First Love - End

First Love - End
Ujian Cinta 1


__ADS_3

Desember 2018


Aku menelepon Leo ke kantornya untuk mengajaknya merayakan Natal PD kami di Panam. Tentu saja aku harus menghubunginya ke nomor kantornya lagi. Setelah lewat masa training, Leo ditempatkan langsung di kantor Pemasaran Perumahan di daerah Pasir Putih, daerah pinggiran kota. Dan bukan sebagai satpam lagi, tapi supir perusahaan. Aku tak begitu ambil pusing sebab mau jadi apa juga, asal bekerja dengan benar dan rejeki halal, lanjut saja.


Setelah beberapa kali panggilan di seberang telepon, akhirnya dijawab juga..


"Selamat siang!" salamku


"Ya, selamat siang, ada yang bisa dibantu?" sahut seorang perempuan di seberang sana.


"Oh iya mbak, minta tolong mau bicara dengan Bang Leo!" pintaku sopan


"Ini dengan siapa ya?" tanyanya lagi


" Oh, saya Ryna mbak, teman Bang Leo!" jawabku lagi


"Ryna....hhmmmm..bukannya Ryna itu nama pacar Leo ya?" sahutnya kembali


"Hhmm...iya mbak, begitulah kira-kira!" jawabku malu-malu. Kaget juga aku mengetahui bahwa Leo mengakui kalau aku pacarnya di kantornya.


"Maaf ya Ryna, Leo sedang tak ada di tempat saat ini, jadi apa ada pesan?" tanyanya lagi


"Begitu ya mbak, baiklah, tolong sampaikan kalau saya butuh bang Leo menemani saya menghadiri natal PD pada tanggal 8 yang akan datang, tolong sampaikan ya mbak,soalnya tempatnya jauh dan acaranya sore ke malam hari!" pintaku tulus


"Oke, akan saya sampaikan!" jawabnya mengakhiri sambungan telepon.

__ADS_1


Beres..pikirku


Lalu aku melanjutkan pekerjaan dengan tenang. Memang setelah Leo dipindahkan, komunikasi kami agak terganggu. Bisa jadi saat aku sempat menelepon dia keluar, saat aku sudah pulang dia baru punya waktu menelepon, sementara aku sudah pulang kantor. Di rumah belum ada pesawat telepon pribadi kami. Kalo butuh komunikasi, kami memakai telepon umum atau wartel.


Saat yang ditunggu pun tiba. Dengan yakin aku mempersiapkan diri sore itu untuk menghadiri Natal PD kami. Benar saja, setelah selesai berkemas dan berhias seadanya, Leo datang dan kami pun berangkat ke acara Natal.


Aku merasa sangat bahagia sekaligus terharu sebab sudah sebulan kami tak bertemu.


Sepanjang jalan, kami berpegangan tangan untuk menumpahkan rasa rindu di hati. Sesampainya di Panam, kamipun menikmati Acara dengan khusuk dan penuh haru. Apalagi saat menyanyikan lagu Holy-night, sambil memegang lilin kecil, aku menatap wajahnya yg tersenyum, agak kurusan sih sebenarnya bang Leo, mungkin capek bekerja, tapi senyumnya membuat hatiku tenang.


Sepulang perayaan Natal, kamipun singgah minum di salah satu warung makan di tengah kota. Suasana malam di kota kami cukup ramai. Kami bercerita banyak tentang apa saja yg kami lewatkan sebulan ini. Aku sempat bertanya, apa bang Leo sibuk, hingga jarang telepon ke kantor? Leopun mengiyakan. Lalu berpesan agar segera memasang pesawat telepon di rumah kami agar bisa dihubungi jikapun pulang malam sehabis dia bekerja.


Entah kenapa, aku langsung setuju.


Esoknya sepulang kerja aku mencari pesawat telp dan memasang di rumah kami setelah sebelumnya menghubungi pihak Telkom agar memasukkan sambungan telepon kabel.


"Hallo mbak, selamat siang, apa Leo ada?"


" Ini Ryna ya, Leo lagi keluar!" sahutnya terdengar sedikit ketus.


"Oh keluar ya, baiklah kalau begitu, sampaikan saja kalau saya mencarinya!"


"Eh..Ryna..emangnya kamu nggak curiga ya sama Leo, dia kan jarang banget nelp kamu, jangan-jangan dia sudah ada pacar baru disini?" jawabnya sekonyong-konyong


"Saya percaya kok sama bang Leo,mbak..nggak mungkin dia begitu!" jawabku cepat

__ADS_1


"Loh..kok nggak mungkin, kamu aja yg terlalu percaya sama dia, coba deh kamu sekali-sekali kemari, nanti kamu akan tau deh!" jawabnya lagi


Aku terdiam sebentar. Hatiku berdetak lebih cepat. Tapi aku harus tetap tenang. Lalu setelah tenang aku menjawab


"Makasih ya mbak, saya tutup dulu!"


Akupun terdiam..


Sekonyong-konyong aku teringat beberapa hari yang lalu, saat ada saudara jauh seorang polisi yang bertugas di daerah itu bercerita kalau Leo disana jadi perhatian karna tampangnya yang lumayan dan postur nya yang oke. Aku sempat tertawa dan berkata, ada-ada saja Itoku ini.


"Apa Ito nggak curiga?" tanyanya


"Curiga kenapa?" tanyaku lagi


"Kalau cowok lama tak telp sementara selama ini rutin, apa nggak ada yang berubah tu, awas loh, ntar disana ada yg lebih perhatian !" jawabnya tersenyum..


"Nggak ngaruh..!" jawabku tertawa lepas.


Kini aku seperti tersadar..


Apa benar yang dikatakan si mbak ditelp?


Apa guyonan Ito jauhku bbrp hari yang lalu juga serius..???


Aku mulai gelisah.

__ADS_1


Malam ini adalah malam pertama kali aku tak nyenyak tidur karna memikirkan bang Leo🤔


__ADS_2