
setelah tiba di ruangan Fazira langsung mengganti pakainya dan bergegas menuju ruang operasi. Di dalam ruangan sudah ada dokter senior sekaligus guru Fazira. dalam operasi kali ini Fazira akan mendampingi Dr. Lusi dalam melakukan operasi.
Setelah memasuki ruangan Fazira dan Dr. Lusi mulai melakukan operasi pada pasien tersebut, beberapa jam kemudian kurang lebih 2/3 jam akhirnya operasi berjalan dengan baik.
Dr. Lusi mulai melangkah ke luar dari di ikuti oleh Fazira di belakangnya.
" Keahlian mu berkembang dengan baik, Ibu Bangga padamu" dr. Lusi yang bangga atas keahlian Fazira.
" terimakasih prof"
" Fazira, ada yang pengen saya tanyakan, apa benar yang di rawat di ruangan VVIP itu adalah kekasih mu" ucap tiba-tiba, Fazira yang mendengar itu langsung menggeleng kan kepalanya." ah, dia bukan kekasih saya prof"
" kalau benar juga tidak apa-apa" ucapnya sambil tersenyum menggoda Fazira.
" dia bukan kekasih saya dok, saya permisi dok" ucap Fazira langsung berlari setelah melihat dr. Lusi masuk di ruangannya.
" ahhh, kenapa jadi begini, bagaimana menjelaskan semuanya pada tuan Chen nanti kalau dia mendengar gosip ini, lama-lama rumah sakit ini bisa jadi tempat rumpi, kenapa hal seperti ini cepat sekali menyebar " omel Fazira setelah masuk ke dalam ruangannya.
" kamu kenapa, Oprasi nya berjalan dengan baik, kenapa kamu mengomel" tanya dokter Dara teman Fazira yang melihat Fazira mengomel.
" tidak"
" Faz, kamu bawa bekal" tunjuknya pada kotak makan berwarna biru yang ada di atas meja Fazira.
__ADS_1
" iya, ngirit uang jajan" ucap Fazira asal.
" ya udah aku keluar dulu cuma mau ambil dokumen ini" ucap dr. Dara sambil melangkah keluar dari ruangan.
tatapan Fazira tertuju pada kotak bekal makanan yang di bawanya dari rumah.
" kenapa aku bisa lupa dengan kotak itu, bagaimana cara memberikannya" ucap Fazira
" permisi dok, waktunya untuk memeriksa pasien" ucap suster
Fariza yang mendengar itu langsung bangun dari tempat duduknya menuju ruangan ruangan pasien yang akan dia periksa.
saat akan membuka pintu, pandangan Fazira tertuju pada kotak makan itu " ahh saya bawa saja, nanti kita pikirkan alasannya" batin Fazira setalah itu dia mengambil kotak makan warna biru itu dan membawanya keluar.
Fazira menuju ruangan pasien dari kamar ke kamar Fazira mulai memeriksa pasiennya, hingga dia sampai pada ruangan terkahir yaitu ruangan Chen yang memang lantainya paling atas dan merupakan ruangan yang paling tinggi di rumah sakit itu.
* * * *
tok tok tok
" permisi tuan dokter akan memeriksa keadaan anda" ucap suster yang mendampingi Fazira
Chen yang masi bergelut dengan laptopnya hanya menganggukkan kepala. melihat reaksi Chen Fazira langsung melangkah mendekati ranjang.
__ADS_1
" Permisi tuan bisa saya pinjam lengan Anda sebentar" ucap Fazira sebeb Chen terus menerus mengetik sesuatu di laptopnya, dia mengizinkan dokter untuk memeriksanya tapi tangan yang akan di periksa di gunakan untuk bekerja.
Chen yang mengenali suara itu langsung mengangkat kepalanya dan pandangan tertuju pada mata cantik Fazira. keduanya sama-sama terdiam. dengan pikiran masing-masing Samali suara Miko menyadarkan mereka
" apa laporannya sudah kamu perbaiki, Hay dokter " cepat Miko yang tiba-tiba keluar dari pintu kamar mandi. dan menyapa Fazira
mendengar suara Miko keduanya langsung tersadar " tuan bisa saya periksa lengannya, " Tampa bicara chen langsung memberikan lengkapnya pada Fazira.
" luka anda sudah mulai mengering tuan, tapi akan lebih baik jika tuan meminum obat supaya luka anda cepat sembuh" ucap Fazira sambil melirik beberapa cup obat yang ada di atas meja dia yakin tuan Chen tidak meminum obatnya.
Chen yang mendengar itu langsung melirik di mana mata Fazira tertuju pada cup obat yang sudah di sediakan oleh suster untuk di konsumsi sehabis makan.
" tuan anda sebaiknya meminum obat itu, atau jangan - jangan anda tidak bisa minum obat" ejek Fazira.
Chen yang merasa di remehkan tidak terima dengan ucapan Fazira. " aku bisa minum obat, sebentar aku akan minum obat itu setelah suster memberikan makanan untuk ku." ucap Chen tidak mau kalah.
" jam makan siang sebentar lagi aku akan menunggu anda di sini sampai anda meminum obat anda," ucap Fazira langsung mengambil kursi yang ada di samping ranjang dan duduk di sana dengan tenang. Fazira paling tidak suka jika ada pasien yang tidak mau minum obat, meskipun obat tidak sepenuhnya menyembuhkan tetapi obat bisa mencegah agar penyakit itu tidak berkembang biak.
Chen bukan anak kecil yang harus di perhatikan saat minum obat tapi melihat banyaknya cap obat di atas meja membuat Fazira harus mengawasi Chen agar mau minum obat.
" sus kmu boleh ke luar dan letakan kotak itu di atas meja".
suster yang mendengar itu langsung melangkah keluar dari ruangan.
__ADS_1
" apa kamu tidak ada pasien lain, dokter sepertimu pasti akan sibuk" tanya Chen dia berharap semoga Fazira mau meninggalkan ruangan ini, dia tdk bisa minum obat.
" rumah sakit ini memiliki banyak dokter, tunggu sebentar lagi pasti suster akan membawakan makan siang mu" ucap Fazira.