
Setelah pertemuan kami malam itu, dunia terasa lebih indah dari biasanya.
Bang Leo kembali mengusahakan sekali 2 Minggu untuk turun ke kota menemuiku di malam Minggu.
Aku mulai mempercayainya sedikit demi sedikit. Meski tak bisa kupungkiri bahwa masih ada yang mengganjal di hatiku sebab setelah pembicaraan dengan kak Jeje, kami tak pernah berkomunikasi kembali.
Tapi seperti remaja kebanyakan, cinta pertama terasa sangat memabukkan. Setiap pertemuan adalah saat-saat yang membuat kami berdua semakin dekat.
Bahkan sesekali saat tugas ke kota mengantar Bos nya, bang Leo juga menyempatkan menjemputku sepulang latihan Naposo di gereja. Cuma mengantar pulang dan kembali bekerja, sudah membuat aku senang dan berbunga-bunga kembali.
Pekerjaan di kantor juga beres dengan cepat.
Namun belakangan ada sedikit persoalan miss-komunikasi antara kantor dan Suplier dari Jakarta.
Pengiriman barang kami mengalami kemacetan dan mengakibatkan perusahaan kena denda keterlambatan.
Seingatku aku sudah sampaikan hal ini pada bosku. Dan saat itu dia mengerti.
__ADS_1
Namun entah mengapa beliau lupa menyampaikan kabar pada Dinas Pendidikan agar diberi tambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.
Siang ini tiba-tiba Bu Bos memanggilku ke rumahnya. Akupun tanpa curiga menemui Bu Bos dan bertanya ada apa memanggilku.
"Ryna.. ibu tau kamu selama ini bekerja dengan baik. Bapak juga bilang itu. Ibu mau tanya, apa selama di kantor lama, perempuan ini sering datang ke kantor?" Bu Bos menanyakan sambil menyodorkan foto seorang perempuan. Sama persis dengan foto yang ada di TDP salah satu perusahaan pendamping kami jika ada penawaran. Aku hanya menggeleng.
"Bukannya ini saudara ibu dan bapak ya? Soalnya ada di salah satu TDP pendamping perusahaan, dan Bang Mus juga bilang itu saudara Bapak dan ibu!" jawabku jujur
Bu Bos pun menangis. Aku kaget dan terdiam.
Duh..aku jadi makin tak enak hati.
Betapa sakitnya dikhianati.
Sedang aku "dikhianati" pacar saja dah terasa sakitnya. Bagaimana Bu Bosku selama ini menahan perasaannya??
"Bu..ibu harus sabar dan percaya sama Bapak. Kalau Bapak bilang sudah tak ada hubungan, berarti ya tidak ada. Selama di kantor lama juga saya nggak pernah jumpa. Hanya beberapa kali beliau telepon tanya Bapak namun selalu pas Bapak belum datang. Nah.. selama kantor disini nggak pernah lagi kok Bu dia telepon!" jawabku menerangkan agar Bu Bos bisa tenang.
__ADS_1
Bu Bos melanjutkan..
"Selama ini ibu sudah cukup sabar, tapi Bapak masih saja diam-diam menemui dia, dia Janda, saudara jauh sebenarnya, kan nggak ada kewajiban Bapak mengurusi dia, tapi itulah, dasar wanita penggoda suami orang!" lanjut Bu Bos berapi-api.
"Anti juga sebenarnya nggak betah kerja kantor, tapi supaya ada mata-mata ibu di kantor, ibu suruh dia kerja. Ya supaya perempuan itu nggak berani lagi hubungi Bapak!" jawab Bu Bos lagi
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku saja yang mendengar merasa sakit hati.
Entahlah.. kenapa akhir-akhir ini aku dihadapkan pada masalah kesetiaan cinta?
Apakah ini juga tanda-tanda untukku.
Apakah benar Leo disana menepati kata-katanya untuk setia padaku???
Akupun pulang kerja dengan suasana hati yang tidak menentu.
Aku berdoa agar Bos ku bisa menyelesaikan masalah rumah tangga mereka dengan baik.
__ADS_1