaf... hanya itu yang bisa aku katakan,"perjelas Fathur.
Marsha mengangguk dan tersenyum untuk kesekian kalinya, kemudian dia berucap. "Sudah aku maafkan..."Marsha tersenyum menampakkan giginya kepada Fathur.
Deg!
Rasa nostalgia dan bayangan sesuatu mengimbangi otak Fathur kala melihat Marsha seperti itu, jiwanya bagaikan dejavu yang berdikotik di siang bolong tanpa henti melihat sebuah senyuman sederhana yang mampu menjelajahi pikiran Fathur.
Karena kamu yang beginilah membuat aku takut akan sesuatu...
****
Setelah berbaikan Marsha dan Fathur kembali seperti biasanya, mereka berdua jarang berdua disekolah namun jika diluar sekolah hampir tiap hari mereka menghabiskan waktu bersama. bermain di pinggiran pantai ketika sore hari, membeli kembang gula, bermain sepeda, menjelajahi isi alam bahkan sering sekali mampir ke perpustakaan di dalam rumah Fathur.
Hari ini Marsha membaca buku berjudul 'One night' di perpustakaan dalam rumah Fathur. kebetulan hari itu hanya ada Fathur dan Marsha dirumah, pembantunya sedang pergi dan beberapa orang kepercayaan Fathur juga sedang ada urusan. dengan teliti dan kesungguhan Marsha bersantai berselunjuran dikursi ruang tamu sambil membaca, beberapa hidangan camilan, buah-buahan beserta lainya lengkap diatas meja dengan balutan toples waw yang sangat kece dan keren.
Suara kebisingan di lantai atas sedikit mengganggu fokus Marsha, apa gerangan yang Fathur lakukan di lantai atas saat ini Marsha tidak tahu.
"SHA!"suara teriakan dari arah lantai atas membuat Marsha menghentikan aktivitas membacanya. teriakan Fathur tidak seperti biasanya, sepertinya Fathur mengisyaratkan sesuatu untuk Marsha kala itu tapi Marsha tidak tau.
"Ya?!"jawab Marsha sedikit berteriak menanggapi teriakan Fathur.
Saat sudah menjawab tidak ada tanda bahwa Fathur kembali memanggilnya, karena penasaran apa yang terjadi dan apa yang Fathur lakukan di lantai atas Marsha terpaksa menyudahi dulu membacanya dan meletakka novel itu di atas meja.
"Thur?!"teriak Marsha.
Brak! gbrkkk! srktht!
Suara beberapa benda pecah dari lantai atas, dan suara seseorang melompat dari lantai atas lewat jendela kaca terdengar keras di telinga Marsha.
"Fathur?!"
Marsha berjalan menaiki tangga menuju lantai atas dengan perlahan. "Fathur?! kamu kenapa manggil aku? kamu ngapain disana? Thur!"
"Ish, kok nggak dijawab sih!"kesal Marsha dan mulai mempercepat langkah kakinya menaiki tangga.
Saat tiba di lantai atas Marsha kebingungan mencari keberadaan Fathur pasalnya disana ada beberapa pintu ruangan, Marsha memperhatikan satu persatu pintu kamar disana dan akhirnya berhenti di salah satu pintu kamar yang bertulisan 'FATHUR ARS'.
"Ini kayaknya kamar dia,"ucap Marsha. dengan berani Marsha mengetuk pintu kamar Fathur beberapa kali sambil meneriaki nama Fathur.
"Thur! kamu di dalam?"
Tok! Tok!
"Fathur, jangan bercanda ih! kamu di dalam ngapain?! bukak!"tidak ada sautan membuat Marsha seketika panik.
"buka nggak yah, buka nggak? aduh... Fathur ngapain sih di dalam sana?!"cemas Marsha.
Dengan sepenuh hati setelah membaca bismillah akhirnya Marsha memberanikan diri membuka pintu kamar itu.
Ceklek!
"Untung nggak di kunci."gumam Marsha. perlahan langkah kakinya masuk ke dalam kamar itu, dia berhenti saat melihat Fathur yang sedang terjatuh di lantai. mata Marsh terbelalak dan kedua tanganya menutup mulut, Marsha melihat bagian perut Fathur nampak ada darah segar yang mengalir, dan wajah Fathur yang berubah pucat membuat Marsha sangat panik dan kaget sekali.
"M-marsha! pe... pergi dari sini... se... ka.. rang!"ucap Fathur dengan sekuat tenaganya berucap.
"F-FATHUR?!"pekik Marsha dan berlari menghampiri Fathur. dia tidak perduli maksud ucapan Fathur, dengan cepat Marsha mencari kotak P3k.
Marsha sejenak menghentikan pendarahan yang menusuk di perut Fathur dengan cepat, nampak Marsha sangat ahli dalam bidang itu.
"Gue panggil bantuan di bawah!"ucap Marsha kemudian.
"Pergi! disini bahaya sekarang, cepatlah dia akan kembali!"perintah Fathur.
___
__ADS_1
Up dulu...