
***Tuhan menjauhkanmu dari orang²,karena dia tahu sesuatu yang tidak kamu tahu kebenarannya***.
\*\*\*\*
"Cowok culun!"teriak Marsha
Lelaki yang merasa dirinya disebut pun menoleh. "M-marsha?!"Kagetnya.
Marsha berjalan menyeberangi jalan, guna menghampiri lelaki itu.
"Kok kamu bisa disini?"tanya lelaki itu.
"Kebetulan mau pulang sekolah, eh liat kamu jalan kaki... Yaudah aku samperin."jawab Marsha.
"Mau ngapain?"
"Pulang bareng."
"Ha?!"kaget lelaki itu
"Kenapa? Mau kan?"
"Maaf, aku tidak bisa..."
"Anggap aja sebagai balas budi, gimana?"
"Balas budi?"
"Iya, karena aku nolong kamu terlepas dari para pembully. Gimana?"
Sejenak dia berpikir, Marsha yang memasang wajah imut.
"Huh. Baiklah, hanya kali ini,"pasrahnya.
"Okeh deh, ayo!"
Marsha menariknya menyeberangi jalan, kemudian masuk mobil.
"Pak, kita nganterin temen Marsha dulu,"pinta Marsha kepada sang supir.
"Baik, nona..."Jawabnya ramah. lelaki itu menunjukkan alamat rumahnya kepada supir.
Di dalam mobil diantara mereka sedikit canggung, hanya ada keheningan.
Krik... Krik..
"Btw, siapa nama kamu?"tanya Marsha. Pasalnya dia belum berkenalan dengan lelaki culun itu.
"Fathur Arsya, panggil aja Fathur..."jawabnya.
"Fathur Arsya? Kenapa rasanya enggak asing,Yah?"
Fathur hanya diam dan tersenyum tipis saja.
Setelah beberapa menit mereka tiba dialamat rumah Fathur, Marsha sangat kaget kala melihat rumah itu.
"I-ini beneran rumah kamu, Thur?"
"Iya"jawabnya
"Besar banget... Ternyata kamu orang kaya, toh?"
"Ya. Karena kamu tahu rahasiaku, bisakah menyembunyikan semuanya?"pinta Fathur.
"Kenapa?"
Fathur tidak menjawab dia hanya diam saja mengacuhkan Marsha.
"Okehdeh. Tapi sebagai imbalanya kita bisa berteman, kan?"
"Karena kamu tau rahasiaku, mana mungkin aku menolak."
"Baiklah, Deal mulai hari ini kita teman..."
"Hmm."
"Kapan-kapan aku akan bawa kamu kerumahku juga, kalau begitu aku pergi dulu."
"Hati-hati, nggak mau mampir dulu?"
"Lain kali aja"jawab Marsha.
Setelah itu Marsha pergi memasuki mobil.
"Mari tuan muda, saya permisi dulu..."
"Baiklah pak, jaga dia."ucap Fathur dengan supir Marsha.
"Tenang tuan muda, nona Marsha adalah majikan saya... saya akan selalu menjaga dia."
"Baguslah."
"Saya permisi"
Fathur mengangguk, lalu tak lama mobil Marsha segera pergi dari area rumah Fathur.
"Sungguh gerakan yang sangat cepat. Marsha... kita berjumpa lagi,"gumam Fathur.
Fathur sedikit tersenyum lalu setelah itu masuk ke area rumah.
****
Esok pagi disekolahan Marsha duduk dikantin, seseorang datang menemuinya. karena menyadari ada yang menghampiri Marsha langsung mendongak melihat yang datang.
"Fathur?"tegur Marsha.
"Ya."
"Kenapa? Ada yang bully lagi?"tanya Marsha
"Nggak."
"Lah, terus apa?"
"Boleh gabung?"
Marsha sedikit tertegun, kemudian lanjut berpikir.
"Woi! Kenapa malah bengong?"tegur Fathur.
"Ah, Iya. duduk aja,"gugup Marsha.
Fathur duduk berhadapan dengan Fathur.
"Kamu suka membaca?"Marsha bertanya. Kala melihat Fathur membawa beberapa novel.
"Ya."
"Sama dong..."
"Oh. Suka baca buku ber gendre apa?"
__ADS_1
"Romantis, sama psichopat. kalo kamu?"
"Aku? Komedi, fantasi sama psichopat."
"Oowh"
"Mau pinjem punya aku?"tawar Fathur
"Eh? Mau sih, tapi kamu mau pinjemin yang mana?"
"Nanti ikut aku."
"Kemana?"
"Nanti juga tahu sendiri"
"Ish, kok kesanya misterius gitu?"
"Terserah."
Astaga, dia ini cuek juga sih. sama kayak aku, tapi kenapa yah aku bisa cepat banget ramah sama nih cowok culun? siapa sih dia sebenarnya...
Tidak lama bercakap-cakap kelas pun dimulai, Fathur dan Marsha kembali menuju kelas masing-masing karena mereka berbeda kelas.
Pukul 12.30 siang.
Marsha bertemu Fathur di parkiran, sesuai janji mereka akan pergi kesuatu tempat untuk melihat berbagai buku cerita.
"Gimana? Jadi nggak?"tanya Fathur
"Jadi dong, bentar aku telpon ke rumah dulu..."
"Mau ngapain?"
"Minta papa biar nggak suruh supir jemput, kita kan mau pergi melihat buku."
"Yasudah."
Marsha mulai mencari kontak seseorang yang dirumahnya, setelah diangkat Marsha berpamitan, 5 menit kemudian sambungan terputus.
"Gimana?"
"Sudah."
"Ayo!"
"Jalan kaki, nih?"
"Enggak, aku bawa motor."
"Tapi aku nggak bawa helm"
"Nggak usah pake helm, aku nggak ngebut... Lagian kita nggak lewat jalan ibukota."
"Yasudah."
Marsha dan Fathur segera menuju parkiran, guna mengeluarkan motor sport merah milik Fathur dari sana.
"Ayo naik!"
Marsha mulai menaiki motor sport itu, tapi susah karena dia memakai rok span.
"Fathur, susah! motornya sih ketinggian!"protes Marsha.
"Ck. Ribet banget!"geram Fathur.
Ia turun dari atas motor lalu menggendong Marsha supaya bisa menaiki motor.
"Berat banget sih, banyak dosa."ucap Fathur.
"Udah dibantuin bukanya terimakasih malah merintah aja bisanya!"ucap Fathur
"Ye. Buruan..."
Fathur hanya menghela nafas dalam, dia mulai menghidupkan start motor kemudian meninggalkan area sekolahan bersama Marsha yang bonceng dibelakangnya.
Entah kenapa meski baru mengenal Fathur, ada rasa akrab diantara mereka.
****
Mereka tiba dirumah Fathur.
"Eh, kok kerumah kamu?"tanya Marsha.
"Turun dulu!"perintah Fathur
Marsha turun dengan hati-hati, setelah Marsha turun dari motor, Fathur mematikan motornya dan melepas helm full face miliknya.
"Thur, siswa dan siswi disekolah tau ini motor kamu?"tanya Marsha.
"Jika mereka tahu, aku nggak akan di bully."jawab Fathur.
"Jadi supaya nggak ketahuan, kamu sengaja pulangnya pas udah sepi? dan memarkir motor didekat farkiran para guru?"
Fathur mengangguk, Marsha mengangguk paham.
"Ayo masuk!"ajak Fathur.
"Di dalam ada siapa?"
"Hanya pembantu"
"Orang tua kamu?"
Fathur tidak menjawab pertanyaan Marsha, dia hanya mengabaikanya kemudian masuk ke dalam lewat pintu utama.
"Ish, kok ditinggalin! aku kan tamunya..."umpat Marsha.
Disusulnya Fathur memasuki rumah besar itu. saat masuk Marsha takjub dengan isinya, ternyata tidak kalah keren dengan rumahnya.
"Ayo keatas!"ajak Fathur
"M-mau ngapain keatas?"Marsha bertanya penasaran
"Buruan ikut aja, jangan banyak nanya!"
Marsha pasrah dan mengikuti Fathur dari belakang, matanya tak henti menatap sekitar.
Bruk!
Marsha menumbur punggung tubuh Fathur
"Astaga, sakit banget hidung gue."ucapnya meringis.
"Mangkanya, jalan pake mata!,"ketus Fathur.
Mereka tiba di depan sebuah pintu ruangan.
"Ini pintu apa?,"kepo Marsha.
"Buka aja."
"Eh?!"
__ADS_1
"Sana buka!"perintah Fathur.
Marsha dengan hati-hati mulai membukanya, saat pintu terbuka Fathur langsung menarik Marsha untuk masuk, setelah mereka masuk pintu kembali tertutup.
"I-ini?,"takjub Marsha.
"Ini ruangan khusus dirumah ku, kedap suara, dan dindingnya sangat tebal."jelas Fathur.
"Besar banget, bahkan rak buku juga ada... Ini perpustakaan dirumah kamu?"
"Ya. Seseorang yang meminta aku mendesain rumah dan mempunyai perpustakaan begini."
"Seseorang?"
"Sudahlah lupakan, tidak penting."
Marsha hanya mengangguk paham lanjut memperhatikan buku-buku itu.
"Kamu bisa membacanya sepuas hati disini, tapi dilarang membawanya pulang!"
"Iya."
Fathur berjalan kesudut arah, dia menyentuh tuts piano yang sudah berdebu.
Marsha mengambils satu buku kemudian berjalan mendekari Fathur.
"Thur..."
"ada apa?"
"Sudah berapa lama ruangan ini nggak kamu bersihin?"
"Sudah lama sekali."
"Kamu kenapa nggak suruh pembantu aja bersihinya?"
"Ini ruang khusus, tidak sembarang orang boleh masuk."
"Ohh.Terus, kenapa kamu bawa aku masuk?"
"Karena kamu--"
Belum sempat berucap beberapa buku dari rak terjatuh.
Brkkk..Brkkk..Brk...
"O'ow!"Marsha menutup mulutnya.
"Kamu kalo ngambil buku jangan sampe rak-nya goyang! Bukunya bisa jatuh semua!"kesal Fathur
"Ya. maaf, Ntar aku beresin."
Fathur hanya memesang wajah datar, Marsha mulai mendekati buku itu dan membersihkan satu persatu, dilihatnya banyak yang berdebu.
"Thur, sini deh!,"panggil Marsha.
"Kenapa?"Fathur mendekat.
"Kamu ada kemonceng? atau sejenis alat kebersihan?"
"Ada."
"Bawa kesini!"
"Sebentar..."
5 menit kemudian Fathur kembali dengan pel, sapu, kemonceng dan alat lainya.
"Mau ngapain?"tanys Fathur.
"Kita bagi tugas, kamu bersihin debu-debu dan aku beresin buku sama lainya. Gimana,"ajak Marsha.
"K-kamu yakin?"
"Iyaa, buruan..."
Fathur mengangguk, mereka mulai berbagi tugas membersihkan ruangan itu.
****
Mereka sesekali bercerita dan bercanda, melakukan tugas dengan tekun masing-masing dan saling membantu serta kompromi.
Bekerja sama itu menyenangkan, lelah yang dirasakan bisa hilang seketika.
1 jam lamanya mereka baru selesai berberes, setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan itu. Fathur mengajak Marsha ke ruang tamu disana sudah disediakan beberapa camilan, buah, serta minuman dingin.
Dengan seksama Marsha meneguk habis satu botol air dingin.
"Masih capek?"tanya Fathur
"Banget..."jawab Marsha.
"Kamu sih, so-soan mau bersihin itu ruangan."
"Hehhe... Gapapalah, itung-itung nambah pahala dan olahraga."
"Ck."
"Huh."
"Sha, kalo capek istirahat aja dulu disini."
"Enggak bisa deh kayaknya, kalo aku istirahat disini yang bisa aku ketiduran dan bangunya pasti malam... Aku harus segera pulang kerumah."
"Yasudah, sebentar aku ambil jaket sama kunci motor dikamar."
"Okeh."
Sekitar beberapa menit Fathur sudah kembali dengan jaket dan kunci motornya.
"Ayo, aku anterin pulang."
"Okeh."
****
Setiba di area kediaman Marsha.
Fathur langsung pamit pulang guna ingin beristirahat juga dari lelah.
"Hati-hati, Thur."
"Yoi."
Fathur pergi meninggalkan area rumah Marsha, sementara Marsha masih setia melihat punggung tubuh Fathur yang menghilang.
"Farfumnya wangi banget, dasar si culun bisa juga milih farfum."gumam Marsha.
Sejenak ada rasa senang dihatinya, saat bersama Fathur segala masalah yang ada dikepalanya hilang, beban itu terasa terangkat, namun kembali lagi saat Fathur tidak bersamanya.
"Thur, siapa kamu sebenarnya? apa kita sudah pernah kenal sebelumnya."
___
__ADS_1
Sampai jumpa dilain hari (づ ̄ ³ ̄)づ