
Sore ini, seperti sore-sore sebelumnya, aku beberes rumah sepulang kerja. Sebagai kakak paling tua diantara 4 adekku, kami terbiasa mengerjakan tugas rumah sebab mamakku yang harus berjualan sampai ke luar kota untuk membiayai kehidupan kami sekeluarga. Meski aku dan Abang tertua sudah bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di kota kami, namun sebab keempat adikku masih membutuhkan banyak biaya untuk sekolah mereka, mamak tetap berjualan.
Bapakku hanya seorang tukang bangunan yang bekerja jika ada proyek, jika tidak ada proyek hanya mengurus kebun dekat rumah saja.
Kegiatan beberesku terhenti saat kudengar ketokan di pintu depan. Akupun bergegas membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Abang sepupu jauh keluarga kami, bersama seorang temannya.
" Lagi sibuk dek? tanya Abang sepupuku.
"Nggak juga bang, sahutku. Ada apa Abang kemari, apa ada yg perlu?"tanyaku melanjutkan.
"Nggak perlu-perlu kali sih, kebetulan lewat tadi sama kawan Abang dekat sini, makanya singgah!" sahut Abang sepupuku lagi.
"Oh..ini kawan Abang? tanyaku
__ADS_1
Lalu aku menyodorkan tanganku pada kawan Abang sepupuku, dan disambut olehnya dengan sedikit senyuman, sambil menyebutkan namanya : Leo
Akupun dengan semangat menyebut namaku : Ryna
Setelah mengobrol hampir setengah jam, Abang sepupuku dan kawannya pun pamit pulang. Saat kawan abangku jalan duluan, akupun iseng mengatakan padanya, "salam manis sama kawan Abang ya, lumayan cakep tuh!" sahutku sambil terkikik.
"Bener ni dek, Abang sampaikan ya!" jawabnya tertawa...
Akupun mengangguk cepat sambil tersenyum iseng.
Tak lama kemudian adek-adekku sampai ke rumah setelah mengambil hasil kebun kami. Akupun segera membantu meletakkan hasil kebun di dapur, sebab setelah bersih-bersih badan, kami akan segera membersihkan sayuran yang dibawa dari kebun.
Rumahpun seketika ramai oleh canda tawa dan cerita kami kakak-beradik. Ada yang menceritakan kisah di sekolah, di kebun, tentang tetangga kami dan lain sebagainya. Suasana ini selalu tercipta setiap kali kami membersihkan hasil kebun dan mengikatnya dengan rapi, sebab besok subuh akan diantar oleh Bapak ke pasar untuk dibagikan kepada penjual sayur eceran yg membutuhkan.
__ADS_1
Bapak adalah sosok panutan bagi kami. Meski sebelumnya beliau adalah Mandor Besar di salah satu perusahaan swasta explorasi di daerah kami, dan harus berhenti sebab perusahaan habis kontrak, namun meski harus bertukang dan berkebun, tidak membuatnya patah semangat. Kadang aku sedih sebab aku tau, jauh di lubuk hati terdalam, Bapak tidak tega melihat mamak yg harus berjualan ke luar kota, namun tuntutan kondisi kehidupan kami saat ini mengharuskannya banting-tulang agar memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah kami semua.
Sehabis membereskan sayuran, dan sudah terikat rapi digulung dalam goni plastik, kamipun beranjak untuk makan malam dan lanjut belajar sebentar.
Cara kami melewati malampun sangat unik Sebab penerangan di rumah belum ada listrik, maka kami memakai Lampu Setrongkeng sebagai alat penerang. Tidak ada alasan kami untuk bersedih, yg ada adalah kami kakak-beradik akan bergantian melantunkan lagu-lagu penghantar tidur..sampai capek dan akhirnya tertidur.
Dalam doa malamku, tak lupa selalu aku panjatkan doa tulus penuh permohonan, agar Tuhan selalu melindungi mamak selama seminggu berjualan di luar kota.
Beruntung ada saudara jauh yang dengan senang hati menampung mamak di sana, sehingga kami tak terlalu kuatir membayangkan mamak yang sendiri disana.
Hooaaammm...
Sepertinya malam ini, aku akan membayangkan wajah seseorang nih..
__ADS_1
siapa coba...😊