
Saat itu di malam hari, bulan bersembunyi tak memancarkan cahayanya sedikitpun, di bawah pencahayaan yang remang-remang Si Yisheng kecil menangis dengan darah terciprat hampir di seluruh tubuhnya.
Dihadapannya kedua orang tuanya dibunuh dengan kejamnya, matanya berair penuh dendam dan keputus asaan. Beberapa saat kemudian salah seorang dari pembunuh itu menghampiri Si Yisheng, mengangkat pisaunya tinggi -tinggi, Si Yisheng memejamkan matanya.
Ia membuka matanya karena pisau itu menggores pipinya, ia dapat melihat pembunuh itu tertembak didahinya, ia jatuh dengan pisaunya yang menggores wajahnya, "Astaga..!" Si Yisheng mengangkat kepalanya melihat orang dengan pakaian polisi menghampiri dirinya dengan panik.
Polisi itu menggendong tubuh Si Feixiang, namun pandangan Si Feixiang memburam dan berakhir ia pingsan, hal yang diingatnya hanyalah kematian kedua orang tuanya dan pembunuh dengan kepala berlubang yang menggores pipinya, sejak saat itu Si Yisheng selalu trauma ketika pipinya terluka.
.
"Tidak!"
Si Feixiang membuka matanya, Xiao Chen yang sedang menggendongnya dengan bridal style menunduk, "Kau tidak apa Si Feixiang?", Si Feixiang yang menyadari posisinya segera mencoba untuk lepas, "Turunkan aku, aku bisa berjalan sekarang. "
Xiao Chen memandangi Si Feixiang sebentar, menghela nafasnya sebelum mengangguk pelan dan mulai menurunkan tubuh Si Feixiang dengan sedikit enggan, "Tadi kau kenapa?" tanyanya memandangi Si Feixiang lembut.
"Hanya mengingat hal yang tak penting. "
Xiao Chen diam, dia tak memutuskan untuk bertanya lagi karena ia menghormati privasi Si Feixiang, dia tidak akan memaksa Si Feixiang untuk bercerita jika ia tak ingin untuk melakukannya.
Mereka mulai berlari lebih cepat setelah Si Feixiang sadar, mereka sampai saat hari mulai menjelang malam dengan bersamaan kedatangan rombongan kerajaan api.
Mereka disambut hangat oleh kerajaan petir, mereka dibawa ke ruangan mereka masing -masing, sedangkan raja dan ratu kerajaan api pergi untuk menyampaikan salam pada tuan rumah, tentu saja kepada raja dan ratu kerajaan petir.
Si Feixiang sendiri diajak Xiao Chen untuk berkeliling istana, melihat sekitar Si Feixiang tampak biasa saja melihat istana itu lebih besar dari istana di kerajaan api, toh kerajaan api hanyalah kerajaan kecil sedangkan kerajaan petir adalah kerajaan besar.
Xiao Chen mengajaknya ke sebuah danau yang sangat indah di belakang istana, "mari kita pergi ke tempat khususku. " ia berucap sebelum menggendong Si Feixiang tanpa aba -aba, tentu saja Si Feixiang terkejut dan secara refleks mengalungkan lengannya ke leher Xiao Chen.
__ADS_1
Xiao Chen terkekeh kecil dan segera terbang menuju ke tengah danau, terkejut Si Feixiang mengetahui Xiao Chen bisa terbang, 'dia bisa terbang..?' dia menggelengkan kepalanya pelan memutuskan untuk memandangi wajah tampan Xiao Chen.
"'Aku tahu wajahku tampan, kau tak perlu memandanginya dengan intens. " ucapnya mengedipkan satu matanya jahil, Si Feixiang memutar bola matanya, "Pd sekali.. " Xiao Chen menunduk menatap bingung Si Feixiang "Apa itu pd..?"
"... Lupakan!" Xiao Chen menghendikkan bahunya acuh dan mempercepat kecepatan terbangnya. Si Feixiang dapat melihat daratan di tengah - tengah danau tersebut tak lama kemudian.
Setelah agak lama Xiao Chen memijakkan kakinya di tanah dan menurunkan Si Feixiang dari gendongannya, Si Feixiang memandang takjub ke sekitaran pulau tersebut, pohon - pohon bunga persik tumbuh bebas disana, aroma bungapun tercium hangat tatkala angin berhembus.
"Indahnya.. "
Xiao Chen menarik tangan Si Feixiang membawanya semakin masuk ke dalam hutan hingga mereka sampai di depan rumah kayu yang sederhana dengan beberapa bunga menghiasi halamannya.
Xiao Chen memasuki rumah itu diikuti oleh Si Feixiang, beberapa aroma obat menyerbak dibeberapa tempat, dalam ruangan tersebut ada meja dan rak -rak yang diisi oleh buku - buku yang nampak lama dan kuno.
Hiasan dinding berupa naga dan phoenix terpajang disebelah pintu lainnya, entah ruangan apa yang ada dibalik pintu tersebut, beberapa gambaran peta dunia terpajang di dinding lainnya.
Patung naga berdiri kokoh di keempat sisi ruangan tersebut, hingga sebuah buku terbuka yang ada di atas meja yang lama diperhatikan Si Feixiang ia terkejut karena buku itu berbahasa Inggris.
"Baiklah.. "
Xiao Chen mengambil buku tersebut dan memberikannya pada Si Feixiang, ia kemudian menuntun Si Feixiang duduk di depan meja baca, Si Feixiang membaca sedikit sebelum mulai menceritakannya.
'Buku naga hitam,
Aku memberikan ini padamu pewarisku, kau yang ditakdirkan akan menemukan gadis yang menjadi kekasihmu yang akan bisa membaca buku ini, dia sang pemilik Phoenix surgawi '
'seorang naga sejati haruslah kokoh pada pendiriannya dan kuat hatinya..... "
__ADS_1
.
Malam hari pesta pertunangan dimulai Si Feixiang dan Xiao Chen mengenakan pakaian merah khas pengantin, mereka duduk bersebelahan dengan Xiao Chen yang terus mencoba mengajaknya berbicara.
"Hoi, besok kau jadikan mengobati ibuku, aku takut jika lebih lama kondisinya semakin buruk. " Xiao Chen berucap dengan senyum hangatnya, Si Feixiang mengangguk cepat, dia mengelus tangan Xiao Chen, "Tenanglah, percayalah padaku, aku akan bisa menyembuhkannya. "
Acara awalnya berjalan lancar hingga acara dimana gadis- gadis muda bangsawan menunjukkan kemampuan dan keterampilannya, salah seorang putri dari kerajaan awan, Wu Yun menantang Si Feixiang untuk menunjukkan kemampuannya.
Bukanlah rahasia umum, hampir semua kalangan bangsawan mengetahui bahwa Wu Yun menyukai Xiao Chen, tapi Wu Yun sendiri tidaklah membenci Si Feixiang, tapi dia sedikit tidak terima bahwa pujaan hatinya bertunangan dengan seorang yang terkenal sampah yang tidak bisa berkultivasi.
Si Feixiang memasang senyum ia meminjam kecapi dari adik Xiao Chen, Xiao Rouran yang lumayan dekat dengannya. Ia pergi ke tengah ruangan matanya terpejam ia menyanyi dengan salah satu lagu yang terkenal di zamannya sambil memetik kecapi.
Suara lembutnya mengalun merdu di seluruh ruangan, mereka yang mendengarnya terhanyut dalam buaian hangat dalam lagu tersebut. Si Feixiang menyelesaikannya tanpa terasa dan membuat para penonton kecewa.
Setelah selesai Si Feixiang memberikan kembali kecapi tersebut kepada Xiao Rouran, saat ia hendak duduk Wu Yun menantangnya untuk berduel, Si Feixiang kembali memasang senyum dinginnya.
Ia kembali berjalan ke tengah ruangan disana Wu Yun sudah menunggunya, pertarungan mereka dimulai tak lama kemudian tapi Si Feixiang tidak ingin membuang waktunya sehingga dalam waktu singkat dia sudah berada di belakang Wu Yun dengan pedang kecil yang siap menebas kapan saja.
"A-Aku menyerah!" ucap Wu Yun lemas, ia meringsut takut. Semua yang ada diruangan melotot tak percaya, dihadapan mereka salah satu jenius generasinya dikalahkan dengan telak oleh putri yang terkenal sampah.
Dipojok ruangan, seorang lelaki memakai topeng yang menutupi setengah wajahnya menatap penuh minat ke arah Si Feixiang, "Phoenix surgawi telah terlahir.. " ia bergumam memasang senyum miringnya.
Tbc~
Si Feixiang
__ADS_1
Xiao Chen