First Love - End

First Love - End
Bapak - in memoriam


__ADS_3

3 tahun telah berlalu, sejak Bapak pergi meninggalkan kami.


Kehidupan kami tetap harus berjalan, meski banyak kepedihan yang tak dapat dibagi bersama. Namun sebagai anak-anak pewaris semangat bapak, kami terus berjuang untuk mencapai apa yg kami rindukan, yaitu dapat memiliki rumah sendiri dan mandiri tanpa menompang di tanah orang lain.


Sebab proyek Bapak yg bermasalah 5 tahun yll, dimana Bapak ditipu rekan proyeknya, maka rumah kami yg seharusnya merupakan tempat ternyaman kami sekeluarga tinggal, harus dijual untuk membayar pinjaman di bank yg dipakai untuk modal proyek itu.


Puji Tuhan, ada orang baik yg mengizinkan kami menompang di tanahnya dan kebun sekitar rumah kamipun diperbolehkan utk dikelola. Itulah mengapa kami bisa menikmati menanam sayuran untuk dijual agar dapat membantu kebutuhan kami sehari-hari selain hasil mamak berjualan ke luar kota.


Sebelum pergi, Bapak hanya sakit demam. Memang Bapak tidak mengeluh..tapi aku tau saat itu Bapak pasti merindukan mamak di sampingnya. 2 hari tak ada perubahan akhirnya Abang menelp saudara yg di kota tempat mamak jualan, dan meminta agar mamak pulang sebab Bapak sakit.


Mamakpun pulang di hari ke3 dan saat melihat kondisi Bapak, kamipun langsung membawanya ke rumah sakit.


Hanya 4 jam saja di Ruangan IGD, Bapak diperiksa oleh dokter dan paramedis di sana. Akupun bergegas ke rumah sakit sepulang kerja dan membawa termos berisi air panas.


Dari rumah aku butuh berjalan sekitar 1 km untuk sampai ke oplet-nama angkutan umum yang ada di kotaku.


Sesampainya di rumah sakit, aku melihat mamak dan Abang sedang duduk di luar ruang periksa. Akupun bergabung duduk bersama mereka.


"Mak, bagaimana kabar Bapak, kata dokter?" tanyaku.


"Entahlah, kata dokter demam Bapak sebab ususnya berlipat, itulah sebab Bapakmu makan tak teratur tapi selalu minum kopi tiap sebentar!" sahut mamak menjelaskan


Bapak memang pecandu kopi. Tak cukup 3 gelas sehari, setiap beliau duduk memikirkan sesuatu, pastilah dipanggilnya aku untuk membuat kopi.


Kalau kubilang padanya, baru saja Bapak minum kopi, eehh..disahutnya dengan tenang "buatlah Boru, kopi buatanmu lain enaknya!" sambil tersenyum dengan wajah merayu.

__ADS_1


Jika sudah begitu, aku pun segera ke dapur dan menyeduh kopi untuk Bapak.


Dan para penggemar kopi pasti tau pasangan yang cocok setelahnya, pastilah rokok.


Mungkin sebab itulah, Bapak jadi jarang makan, paling pagi dan malam, siang hari kadang makan kadang tidak. Kalau ditanya masih kenyang katanya.


Lamunanku terhenti saat sekonyong-konyong pintu ruang periksa terbuka, dan dokter menyuruh kami masuk.


Mamak, Abang dan akupun masuk ke dalam ruangan. Dokter mengarahkan kami untuk mendoakan Bapak, sebab kondisinya sudah kritis. Mamak, Abang dan akupun segera berdoa untuk menyerahkan Bapak kepada Tuhan jika memang itu yang terbaik. Air mataku menetes dengan segera, sebab aku tau setelah ini kami pasti akan kehilangan Bapak. Setelah kami sebutkan Amin..dan kami membuka mata, kami melihat Bapak menarik nafasnya 3x dan menutup mata.


Kamipun menangisi Bapak. Terlebih mamak..hanya punya waktu sehari untuk bertemu Bapak dan di rumah sakit bbrp jam, tapi langsung ditinggal, sangat sedih.


Setelah semua urusan rumah sakit beres, kamipun pulang. Semua tetangga sudah membereskan rumah bersama adek2ku setelah Abang pulang memberi kabar.


Besoknya, acara penguburan Bapakpun dilaksanakan. Sebelumnya ada beberapa acara adat Batak yang harus kami jalani. Sebab semua saudara dari pihak Bapak, Mamak, teman sekerja Abang dan kerabat serta handai taulan memberikan kata penguatan, sampai akhirnya diserahkan ke pihak Gereja untuk Agenda penguburannya.


Aku masih sangat ingat, kalau kami ber6 tak ada yang menangis tersedu2, malah terdiam tak berdaya melihat ke peti Bapak. Kami seakan kompak terdiam meratapi dalam hening bahwa kami sudah kehilangan Bapak. Sampai beberapa orang tetangga menyuruh kami untuk "mangandungi" Bapak-kebiasaan orang Batak jika keluarga meninggal, tapi kami tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, seakan suara kami tercekat di tenggorokan.


Mamak yang sudah kurus, semakin tirus wajahnya sebab terus menangis sepanjang hari. Sampai Bapak kami hantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, kami semua hening dalam diam.


Pulang ke rumah, disambut saudara pihak Mamak untuk melepaskan Ulos Tujung -pertanda Mamak sudah janda- dan makan "Indahan Sipaet-paet"- sebutan untuk acara makan bersedih setelah kematian suami, kami lakukan semua dalam diam. Hampa yang tak terkatakan kami rasakan sangat dalam.


Mulai hari itu, kami semakin sadar, kami tak punya waktu untuk bersedih.


Hidup harus terus berjalan.

__ADS_1


Abang dan aku tetap harus kerja.


Adek-adek harus kembali bersekolah.


Sebulan setelah masa berkabung, Mamakpun kembali berjualan ke luar kota.


Bapak, engkau sudah senang di rumah Baka.


Suatu waktu nanti, kita akan berjumpa pula.


Semua ucapan duka dengan segala kesan-pesan kerabat, saudara, teman-teman Bapak yang hadir, cukup membuktikan bahwa Bapak is the best!!


Sebab harimau mati meninggalkan belang..


Gajah mati meninggalkan gading..


Bapak mati meninggalkan nama baik.


Sangat banyak yang kehilangan Bapak.


Termasuk tetangga-tetangga lama kita di rumah yang dulu.


Sebab tanpa setau kami, ternyata Bapak sering kali singgah ke rumah teman-teman seangkatannya yang sudah lebih dahulu meninggal, dan memberi nasehat pada anak-anak yang ditinggalkan, sehingga anak2 temannya yang awalnya bandel dan susah diatur, bisa menjadi baik kembali karna merasa mendapat Bapak lagi, seperti Bapak mereka.


Sekali lagi, Bapak is the best😍

__ADS_1


__ADS_2