
"Ampun nyonya, tuan... nona, maafkan saya... saya tidak tau jika ini bisa berakibat begini, ampun, ampun, maafkan saya... kasihanilah putri saya yang dirawat dirumah sakit, jangan pecat saya... saya mohon."Rumi berlutut dan menangis.
"Minta maaflah kepada putriku, keselamatanmu ada padanya."ucap Hari yang sedari tadi diam.
Rumi menatap Marsha yang masih dengan santainya duduk dan meminum boba.
Ck. kau tau cara terbaik membalas dan menjatuhkan orang yang berani sok yes padaku, dan hal apa yang paling mematikan untuk orang sepertimu? mudah saja... menjatuhkan harga dirimu, membuatmu mati dalam ucapanmu sendiri!
Tidak aku sangka kau yang awalnya begitu berani dan sesuka hati berprilaku kepada murid, sekarang terduduk dilantai dengan air mata menyedihkan, hahaha. bahkan aku belum membalas tamparanmu kemarin... yasudahlah, karena aku bukan iblis aku memaafkanmu. (batin Marsha)
"Nona, nona maafkan saya... maafkan saya nona, saya mohon ampuni saya... tolong maafkan saya, kasihani putri saya nona."ucap Rumi berlari menghadap Marsha memegang kaki nya.
"Apa urusannya dengan putrimu? bukankah ini urusan kita berdua?"ucap Marsha.
"S-saya salah nona, saya tidak tau dengan posisi anda disini... mohon maafkan saya,"pintanya.
"Jika posisiku seperti murid lainya, apa kau akan mengemis seperti ini?"
"N-nona?"Rumi menatap Marsha tidak mengerti.
Marsha mendekatkan dirinya kepada Rumi dan berbisik pelan sekali. "Sekarang kau tau kan, betapa serunya mencari masalah denganku?"
Setelah itu Marsha menjauhkan dirinya dari Rumi yang masih mematung.
"Ampun nona, saya tidak berani lagi..."ucapnya.
Untung aku baik dan pemaaf, jika tidak. hmm meja dan seluruh barang di ruang kepsek ini aku lempar ke arahmu! (batin Marsha)
"Baiklah."Marsha berdiri dan berjalan menuju pintu luar kepsek.
"Aku ingin ke kelas, masalahmu denganku kita akhiri disini, artinya aku memaafkanmu karena putrimu...
Aku masih akan membantumu membiayai perawatan putrimu selama 5 bulan kedepan, karena sesuai janjiku membantu membiayai dan mencari perawat terbaik untuknya... setelah ini terserah! Marsha pamit!"ucap Marsha dingin.
Marsha pergi dengan santainya sementara yang disana menatap tak percaya, Mandine dan Gisel terdiam dan kembali menatap Rumi ganas. Hari hanya tersenyum saja penuh arti.
Dia sama persis denganku waktu muda. (batin Hari)
Memang putriku, dia tau apa yang harus dia lakukan. (batin Mandine)
Loh, kok nggak balas nampar sih nak? huuh. hatimu sungguh mudah luluh.. (batin Gisel)
"Karena Marsha sudah tidak mempermasalahkan ini, kau kami maafkan!"ucap Hari dingin kepada Rumi.
"B-benarkah tuan? terimakasih... tuan, nyonya terimakasih."ucap Rumi menghapus air matanya dan lega.
"Tapi dengan syarat, sebagai gantinya kau harus angkat kaki dari pekerjaanmu di sekolah ini!"
"A-apa?! bagaimana dengan biayay putriku? bagaimana makan sehari-hari kami kedepanya?"
"Tenanglah, aku akan tetap membantumu..."ucap Hari.
Sebenarnya Marsha masih berdiri dibalik tembok dekat pintu mendengar ucapan mereka diruang kepsek kala itu.
Punya mama 2 dan papa satu, aku bagaikan mempunyai sayap pelindung... huh. sebenarnya aku tidak bisa berucap seperti tadi, tapi apa boleh buat... (batin Marsha)
****
__ADS_1
Di kelas Marsha sudah di interogasi oleh para sahabatnya.
"Bagaimana, Sha?"
"Apa yang terjadi? wajah lo masih bengkak gini."
"Lo gapapa kan?"
"Lo tampar balik nggak dia?"
Pertanyaan itu banyak sekali membuat Marsha jengah.
"Kok jadi lo gue sih? aku kamu dong!"kesal Marsha, pasalnya para sahabatnya berucap dengan kata lo gue.
"Heheh, iya maaf."jawab Ranti, Kinan dan Putri.
"Kembali ke inti!"ucap Putri
"Aku nggapapa, udah kelar di urus orang tua ku."ucap Marsha.
"Beneran? terus?"tanya Putri
"Dia nggak akan ngajar disini lagi."
"YESS!"ucap seluruh isi kelas mendengar itu
Marsha cs hanya melongo saja kala itu.
"Jadi, kalian benar-benar berharap dia keluar dari sekolah ini?"tanya Marsha kepada semua yang dikelas.
"Iy, Sha."
"Kita capek,Sha. sabar muluh..."
Marsha hanya tersenyum setidaknya satu beban yang membuat para temanya tidak betah sekolah sudah hilang.
Andai bu Rumi bersikaf baik, mungkin mereka nggak akan sebenci ini denganya. (batin Marsha)
"Kalian tenang aja, sekolah ini tidak ada yang boleh bertindak menggunakan kekerasan. jika pun ada maka dia. akan dikeluarkan tanpa alasan."ucap Marsha.
Semua paham dan mengangguk.
****
Bell istirahat berbunyi, Marsha yang santai di kantin sambil membaca buku didatangi Fathur.
"Sha!"panggil Fathur.
Marsha menoleh akan siapa yang datang, kemudian dia tersenyum dan menutup buku yang dibaca tadi.
"Fathur..."lirih Marsha.
Fathur mendekat dan langsung saja duduk berhadapan dengan Marsha.
"Ck. aku belum suruh kamu duduk!"protes Marsha mangut.
"Nggak butuh izinmu aku akan tetap duduk!"judes Fathur.
__ADS_1
"Sialan emang!"
"Eh, tunggu..."Fathur menghentikan ucapan dan melihat sebelah wajah Marsha yang masih terlihat bengkak.
"Wajahmu kenapa?"tanya Fathur penasaran akan apa yang terjadi
"Ah itu, ke jedot tembok doang."ucap Marsha bohong.
"Cih! mana ada kejedot tembok kayak gitu, yang ada kamu ditampar kalo enggak mungkin berkelahi."tebak Fathur.
Ck. teliti banget sih, aku kan malas bahas ini lagi. (batin Marsha)
"Iya sih ditampar."
"Jadi beneran ditampar?! sama siapa?!"ekspresi Fathur kala itu seperti ekspresi orang tua Marsha.
"Kok kamu jadi kayak orang tua aku sih? cuman di tampar, udahlah nggak usah dibahas lagi... udah kelar juga urusanya."ucap Marsha.
"T-tapi--"
"Aku nggak mau bahas lagi, Thur!"
Fathur paham dan akhirnya memilih diam saja sambil menatap Marsha.
Huuh. kenapa aku jadi panik pas tau dia ditampar, benar-benar diluar ke inginanku. (batin Fathur)
"Kok diem?"tegur Marsha.
"Suka-suka akulah! sewot banget, huuh."ucap Fathur kesal.
"Hahaha, lucu deh kalo kamu kesal gitu."Marsha tertawa pelan kala melihat ekspresi Fathur.
"Jangan ngejek, deh!"
"Siapa yang ngejek? beneran kok. hahahah..."tawa Marsha
"Hahahah... nggak lucu! ngapain ketawa?"
"Suka-suka akulah, sewot banget! huuh.."Marsha meng-copy paste kata-kata Fathur.
"Sialan!"umpat Fathur jengkel.
Marsha hanya tersenyum saja kala itu.
Hahaha... kau jengkel sekarang? hahaha aku bahkan lebih jengkel padamu! dasar Fathur si tukang jengkel! (batin Marsha)
Kala itu tanpa disadari ada sosok yang menatap mereka tajam penuh aura kebencian.
"Ck. Fathur sialan!"umpatnya.
Dia adalah Fathir kembaran Fathur yang teramat membenci Fathur. mereka bersaudara tapi tidak saling sayang dan hanya menyimpan benci serta dendam.
Kita lihat saja sampai kapan kedekatan kalian akan berlanjut, hmmm... untuk sekarang gue biarin aja kalian berdua, setelah itu jangan harap!
Marsha, andai lo tau siapa lo sebenarnya... nama itu nggak pantes buat lo sandang! nama lo bukan Marsha! tapi... (batin Fathir)
"Sudahlah. suatu hari lo bakal ingat semuanya, dan... saat itu tiba lo pasti akan jadi milik gue, hmm."
__ADS_1
___
Bertemu lagi 😃