First Love - End

First Love - End
Ujian Cinta -2


__ADS_3

Pagi ini aku bangun dengan kondisi badan yang tidak begitu sehat. Terasa berat di kepalaku. Barangkali karena kurang tidur, memikirkan kemungkinan pendapat teman kerjanya dan saudara jauhku.


Namun aku harus tetap berangkat kerja.


Apapun masalahnya, aku harus bisa memisahkan antara urusan perasaan dengan pekerjaan.


Teman-teman sekantor juga sudah tau, jika setelah bekerja Leo tak pernah lagi bisa menjemputku. Jadi aku kembali ke kebiasaan lama, pergi dan pulang naik oplet.


Tak bisa kupungkiri, meski aku berusaha konsentrasi bekerja, tetap saja beberapa kali aku kedapatan melamun, dan akhirnya diledekin oleh teman-temanku.


Apalagi senior kami di kantor ini. Beliau memang sudah lama berkeluarga dan pasti sudah paham dengan roman wajahku seharian ini.


Dengan gaya genitnya Bang Mus langsung menyanyikan lagu si Hitam Manis, untuk menggodaku😁


🎵


Hitam manis..hitam manis..


yang hitam manis..


pandang tak jemu..


pandang tak jemu..🎶


🎵Yang hitam manis..

__ADS_1


Pandang tak jemu..


yang hitam manis..


pandang tak jemu..


aku teringat malam pertama..


aku teringat malam pertama..🎶


Aku langsung tertawa terbahak-bahak sambil melempar kertas yang ada di dekatku..


"Mana ada gitu teks nya bang.. bukan teringat malam pertama.. tapi : Teringat Pandang Pertama, kaleeee..!" jawabku cepat


"Sengaja Abang salah-salahkan, biar adek jangan sedih!" pungkas Bang Mus lagi.


Akupun akhirnya kembali ceria.


Sepulang kerja aku langsung membersihkan diri. Sudah sebulan ini aku kembali mengikuti kegiatan Pemuda Gereja tempat ku beribadah, setelah absen selama beberapa tahun selepas aku Naik Sidi di kelas 2 SMEA.


Abang senior saat itu menyarankan agar aku menyelesaikan pendidikan saja dulu, nanti baru setelah tamat bisa masuk kembali.


Akupun teringat janjiku. Sudah 3 tahun aku bekerja setamat sekolah. Saatnya kembali bergabung, dan kebenaran aku juga hobby bernyanyi. Jadilah aku masuk Tim Koor Naposo di gerejaku. Kegiatan yang dilakukan 3xseminggu membuat aku sedikit bisa melupakan masalahku dengan Leo. Ada sedikit rasa enggan kalau aku harus menghubunginya terus. Pola pikir gadis Indonesia yang prinsipnya LAKI-LAKI HARUS LEBIH AKTIF, sangat mempengaruhi sikapku dalam hal ini.


Sesampainya di gereja, kami asik melatih lagu koor yang baru. Aku pun tak punya firasat apa-apa. Namun setelah selesai latihan, ada teman yang bilang bahwa aku ditunggu oleh Leo di bawah pohon samping koperasi gereja. Aku sempat heran, kok nggak ngabarin mau jemput?

__ADS_1


Akupun segera menemuinya dan kamipun bicara di bawah pohon rindang ini.


Aku bertanya kenapa lama tidak menelepon, dan Leopun menjelaskan kalau dia sangat sibuk karna sering diajak keluar sama bos.


"Bukannya Abang disana ada pacar baru ya?" tanyaku menyelidik.


"Ah..mana ada. Adek dengar dari siapa Abang punya pacar baru disana? Ada-ada saja!" jawab Leo cepat.


"Sudah..mengaku saja..kalau iya juga nggak apa-apa. Asal jangan bermain di belakangku, aku tidak suka. Lebih baik kita putus, jadi Abang bisa bebas disana!" jengkel aku mengatakannya.


"Percaya sama Abang, kan Abang sudah bilang, mau serius sama adek, masak Abang cari pacar yang lain!" kembali Leo meyakinkanku.


"Ya sudah..kalau begitu Abang pegang janji Abang. Aku juga nggak suka mendengar kabar dari orang lain, jika memang Abang tak bisa setia, aku akan mundur!" sahutku lagi


Leo hanya diam.


Akhirnya kamipun pulang.


Sepanjang perjalanan pulang suasana jadi agak hening. Kami tak saling bicara lagi. Sesampai di rumah juga Leo langsung pulang tanpa ada pelukan perpisahan, padahal kami sudah cukup lama tak bertemu.


Ah sudahlah, pikirku. Kalaupun kata-kataku sedikit tegas namun itulah yang aku rasakan. Aku tak mau basa-basi soal kesetiaan dalam suatu hubungan, sebab bagiku, jika saat ini tidak bisa setia, nanti-nanti juga belum tentu setia.


Sebelum tidur, aku berdoa dengan khusuk untuk hubungan kami. Jika Dia berkenan maka semua akan terbuka pada waktunya😇


Akupun tidur dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2