
Makan siangku yang nikmat, baru saja selesai. Aku kembali ke kantor setelah istirahat di kantin sambil memperhatikan orang-orang sekeliling yang juga menikmati makan siang hari ini.
Aku sampai dan langsung duduk di tempat dudukku. Kembali menghidupkan komputer dan melanjutkan membuat laporan tagihan Opong semalam. Sebab Opong biasanya pulang pukul 16.00wib, maka setelah selesai hitungan aku langsung setoran ke Kasir dan selanjutnya sudah jam pulang. Maka saat setelah makan siang adalah Agenda Kerjaku untuk menginput hasil tagihannya dan masalah yang dihadapi di lapangan.
Sembari menginput laporan, diselingi juga dengan pengambilan Spare-part untuk tim teknisi orderan siang ke sore. Maka sudah pasti menjelang pukul 16.00wib aku harus bisa selesaikan semua. Sebab sebentar lagi aku akan mendengar seretan sendal si Opong tukang tagih kami yang naik ke ruangan kami😆 baru seminggu disini, tapi aku sudah hapal kebiasaan dan body-language orang-orang sekitarku.
" Ryna..aku datang!" Opong memberi salam
"Iya Pong, sudah tau!" sahutku tersenyum
"Kok nggak lihat sudah tau sih?" tanyanya senyum-senyum
Aku memang menjawab sambil menunduk memasukkan berkas ke laci bawah komputerku.
"Ya iyalah, sudah hapal bunyi sendal Opong tu, kalau jalan diseret-seret!" jawabku lagi
"Hahaha..iya ya kak. Jadi malu aku, katanya.
Ini kak, tagihannya..
__ADS_1
Si A cuma bisa angsur segini..
Si B tadi nggak di rumah, jadi istrinya nggak punya duit jadi besok aja datang lagi, katanya..
Si C complain, Kulkasnya yang diservice kemarin belum dingin juga..
Si D bayar Lunas..!"
dst..dst..sampai 10 bon biasanya sehari ditagih Opong.
Akupun memilah-milah bon yang harus dibawa besok, mencatat keluhan pelanggan dan menghitung uang tagihan.
Kelar..akupun bisa bernafas lega.
Sambil beberes meja kerja, aku mematikan komputer, dan mengambil tasku bersiap-siap pulang. Teman sebelahku tersenyum-senyum melihatku, dan berkata
"Ryna..kamu itu ramah banget sama si Opong, padahal si Opong itu kan gitu aja, kok kamu bisa baik-baik sama dia sih?" tanyanya padaku
Aku mengernyit heran.
__ADS_1
"Maksud kamu si Opong "gitu aja" itu apa? Karna dia jelek, gitu..atau karna dia cuma tukang tagih..gitu..jadi kita tak perlu ramah dan senyum padanya?" tanyaku lagi
"Ya iyalah, kami disini tak pernah mau senyum-senyum pada mereka teknisi atau si Opong tu..tegas-tegas aja!" lanjutnya lagi.
Aku segera mengerti.
Seminggu aku disini, aku memang memperhatikan gerak-gerik teman-teman di kantor. Wajah mereka selalu serius cenderung seram sebenarnya. Habis setiap hari berkutat dengan kalkulator dan angka-angka.
"Kita semua sama..memang kita orang kantoran bersih dan mereka kotor karna di lapangan, tapi kita harus tau dan tetap menghargai mereka, kalau bukan mereka di lapangan, kita semua kerjakan apa? Justru karna mereka kerja, maka ada uang dan angka-angka yang kita hitung. Nah ..supaya mereka juga kerja dengan senang, apa salahnya kita berbicara ramah ke mereka, beri senyuman dan berusaha merangkul mereka. Aku yakin, mereka takkan canggung naik kemari!" jawabku menjelaskan.
Temanku bengong..
Lalu dia mengangguk-angguk, mengerti.
"Memang sih, sejak ada kamu, kantor agak ceria, habis kamu bisa ketawa-ketawa lepas ke mereka kalo ambil Spare-part atau sama Opong tu!" jawabnya lagi sambil ketawa juga.
Kamipun pulang.
Aku bersyukur bisa menjelaskan ke mereka tentang semua orang sama dan perlu penghargaan. Sebab jika tidak ada anak buah, mana ada bosnya..ya kan gaess😊
__ADS_1