
Pagi-pagi sekali pukul 07.10 wib. Marsha sudah berangkat sekolah lebih lama dari biasanya.
Di sekolah Marsha tidak banyak bicara, dia tengah mencari sosok lelaki sekitaran sekolah.
"Sha, nyari siapa?"tegur salah satu siswa disana.
"Eh, anu mau nyari Fathur."ucap Marsha to the point.
"Ooh, lo tinggal lewat sana udah tuh lurus... Fathur lagi dikelasnya."
"Thank."Marsha langsung berlari me arah yang ditunjuk oleh siswa tersebut.
"Jadi Fathur kelasnya di ujung, toh."gumam Marsha.
Marsha memasuki kelas itu dengan santainya, menyadari akan kehadiran Marsha ada banyak yang histeris dan minta foto.
Risih sih dalam benak Marsha, Fathur yang sedari awal santai dengan bukunya sekarang malah menatap kearah Marsha yang kesusahan medekatinya karena sekumpulan fans gilanya.
Ck. ribet banget! (umpat batin Fathur)
"Fathur!"teriak Marsha karena dia tau Fathur acuh.
"Apa?"ucap Fathur datarnya.
Idih, dasar si culun! bisa-bisanya dingin gitu sama aku. (umpat batin Marsha)
"Kamu ada waktu bentar nggak?"
"Ada, kenapa?"
"Aku mau ngobrol bentar sama kamu, boleh?"
"Hmm. hanya tersisa waktu beberapa menit, kenapa nggak istirahat nanti aja!"kesal Fathur.
"Nggak bisa, ntar aku lupa... ayolah!"
Marsha menarik Fathur keluar sementara Fathur menurut dan para fans gila Marsha hanya melongo.
****
"Kenapa kita ke taman belakang sekolah? mau mojok, yah?"tebak Fathur sambil bertanya kepada Marsha.
"Apaan sih! otak kamu tuh ngeres!"jengkel Marsha.
"Becanda, yaudah mau ngapain kita kesini?"
"Hmm.. aku mau cerita nih sama kamu."
"Soal?"
"Mimpi aku semalam, Thur."
Mimpi? (batin Fathur)
"Yaudah cerita, aku dengar."
Marsha menarik nafas dalam kemudian mulai menceritakan to the point ceritanya semalam kepada Fathur tanpa ada yang terlewatkan.
Sepanjang ucapan Marsha tidak pernah disela oleh Fathur, dia masih setia mendengar dan menatap Marsha penuh makna tersendiri.
"Jadi, menurut kamu apa ini hanya mimpi?"ucap Marsha meminta pendapat Fathur, "Nggak ada yang percaya sama cerita aku, bahkan orang tua aku sendiripun."lanjutnya.
"Jadi, kamu berharap aku percaya?"tanya Fathur balik kepada Marsha.
"Eh? kamu nggak percaya sama kayak mereka, gitu?"
__ADS_1
"Ck. siapa bilang?"
"Lah, itu barusan."
"Sok paham!"
Lah, ini dia kenapa sih? nggak ngerti deh aku sama dia. (batin Marsha)
"Hmm. kalo nggak percaya sih nggakpapa, se enggaknya kan aku udah curhat sama kamu!"kesal Marsha.
"Kamu udah curhat sama sahabat kamu?"tanya Fathur, Marsha menggeleng.
"Kenapa?"
"Nggak aja sih, males doang... jadi gimana menurut kamu tentang mimpi aku?"jawab Marsha simple.
"Menurut aku sih, mimpi itu bisa jadi nyata dan bisa juga enggak... mungkin aja mimpi kamu semalam itu adalah bagian dari masa silam kamu, kamu nya aja yang lupa."ucap Fathur kepada Marsha penuh arti.
"Jadi maksud kamu aku ini amnesia gitu?!"
"Bisa jadi."
Marsha hanya keheranan menatap Fathur, dia memikirkan maksud perkataan Fathur.
Apa benar aku amnesia? (batin Marsha)
"Coba aku tanya, kamu pernah masuk rumah sakit nggak?"selidik Fathur.
"Pernah sih, waktu itu aku tersadar dalam tidur ku, tapi mama nggak cerita penyebabnya."jelas Marsha.
Eh, tunggu! apa ini beneran aku amnesia?! ja-jadi mimpi itu nyata, bagian ingatan yang hilangkah?! (sadar batin Marsha)
"Sha, ada berapa banyak hal yang udah kamu cerita ke orang tua kamu?"tanya Fathur penuh penyelidikan.
"Banyak sih."
"Mulai sekarang jangan lagi!"
"Loh, kenapa?"
"Turutin aja kata aku, kalo kamu mau dapat jawabanya."Marsha tidak paham, namun semaksimal mungkin dia mencerna ucapan Fathur.
*Ingatan Marsha akan masalalunya semakin hari makin menjadi, aku khawatir sebelum saatnya tiba dia sudah mengingatnya. sebaiknya sekarang aku harus melakukan rencana lain, tidak bisa ditunda lagi, Marsha, Aqeela, benar-benar orang yang konyol! om... kenapa kau begitu menyiksa ku dengan menitipkan mereka? benar -benar membuatku lelah akan hal ini...
Om Hari, tante Mandine, kalian sungguh hebat! tungguh saja, aku akan menghancurkan kalian hingga berkeping! termasuk adikku yang tersayang itu beserta mantan kekasih eh salah, maksudnya perempuan mata duitan itu!
Marsha, bertahanlah sedikit lagi... mungkin agak menyakitkan, tapi jika bukan dirimu maka siapa lagi yang harus aku korbankan demi rencana ini berhasil, tenang saja... aku tidak sekejam adikku itu, kau akan tetap terjaga selama rencana ku berhasil ,hmm. (batin Fathur*)
"Sha..."
"Ya?"
"Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, atau mungkin kamu mengingat sesuatu... mohon jangan ada yang disembunyikan padaku, paham?!"
"Kenapa?"
"Menurut saja, demi kebaikan dirimu dimasa depan!"
Eh, maksudnya ini apa yah? tolong diperjelas agar aku yang lemot ini menjadi paham. (batin Marsha)
"Eemm, Ya."angguk Marsha.
"Satu lagi."
"Apa?"
__ADS_1
"Nanti aku beritahu."
"Baiklah."
"Oh yah, kapan kamu mau ngajakin aku main kerumah?"Fathur mengalihkan pembicaraan supaya tidak begitu canggung.
"Eh iya, kapan kamu ada waktu?"ucap Marsha.
"Weekend."
"Yaudah, weekend aja, Gimana?"
"Hmm, okeh."
Dengan setelan begini, tidak masalah datang berkunjung kerumah Marsha weekend nanti... tidak lama lagi kita akan berjumpa lagi, tunggu aku om Hari, tante Mandine. (Devils batin Fathur)
"Oh yah, Thur. tau nggak di kelas aku ada murid yang pindah kelas."
"Pindah kelas?"
"Iya."
"Siapa?"
"Fathir."
Fathur berubah dingin kala mendengar nama itu, tak luput pandangan mata Marsha menatap Fathur aneh.
Pindah kelas? mencurigakan, aku harus menyuruh seseorang mengawasi dia. (batin Fathur)
"Thur, kok diem?"tegur Marsha.
"Ck. aku malas saja membahasnya!"jawab Fathur dingin.
Sepertinya hubungan mereka benar-benar tidak baik, ada apa diantara mereka? aku harus cari tahu. (batin Marsha)
"Yasudah, aku hanya kasih tau kamu doang."
"Kamu mau bantu aku, nggak?"
"Bantu apa?"
"Sini!"Marsha mendekati Fathur.
Suatu bisikan menembus telinga pendengar Marsha, bukanya fokus dengan ucapan Fathur malah Marsha dibuatnya pangling dengan bau farfum Fathur, sekilas wajahnya merona.
"Bisa nggak?"tanya Fathur, Marsha malah bengong doang.
"Woy!"tegur Fathur.
"aah.. i-iya kenapa?!"salting Marsha menatap Fathur.
"Dengar nggak?!"
"I-iya dengar, hehehe."
"Gimana? bisa nggak, nih?"
"Insyaallah, bisa."
"Okeh. Take care, Sha!"
Fathur berdiri dan langsung pergi tanpa pamit kepada Marsha.
Aku semakin yakin jika Fathur yang culun ini bukan bentuk aslinya, orang culun mana ada modelan gitu. (batin Marsha)
__ADS_1
BERSAMBUNG.