Fathur My Future

Fathur My Future
MARSHA WITH FATHUR.


__ADS_3

Kala ini Marsha sedang duduk ditaman belakang rumah setelah pulang sekolah tadi. ada banyak pikiran dalam benaknya yang merasuk membuat jiwanya tak tenang sedikitpun, semenjak ada Fathur dan Fathir dia begitu sering bermimpi dan mengingat sesuatu secara menyakitkan dan merusak pikiranya.


Mama tidak pernah ingin membahas masa laluku, bahkan papa juga begitu... akan percuma jika aku bertanya dengan mereka, lebih baik aku cari tahu sendiri saja... sebenarnya apa yang terjadi padaku dimasa lalu? kenapa begitu sakit jika di ingat. (batin Marsha)


Kling...


Suara notif pesan masuk ke hp Marsha, langsung saja Marsha membacanya. ternyata dari Fathur sebuah pesan singkat.


📩Mau minum teh bersama denganku? (Fathur)


Deg!


Sebuah pesan singkat itu mampu membuat hati Marsha girang, ada bahagia meski sekedar ajakan minum teh.


📨Dimana? bukanya kamu ada urusan?


Marsha mengetik membalas pesan singkat Fathur, dan beberapa menit menunggu balasanya.


5 menit tak kunjung dibalas membuat Marsha mengumpatnya mati-matian.


"Sialan! dia hanya mempermainkan aku lagi? tidak tau di untung!"kesal Marsha dan menendang batu besar di depanya.


Buk!


"Aduh!"Marsha meringis memegang jempol kakinya yang kesakitan karena menendang batu itu.


"Akh, sialan! sialan, sialan! aku kan lupa jika aku tidak memakai sepatu dan hanya sandal jepit... akh! bodoh sekali aku ini,"ucapnya sambil mengutuki dirinya.


Tin.. tin.. tin..


Suara klakson mobil dari area depan gerbang rumah Marsha membuatnya menatap keheranan akan siapa yang datang, apakah mamanya tapi tidak mungkin mamanya kan pulang sudah larut sementara jika itu papa atau bunda nya tetap tidak mungkin mereka kesini tanpa memberitahunya.


Marsha membuka gerbang dengan perlahan dan langsung mematung kala melihat mobil terparkir disana dengan lelaki yang dia kenal setelan cupu yaitu siapa lagi jika bukan Fathur.


"K-kamu? kok ada dirumahku?"kaget Marsha mendekati Fathur.


"Kan sudah aku bilang mau mengajakmu minum teh bersama..."ucap Fathur.


Eh, dia tidak membalas pesanku tetapi langsung kerumahku? kenapa aku sedikit merasa gembira begini hanya sekedar ditawar minum teh bersama sih culun... (batin Marsha)


"Kamu nggak balas pesan aku dan langsung kesini... tidak bertanya aku mau atau tidak, main langsung nyelonong aja kerumahku!"protes Marsha.


"Ini bukan pertanyaan yang perlu jawaban, ini tuh perintah! ayo buruan!"Fathur menarik Marsha dan memaksanya masuk mobil


Marsha menahan pintu mobil dan mulai berkata. "Eh, apaan sih! tunggu dulu dong main nyelonong aja... aku ganti baju dulu dong, masa pake seragam sekolah gini udah bau dan kumuh mana rambut dan wajahku kusam."


Fathur jengah dan memutar matanya malas, tetap menyuruh Marsha masuk sambil berkata. "Mau kamu ganti seragam dan make bedak pun wajah dan model kamu nggak bakal berubah, tetap begini... cepatlah masuk!"

__ADS_1


Marsha terpaksa menurut malas sekali berdebat dengan Fathur. setelah masuk. mobil Fathur juga masuk mobil menyetir dan meninggalkan area kediaman Marsha.


Di perjalanan Marsha dan Fathur saling hening, karena bosan akhirnya Marsha yang membuka pembicaraan duluan kepada Fathur.


"Mau kemana kita?"


"Minum teh."jawab Fathur cuek.


"Huh! tau kalik... maksudnya dimana?!"kesal Marsha.


"Kedai teh."lagi-lagi jawabanya cuek dan padat.


Astagfirullah kenapa aku merasa emosi yah di cuekin gini sama dia? nih orang manusia atau bunglon sih, kadang ramah kadang baik kadang juga nyebelin dan cuek. tapi jikalau dipikir-pikir di dekatnya tidak serisih di dekat Fathir... aku sepertinya memang salah menebak, mereka mana mungkin kembar, hahahah dasar Marsha tukang ngaco! (batin Marsha)


****


Mereka tiba disebuah kedai kecil yang terletak di pinggiran jalan raya. Marsha melihat sekeliling dan tersenyum kala tempatnya yang sejuk dan tidak begitu banyak orang dan polusi.


"Ternyata kamu pinter juga milih tempat,"puji Marsha.


"Hmm."Fathur berdehem.


"Good job deh!"


"Hm."


Sial! hanya hem doang? apa dia bisu sekarang ini, setelah mengalami luka diperut kenapa dia jadi cuek gini sama aku... apa mungkin sifatnya juga kena efek samping obat? (batin Marsha)


Ck. jika bukan karena ingin membalas adikku yang durhaka itu, mana mungkin aku mau menjadi secupu ini! jika aku tidak cupu aku tidak yakin saat ini orang-orang tetap menyanjung Fathir sialan itu! sabar Fathur... demi mendapatkan kembali semua hak dan kebahagiaan mu maka kamu harus sabar jangan sampai ego menguasai segalanya. (batin Fathur)


Diliriknya Marsha yang sibuk melihat sekitarnya.


Jika dipikir pikir Marsha mungkin sekarang akan bertunangan dengan ku jika Fathir tidak mengacaukan segalanya... adik sialan! sudah merebut hak dan kasih sayang semua orang, dia juga merebut kekasihku dulu sekaligus ingin menjadikan Marsha juga kekasihnya, sangat serakah dan menyalahkan aku penyebab semuanya... benar-benar tidak tau diri! padahal aku dari dulu sudah menuruti keinginan dirinya dan menjadi seperti ini demi dirinya. tapi sekarang tidak lagi, adikku tersayang tunggulah pembalasanku... perempuan yang dihadapanku ini bukan lagi teman kecilmu melainkan masa depanku yang sudah papa pilih menjadi pendampingku bukan pendampingmu! jangan salahkan aku jika aku juga akan berbuat hal yang sama denganmu sewaktu dulu... (batin Fathur)


"Fathur! kok bengong?"teguran Marsha menyadarkan Fathur akan lamunanya.


"Ah, iya... sorry habis banyak pikiran."ucap Fathur mengalihkan pandanganya.


"Dari tadi aku panggilin nggak nyaut-nyaut!"kesal Marsha.


"K-kenapa?"


"Kamu tumben ngajakin aku minum teh bareng? apa ada masalah lain?"


"Nggak."


Marsha mengangguk kemudian menarik nafas dalam karena berniat untuk menanyakan sesuatu akan dirinya dan Fathir.

__ADS_1


Demi memastikan kalau dia dan lelaki yang di panggil Fathir oleh putri itu bukan saudaraan, aku harus menanyakan ini. (batin Marsha)


"Thur... aku boleh nanya?"ucap Marsha dengan nada serius.


"Apa?"Fathur menatap Marsha


"Apa kamu punya saudara kembar?"


Seketika Fathur tertegun kala mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Marsha, wajahnya berubah dingin dalam sekejab.


Fathur berusaha santai dihadapan Marsha, kemudian berucap. "Kenapa kamu bertanya begitu? apa kamu bertemu seseorang yang mirip denganku?"


"Ah itu, iya... tadi disekolah aku bertemu dia, namanya hampir sama denganmu tapi beda nama belakangnya sedikit... wajahnya lebih keren sih dari kamu, penampilannya juga."jelas Marsha.


"Apa kamu barusan membedakan aku dengan orang lain?!"tatapan Fathur tak suka.


"Enggak! nggak gitu, aku hanya memastikan aja."


Duh, apa aku salah ngomong yah? (batin Marsha)


"Menurut kamu apa kami layak di sebut kembar dan bersaudara?"


Aku tidak yakin... tapi hatiku mengatakan hal lain, sudahlah dari pada dia marah mending lupakan saja nanti aku tanya mama atau papa saja tentang asal usul keluarga Ars, kan Fathir bersekolah disekolahanku pasti akan mudah mencari identitas dirinya dan Fathur. (batin Marsha)


"Cih! aku tidak punya saudara kembar! aku hidup sendiri tanpa keluarga... jadi jangan membahas sesuatu denganku mengenai hal itu,"pinta Fathur dengan nada dinginya.


Telihat jelas wajah Fathur yang begitu menahan kesedihan dan kesepian


Sepertinya ada hal lain yang dia coba sembunyikan dariku... maaf, aku mestinya tidak begitu... tapi hanya untuk memastikan saja siapa kalian sebenarnya. Fathur, kau membuatku mati penasaran! (batin Marsha)


"Maaf, aku nggak akan bahas itu."ucap Marsha.


"Hmm."hanya deheman yang dibalas Fathur.


"Kenapa kamu jadi cuek sih?!"kesal Marsha


"Siapa bilang?"tanya Fathur


"Aku lah, masa orang dimeja samping kita itu!"


"Bisa jadi."


"Kok gitu sih?"


"Gitu apanya?"


"Tau ah! males aku sama kamu!"Marsha merajuk sementara Fathur agak sedikit terkekeh saja.

__ADS_1


Akan lebih baik jika kamu tidak tau sekarang... masih terlalu awal membuatmu ingat segalanya, kamu akan sadar suatu hari nanti dan mengingat semuanya... adikku Fathir tunggu saja saat ingatan itu kembali, kau akan hancur untuk merasakan rasanya tercampakkan... nikmatilah bahagiamu sekarang ini, nanti setelah itu terimalah kesengsaraanmu juga...


Marsha, kau perempuan baik... tapi sayang sekali aku belum menganggapmu penting, kau hanya sekedar pion bagiku... maafkan aku.(batin Fathur)


__ADS_2