Fathur My Future

Fathur My Future
MIMPI BURUK.


__ADS_3

"Fathur, nanti pulang sekolah kamu ada waktu?"Marsha bertanya dengan Fathur yang fokus pada hp nya, setelah pertanyaan itu keluar Fathur menatap lekat ke arah Marsha.


"Memangnya kenapa?"tanya Fathur balik tanpa berniat menjawab pertanyaan Marsha.


"Ish, belum dijawab udah nanya balik! nggak asik deh... jawab dulu,"pinta Marsha dengan sedikit imutnya.


"Sehabis pulang sekolah aku ada urusan, aku nggak tinggal dirumah kemarin lagi... aku sudah pinda tempat."jawab Fathur santai, sementara Marsha hanya membulatkan matanya kaget.


"P-pindah?!"


"Hm..."


"Pindah kemana? kenapa pindah? kok nggak bilang?"


"Haruskah aku jawab semuanya? bertanya satu-satu, aku bingung harus menjawab apa!"kesal Fathur akan pertanyaan Marsha.


"Hmm, maaf."


"Aku pindah ke rumah utamaku, rumah yang kemarin kita jumpai itu hanya sewaan saja... nanti aku akan beritahu jika sudah tepat waktu."


"Loh, kenapa nggak beritahu kini?"


Ck. jika kau kerumah utamaku, aku tidak yakin kepalamu tidak sesakit waktu lalu! (batin Fathur)


"Belum saatnya, sudahlah... aku mau kembali ke kelas, bye!"Fathur berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Marsha.


"Loh, kok pergi gitu aja sih? nyebelin emang!"umpat Marsha.


"Marsha."suara familiar mengggema ditelinga Marsha, perihal siapa dia tentu saja orang yang sudah lama tidak Marsha sapa.


Marsha menoleh ke arah sumber suara dan sekejab menatap dingin. "Lo?"ucapnya.


"Hai, lama nggak sesapa lagi..."ucap Petran sambil tersenyum manis.


"Hmm, lo ngapain disini?"


"Ah, ini kan kantin... bebas dong mau ngapain, ya kan?"


"Iya juga sih, kirain ada keperluan sama gue."lirih Marsha, "yasudah. gue otw kelas dulu, bye!"pamit Marsha kemudian meninggalkan Petran.


"Dingin yah kamu sama kakak sekarang, bahkan dirumah pun kamu nggak pernah lagi negur kakak."gumam Petran kala melihat Marsha pergi menjauh dari sana.


Kata aku kamu sudah diganti jadi lo gue, artinya orang itu sudah tidak Marsha anggap dekat.


Ada kalanya kita harus menyelami laut terdalam menghilangi nafas sejenak, dan ada juga kalanya kita harus berdiri tegak diatas pulau demi udara yang menenangkan.


****


Sepulangnya dari sekolah Marsha langsung kerumah dan menyantai diatas kasur king size nya, cuaca buruk kala itu hujan badai turun dengan derasnya, petir menyambar sesuatu hingga terdengar jelas ditelinga, kilat terus saja timbul, dan suara hujan angin menyerang pendengaran Marsha. dirasakanya ngantuk dan pada akhirnya Marsha memutuskan tidur sejenak.

__ADS_1


Pukul 20.30 malam.


Hujan masih seperti tadi siang, tak hentinya Marsha menatap kaca jendela guna melihat percikan hujan.


Deras sekali, hujan ini mengingatkan ku akan kak Petran... jika hujan begini aku pasti main kerumahnya, tapi yasudahlah. untuk apa dikenang, nyakitin doang... (batin Marsha)


Marsha mulai mengambil pena dan notebooknya guna menulis sesuatu disana, setelah beberapa saat dirasakaanya kantuk menyerbu.


"Hoamm... lelahnya malam ini."ucap Marsha dengan nada kantuknya.


Marsha berjalan kearah kasur king size miliknya dan langsung melempar tubuhnya diatas kasur empuk itu, tubuhnya pegal karena lelah berolahraga disekolah tadi siang.


Tak terasa matanya mulai menutup dan akhirnya terlarut dalam mimpi.


*To... tolong... seseorang, to... lo... ng... aku...


AQEELA! AQEELA*!


Suara langkah kaki mendekati kearahnya, pandanganya kelam dan suram, tubuhnya sangat lemas tak bertenaga. bau darah segar dan sakit dikepala begitu terngiang sekali.


Asap mobil menyerbu dihidungnya, sepertinya ini kecelakaan. dia keluar dari mobil dan Sryyss! tergelincir dan.


Byur!


Sepertinya tubuhnya jatuh ke dalam air yang sangat dalam, nafasnya tersegel. tenggorokanya seperti diikat dan jantungnya sulit menampung nafas lagi.


AQEELA! !


Syukurlah seseorang datang, dan perlahan dia memejamkan matanya. tanganya ditarik oleh seseorang kemudian matanya terpejam.


Akhirnya aku selamat, s-siapa yang menolongku... tapi seperti suara laki-laki, tapi siapa? (batinya)


AQEEEELA!!!!


"AKHHH!"Marsha terperanjat dari tidurnya kemudian berteriak.


Tubuhnya bercucuran keringat, dan wajahnya memucat pekat kala malam penuh gelap dan hujan itu. bayang tentang suatu kecelakaan mobil yang mengerikan mengiang dikepala bahkan seorang gadis yang tergelincir jatuh ke dasar air yang dalam penuh luka dan darah. bayangan seseorang yang menyelamatinya, seseorang yang begitu tidak asing namun samar. suara teriakan seseorang menyebut nama Aqeela, nama yang begitu asing diingatan Marsha.


BRAK!


Pintu kamarnya terbuka, diambang pintu Mandine langsung berlari memeluk Marsha dan cemas mendengar teriakan Marsha. untung saja pintu kamarnya tidak terkunci.


"Marsha, kenapa? kenapa sayang? wajahmu kenapa? kamu mimpi buruk lagi?"ucap Mandine khawatir sambil memegang pipi Marsha dengan kedua tanganya.


Marsha tidak bergeming dan hanya bernafas dengan jantung yang berdetag cepat.


Greb!


Mandine langsung memeluknya dan perlahan menenangkan Marsha.

__ADS_1


Oh tuhan, apa dia bermimpi sesuatu lagi yang mengerikan? apa tentang masalalu itu? apa dia akan ingat? (batin Mandine)


"M-mama..."lirih Marsha pelan dan kemudian memeluk mamanya erat.


"iya sayang, mama disini."ucap Mandine mencium puncak kepala Marsha dan mendekapnya.


"Ma-marsha mimpi aneh lagi, seperti sangat nyata sekali... M-marsha melihat mobil dan anak gadis..."ucap Marsha. dihentikanya ceritanya dan kemudian dia hanya merenunginya.


Aqeela? barusan aku bermimpi tentang seorang gadis bernama Aqeela? siapa gadis dalam ingatanku itu, kenapa ada diingatanku? apa ini? ingatan tentang apakah ini, masa lalu kah? (batin Marsha)


"Ma, apa Marsha boleh bertanya?"setelah dirasakan agak membaik Marsha memberanikan diri untuk bertanya kepada Mandine.


"Soal apa, sayang?"tanya Mandine lembut.


"Apa mama kenal dengan gadis bernama Aqeela?"pertanyaan itu berhasil membuat Mandine gugup dan memucat.


Mandine langsung melepas pelukanya pada Marsha, tatapan dan ekspresinya berubah jadi takut dan gugup, tubuhnya gemetar. pandangan itu tak luput dari perhatian Marsha.


"Ma, kenapa?"tegur Marsha, "mama kenal sama Aqeela? ma, kok malah mama yang pucat?"tanya nya lagi.


"A-apa yang kamu maksud?! mama tidak pucat! siapa Aqeela? mama tidak kenal dengan nama itu! dan... dan dari mana kau mengenal nama itu?!"ucap Mandine dengan nada gugupnya.


"Entahlah, dia hadir di mimpiku... seperti begitu nyata, dan--"


Tap! Mandine memegang kedua bahu Marsha dan menatapnya lembut.


"Kamu hanya bermimpi, ini tidak nyata!"dari sorot matanya nampak bahwa dia tidak ingin Marsha tau sesuatu.


Eh, mama kenapa gugup begitu saat aku menanyakan Aqeela? apa dia tau sesuatu tentang Aqeela itu? dan kenapa mama kekeh mengatakan ini mimpi, setiap hujan badai dan petir mimpi ini terus muncul dikepala ku... bahkan sakitnya lebih parah dari sakit biasanya, ini tidak mungkin kebetulan, apa aku ada hubungannya dengan mimpi itu? tapi kenapa aku tidak bisa mengingat jelas... (batin Marsha)


Cup!


Mandine mencium puncak kening Marsha dan tersenyum.


"Tidurlah lagi, hari sudah larut... besok kamu akan ke sekolah."Marsha mengangguk tanpa menjawabnya.


"Mama keluar yah, selamat malam."


"Malam juga, ma."


Mandine berdiri dan meninggalkan kamar Marsha, sebelum keluar kamar Mandine menatap Marsha penuh arti.


*Mama, sebenarnya apa yang kau rahasiakan dariku... (batin Marsha)


BERSAMBUNG*.


---


Aku kembali 😍

__ADS_1


__ADS_2