First Love - End

First Love - End
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Meski aku memutuskan tidak ikut seleksi Pesparawi Nasional, tapi kami tetap berlatih untuk Pesparawi daerah. Aku sedikit melupakan kesedihanku dengan latihan-latihan rutin yang kami harus jalani dengan serius.


Persiapan Kostum ke Festival juga sudah hampir rampung. Kami mengenakan seragam coklat muda yang elegan dengan rok panjang coklat serta hiasan bunga dada yang cantik. Aku sangat senang dan cocok mengenakannya.


Tibalah saatnya Festival.


Sangat banyak kontestan dari gereja-gereja sekota kami memenuhi Gereja dan halaman tempat parkir juga penuh dengan kendaraan peserta, juri dan supporter masing-masing kontestan.


Aku berusaha konsentrasi penuh.


Latihan kami beberapa bulan ini kurasa cukup untuk menampilkan yang terbaik sore ini.


Setelah menunggu hampir sejam, kami pun tampil dengan mulus..


Tepuk-tangan meriah menyambut selesainya tampilan kami dan satu persatu kami keluar dari panggung dan bersorak-sorak sambil berpelukan sesama peserta sebab dapat menyelesaikan Festival kali ini nyaris tanpa kesalahan. Kami berdoa agar bisa juara, minimal juara 2 di tangan lah, biar nggak terkesan takabur.


Setelah bubar, kami diberi waktu untuk beristirahat masing-masing.


Tiba-tiba Leo sudah ada di hadapanku.


Aku terdiam, terkejut, tapi tak bisa mengucapkan apa-apa.


Leo menyodorkan tangannya dan mengucapkan selamat atas penampilan tim kami dan setelah itu dengan cepat dia menarikku keluar dari keramaian menuju samping perumahan Pangula yang ada di kompleks gereja kami.

__ADS_1


Tempat ini lumayan sepi, sebab keramaian terfokus di Bangunan Gereja dan parkirannya.


Leo segera menarikku dalam pelukannya.


Aku menangis dalam diam..sebab ternyata aku sangat merindukannya.


Kuakui aku sangat jengkel dengan kenyataan yang kuhadapi saat ini, namun aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa ternyata aku masih amat mencintainya.


"Abang kangen banget dek!" katanya pelan


Aku hanya diam, tapi air mataku terus mengalir. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Aku hanyut dalam suasana rindu yang kami rasakan bersama.


Lama..sangat lama kami tidak berjumpa.


Setelah cukup lama kami berpelukan, aku mengurai pelukan kami. Aku melihat ke wajahnya. Makin kurus dan tidak bersemangat.


"Bang.. kita perlu bicara!" kataku to the point.


"Ya, tapi jangan disini, mari Abang antar pulang, adek mandi dan ganti baju dulu, baru kita jalan!" jawabnya


Akupun langsung setuju dan kami pulang ke rumahku tanpa menunggu hasil Festival. Masalah kami saat ini harus diutamakan sebab aku juga takkan tenang jika tak ada ujung yang jelas.


Setelah mandi dan berganti pakaian, kami keluar dan mencari tempat bicara yang tenang. Kami memilih Danau Buatan sebagai tempat untuk bicara. Entah mengapa, jika melihat air, otomatis suasana hati yang tak menentu bisa agak tenang.

__ADS_1


"Jeje jumpai adek ya!" Leo memulai pembicaraan.


"hhmmm.." jawabku sekenanya


"Dek..percaya sama Abang. Abang cuma sayang adek, Abang mau serius sama adek, kenapa percaya dia?" tanya Leo cepat


"Bang, jika memang Abang sayang adek, kenapa Abang bilang adek minta putus, adek kan cuma menjelaskan bahwa dalam hubungan kita, jangan ada perselingkuhan di belakang adek, jika nggak sanggup setia ya putuskan adek, gitu kan yang adek jelaskan kemarin.. kok Abang mengatakan sebaliknya?" cecarku kesal


"Jeje yang terus dekatin Abang, tiap pagi dia belikan Abang sarapan, cucikan baju Abang, padahal nggak ada Abang suruh..ya Abang segan lah, jadi sesekali Abang mau diajaknya jalan, tapi Abang nggak ada bilang suka sama dia kok!" jawab Leo pula


"Hahaha..gitu toh, ya sama aja Abang nanggapi perasaan kak Jeje, memang Abang nggak bilang suka, tapi sikap Abang menunjukkannya! Sudahlah, adek paham sekarang kenapa kak Jeje merasa Abang tanggapi perasaannya, sebab Abang nggak nolak kan ketika dia ajak pacaran!" jawabku berapi-api.


"Jadi, lebih baik kita putus saja.. Abang memang lebih cocok dengan kak Jeje, umur kalian juga nggak beda jauh kan, pantas segera menikah!" jawabku asal


"Dek..apa benar adek sayang sama Abang? Kalau sayang, kenapa adek tidak mempertahankan Abang, kenapa malah nyuruh Abang sama Jeje? Kalau dia suka sama abang emang Abang bisa apa? nggak bisa juga kan larang perasaan orang ke Abang. Tapi Abang tetap sayangnya ke adek!" terangnya dengan wajah serius.


Akupun terdiam.


Tak bisa membantah.


Kabar terakhir dari saudara jauhku memang mengabarkan bahwa Jeje lah yang tergila-gila ke Leo dan melakukan apa saja untuk menarik perhatian Leo. Tapi Leo juga menikmati sepertinya, itu katanya.


Aku akhirnya memberi kesempatan ke2 pada bang Leo untuk membuktikan ucapan dan keseriusannya pada hubungan kami.

__ADS_1


Malam itu kami pulang dengan semangat untuk saling percaya dan saling setia😍


__ADS_2