
Setelah masalah tagihan macet membuncit teratasi semetara, aku kembali melanjutkan tugasku. Menyiapkan tagihan untuk si Opong, menyerahkan Spare-part AC, menelpon pelanggan nakal yang susah mengangsur pembayaran dan lain sebagainya.
Namun ada yang sedikit berbeda di kantor ini. Beberapa pekerja sempat memberitahu keluhannya padaku. Misalnya masalah pinjaman mereka, seingat mereka cash-bon yang mereka ** sekian, pas gajian dipotong sekian. Aku sedikit heran. Apa mungkin mereka yang lupa atau Kasir kantor yang curang??
Esoknya aku mendengar kembali keluhan yang sama dari pekerja yang berbeda. Akupun tak bisa menahan diriku lalu bertanya pada Kasir, tentang keluhan pekerja tersebut.
Kasir terkejut melihatku, dan mengatakan "Mana mungkin gue berani gitukan pekerja, gue jujur kok..gue nggak suka dituduh begini!" jawabnya ketus.
"Hei Kasir, kamu jangan main-main dengan keringat pekerja ya, kalau kamu berani curang, ingat, suatu saat kamu yang kena batunya!" jawabku tegas.
Kasir pun mendengus sombong.
Esoknya aku heran sebab Kasir kami tak masuk. Lusanya ada Kasir baru di samping mejaku. Akupun berkenalan dengannya, dan dia berkata namanya Mei-mei.
Kami cepat akrab. Aku juga bertanya, kenapa kasir lama berhenti, lalu dia bilang kata Bos alasannya capek. Bah..gampang banget ya, pikirku..tanpa setauku rupanya tuh Kasir lama tidak lain dan tidak bukan adalah adek ipar Bos😜 alamak..pantas dia langsung ngambek kutegur kemarin.
Setelah mengobrol sebentar, kami bekerja kembali dengan serius di meja masing-masing.
Saat akan pulang, di pintu keluar aku berjumpa dengan kawan bang Leo yang ternyata sudah menungguku sedari tadi.
"Dek, Abang mau bicara!" katanya memulai pembicaraan
__ADS_1
"Ya silahkan saja bang!" jawabku
"Leo sekarang ada di rumah sakit. Kena serangan jantung, kata dokter! Kalau bisa adek ikut Abang lah ke rumah sakit, Leo sangat butuh adek!"
"Loh.. kok butuh aku? Bukannya dia punya pacar, mosok cari aku sih..ada-ada saja Abang ini, nggak usah cari-cari alasan lah bang, ini pintar-pintaran Abang saja kan?" semburku jengkel.
"Dek, Abang nggak bohong. Akhir-akhir ini Leo banyak cerita ke Abang, dia menyesal sudah nyakitin adek, padahal sebenarnya sayangnya dia itu cuma sama adek, si Jeje itu aja yang ganjen dekatin dia terus. Gini aja lah dek, sekarang yang penting adek mau besuk Leo di rumah sakit, masalah kalian nanti saja dipikirin, anggap ini kunjungan kemanusiaan!" jawabnya lagi dengan wajah memelas.
Akupun tak bisa berkata apa-apa lagi.
Mendengar Leo sudah seminggu di ruang ICU membuatku tak sampai hati menolak.
Kamipun meluncur ke rumah sakit.
Sepanjang jalan aku hanya diam.
Bagaimana sikapku nanti ya..
Bagaimana menghadapi Namboru dan ade-adeknya. Selama putus aku sama sekali belum pernah berjumpa atau bicara pada keluarganya.
Akhirnya lamunanku terhenti saat kami samoai di depan RS. Akupun turun dan Polan membimbingku ke ruang ICU.
__ADS_1
Seumur hidup, baru kali ini aku masuk ruang ICU. Bunyi alat-alat di ruangan ini begitu nyata. Dan di ranjang itu, aku melihat bang Leo terbaring lemah dengan kabel-kabel di sekujur tubuhnya, dengan infus serta selang oksigen di hidungnya. Wajahnya lebih gelap dari yang selama ini kulihat. Tubuhnya lebih kurus dari terakhir kami bertemu.
Aku terdiam kaget.
Ada apa ini????
Kenapa bisa begini.???
Perlahan aku mendekati ranjang itu. Tiba-tiba bang Leo membuka matanya perlahan. Padahal aku sudah berusaha sepelan mungkin melangkah...tapi sepertinya dia merasa ada gerakan di sekitarnya.
Wajahnya terkejut melihatku.
Aku tersenyum kaku dan mencoba menyalam tangannya yang lemah. Bang Leo tersenyum sedikit meringis mungkin kesakitan dengan banyaknya kabel di tangannya. Aku spontan menangis melihat kondisinya.
"Kenapa bisa begini bang...apa yang sudah terjadi..selama ini aku nggak pernah tau Abang ada sakit jantung!" kumulai bicara meski perlahan.
Bang Leo menggeleng seakan mengatakan dia juga tidak tau. Lalu dia sedikit menekan tanganku, seakan menumpahkan kerinduan hatinya dan itu bisa kulihat dari matanya yang menatapku dengan sendu.
Kami terdiam cukup lama.
Perlahan alat kontrol jantung yang tadi berbunyi pelan dan lambat, perlahan semakin cepat dan konstan. Aku tak mengerti, tapi aku melihat bang Leo terus menggenggam tanganku. Aku hanya bisa mengelus lembut tangannya memberi kekuatan dan semangat. Bang Leo belum bisa banyak bicara, begitu pesan bang Polan tadi sebelum aku masuk ruangan ini.
__ADS_1